Dalam Ingatanku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 12 June 2014

Ku masuki kelas yang berbau cat ketika ku hirup udara dalam kelas ini. Ku putar mataku dan memperhatikan tembok kelas yang dipenuhi dengan karya tulis dan curahan hati anak-anak ini dan hanya satu tulisan yang membuatku terfokus. Tulisan besar dengan berbagai warna di dalamnya dan tulisan itu adalah DUA BELAS IPA EMPAT dengan di sampingnya bertuliskan moto yang kubuat.
“Kami datang bukan untuk sekedar bisa tapi kami datang untuk tahu, belajar bersama, dan berbagi pengalaman menarik.” ucapku berbisik.

Di kelas ini, aku atau biasa disapa Bayu ini mencari jati diri ku yang sebenarnya. Tepatnya di sekolah ini aku mulai mencari jati diri. Hari ini adalah hari yang selalu ku nanti. Karena hari ini tepatnya jam pelajaran ke tiga adalah pelajaran kesukaanku yaitu olahraga. Ya, meskipun aku kurang menyukai upacara bendera yang berlangung setiap hari senin ini, tapi kita sebagai pemuda penerus bangsa harus mengapresiasi atau menghargai hasil jerih payah pejuang-pejuang kita yang sudah mengorbankan nyawa demi kebebasan yang abadi. Dan kenapa hari ini menjadi hari yang dinanti oleh ku? Karena menurut kabar angin yang berhembus, akan ada seorang murid baru. Ya, semoga saja murid baru itu seorang perempuan.

“Baik anak-anak, sekarang kita melanjutkan materi yang kemarin.” ucap guru matematikaku.
“Hmmmm.. aku tidak terlalu suka pelajaran hitungan. Kenapa aku harus masuk IPA?” keluhku dalam hati.
“Oh ya bu. Katanya mau ada murid baru di kelas ini? Cewek lagi.” ucap temanku sambil senyam-senyum.
“Baru juga ibu mau bilang, katanya bentar lagi datang.” ucap guruku.
“Oh… ternyata kabar angin itu benar.” ucapku berbisik.
“Ngomong apa kamu tadi Bay?” tanya temanku.
“Hah? Nothing.” ucapku
Ternyata itu bukan sekedar kabar angin sebarangan. Sudah tidak sabar aku ingin melihat murid baru itu.

Baru saja dibicarakan murid baru itu langsung datang dan aku langsung melamun dan bertanya-tanya. Dia mengingatkan ku pada seorang perempuan yang sudah sembilan tahun menghilang atau mungkin dia orang yang sudah lama menghilang dari hidupku? Berdebar hati ini. Aku terus menggaruk kepala meski tidak terasa gatal sedikit pun. Perasaan apa ini sebenarnya? Aku ingin meluapkannya dengan rasa senang tapi aku tidak bisa tersenyum sedikit pun. Aku hanya bisa melamun sambil menatapnya dan ingatan yang terus memutar cerita masa kecil ku dengan perempuan yang sudah menghilang selama sembilan tahun.

Dia duduk di sebelah ku. Lebih tepatnya lagi barisan ke satu bangku ke dua. Jantung ini berdebar lebih kencang saat dia menuju tempat dia duduk sekarang. Tubuhku lumpuh seketika. Ingin rasanya berlari. Tapi tubuh, hati dan pikiran ini sulit untuk diajak kompromi. Satu detik terasa seperti satu jam. Aku hanya bisa menggigit lidah ku sendiri sambil berusaha tuk menatapnya dan sekarang aku seperti mendegar seseorang memanggil namaku. Tapi aku tak tahu dari mana suara itu dan setelah aku tersadar dengan sepontan, aku menyaut suara yang berasal dari wanita itu.
“OI! Ada apa?” Ucapku sedikit berteriak.
“Dari tadi sejak pertama aku masuk kelas, kamu melamun terus. Ada apa sih sebenarnya Bay?” tanyanya sambil tersenyum manis.
“Hey, dari mana kau tahu namaku dan siapa namamu?” tanyaku lembut.
“Ditanya malah balik nanya. Hmmm.. baiklah, namaku Reghi dan soal aku bisa tahu namamu itu pasti kau akan mengetahuinya.” ucapnya dengan senyum yang sama.
Nama itu membuat kotak memoriku terbuka dan mengeluarkan semua isinya yang sudah tertata rapih dan sekarang berantakan kembali. Butuh waktu lama tuk merapihkannya. Tapi hanya dengan hitungan detik semua berkas-berkas kenangan itu berantakan kembali hanya dengan dua faktor yaitu wajah dan nama wanita itu. Aku harus segera membereskan semua ini.
“Oh… Reghi, boleh gak aku panggil Rere?” tanyaku.
Melihat ekspresi yang dia berikan setelah ku sebut kata Rere dia langsung melamun sambil menggigit bibirnya.
“Hey, kenapa bengong?” Tanyaku sambil tersenyum.
“Oh… ya terserah kamu aja, aku udah biasa dipanggil Rere dari kecil.” ujarnya.
“Ohahahaha… gitu ya…” ucapku.
“Sepertinya dia memang teman masa kecilku?” tanyaku dalam hati.
“Ada apa melamun?” tanyanya sinis.
“Enggak. Udah ah, aku mau merhatiin guru.” ucapku dingin
“O atuh!” Ucapnya.
Hanya dengan menjulurkan lidah aku sudah bisa membuatnya terdiam.
“Hmm… siapa dia sebenarnya? Mengapa secepat ini aku bisa dekat dengannya?” tanyaku dalam hati.
Sedang berusaha mencari tahu siapa dia sebenarnya melalui data-data yang ada, tampa ku sadari aku sudah membuat guru yang sedang mengajar kesal karena aku tidak memperhatikan dan aku pun langsung disuruh keluar. Dengan berat hati dan wajah yang memerah bagaikan tomat, aku pun berjalan keluar dan duduk di teras depan kelas yang baru saja dipel dan beraroma yang tidak karuan yang berasal dari tong berwarna-warni dan banyak tulisan di bagian luarnya. Banyak senyuman yang bermaksud mengihina melewati wajahku. Aku hanya bisa membalasnya dengan senyum stres karena menahan malu.

Pegal rasanya punggung ini. Tapi rasa pegal ini akan berakhir dalam hitungan detik dan akhirnya bel perpindahan jam pelajaran pun berbunyi. Tapi kenapa guru itu belum keluar juga? Dan setelah aku intip melalui jendela yang sudah hilang kejernihannya itu, ternyata mereka sedang melaksanakan ulangan dan itu akan menjadi sebuah penyesalan yang paling parah untuk hari ini. Hancur sudah niat belajar pada hari ini hanya karena satu orang yang memberikan tanda tanya besar di kepala.
“Aaaah! Dasar cewek yang aneh, coba kalau dia gak masuk hari ini! Mungkin aku tidak akan bernasib seperti ini! Hmm… akan segara ku bongkar siapa dia sebarnya.” ujarku dalam hati.

“Bayu, masuk kamu!” ucap guruku.
Aku pun masuk dengan hati yang tidak karuan. Aku dipermalukan di hadapan banyak orang karena hal sepele. Hati ini semakin tak karuan setelah aku dicermahi oleh guru yang kurang disukai oleh semua anak-anak di kelas karena sikapnya. Tiap lontaran kata yang dia keluarkan itu bagaikan suara sumbang yang merusak telinga dan mematikan api kecil dalam hati yang hampir padam. Hanya dengan sekali tiup guru ini bisa mematikan api kecil yang berusaha keras untuk tetap menyala. Tapi ini semua memang salahku karena aku tidak memperhatikan saat guru sedang menerangkan.

Sudah saatnya memberi makan cacing dalam perut yang sudah berdemo meminta makan. Sambil mengunyah dan menelan, aku merencanakan bagaimana caranya aku bisa memastikan siapa dia sebenarnya. Akhirnya aku menemukan titik terang dan aku akan bertanya tetang masa kecilnya sekarang.
“Re! Aku mau nanya sama kamu boleh gak?” tanyaku.
“Mau nanya apa emang?” tanaynya.
“Masa kecil kamu gimana sih? Boleh cerita gak?” tanyaku.

Setelah panjang lebar dia bercerita, akhirnya aku bisa memastikan siapa dia sebenarnya dan dari raut wajahnya aku tahu dia berharap aku berkata sesuatu.

Tak terasa sudah hampir jam dua dan itu berarti sebentar lagi suara yang selalu dinantikan setiap anak berbunyi. Tapi perjalan menuju rumah atau tujuan lain setelah bel yang dinanti berbunyi akan terhambat oleh tetesan air yang berjatuhan dari langit. Banyak anak-anak yang sudah bersiap-siap, meski guru di depan kelas masih mengajar. Banyak anak-anak yang sudah melamun menantikan suara yang indah yang berbunyi dari luar. Aku hanya melamun sambil menggiti ujung pensil dan pandangan kosong yang terus menatap ke arah wajahnya. Jika diperhatikan dia memang mirip dengan teman masa kecil ku, bahkan bukan mirip lagi, aku sudah yakin bahwa cewek itu adalah dia dan jika diperhatikan lagi, dia memang manis dan cantik dengan kacamata yang menempel erat di wajahnya sejak pertama masuk kelas.

Akhirnya bel pulang pun berbunyi. Semua anak berhamburan mendekati pintu keluar. Meski gerimis masih mengguyur, tampaknya itu tidak mengurungkan niat semua orang untuk segera melepas beban yang memberatkan kepala selama jam pelajaran berlangsung. Sebelum pulang aku memeriksa apakah ada yang tertinggal atau tidak dan aku baru sadar bahawa ada sesuatu yang ingin aku katakan kepada perempuan yang telah memberikan tanda tanya besar ke dalam kepalaku.

Setelah aku perhatikan ke arah lapangan upacara melalui jendela, ternyata dia sedang berjalan perlahan menikmati rintikan air hujan yang berjatuhan membasahi wajahnya. Dengan tergesa-gesa aku pun berlari sambil menarik tas yang cukup berat ini ke arah lapangang.
“Re tunggu! Sekarang aku tahu siapa kamu sebenarnya. Kamu adalah teman masa kecil ku yang sudah lama menghilang, maaf kalau aku telat menyadarinya, kamu tahu kan kalau aku lemot. Emm… apakah kamu masih ingat dengan ku?” teriaku di tengah gerimis.
Dia hanya tersenyum dan berlari ke arah gerbang keluar. Dan aku tahu maksud dari senyuman itu. Dengan hati yang terbakar dengan api yang tadi sudah padam, aku pun berlari mengejarya dan pada akhirnya kita pulang bersama seperti saat dulu waktu kita masih duduk di bangku sekolah dasar dan yang terpenting sekarang kami bukan sekedar berteman tapi kami menjalin hubungan yang spesial sampai kami berada dalam satu rumah bersama satu anak laki-laki yang sedang tersenyum bangga mendengar ceritaku ini dan semua ini tersimpan rapih dalam ingatanku sampai kapan pun.

Cerpen Karangan: Mohammad Syarif Hidayat (botep)
Blog: Botep02.blogspot.com

Cerpen Dalam Ingatanku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


In Love With Solmed

Oleh:
“Ika, pliss.. susu strawberry gue jangan diminum donggg.. ahh lo mahh..” kata gue. Hai gue Felis . Si Ika tadi itu solmed gue dari tk sampe sekarang nama asinya

Tuhan… Aku Mau Yang Itu (Part 3)

Oleh:
3 minggu menjelang pembukaan pabrik di Malang, Davin mulai menunjukan perubahan, dia full time di kantor dan mulai serius mempelajari apa-apa yang aku ajarkan, hampir setiap hari kami pulang

Anang Si Blontang

Oleh:
Siang ini warung pak Mistad sangat ramai, si “pawang” sekolah ini rupanya sedang kebanjiran rejeki. Sejak Kantin sekolah direnovasi, warung ini jadi idola anak-anak. Bu Mistad kewalahan meladeni para

Februariku

Oleh:
Fajar pagi paksaku untuk segera terbangun dari lelapku. Angin menderu seakan bisikan “kau harus terbangun”. Suasana pagi yang sedikit ramai karena tak tentunya cuaca, belum juga menyegerakan ragaku untuk

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *