Dibalik Perjodohan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 13 February 2019

Bulan tanggal tua mengapung kesepian. Selembar awan tipis membelainya dengan penuh kasih sayang. Cahayanya yang redup tak mampu memberikan bayangan pada pucuk pohon cemara. Nampak, Irma sedang duduk ditemani terangnya lampu 20 watt di depan rumahnya. Kedua matanya menyipit dan menerawang jauh. Seakan akan ingin menembus gelapnya malam. Bulan tua yang sudah ompong itu terus memandangi Irma. Sepertinya ia ingin melemparkan senyum dan menyapanya. Tapi, entahlah. Toh Irma tak akan paham ungkapannya.

Malam terus berayun-ayun. Kedua mata Irma masih menerawang ke depan. Dan entah mengapa, diujung pandangannya yang gelap itu tiba-tiba Irma melihat kembali perkataan ayahnya. Irma merasakan tekanan yang sangat berat. Nafasnya menjadi sesak. Dadanya bagai dihimpit batu gunung yang sangat besar. Irma menarik nafas panjang. Ia tak habis pikir. Mengapa ayahnya tega melakukan itu kepada Irma. Irma tidak mau dijodohkan. Bukankah setiap manusia berhak menentukan pasangan hidupnya sendiri. Pertanyaan-pertanyaan itu timbul tenggelam dari permukaan fikiran Irma. Akhirnya irma menyadari, bahwa yang bisa memberikan penjelasan hanya ayahnya sendiri.

Dengan secepat kilat Irma bangkit. Ia bergegas masuk ke ruangan dalam. Dia kemudian duduk dekat ayahnya yang sedang sibuk dengan laptopnya. Maka pertanyaan-pertanyaan tentang perjodohan itu pun baru bisa diajukan setelah ayahnya selesai mengetik. Ayahnya tidak langsung menjawab. Dia masih menyerudut kopi yang sudah mulai dingin. Irma nampak tidak sabar.

“Dulu, waktu aku masih duduk di bangku SMA. Aku pernah menjabat sebagai ketua OSIS. Waktu itu menjelang Hari Pendidikan Nasional. Aku dan pengurus OSIS lainnya berinisiatif mengadakan kegiatan dalam bentuk seminar pendidikan. Setelah kami mengadakan rapat kepengurusan, maka di selembar kertas telah tertulis rapi hal-hal yang berkaitan dengan acara itu. Mulai dari panitia-panitianya dan anggaran-anggarannya pun sudah ditentukan.
Hari demi hari terus berayun-ayun melambaikan tangannya. Waktu yang telah ditentukan untuk acara itu menyambut dengan seramah-seramahnya. Sebelum tepat hari pelaksanaan, segenap pengurus dan panitia diharap hadir ke sekolah untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Kau tau Irma apa yang terjadi waktu itu?” Irma mengerutkan keningnya.

“Hari itu saat mentari mulai terbangun dari tidur malamnya yang panjang dan bersinar dengan kekuning-kuningan. Aku yang merasa paling bertanggung jawab segera menggerakkan kaki-kakiku menuju sekolah. Aku berjalan menyusuri jalanan setapak yang di pinggirnya banyak ditumbuhi pohon-pohon perdu. Suara dedaunan kering yang remuk terinjak mengiring di setiap langkah-langkahku. Setelah aku melewati pemakaman aku pun tiba di sekolah.
Dan setelah sampai di sekolah. Tak satu pun batang hidung kujumpai di sana. Sepi, sunyi, tak ada siapa-siapa. Aku berharap diantara mereka masih di jalan. Aku berusaha menyabarkan diri untuk menunggu. Tapi setelah sekian lamanya aku menunggu dan otot-ototku sudah mulai tegang. Tak satupun diantara mereka muncul dari sudut-sudut pandanganku. Aku kemudian bangkit dan berjalan. Belum seberapa jauh aku melangkah. Tiba-tiba .. “Bang..!” Suara itu memanggilku. Aku tidak menjawab. Aku hanya menoleh kepadanya.
“Mana temen-temen yang lain?” Aku kembali tidak menjawab. Aku hanya melemparkan senyumku yang pahit. Akhirnya setelah melewati perbincangan ala kadarnya. Aku dan dia memutuskan untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk acara itu. ‘Kalau bukan sekarang kapan lagi, kalau bukan kita siapa lagi.’ Sedikit demi sedikit aku dan dia mulai bekerja. Menyiapkan kursi dan merapikannya. Membuat dekorasi dan lain-lainnya. Keringat pun bercucuran di keningnya yang putih. Dita temenku itu pun terlihat lelah dan letih. Aku kasihan melihatnya. Tidak seharusnya dia melakukan #emua itu. Bukankah ada yang lebih bertanggung jawab. Karena secara struktur kepanitiaan maupun kepengurusan dia bukan siapa-siapa. Tapi kerjanya lebih dari orang yang aku percayai.”

“Aku dan dia baru menyelesaikan pekerjaan itu setelah matahari hinggap di ujung sebelah barat hamparan bumi batas aku memandang. Aku dan dia keluar dari Aula hampir bersamaan. Aku tidak langsung pulang. Aku masih duduk-duduk sekedar memberi kesempatan pada angin untuk mengisap keringatku.”
Ayah Irma pun bercerita panjang lebar tentang kisahnya dengan temen perempuannya. Ayahnya juga menceritakan kisahnya bahwa ia tidak berjodoh dengan perempuan itu. Hingga sampailah cerita pada akhirnya mereka berdua sepakat akan menjodohkan anaknya nanti. Jika memiliki anak yang selawan jenis.

“Jadi hanya gara-gara itu ayah melakukan ini semua?” Irma memotong cerita ayahnya.
“Tunggu Irma, ayah belum selesai bercerita.” Irma tidak menghiraukan ayahnya. Dia bergegas pergi meninggalkan ayahnya. Secepat angin bertiup Irma sudah meninggalkan halaman rumahnya. Dia berlari membawa kekesalan pada ayahnya dan tak tau akan kemana. Dia terus saja berjalan melintasi jalanan beraspal. Irma terkejut. Tiba-tiba di hadapannya sudah berdiri seorang laki-laki. Dia ingin menjerit, tapi ia segera mengenali wajahnya. Dialah Erfan kekasihnya.

“Kau mau kemana Irma?”
Irma tidak menjawab. Dia hanya menarik nafas panjang. Namun tiba-tiba suara gemuruh datang memecah kesunyian malam. Sedikit demi sedikit air hujan pun mulai di tumpahkan dari langit. Mereka berdua berlari menuju gardu untuk menghindari terpaan air hujan. Detik demi detik pun terus berganti. Hujan pun tak kunjung reda. Irma menggigil kedinginan.

Perlahan-lahan Erfan menggeser letak duduknya mendekati Irma. Irma dian saja. Lelaki itu kemudian menciumi pipi dan mulutnya. Irma tak bergeming. Erfan semakin berani. Lelaki itu menciumi leher dan kemudian turun ke bagian dadanya. Akhirnya sepasang anak manusia berlawanan jenis itu hanyut terbawa oleh hawa nafsu yang menggiurkan. Malam yang terus mengalir. Air hujan yang terus tumpah dari langit. Pohon pohon yang menggigil kedinginan. Adalah saksi bisu cinta mereka. Menjadi saksi bahwa mereka telah terjatuh ke dasar jurang yang sangat dalam. Yakni jurang KEHINAAN.

Cerpen Karangan: Syamsul Arifin
Blog: www.syamsularifin.id

Cerpen Dibalik Perjodohan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Come Back (Part 2)

Oleh:
Jam makan siang pun selesai dan kami berdua kembali ke kantor bersama-sama dengan menggunakan mobil kantor yang biasa dipakai oleh staf marketing untuk berkeliling. Aku dan Defina pun merasa

Cinta Hingga Ujung Waktu

Oleh:
Mengelak dari cinta yang hadir secara tiba-tiba. Namun apa daya diri ini tak mampu untuk mengelak. Walau sudah banyak cara dilakukan untuk mengelak. Tetap cinta itu tak mau menghilang.

Aku dan Ilalang

Oleh:
Sabtu, 19 Januari 2013 Mulai hari ini, komitmen itu harus ada. Aku harus bisa melupakan dia untuk sekarang atau bahkan mungkin untuk selamanya. Mungkin jalan yang aku pilih ini

Ketika Sahabat jadi Cinta

Oleh:
Dina Bergegas menyetater motor kesayanganya untuk segera melaju ke rumah Reno, sahabat dekatnya sedari duduk di bangku SD. Ia Berencana melakukan belajar Fisika bareng di rumah Reno. Belajar bersama

Everlasting Woman

Oleh:
Mengagumi hanyalah sebuah rutinitas, dipikir tak berarti tapi menenangkan hati. Matanya yang selalu tajam dan tak pernah menatap, mungkin sebuah prinsip. “Apakah dia tak pernah jatuh cinta?” pertanyaan yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *