Dia Yang Tulus

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 28 March 2016

Kelvin menatap tubuh kurus adik perempuannya. Mata sendunya tak berhenti menangis setiap bertemu adiknya. Kalau sudah begini, adiknya hanya tersenyum tipis sambil berkata, “Kakak jangan sedih dong.” Tapi pagi ini berbeda. Awan kesedihan nampak lebih tebal. Kesedihan hari ini nampak tak biasa. Kelvin punya firasat buruk terhadap adiknya. Sore baru saja dimulai. Kelvin dengan lembut mengelus lengan adiknya. Sebenarnya ia lebih suka mengelus kepala adiknya, tapi kanker yang diderita oleh gadis kecil tersebut berhasil merengut seluruh rambut hitamnya.

“Kak,” panggil gadis kecil itu lembut.
“Iya, Key?”
“Kalau aku pergi Kakak jangan sedih ya. Aku janji kelak aku akan mengirimkan gadis baik yang bisa menemani Kakak secara tulus.” Ujarnya tersenyum.
“Ga, Key. Cuma kamu yang bisa nemenin Kakak dengan tulus selain mendiang Mama.”
“Gadis ini tulus banget, Key jamin!” Seru Key.

Seruannya nampak tak biasa. Perempuan itu tak pernah sesemangat ini sejak ia menjadi penderita kanker. Kelvin terhenyak. Adakah perempuan yang bisa menemaninya dengan tulus? Entahlah. Tiba-tiba, Keyla mengalami sesak napas. Wajahnya semakin pucat. Kelvin merasa ketakutan setengah mati. Ia segera memanggil dokter. Tapi terlambat sudah. Keyla sudah lebih dulu menghembuskan napasnya sebelum dokter datang. Kelvin seperti membeku. Hatinya menjerit walau mulutnya tak melakukan hal serupa. Kelvin lebih memilih diam. Mulutnya seperti digembok. Ia hanya memeluk tubuh Key yang mulai mendingin. Napas hangatnya tak lagi terasa di kulit Kelvin.

“Selamat jalan, Key, Adik Kakak tersayang. Semoga kamu tenang ya di sana. Kakak akan ingat ucapanmu. Makasih, Dik.” Kelvin menahan air matanya. Pagi berikutnya, Keyla dimakamkan di pemakaman yang tak jauh dari kediaman keluarganya Kelvin. Kelvin menatap pusara adiknya dengan sendu. Ia tak lagi dapat menyentuh adiknya. Ia akan merindukan gadis kecil itu sepanjang hidupnya. Thanks, Key, lirih Kelvin.

5 tahun berlalu. Rasa kehilangan itu masih tersimpan di ruang tersendiri di hati Kelvin. Kini Kelvin melangkah pelan. Ia akan bertemu Mei. Gadis keturunan Tionghua itu berhasil merebut hatinya. “Hai! Udah lama belum, Vin?” Kelvin menggeleng pelan sambil memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi. Setelah berbasa-basi cukup lama, Kelvin mengutarakan niat sebenarnya. Dengan wajah berat ia berkata.

“Mei, kamu mau tahu sesuatu gak?”
“Apa?”
“Walau kamu bukan pacarku, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Tapi ada satu hal yang ingin ku ungkapkan padamu,”
“Iya, ya kita memang tanpa status sih, tapi that’s okay, apa lagi?”
“Aku udah dijodohin sama Gisella atas usulan Ibu tiriku. Maaf aku baru memberitahumu, Mei.”
“Tap-tapi, kau bisa saja menolak perjodohan itu, kenapa kau tidak menolaknya?” Tanya Mei sedih.
Kelvin hanya terdiam. Ia pergi meninggalkan Mei sendirian di bangku di tepi danau. Kata terakhir yang Kelvin ucapkan adalah, “Jauhi aku, Mei.”

Malam telah tiba. Kelvin berbaring di atas tempat tidurnya. Ia kepikiran dengan Mei. Sebenarnya ia masih menyayangi gadis itu, tapi ia tak bisa menolak permintaan ibu tirinya. Jadi Kelvin memilih untuk mulai membuka hati pada Gisella. Ia pun mematikan lampu kamarnya dan mencoba untuk tidur.

Tok-tok-tok

Kelvin membuka matanya. Ia baru saja tertidur. Siapa sih malam-malam begini? Desah Kelvin. Kelvin melangkahkan kakinya ke arah pintu. Di balik pintu nampak Gisella berdiri sambil tersenyum imut. “Apa?” Tanya Kelvin malas.
“Tunjukkin aku kamar kosong dong! Malam ini aku menginap di rumahmu. Mamamu lagi sibuk, jadi kamu bantu aku ya.” Ujar Gisella manja. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Kevin langsung memimpin jalan Gisella menuju kamar tamu. Selesai menunjukkannya Kelvin langsung berbalik arah ke kamarnya.

Siang besoknya, Kelvin melamun di balik teralis jendelanya. Ia menatap ke awan mendung. Ia baru saja pulang dari rumah sakit untuk mengecek kondisinya. Ia menderita penyakit kanker. Penyakit ganas itu menyerang otaknya. Hasil itu ia genggam dengan kuat hingga menimbulkan bekas di kertas tersebut. Kelvin tak mempersalahkan soal penyakitnya, yang membuatnya merasa sedih adalah ia harus berpisah dunia dengan Mei dengan cara seperti ini. Ia ingin sekali Mei berada di sisinya, merawatnya hingga akhir napasnya. Tapi ia tahu, ia tak mungkin lagi meminta perhatian Mei karena ia baru saja meminta gadis itu untuk menjauh.

“Kelvin!” Panggil Ibunya tegas. Kelvin terperanjat. Ia segera menyembunyikan surat dokter tadi di belakang punggungnya. Mata ibunya menyipit. Sang ibu melangkah dengan kasar ke arah Kelvin. “Apa itu? Berikan pada Ibu!” Teriak Ibunya tertahan.
“Tidak apa-apa.” Ujar Kelvin masih berusaha menyembunyikannya.

Tapi usaha yang sia-sia, tangan sang Ibu berhasil meraih surat tersebut. Ia baca dengan seksama. Betapa terkejutnya ia. Anak tirinya itu mengidap kanker stadium 2. Pantas saja ia sering menemukan anak tirinya pingsan tanpa sebab ataupun mimisan. “Tidak bisa dibiarkan. Kamu akan sekolah di rumah dan dirawat oleh Gisella. Ibu akan sewakan dokter pribadi untukmu.” Kelvin menarik rambutnya kasar. Apa? Dirawat Gisella seharian? Ide buruk. Tapi Kelvin tak mungkin menolak ide itu karena ibunya akan membuat ide buruk lainnya kalau Kevin berani menolak.

Sebulan sudah dirinya penuh di rumah oleh calon tunangannya itu. Gisella dengan senyumnya selalu mengurus Kelvin. Dengan telaten ia menyuapi Kelvin. Kelvin tak keberatan, nampaknya ia sudah mulai membuka hati untuk Gisella. Satu hal yang Kelvin tak tahu, setiap hari ada satu gadis yang selalu menangis. Orang itu adalah Mei. Mei selalu melewati rumah Kelvin setiap pulang sekolah. Dari balik pagar, kamar Kelvin terlihat jelas. Dan dari jendela tersebut, kamar Kelvin menyuguhkan pemandangan menyakitkan untuk Mei. Mei selalu pulang ditemani tangis tiap harinya. Andai ia yang berada di posisi Gisella, tentu ia akan merawat Kelvin dengan tulus. Ia punya firasat tak baik terhadap Gisella tapi ia tidak tahu itu apa.

Akhir-akhir ini kondisi Kelvin semakin memburuk. Kini kanker otaknya sudah menginjak stadium 3. Dan Kelvin tak lagi dirawat di rumahnya. Melainkan di rumah sakit. Gisella masih merawatnya walau tak seintens dulu. Kelvin sebetulnya sudah merasa nyaman dengan Gisella. Karena gadis itu selalu memberi perhatian lebih padanya. Dan itu membuat Kelvin senang sekaligus nyaman.

Embun pagi menyapa. Semua orang di luar sana sedang menikmati hari pagi. Tapi tidak dengan Kelvin. Ia sedang berada di ruang rawat inap dengan kondisi yang benar-benar buruk. Rambutnya rontok semua karena efek kemoterapi. Dan berat tubuhnya turun drastis. Kelvin teringat kondisi adiknya dulu. Sama seperti kondisinya sekarang. Gisella sudah 2 hari tak datang. Hal itu membuat Kelvin merasa kehilangan. Di mana gadis itu? Kini yang ada di pikirannya hanya Gisella dan Gisella. Tak ada lagi Mei.

Sosok yang tak diduga pun datang. Gadis cantik berpakaian casual membuka pintu kamar rawat Kelvin. Kelvin berusaha mengingat wajah gadis yang tulus itu. Dia adalah Mei! Bola mata Kelvin melotot seakan ingin ke luar dari kelopaknya. Mulutnya diam membisu, sama seperti mulut Mei. Bedanya, kini Mei menangis memperhatikan kondisi Kelvin. Raga itu kini berbeda jauh dengan Kelvin yang Mei kenal 3 bulan yang lalu. “Kenapa lo di sini? Gue udah bilang kan, jangan ganggu hidup gue lagi!” Bentak Kelvin. Mei tak mengerti kenapa Kelvin berubah kasar. Kelvin yang Mei tahu, tidak pernah membentak wanita. Lidah Mei terasa kelu.

“Tap-tapi–” ucapan Mei terpotong.
“Gue gak butuh lo, Mei. Pergi sekarang, karena yang gue butuhin itu Gisel, bukan lo. Lo tuh cuma cewek pembohong! Lo bilang lo sayang gue, tapi kenapa lo pacaran sama Diki!?” Teriak Kelvin dengan napas tersengal-sengal. Mei melotot kaget. Pacaran dengan Diki? Ya Tuhan, Mei bahkan belum bisa melupakan Kelvin barang setitik pun.
“Siapa yang bilang gue pacar Diki?” Tanya Mei bergetar.
“Gisella.”
“Lo kenapa percaya dia?” Tanya Mei setengah berteriak.
“Karena dia calon tunangan gue jadi dia gak mungkin berbohong!” Jawab Kelvin ketus.

Mei tak tahan lagi dengan tuduhan Kelvin. Ia mengambil HPhp itu. Dirinya terhenyak. Mei tidak berbohong. Gisella yang berbohong. Mei benar-benar tulus menyayangi Kelvin. Kelvin menghembuskan napas panjang. Ia tak percaya, Gisella berani membohonginya, entah untuk alasan apa. Tak puas sampai di situ, Mei mengambil kembali hp-nya. Kembali ia mengutak-atik benda pintar tersebut. Sesaat setelahnya, Mei berkata, “Lo dengar rekaman ini.” Kata Mei menahan tangis.

Rekaman itu mengeluarkan suara, berisi, “Hellaw! Gue tunangan sama Kelvin? Nggak deh! Dulu sih iya gue mau tunangan sama dia, tapi sekarang? Gak mau lagi gue! Masa cewek kelas atas kayak gue tunangan sama cowok penyakitan? Emang sih dia anak orang kaya dan dia juga ganteng abis, tapi tetap aja gue gak mau punya pasangan pengidap penyakit kanker!” Tegas suara seorang perempuan. Mei memasukkan hp-nya ke dalam saku. Dengan mata merah, ia menatap ke arah Kelvin. Seakan tatapan matanya bertanya, ‘Lo tahu itu suara siapa?’ Kelvin terdiam untuk beberapa detik. Kemudian ia mengeluarkan suara, “itu suaranya Gi-Gisella?” Tanya Kelvin ragu.

Mei mengangguk mantap. Kelvin terisak. Gisella ternyata begitu jahat. Orang yang selama ini Kelvin pikir merawatnya dengan tulus ternyata menyimpan dusta. Gisella tak pernah sayang padanya. Karena kalau memang Gisella sayang, ia tak mungkin meninggalkan Kelvin dalam keadaan sekarat sekali pun. Kini Kelvin tahu mengapa Gisella tak pernah datang lagi untuk menjenguknya. Mei memeluk Kelvin erat. Ia tak tega melihat pemuda itu menangis. Sekali pun Kelvin sudah menyakitinya, maafnya akan selalu ada untuk Kelvin. Ia meletakkan kepalanya di atas dada milik Kelvin. Ia bahkan dapat mendengar suara detak jantung pemuda kesayangannya itu.

“Aku minta maaf, Mei. Aku tahu aku salah. Aku gak bisa bedain mana yang munafik dan mana yang tulus. Cuma maaf yang bisa aku ucapkan.”
“Maafku selalu ada untukmu, Vin.” Jawab Mei tulus.
“Tapi, carilah laki-laki lain, Mei. Laki-laki yang bisa merawatmu, bukan laki-laki yang memintamu untuk merawatnya seperti aku.” Ujar Kelvin sedih.
“Nggak, aku yang akan merawatmu, Vin. Mulai sekarang sampai kapan pun, aku janji bakal selalu ada buatmu, dalam kondisi apa pun. Karena aku menyayangimu secara tulus bukan secara fisik.”

Kelvin terhenyak mendengar ungkapan Mei. Dengan tangannya yang lemah, ia memeluk Mei. Sambil mengusap lembut kepala Mei, ia berkata, “Thanks untuk selalu ada buatku Mei. Aku beruntung dipertemukan sama perempuan sebaik dirimu.” Nada Kelvin terdengar tulus. Mei tersenyum simpul. Sebuah ucapan tak terduga meluncur dari mulut Kelvin. “Mei, aku serius untuk hari ini, jadilah pacarku, Mei.” Mei terkesiap. Kelvin meminta dirinya untuk menjadi pacarnya? Mei bermimpikah? Tentu tidak. Dengan haru, Mei mengangguk cepat. Jawaban Mei diiringi oleh elusan Kelvin terhadap rambut Mei. Kali ini, ia kembali teringat pada Keyla. Adik kecilnya itu menepati janjinya. Janji untuk memberikan perempuan baik dan tulus untuk kakaknya itu. Kelvin tersenyum dan berkata di dalam hatinya, “Thanks, Key!”

Tamat

Cerpen Karangan: Marcella
Facebook: Marcella Scaheffer
Penulis yang suka berimajinasi dan menuangkannya ke dalam cerpen. Kunjungi IGku ya: @marcellaaa_

Cerpen Dia Yang Tulus merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jodoh Untukku

Oleh:
“setelah bertemu langsung denganmu, akan kudaki semua jabal di dunia agar bisa memilikimu, karena kau telah berlabuh di dermaga hatiku maka ku takkan melepaskanmu. wajahmu bak mantra yang akan

Taman Beribu Kenangan

Oleh:
Taman yang indah ini adalah awal perkenalan dan perpisahanku bersama Raka yang menjadi kekasihku waktu aku masih SMP. Tapi kini aku sudah berpisah dengan Raka. Saat ini aku sudah

Salah

Oleh:
Pagi itu aku masih menjalani aktivitas seperti hari-hari sebelumnya. Menjalani rutinitas yang memang tiada habisnya. Aku selalu sampai di kantor terlebih dahulu ketimbang munculnya matahari. Cukup lama sudah aku

Bekal Nasi

Oleh:
Semenjak aku sekolah pagi, aku jadi lebih banyak kegiatan. Kegiatan tambahan dari ekskul, rapat osis dan latihan musik benar-benar membuatku jauh dari makan siang, terutama jauh dari Nasi. Tapi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *