Biarkan Aku Memandang Ke Puncak Menara

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 24 March 2019

Ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh seorang gadis bernama lengkap Mikaila Anugerah. Dimana hari pengumuman kelulusan telah tiba. Ia sudah begitu yakin akan kelulusannya. Sebab, ia selalu menduduki juara umum pertama sejak SMP. Benar saja. Ia dapat tersenyum manis tatkala melihat namanya berada pada urutan pertama di papan pengumuman. Mikaila bukanlah dari kalangan yang mampu. Oleh karena itu, ia telah memikirkan jauh-jauh hari bahkan dari bertahun-tahun sebelumnya untuk melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Dan perjuangannya itu tidak sia-sia. Mikaila berhasil mendapatkan beasiswa untuk kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta. Selangkah demi selangkah Mikaila semakin dekat dengan impiannya untuk mendapatkan beasiswa S2 ke kota yang sedari kecil ia impikan, Paris, Perancis. Ia tak pernah membebani sang ibu dengan impiannya itu. Justru sang ibu sudah terlalu sering dibuat bangga olehnya. Bahkan, Mikaila sering mendapat julukan “Si Jenius” di kelasnya.

Mikaila masih tak berhenti tersenyum memandang papan pengumuman itu. Sementara siswa-siswi lain sudah merayakannya dengan berteriak kegirangan atau bersenang-senang dengan teman-temannya. Mikaila tak pernah benar-benar punya sahabat selama ini. Dia tak pernah memilih-milih teman. Hanya saja ketika ia masih terdiam dalam senyum manisnya, ada yang membuatnya cukup terkejut. Suara itu.
“Selamat ya…” ucap seorang siswa yang bukan merupakan teman sekelasnya. Evan Pramudya. Evan adalah satu-satunya siswa yang cukup dekat dengan Mikaila. Rupanya, Evan memiliki perasaan yang lebih terhadap Mikaila. Bahkan, ia pernah menyatakan perasaannya itu pada sang pujaan hati. Namun, Mikaila menolak untuk menjadikan hubungannya dengan Evan lebih dari sekedar teman dekat. Bukan karena ia tak suka, tetapi Mikaila hanya tak ingin konsentrasi belajarnya menurun.

Tak terasa sudah bertahun-tahun Mikaila berstatus sebagai mahasiswi. Ia di Jakarta seorang diri, tinggal di sebuah kos-kosan. Meninggalkan ibu dan kakaknya di kampung halaman, juga berpisah dengan Evan yang diketahui melanjutkan pendidikan di Yogyakarta. Kali ini, ia memiliki seorang sahabat perempuan yang satu kelas dengannya, namanya Yandania Renata atau Yanda. Mereka sering saling cerita, apalagi mengenai pujaan hati masing-masing. Yanda diketahui menyukai seorang mahasiswa bernama Rino. Yanda mengenal Rino sejak SMA. Namun akhir-akhir ini, Yanda sering dibuat kesal sebab Rino cukup dekat dengan Mikaila. Sampai suatu hari, Mikaila dan Rino sedang belajar bersama di suatu area kampus, dan Yanda melihatnya. Sebenarnya, masih sewajarnya saja. Tetapi Rino…
“Mik… Sebenarnya selama ini aku suka sama kamu. Kamu mau enggak jadi pacar aku?”. Belum sempat Mikaila menjawab, Yanda langsung melabraknya. Yanda marah-marah terhadap Mikaila. Ia tak ingin lagi menjalin persahabatan dengan Mikaila. Mikaila berusaha menjelaskan, namun Yanda tak ingin mendengar. Yanda langsung pergi gitu aja masih dengan rasa amarahnya.
“Dengar ya Rin! Aku enggak pernah suka sama kamu! Aku cuma nganggep kamu enggak lebih dari sekedar teman!” ucap Mikaila pada Rino lalu pergi meninggalkannya.

Semenjak hari itu, suasana jadi berubah. Yanda cuek bahkan terkesan tak peduli pada Mikaila. Mikaila pun selalu menghindar tiap kali bertemu Rino. Hingga suatu hari, ada seorang dosen memanggil Mikaila. Beliau memberitahu bahwa usaha Mikaila selama ini untuk mendapatkan beasiswa S2 telah berhasil. Mikaila begitu senang bukan kepalang. Namun tanpa disadari, Rino memperhatikannya dari kejauhan. Rino pun mulai melangkah pergi.

Rino mendatangi Yanda yang sedang di kantin bersama teman-temannya. Ia menarik paksa Yanda sedikit menjauh dari teman-teman Yanda.
“Yan! Lo tuh harusnya enggak boleh marah sama Mikaila. Mikaila enggak salah. Lo harusnya bersyukur punya sahabat seperti Mikaila. Dia cewek baik. Asal lo tahu dia enggak pernah mau gue ajak jalan atau bahkan ke luar bareng gue kecuali untuk belajar baremg. Dia enggak pernah suka sama gue. Dia nolak gue waktu gue nembak dia. Gue rasa, lo lebih tahu tentang dia daripada gue. Tadi gue liat, dia seneng banget dapet kabar kalo dia berhasil dapetin beasiswa S2 seperti mimpi-mimpinya dari dulu. Dan gue yakin, dia bakal lebih seneng lagi kalo lo ngucapin selamet ke dia.” terang Rino.

Akhirnya, Yanda mengikuti apa kata hatinya. Yanda menemui Mikaila di kelas. Ia mengucapkan selamat pada Mikaila sesuai kata Rino. Yanda juga meminta maaf pada Mikaila dan begitupun sebaliknya. Mereka berpelukan dan kembali menjalin persahabatan. Tak lama kemudian, Yanda melepas pelukannya.
“Harusnya gue tuh sadar kalo lo enggak mungkin suka sama Rino. Karena gue tahu perasaan lo cuma buat Evan Pramudya.” tegas Yanda.
“Apaan sih kamu tuh?” ucap Mikaila sambil tersenyum malu.

Tak terasa, hari demi hari telah dilalui. Mikaila semakin bersemangat untuk mimpi-mimpinya yang segera terwujud. Ini adalah kali pertama Mikaila menginjakkan kaki di kota yang sedari dulu ia impikan, Paris, Perancis. Mikaila terdiam dalam senyumnya yang begitu manis, tatkala memandang bangunan yang tinggi nan besar berdiri kokoh dengan segala macam kemewahan dan keindahannya, menara Eiffel. Mikaila masih tak menyangka, bahwa gadis desa seperti dirinya bisa mewujudkan cita-citanya untuk mendapatkan beasiswa S2 ke Paris dan dapat memandang menara kebanggaannya. Tiba-tiba seorang pemuda pejalan kaki tak sengaja menabraknya.
“I’m sorry… I’m so sorry…” ucap pemuda itu. Sedangkan Mikaila, hanya terdiam melihatnya.
“Evan?”.
“Mikaila?”.

Akhirnya, Evan dan Mikaila memutuskan untuk makan bersama di sebuah restoran. Mereka mengobrol tentang banyak hal.
“Mungkin kita jodoh kali ya? Karena Tuhan mempertemukan kita kembali di sini. Kamu tau? Aku berjuang buat dapetin beasiswa S2 biar bisa ketemu kamu di sini, karena aku ingat mimpi-mimpi kamu. Dan aku yakin, kamu pasti bisa meraihnya. Sekarang terbukti kan? Takdir mempertemukan kita kembali setelah melalui perjalanan yang begitu panjang. Mik, aku enggak pernah bisa lupain kamu. Pertanyaan aku masih sama ke kamu, kamu mau jadi pacar aku?” jelas Evan.
“Sebenarnya, masih ada satu lagi mimpiku, yaitu lulus S2 dengan predikat cum laude. Tapi aku mau ngewujudin mimpi aku itu bareng kamu. Jadi, aku mau jadi pacar kamu.” ucap Mikaila. Hari-hari Mikaila diwarnai dengan keberadaan Evan yang selalu menemaninya mewujudkan satu mimpinya. Semua terasa begitu ringan, hingga Mikaila mendapatkan semua yang ia inginkan.

Cerpen Karangan: Ria Puspita Dewi
Blog / Facebook: Elfa Ria Puspita

Cerpen Biarkan Aku Memandang Ke Puncak Menara merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kisah Cintaku Yang Tidak Bisa Bersatu

Oleh:
Sekitar 10 Tahun yang lalu pada Tahun 2007, saat itu aku adalah Gadis yang penuh Obsesi, dimana aku memimpikan memiliki pasangan yang sangat sempurna dan saat itu aku sedang

Antara Aku Dia dan Dirinya

Oleh:
4 Juni 2013 Aku tak tau harus bagaimana dan berbuat apa. Aku sangat mencintai dia dan dirinya. Aku sudah jadian sama dia, kurang lebih tiga bulan.. Selama tiga bulan,

Tepat Meskipun Terlambat

Oleh:
Seorang lelaki yang sering kulihat saat masih semester satu selintas membuatku bingung dan terdiam menatapnya saat dia lewat di depan mataku. Entah mengapa aku menatapnya begitu terpaku, padahal hatiku

Persahabatan Keren

Oleh:
“Best Friend Forever” Seorang gadis menggumamkan kalimat itu saat memandangi sebuah foto yang terbingkai cantik dalam sebuah frame berwarna coklat muda. Ia adalah Nana, seorang gadis kelas 2 SMA

Tetesan Beku

Oleh:
Salju pertama sudah turun. Aku hanya duduk terdiam di sudut ruangan sambil menatap ke luar jendela dan meneguk secangkir cokelat hangat yang lezat buatan ibuku. “Irene, kamu tidak mau

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *