Em dan Kim

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 15 March 2017

Pada suatu malam, sekelompok anak tampak beriringan melintasi sebuah jalan setapak yang terletak di samping kompleks pemakaman. Jalan itu merupakan jalan penghubung satu-satunya antara kampung mereka dengan Surau tempat anak-anak itu mengaji. Tiba-tiba, dari bawah pohon beringin angker yang berada di ujung makam terdengar suara tangisan seorang anak perempuan. Semua terperangah kaget bercampur takut mendengar suara tangisan tersebut. Kontan hal itu membuat semua orang lari terbirit-birit karena takut. Kecuali satu orang anak lelaki bernama Emin Em, dia tanpa rasa takut mendekati sumber suara tersebut.

Kemudian sekilas terlihat oleh Em seorang anak perempuan berambut panjang berbaju putih. Anak perempuan tersebut tampak kebingungan sembari menangis tersedu-sedu. Melihat hal itu, Em perlahan mendekati anak tersebut dan berkata.
“Kamu kenapa menangis sendirian di tempat ini?” tanya Em.
Tangisan anak perempuan tersebut terhenti sejenak. Sembari membuka kedua telapak tangan yang menutupi wajahnya, dia berpaling kepada Em. Tak lama kemudian gadis tersebut menjawab pertanyaan Em dengan nada sendu.
“Aku tersesat dan tidak tahu jalan pulang!” ucap anak tersebut.
“Sepertinya kamu bukan asli sini ya? Namamu siapa?” tanya Em.
“Nama Aku Kim, Aku dan kedua orangtuaku baru pindah ke Desa ini!” jawab Kim dengan tersedu-sedu.
“Oh, jadi kamu baru pindah! Kenalkan nama Aku Emin Em, panggil saja Em! mari Aku antar pulang!” ucap Em sembari mengulurkan tangannya kepada Kim.
Tangisan Kim pun reda, dia menghapus air matanya lalu menerima uluran tangan Em. Ini pertama kalinya Kim berkenalan dengan seorang anak lelaki yang tidak takut kepadanya dan sangat ramah seperti Em. Itu karena kebanyakan orang salah paham dan takut dengan Kim disebabkan penampilannya yang misterius, berwajah pucat, berambut panjang dan menyukai baju berwarna putih, mirip hantu wanita yang sering ada di film horor.

Tak lama kemudian Em pun mengantarkan Kim pulang ke rumahnya. Sejak saat itu, Em dan Kim menjadi sahabat dekat.

Beberapa tahun kemudian, ketika masa SMA, Kim mengalami kecelakaan ketika tabung gas milik Pedagang ROTI KADAL yang berjualan di dekat rumah Kim meledak. Ledakan tersebut menyebabkan wajah bagian kirinya terbakar. Kontan hal itu membuat Kim menjadi rendah diri untuk bergaul dengan teman sebayanya. Dia merasa terasing ketika berada dalam kerumunan orang banyak. Tapi, tidak demikian dengan Em. Dia tetap berteman dengan Kim seperti biasa. Dia juga tidak merasa terganggu dengan wajah Kim yang terbakar karena kecelakaan tersebut.

Suatu waktu, Kim diganggu oleh segerombolan pemuda karena sebagian wajahnya yang terbakar. Mereka memperolok Kim dan menyebut dirinya “Gadis Buruk Rupa”. Mereka bahkan tega berbuat kasar terhadap Kim yang hanya seorang gadis. Kim yang sebenarnya gadis yang tangguh dan jarang menangis, mendapat perlakuan seperti itu, akhirnya menangis juga dengan tersengguk-sengguk. Namun tidak ada orang lain yang berani membantu Kim karena mereka takut terhadap gerombolan pemuda tersebut.

Em yang melihat Kim menangis tersengguk-sengguk dikasari sekawanan pemuda, amarahnya timbul. Em berteriak kencang dan menghajar semua pemuda tersebut hingga mereka lari tunggang langgang. Tapi Em juga mengalami luka dan memar pada wajah dan tubuhnya. Sebenarnya dia ingin berteriak dan meringis kesakitan karena luka-luka di tubuh dan wajahnya. Meski begitu, dia tetap menahan rasa sakitnya dan mengulurkan tangannya kepada Kim sembari berkata.
“Jangan nangis, karena nanti aku juga bisa ikut menangis!” Ucapnya dengan raut wajah menahan ringisan karena rasa sakit.
Melihat Em, sahabat karibnya, pahlawan penyelamatnya, bertingkah sok keren meski raut wajahnya menahan ringisan karena rasa sakit membuat Kim tersenyum geli, tangisnya pun reda sembari menyambut uluran tangan dari Em. Tangan kekar yang telah melindunginya.

Suatu waktu, seseorang berkata kasar kepada Kim dan menghinanya dengan berkata.
“Dengan wajah buruk rupa seperti itu, kamu tidak akan pernah mendapati seorang Pria yang ingin menikahimu, Kim!” ucap orang tersebut kepada Kim.
Orang tersebut menghina Kim karena kesal dia kalah bersaing dengan Kim dalam sebuah Kontes Idola Menyanyi. Kim yang memiliki suara lebih bagus dari orang tersebut, kendati wajahnya memiliki cacat, berhasil menjadi juara dan mengalahkannya. Kim yang mendengar ucapan orang tersebut tidak bisa berkata apa-apa. Kim lalu beranjak pergi meninggalkannya.

Kim selalu teringat dengan ucapan orang itu, bahwa dia tidak akan memiliki suami karena wajahnya yang cacat. Dia sadar bahwa wajahnya yang buruk rupa itu akan membuat semua pria menjauhinya. “Siapa yang mau menikahi wanita yang wajahnya cacat seperti diriku?” ucap Kim dalam hati. Berhari-hari Kim mengurung diri di kamar. Jauh dalam hatinya dia ingin wajahnya dioperasi plastik hingga bisa pulih kembali. Namun apa daya, orangtuanya bukanlah orang kaya yang bisa membiayai dirinya untuk operasi plastik yang nilainya ratusan juta rupiah. Orangtuanya hanyalah keluarga sederhana, tidak pantas baginya meminta lebih kepada orangtuanya.

Pada suatu hari, Em datang berkunjung ke Rumah Kim. Namun Kim mengurung dirinya dan tidak mau keluar dari kamar. Kendati begitu, Em tidak menyerah untuk bertemu dengan Kim. Dia nekat menaiki balkon kamar Kim dan mengetuk jendela kamarnya sembari berkata.
“Kim, kalau kamu gak mau buka jendelanya, Aku bakalan loncat dari balkon ini! Aku serius Kim!” ucap Em dengan wajah serius.
Kim yang mendengar perkataan Em, membuka tirai kamarnya. Melihat Em bersiap melompat dari balkon kamarnya. Kim akhirnya menyerah dan membuka jendela kamarnya dan berkata.
“Jangan lompat Em, aku buka jendelanya!” ucap Kim sembari membuka daun jendela kamarnya.
“Nah, gitu dong!” ucap Em sembari tersenyum.

Akhirnya Em masuk ke kamar Kim dan bertanya kepadanya perihal hal yang membuatnya murung dan mengurung diri di kamar berhari-hari. Kim perlahan bercerita kepada Em tentang semua hal yang dia alami, tentang dirinya yang merasa rendah diri karena wajahnya yang buruk rupa. Dia juga bercerita tidak mungkin ada pria yang akan menikahi dia di masa mendatang karena mereka akan merasa jijik dengan kondisi wajahnya. Mendengar curahan hati dari Kim, Em dengan lembut membelai wajah Kim yang terbakar. Kim berusaha mensergah Em untuk membelainya karena luka bakar itu menjijikkan. Tapi Em tetap bersikeras membelai wajah Kim dan mendekatkan mulut dia ke kuping Kim sembari berbisik.
“Jangan khawatir Kim, Aku gak akan biarin satu Pria pun mendekati dan menikahimu! Karena hanya AKU YANG BISA MENIKAHIMU KELAK DAN MENJADI SUAMIMU!!”. Ucap Em dengan semangat tanpa ragu sedikitpun.
Kemudian Em mengecup dengan lembut bagian wajah Kim yang terkena luka bakar. Jantung Kim berdebar kencang ketika mendengar ucapan Em dan mendapat kecupan manis dari dirinya. Seolah semangat hidupnya kembali menyala. Hilang semua rasa rendah diri dan duka yang dia derita karena hinaan dari semua orang. Dalam benaknya hanya terbayang wajah Em, sang sahabat karib pujaan hatinya dan Pahlawan dalam hidupnya.

Beberapa tahun kemudian Em dan Kim diterima di Universitas yang sama. Namun kejadian tragis menimpa Em. Kedua orang tuanya meninggal ditabrak BECAK dalam sebuah kecelakaan. Itu membuat Em menjadi yatim piatu. Tanpa kedua orangtua dan keluarga, hidup Em hancur dan larut dalam kesedihan. Semua itu membuat kehidupan Em terpuruk, dia jarang masuk kuliah bahkan prestasi akademiknya pun anjlok. Em berada di ujung tanduk. Bila dia tidak memperbaiki absensi dan prestasi akademiknya, maka dia akan Drop Out atau dikeluarkan dari Universitas. Dia hanya mengurung diri di rumah dan meratapi kesedihan yang dia alami di makam kedua orangtuanya.

Suatu hari, Kim mendatangi rumah Em. Tapi rumahnya kosong, rupanya Em sedang berada di luar rumah. Kim yakin Em mendatangi Makam kedua orangtuanya. Kim kemudian beranjak ke Makam orang tua Em untuk menemuinya.
Ketika tiba di area Makam, Kim melihat Em berdiri di depan makam dan dengan tatapan kosong memandangi makam kedua orangtuanya. Dengan raut wajah sedih, Em mengulurkan tangannya ke arah langit. Seolah hendak menyusul kedua orangtuanya yang telah tiada. Kim yang melihat hal tersebut spontan mendekati Em dan memeluknya dari belakang sembari berkata.
“Aku gak akan biarin mereka mengambilmu Em! Kamu masih punya hutang janji terhadapku!” Ucap Kim dengan nada sendu.
Melihat Kim yang memeluknya dengan erat, Em kaget dan berkata kepadanya.
“Kim, sedang apa kamu di sini? Pulanglah!”
“Gak, Aku gak akan pulang sebelum kamu ikut pulang bersamaku!” ucap Kim.
“Hidupku sudah hancur Kim, kedua orangtuaku sudah tiada, aku hidup sebatang kara! untuk apa lagi aku hidup di dunia ini Kim?”
“HIDUPLAH UNTUKKU!” ucap Kim sembari menyentuh pipi Em dengan kedua tangannya. Dengan berlinang air mata, Kim melanjutkan perkataannya.
“Aku gak akan biarin kamu hidup sebatang kara! Aku gak akan melepaskanmu pergi menyusul kedua orangtuamu, sebelum kamu memenuhi Janjimu untuk menikah denganku! Jika tidak, aku akan menyusulmu juga dan memarahimu karena tidak menepati janji!” ucap Kim dengan semangat meski pipinya berlinang air mata.

Melihat kesungguhan Kim membujuknya, Em terenyuh hatinya. Semangatnya kembali hidup. Dia pun kembali ke pulang bersama Kim. Sejak saat itu, Kim selalu menyemangati dan mendorong Em untuk menyelesaikan kuliahnya. Tanpa bosan Kim selalu mendampingi dan memberikan motivasi kepada Em hingga akhirnya Em bisa menyelesaikan kuliahnya dan diterima bekerja di sebuah Perusahaan Internasional.

Kini Em telah lulus dari Universitas. Ketika Em sedang berjalan menuju tempat wisudanya, tiba-tiba seorang gadis berambut panjang dengan pakaian formal menyapanya.
“Akhirnya kamu lulus juga Em!” ucap sang Gadis sembari tersenyum.
Em memandangi wajah Gadis itu dengan seksama. Kendati wajahnya memiliki cacat karena luka bakar, bagi Em dia adalah gadis paling cantik di dunia. Dengan tersenyum kendati matanya memerah karena terharu, Em lalu berkata.
“Ya, ini semua berkat kamu!” ucap Em sambil memeluknya dan mengecup wajah Sang Gadis yang terkena luka bakar.
Gadis itu adalah Kim, sahabat dekat Em sejak kecil, Pahlawan hidupnya dan juga calon istrinya. Mungkin hidupnya akan berakhir sejak lama bila tidak ada Kim disampingnya. Banyak hal telah mereka lalui bersama. Momen pahit sudah mereka lewati, kini saatnya mereka melewati kenangan manis bersama.

Cerpen Karangan: Algi Azhari
Facebook: facebook.com/algi.azhari
Blog: algigemini.blogspot.com
Orang yang bahagia bukanlah yang memiliki semuanya, tapi orang yang bersyukur atas semua yang dia miliki.

Cerpen Em dan Kim merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Permusuhan Itu Terulang Kembali

Oleh:
Anjani terdiam. Termangu menatap sahabatnya Mulyani yang sudah meninggalkanya. Tiba-tiba air mata Anjani menetes. Tiba-tiba ia teringat oleh masa lalunya ketika dia bermusuhan dengan Mulyani karena suatu hal lagi-lagi

Bukan Dia Tapi Aku

Oleh:
Hari sudah menunjukkan pukul 22.15 wib , waktunya aku pulang kerja .. namaku via .. aku merantau di kota ini , tinggal di kost-kost’an kecil yang tergolong murah ..

GARIS (Part 3)

Oleh:
Jam kuno itu berdentang 12 kali. Bunyinya melambung ke seluruh sudut rumah, menggetarkan kaca- kaca di dekatnya. Itulah suara jam kuno yang ada di menara belakang rumah. Setelah bunyi

I Love U Today.. Tomorrow and Forever

Oleh:
“ kemarin , sekarang , besok bahkan selamanya rasa ini akan selalu tumbuh dalam diriku hanya untuk kamu “ Tiba tiba kata kata itu terdengar jelas di telinga ku

Modus Tipis

Oleh:
“Nik, aku denger-denger dari temen-temenku, Arga kemarin kecelakaan lho,” beritahuku kepada Nikka, sahabatku yang menyukai Arga. “Hah? Apa? Kapan? Di mana? Kok bisa?” tanya Nikka dengan segala kekhawatirannya. “Kemarin.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Em dan Kim”

  1. Tanda Tanya Tampa Titik says:

    Becak?! Roti kadal?!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *