Boyfriend

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 19 February 2014

“hei, kan sudah kubilang kalau yang itu jangan pasang di sudut sana tapi pasang di atas, ngerti nggak sih kalian!”
“udahlah Sel, hampir seluruh anggota panitia yang ada disini kamu marahin dari tadi pagi, kasihan kan mereka”
“duh, Lala, kalau mereka semua kerjanya bener aku juga nggak akan marah terus kayak gini, lagian siapa juga yang nyuruh aku buat jadi ketua panitia PENSI ini?!” kataku kesal, Lala hanya terdiam saat aku marah padanya “ya sudah deh, ini laporan yang harus selesai hari ini, kamu aja yang selesaiin semuanya, kepalaku pusing aku mau istirahat di kelas, bye” kataku setelah memberikan kertas laporan dan lekas pergi dari sana.
“hah!, Sel tunggu dulu, Sela…”

Aku tidak peduli sekeras apa Lala memanggilku, tapi aku bener-bener nggak mau ikut-ikutan dalam acara yang kayak gitu. “aakhhh… ini semua gara-gara wali kelasku mengajukanku sebagai ketua panitia, kalau bukan karena tawaran itu aku nggak akan ada di sini sekarang dan 6 hari selanjutnya. aku benci sekali PENSI!”.

Sebenarnya aku adalah salah satu murid berprestasi di sekolah dan karena itulah wali kelasku mengajukanku sebagai ketua, padahal aku paling nggak suka acara begituan. Lalu wali kelasku memberikanku tawaran, jika Pensi ini selesai memuaskan aku boleh nggak datang waktu hari H dan aku nggak akan lagi disuruh buat jadi ketua ataupun anggota.

“emm, marah-marah membuatku jadi ngantuk nih, kelas musik terbuka nih… kesempatanku buat tidur deh” aku pun masuk ke kelas yang hanya berisi beberapa kursi dan piano antik,” sungguh piano yang amat disayangkan, padahal antik begini tapi nggak dipakai, whoam… aku tidur di pojok belakang aja deh”

Di saat aku sedang terlelap aku mendengar ada sebuah alunan lagu yang sangat indah, “seperti suara piano” pikirku, lalu perlahan-lahan aku membuka mataku dan berusaha untuk melihat siapa yang bermain piano tersebut, tapi meski sudah membuka mata aku masih tidak jelas melihatnya “emm, siapa sih? seperti seorang cowok deh… ah…”.

“Sella! bangun dong, sella!”
“duh, ada apa sih?”
“Sella cepet bangun ini sudah malam tahu!” Kata Lala sambil mengguncang tubuhku
“hah! apa! sekarang sudah jam berapa?!” aku tersentak dan langsung terbangun
“sekarang sudah pukul 8 malam, aku khawatir karena kamu tidak ada di kelas ternyata malah di ruang musik, dasar!”
“eh, tunggu sebentar tadi kamu lihat nggak ada cowok yang lagi main piano di sini?”
“duh, kamu itu masih tidur ya? sadar dong mana ada orang mau main piano malam-malam seperti ini, kamu ini ada-ada saja, ayo cepat kita pulang”
“baiklah, aku nyerah deh sama kamu sekarang, tapi aku nggak bohong kok tadi memang ada cowok yang main piano di sini” kataku meyakinkan Lala
“ya ya, terserah kamu sajalah” katanya sambil menarikku

Lalu kami pun pulang, meski pun aku masih penasaran sama cowok itu sampai saat tidur pun aku memimpikan kejadian tadi. saat di sekolah aku jadi nggak konsen dengan pelajaran sampai saat aku mengatur kembali acara PENSI.
“Hai Sella”
“hai, Lala” kataku nggak semangat
“kamu kenapa sih, nggak semangat gitu, ya meski pun kamu memang nggak pernah semangat setiap persiapan acara PENSI”
“ya kamu benar, tapi semalaman aku nggak bisa tidur gara-gara kejadian kemarin tahu!”
“oh, tentang cowok yang main piano ya, sudahlah sekarang tugasmu harus memeriksa anak-anak yang akan tampil buat Pensi nih catatannya”
“huh kenapa sih aku harus mengerjakan hal yang nggak penting setiap hari!”
“sudah kerjakan saja, nanti kalau bingung tanya saja oke, aku tinggal dulu dah”
“tunggu La!”
Huh, selalu saja begini, tanpa melihat daftar namanya juga aku sudah tahu siapa yang akan tampil di acara PENSI nanti karena semuanya adalah anak dari kelas musik.

“ah, mendingan aku tidur lagi saja deh” kataku malas-malasan, lalu saat aku menuju ruang musik terdengar alunan musik piano yang sangat lembut, lalu diam-diam aku mengintip dari belakang pintu, dan ternyata itu adalah sosok cowok yang sedang bermain piano persis seperti yang aku lihat kemarin, tanpa ragu lagi aku pun masuk dan langsung menegurnya,” hei, kamu anak musik!”
“eh..”
“kamu yang kemarin memainkan piano ini juga kan?”
“salam kenal, aku Roby anak kelas reguler, dan ya kamu benar aku lah yang memainkan piano ini kemarin bahkan setiap hari pun aku selalu bermain piano di sini” katanya dengan senyuman dan tanpa ada rasa takut sedikit pun dari kata-katanya
“ah, aku..”
“Sela herpiani anak reguler kelas 1 dan siswi terpintar di sekolah..” aku terkejut mendengarnya, ya meskipun memang banyak yang mengenalku dari pada aku yang mengenal mereka, lalu dia pun melanjutkan kata-katanya “tapi sayangnya tidak suka pada semua hal yang berhubungan dengan musik, benar kan?” dan lagi-lagi dia melontarkan kata-kata dengan penuh senyuman, yang menurutku itu adalah sebuah penghinaan!.
“oke, oke, mungkin kamu terganggu karena aku, jadi sebaiknya aku pergi saja dari sini!” namun saat aku menuju pintu tiba-tiba dia menarikku lalu dengan tiba-tiba dia memelukku, “apa-apaan sih cowok ini” kataku dalam hati, aku pun memberontak tapi pelukannya tambah erat,
“Dengarkan dulu sampai aku selesai bicara” dan entah mengapa rasanya aku berdebar” sebenarnya kamu sangat suka musik kan? dulu kamu itu sangat pintar bermain piano” lalu dia memaksaku untuk duduk di hadapan piano itu” maukah kamu menemaniku bermain piano disini” aku semakin berdebar melihat senyumannya, lalu tanpa sadar aku mulai memainkan irama lagu yang sudah lama aku lupakan.

Sejak saat itu, setiap hari aku masuk ke ruang musik dan mendapati Roby yang sedang memainkan alunan lagu dari piano klasik tersebut, dan setiap melihatku dia selalu menunjukkan senyumannya, dan sampai sekarang pun aku masih berdebar dengan senyumannya itu.

“hei, Rob kamu ini aneh ya”
“eh, maksudmu..?”
“ya aneh, kenapa kamu selalu bermain piano disini? kenapa tidak berlatih bersama yang lainnya di panggung, padahal kan besok hari terakhir buat persiapan PENSI?”
Lagi-lagi dia hanya menjawabnya dengan senyumannya itu, benar-benar aku tidak kuat dengan senyumannya itu karena selalu membuatku berdebar dan juga kesal!
“stop! bisakah kamu hentikan senyumanmu itu, aku benar-benar kesal dibuatmu”
“oh ya, bukankah kamu sendiri yang bilang padaku ‘kalau kita tersenyum pasti akan ada kebahagiaan yang akan datang pada kita’ apakah kamu ingat?”
“maksudmu apa?! sudahlah aku capek meghadapimu!” aku pun pergi, namun dia masih berbicara” sebenarnya kamu merasa tertekan kan?” mendengar itu aku jadi benar-benar kesal aku pun segera meninggalkannya

“arrghh… kali ini dia benar-benar sudah membuatku kesal!”
Setelah kejadian tadi sore di sekolah bersama Robby, aku jadi benar-benar memikirkan kata-katanya padaku ’apakah kamu ingat?’ meskipun telah kupikirkan masih saja aku tidak mengerti apa maksud dari kata-katanya itu,
“huh… dari pada aku terus-terusan memikirkan itu lebih baik aku tidur”
“Hey kamu kenapa sendirian disini? sudah jangan menangis lagian kamu kan laki-laki”
“he-eh” … “kalau begitu tersenyumlah karena kalau kita tersenyum pasti akan ada kebahagian yang akan datang pada kita itulah yaang selalu dikatakan oleh mamaku waktu aku sedih”

“Sela… bangun sudah pagi nanti kamu telat ke sekolah” teriakan mama seakan masuk ke dalam mimpiku dan langsung membuatku terbangun.
“ya ma Sela bangun.. ah mimpi yang aneh”

Setelah mandi aku pun turun untuk sarapan dengan raut muka yang masih kesal
“lho muka kamu kenapa cemberut gitu sela?”
“nggak apa-apa kok ma”
“tersenyumlah karena kalau kita tersenyum pasti akan ada kebahagiaan yang akan datang pada kita” saat mendengar kata-kata yang di ucapkan oleh mama aku terkejut karena itu adalah kata-kata yang sama dengan yang dikatakan oleh robby kemarin
“lho kok mama bisa ngomong kayak gitu sih” kataku terkejut
“kamu lupa ya mama kan selalu bilang begitu setiap kali kamu lagi sedih”
“masa sih ma?”
“huh dasar kamu itu masih muda sudah pikun”
berarti apa yang dikatakan robby itu benar, gimana nih aku kan sudah membentaknya kemarin, duh aku harus minta maaf padanya, aku pun langsung segera menghabiskan susu dengan sekali teguk dan langsung pergi ke sekolah.
“ma, Sela pergi dulu ya…”
“hei, Sela tunggu!..”

“apa sih ma? Sela buru-buru nih”
“iya mama tahu… tapi apa kamu nggak bawa apa-apa ke sekolah?”,

“huh?..” sejenak aku tidak mengerti apa yang dikatakan mama, lalu aku mulai mencari apa yang kurang dariku, dan…
“ahh… iya aku lupa tasku…” lalu aku langsung berlari kembali ke meja makan
“nih, gimana sih kok kamu bisa ceroboh gitu?” huh… jadinya kena marah deh,
“ah.. udah ya ma aku berangkat dulu, dah..”

Lalu aku langsung meninggalkan mama yang masih saja menceramahiku, dan saat aku sampai di sekolah aku langsung mencari Robby, namun aku tidak menemukannya di kelas, lalu aku pun mencari di kelas seni tempat ia biasa bermain piano, tapi dia tetap tidak ada, ’bagaimana ini? apa dia marah? kesal? dan membenciku?… ya tuhan aku tidak ingin dia membenciku’, sepanjang jalan menuju ke kelas aku memikirkan itu sampai-sampai aku tidak sadar ada bola basket yang sedang melayang ke arahku, DUUKK…

Saat sadar penglihatanku terasa gelap, dan kepalaku pusing oleh karena itu aku mencoba untuk duduk, namun tiba-tiba saja aku dikejutkan oleh sososk laki-laki yang sedang tidur di tepi ranjang
“Robby!” teriakku
“ahm… Sela? kamu sudah sadar, apakah kepalamu masih terasa sakit?” tiba-tiba saja dia terbangun dan saat melihat reaksinya yang begitu menghawatirkanku, mataku terasa panas lalu air mata pun mulai bercucuran.
“maaf.. maafkan aku” melihatku yang menangis tersedu-sedu Robby pun mengusap-ngusap kepalaku, aku pun merasa tenang, “udah sel jangan nangis lagi, atau masih ada yang terasa sakit?” tanyanya, dan aku hanya menggelengkan kepalaku.
“maaf ya Rob, kemarin aku sudah marahin kamu nggak jelas gitu padahal aku sendiri yang salah” kataku, dia hanya tersenyum seperti biasa
“sudahlah Sel, aku nggak marah kok sama kamu” dia berkata begitu sambil tersenyum, sungguh senyuman malaikat. Lalu tiba-tiba saja ia memelukku” Sel, aku sayang kamu” sontak aku terkejut dengan kalimat yang Robby katakan,” eh…Rob…?”
“maaf, Sella mungkin kamu memang tidak ingat namun dari dulu sampai sekarang bahkan sampai aku mati pun aku akan tetap menyayangimu dan mancintaimu sepenuh hatiku”. Tidak tidak..! “tidak Rob, bukan begitu, aku tahu dan ingatanku tentang kita sangatlah jelas di kepalaku, Robby aku juga sayang padamu” aku pun balas memeluknya.

Pada hari itu semuanya pun terungkapkan, apa yang ada di hati kami sudah kami utarakan semua, dan pada akhirnya kami pun resmi jadian! aku benar-benar bahagia hari ini, ya meskipun awalnya kepalaku telah menjadi korban bola basket, tapi mungkin saja jika itu tidak terjadi akhirnya akan berbeda. aku sungguh bersyukur. Keesokan harinya aku pun datang pada acara PENSI sekolah untuk menonton Robby tampil dan menyemangatinya, ya walaupun akhirnya aku ditarik ke atas panggung bersama Robby, dan itu adalah kenangan yang tidak akan pernah aku lupakan SELAMANYA.

END

Cerpen Karangan: Siti Hafizah Lelyanti
Facebook: Siti Hafizah (HEPPY)

Cerpen Boyfriend merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kenangan

Oleh:
Maaf maryam, surat ini mungkin telat datang kepadamu. Maklumlah, sekarang aku cukup sibuk dan lelah meratapi kenyataan tentara-tentara sekutu yang ternyata memboncengi Belanda itu sempat membuatku terkejut. Mereka sudah

Tinta Hitam

Oleh:
“Innalillahi wainnailaihi rajiun. Telah berpulang ke Rahmatullah, salah satu rekan kita, Bapak Abdullah. Semoga amal ibadah beliau diterima di sisi Allah SWT. Amin.” Pengumuman itu disampaikan tepat sebelum jam

Benderaku Yang Hilang

Oleh:
Bendera merah putih adalah lambang dari negara indonesia, dan sangat dihormati oleh bangsa indonesia. Bahkan untuk mengibarkan sangsaka merah putih ini banyak jiwa yang telah terkoban, banyak istri yang

Setengah Bagian Hidup Rania

Oleh:
Sejak masa ospek yang berlangsung selama tiga hari itu, hubungan Rania dengan Oki bertambah akrab. Meskipun jurusan yang mereka ambil berbeda, tapi tidak membuat keduanya saling menjauh. Melainkan jadi

Rumah Tua

Oleh:
Mentari mulai merengsek naik dari peristirahatannya. Warna kejinggaan memperindah langit timur yang dihiasi oleh bintang-bintang kecil. Hari ini hari minggu dan kebanyakan orang lebih memilih bangun siang dibanding menikmati

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *