Dinar Pria Solo

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 21 July 2021

“Maaf aku ga bisa”. Ia pergi meninggalkan secarik kertas untukku.

Hmm mimpi itu lagi rutukku. Empat kali mimpi yang sama selama beberapa bulan terakhir. Ini pasti karena aku terlalu banyak memikirkannya. Wajar saja jika mimpi itu berulang. Aku masih menyukainya padahal aku tau ia tak mungkin kembali. Aku tidak tau harus bagaimana, susah payah melupakannya. Dengan tidak tau diri ia sering datang ke mimpiku. Jadi aku memilih untuk mendoakannya saja.

Namanya Dinar Euday. Pria yang bersamaku selama tiga bulan ketika aku sedang magang di kota Solo. Sekarang aku tidak tau bagaimana kabarnya. Dari salah seorang temanku, ia mengatakan bahwa Dinar sudah lama menikah. Aku sedikit kecewa. Barangkali beritanya salah.

Delapan tahun yang lalu aku berusaha mempertahankan hubungan kami. Kupikir ini hanyalah sebuah kesalahpahaman saja. Namun, ia tidak mau mendengar penjelasan apapun dariku. Ia tak mengatakan apapun, tiba-tiba saja memblokir semua media sosialku. Sampai sekarang aku tidak tau jika masih diblokir atau tidak. Setelah delapan tahun aku menginjakan kaki lagi di kota Solo. Dipindahtugaskan di kota ini sebagai Kepala Sekolah di SD Lazuardi Kamila.

Hari pertama menjabat sebagai kepala sekolah, membuatku cukup sibuk dan harus menyesuaikannya. Cuaca sedang cerah, aku berjalan ke seberang sekolah untuk membeli es kelapa. Banyak anak kecil, tentu saja karena ini adalah waktu istirahat.

“Mamaa” samar-samar kudengar suara anak kecil di pojokan. Kuhampiri karena merasa penasaran.
“Maaf adik, apa tadi kamu memanggil saya dengan sebutan Mama” tanyaku penasaran.
“Iya, Ibu mirip sekali dengan Mama. Bolehkah sepulang sekolah nanti, Ibu bermain dengan saya di rumah?” Tanyanya sekaligus memohon.
Tentu saja aku tidak tega. Setelah kucari tau ternyata ia muridku kelas 2. Aku mengangguk menyetujuinya. Lagipula pekerjaanku bisa aku selesaikan setelah pulang dari rumahnya.

Setelah mobilku terpakir di halaman rumahnya. Aku disambut oleh pembantunya dan langsung disuguhi minum. “Raimu katon kaya Ibu Mega, nduk” yang artinya wajahmu mirip sekali dengan Ibunya Mega, muridku. Aku segera menyadarinya. Benar saja, foto yang dipajang di ruang tamu, wajahnya cukup mirip denganku. Itu pasti suaminya, ucapku dalam hati. Sejujurnya aku tidak suka bila ada yang mengaku mirip denganku. Setelah bicara panjang lebar aku pamit pulang.

Beberapa bulan berlalu, aku menjadi sering ke rumah Mega. Selain karena aku menyenangi anak-anak juga karena Mega adalah anak yang lucu dan supel.

Hari ini Mega menemaniku pergi ke Gramed, aku membeli beberapa buku karena aku gemar membaca. Setelah itu kami melanjutkan ke timezone. Ah, sudah lama sekali aku tidak kesana. Sambil bermain, Mega menceritakan Ibunya kepadaku. Ibu Mega mengalami kecelakaan ketika pergi liburan menghampiri adiknya yang berada di kota Malang. Ayahnya sudah menikah lagi, dan Mega diurus oleh neneknya di kota ini. Hanya sesekali saja ayahnya berkunjung.

“Seperti jarum yang patah tidak akan bisa lagi digunakan untuk menjahit, aku bisa saja menggantinya dengan jarum yang baru. Namun, aku tidak ingin lagi menjahit. Sesuatu yang patah cukup disimpan saja, tidak perlu diperbaiki ataupun diganti”. Kuseselesaikan ketikanku. Selain menjabat sebagai kepala sekolah, aku juga aktif sebagai cerpenis. Kulakukan hanya untuk sekadar melepas penat saja.

Bapak baru saja mengirimiku pesan “Naya usiamu sudah 28 tahun, karirmu juga bagus. Apa kamu tidak berniat untuk menikah? Bapak dan Ibu sudah tua, rasanya ingin melihat kamu bahagia dengan pasanganmu dan meminang cucu”. Lebaran tahun ini pulanglah, bawa calon imammu ke rumah, kenalkan pada Bapak dan Ibu”. “Nanti Naya usahakan”. Balasku singkat. Entahlah aku yang tidak lagi mementingkan asmaraku atau memang jodoh yang belum waktunya datang. Tujuan hidupku bukan hanya untuk menikah.
Setelah tidak dengan Dinar, aku menjalin hubungan dengan Daffi lelaki Palembang yang manis. Sama seperti janjinya.

Minggu kali ini aku mengisi waktu luang dengan datang ke Fortuna Gym. Salah satu tempat gym di kota Surakarta. Tidak enak hati telah menolak ajakan Fia temanku, yang beberapa kali memaksaku olahraga. Fia ini dulunya merupakan teman magangku. Beruntungnya kami bertemu lagi setelah delapan tahun. Ia sudah menikah dan memiliki sepasang anak yang menggemaskan.

Setengah jam aku menunggu disini, tapi Fia tak kunjung datang. Laku aku dikejutkan karena ia membawa Dinar, seseorang yang masih kusayangi hingga sekarang. Jantungku serasa mau copot, bingung bagaimana harus meresponsnya. Kikuk. Dinar hanya tersenyum kepadaku. Sepatah katapun tak keluar dari mulutku. Ketika mereka berbicara, hanya kusimak saja. Dinar memutuskan pulang terlebih dahulu. Kesini dengan niat refreshing malah berujung jadi overthinking. Semua gara-gara Fia. Fia menenangkanku, ia mengatakan bahwa nanti Dinar sendiri yang akan menjelaskannya padaku.

Tiga bulan kemudian, aku masih terus memikirkan pertemuan pertama setelah sekian lama tak bertemu. “Apa maksudnya? mengapa ia tau aku ada di Solo? Apa Fia memberitahunya?”. Gumamku dalam hati.

Sebuah notif dari line. Setelah cukup lama tak pernah kubuka, karena dulu hanya kugunakan untuk bertukar kabar dengan Dinar dan Daffi. Maklum line hanya kugunakan untuk bertukar kabar dengan pacarku. “Nay ini Dinar, kamu kapan ada waktu luang? Apakah kita bisa mengobrol santai, kutunggu jawabanmu ya” jujur aku begitu kaget, ternyata ia sudah membuka blokir media sosialku. Banyak sekali yang ingin kutanyakan, selama delapan tahun kemana saja?, kabar istrinya bagaimana? atau jangan-jangan saat aku akan bertemu dengannya, dia malah membawa istri dan anak-anaknya juga. Aku overthinking lagi…

Tiga hari kemudian kami bertemu di Starbucks Solo Paragon. Wajahnya masih teduh seperti dulu, juga senyum dengan lesung pipi. Namun, ia hanya sendiri tak membawa keluarga maupun temannya.
“Nay, sebelumnya aku minta maaf kepadamu, karena sudah tiba-tiba menghilang tanpa kabar, maaf juga karena tak pernah membalas pesan panjangmu”. Tuturnya sambil menatap mataku.
“Aku hanya ingin… ingin kamu menjelaskan hal yang tidak aku ketahui” kataku sedikit gugup.

“Dulu aku terlalu cepat mengakui perasaanku padamu. Aku tidak benar-benar menyukaimu, tetapi kamu begitu antusias. Aku tak enak hati, jadi selama kamu magang aku berjanji pada diri sendiri untuk menemanimu disini. Aku juga tau bahwa kamu masih menyukaiku. Kamu menulis beberapa buku tentangku, semuanya sudah kubaca. Aku rutin membeli buku karyamu setiap tiga bulan sekali. Kamu pasti bertanya-tanya soal pernikahanku. Aku belum menikah kok, waktu itu tidak jadi menikah karena ada beberapa masalah. Kamu gadis yang baik, aku tau itu. Tetapi aku tidak cukup baik untukmu. Jadi, sebaiknya kamu jangan pernah mengharapkan apapun dariku lagi. Jangan menangisiku. You deserve better Nay”. Ucapnya panjang lebar menjelaskan kepadaku.
“Baiklah Eud” jawabku singkat lalu meninggalkannya. Tentu saja menahan tangis.

Jam baru menunjukkan pukul 5 pagi. Bi Ina, pembantunya Mega meneleponku mengatakan bahwa Mega sedang terkena DBD dan dibawa ke rumah sakit dini hari, jadi aku buru-buru ke rumah sakit untuk menjenguknya. Sesampainya disana, lagi-lagi aku dikejutkan dengan kehadiran Dinar. Dia ada disini. Seharusnya aku bertanya kepada Mega, entahlah tetapi aku memang tidak suka usil tentang kehidupan orang lain. Dinar adalah adik ibunya Mega. Ia memanggilku dan kami mengobrol diluar. Dinar belum lama kembali ke kota Solo. Ia menyelesaikan gelar magisternya beberapa bulan yang lalu. Saat aku bertemu dengannya di Fortuna Gym, itu hari kedatangannya. Alasan mengapa aku tidak pernah bertemu dengannya dirumahnya.

Lebaran sebentar lagi akan tiba, aku memutuskan untuk pulang ke kampung halaman di kota Surabaya. Berbekal oleh-oleh khas Solo, aku pulang. Bapak dan Ibu menyambutku dengan penuh semangat. Menjadi anak nomor dua cukup menyenangkan, karena masih mendapat kasih sayang yang cukup dari orangtua. Bapak tidak menyinggung pesannya beberapa waktu lalu tentang pasanganku. Tengah melihat Bapak membaca koran, aku memberanikan diri untuk bertanya.

“Bapak kok gak marah sama Naya?” tanyaku hati-hati.
“Ngapain marah? Bapak manut saja dengan pilihanmu” ujar bapak.
“Assalamu’alaikum….”
“Nah, itu dia sudah datang, ayo bersiap-siap dulu, Bapak dan Ibu akan berbincang-bincang dengannya”

Yang datang adalah Dinar. Diam-diam ia memberitahukan niat baiknya kepada Bapak sebulan yang lalu. Semesta selalu saja memberiku kejutan manis. Dinar sudah benar-benar bisa menyayangiku dengan tulus. Aku terharu ia bersama keluarganya datang untuk melamarku. Tidak perlu berusaha begitu keras untuk melupakan seseorang, biarkan semesta bekerja.

Cerpen Karangan: Qina Algaisa
Facebook: Kinaa
Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 21 Juli 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Dinar Pria Solo merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kehilangan Rini

Oleh:
“Ini bukan salahku.” “Sudah jelas itu salah kamu, Wil. Ingat, kamu orang terakhir yang bertemu Rini. Setelah itu dia hilang entah ke mana, bak ditelan bumi.” “Iya bener tuh.”

Sebuah Pertanyaan (Part 2)

Oleh:
“Hohoho!” Mas Tyo tertawa. “Kaget, ya?” Aku menatap Mas Tyo dari sepatu hingga ujung rambutnya. Penampilannya benar-benar berubah. Aku tahu pasti penampilan alumnus yang satu ini yang biasanya acak-acakan

Spektrum Ilusi

Oleh:
Terdapat sebuah rasa takjub bercampur iri manakala terpampang cerahnya langit pagi bersama hilir mudiknya koloni burung burung gereja, mereka terbang dengan bebasnya tanpa terbelenggu ikatan adat maupun kepercayaan. Pergi

Pertemuan Singkat

Oleh:
Hari ini hari sabtu, aku mendapat tugas yang menjenuhkan sekali, aku memutuskan untuk keluar rumah sebentar mencari udara segar agar tidak stress, atau mungkin setelah jalan-jalan aku bisa fresh

Daun Yang Gugur

Oleh:
Ini adalah kisah cintaku yang ketujuh. Semua bermula dari cinta lokasi. Dia bernama Akegami Tomoe. Aku melihat Tomoe pertama kali, saat Tomoe melewati kursi yang aku duduki. Aku melihat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *