Gadis Lili Putih

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 2 January 2016

Hans memandang ke cangkir kopi di hadapannya. Kini cairan hitam pekat itu tinggal bersisa seperempat dan pemuda pirang tersebut hanya perlu meneguknya sekali agar substrat kental dengan kadar kafein tinggi itu berpindah seluruhnya lalu kemudian beredar ke seluruh tubuh melalui peredaran darahnya. Tapi, nyatanya Hans tidak melakukan hal itu dan terus menatap datar pada permukaan kopi yang sedikit beriak dikala ia memainkan sendok kecil yang juga ada di dalam cangkir tersebut.

Sekarang sepasang iris sewarna seperti madu itu pun beralih dari menatap cangkir porselen ke luar jendela. Tempatnya duduk memang sengaja ia pilih berada dekat jendela, dengan alasan ia lebih suka memerhatikan pemandangan yang ada di luar ketimbang harus memerhatikan dekorasi kafe yang sama setiap waktu. Hei, terdengar anehkah seandainya Hans mengaku belakangan ini -dan setiap harinya- ia suka mengunjungi kafe yang sama, di jam yang sama dan memesan secangkir kopi yang sama pula?

Oh, percayalah! Walaupun Hans sudah berlabel sebagai seorang anak serampangan yang memiliki perilaku bebas serta tak terikat aturan, ia sendiri bisa merasakan stress sehingga ia perlu waktu untuk menenangkan diri. Stress karena apa? Stres karena tugas akhir kuliahnya, tentu saja. Dan jika kalian bertanya, Hans adalah seorang mahasiswa jurusan seni rupa tingkat akhir di sebuah universitas ternama Belgia. Ia menyadari kalau seni dapat ia gunakan sebagai ajang mengekspresikan diri dan Hans akui memang itu yang ia butuhkan selama ini. Sehingga dengan tekad dan izin yang sudah ia kantongi dari kedua orangtuanya -yang sejujurnya membuat kedua orangtuanya membelalak kaget saat mendengar permintaan mendadak Hans. Hans pun memutuskan untuk kuliah di jurusan seni rupa.

Lelaki penyuka olahraga basket itu menghela napas kasar. Sudah nyaris setengah hari ia menghabiskan waktu di sini dan tetap tak kunjung mendapatkan inspirasi untuk menyelesaikan tugas akhirnya. Bahkan jika dihitung, cangkir yang berada di depannya sekarang adalah cangkir kopi ketiga yang ia minum seharian ini. Belum bisa disebut overdosis. Namun, Hans yakin kalau ia tidak akan bisa memejamkan matanya malam ini karena kadar kafein berlebih.

Lagi pula tema yang diberikan oleh dosennya kali ini sangat absurd dan tidak jelas, membuat Hans bingung setengah mati. Apa maksudnya dengan tema “Hari Itu” Hans jelas-jelas tidak paham artinya. Hari apa yang dimaksud? Hari Senin, Selasa, Rabu, atau mungkin hari libur? Dan semakin Hans pikirkan, bukannya semakin jelas, malah semakin abu-abu dan samar tergambar. Dengan frustasi Hans pun mengacak-acak rambutnya frustasi seraya mengerang jengkel, mengabaikan fakta kalau beberapa pasang mata kini tengah melirik tingkah ajaibnya.

Hans galau berat.

Sayup-sayup gendang suara milik Hans menangkap suara ritmis yang tidak asing lagi baginya. Suara yang menenangkan dan secara bersamaan, membawa aroma petrichor yang kuat. Hans menyukai wangi yang ditimbulkan akibat aktivitas dari bakteri Actinomycetes tersebut dan selanjutnya ia berinisiatif pada diri sendiri untuk menutup manik kecokelatannya lalu kemudian menajamkan indra penciumannya. Siapa tahu dengan begini, Hans bisa rileks dan dengan mudah mendapatkan ilham.

Suara rintik-rintik air hujan, aroma tanah basah. Kling! Kling! Dan suara lonceng kecil dari pintu kafe yang terbuka. Eh, ada pelanggan?

Refleks kelopak mata Hans terbuka. Well, bukannya apa-apa. Dia hanya penasaran saja dengan siapa pelanggan kafe yang datang saat hujan-hujan begini. Mungkinkah alasannya datang ke mari karena hendak berteduh sementara dari hujan yang semakin deras? Lagi pula tempat Hans duduk, tidak begitu jauh juga dari pintu masuk. Sehingga ia bisa menyadari ada pelanggan datang. Secara sekilas, Hans dapat melihat kalau iris wanita muda yang baru saja datang itu berwarna biru secerah langit. Paras khas Asia dan surai hitam panjang sampai ke pinggang milik sang pelanggan baru itu juga tidak luput dari pengamatan Hans.

Hans menepuk keras pipinya. Ada apa denganmu, Hans?! Kau baru saja bertemu dengan wanita itu, bagaimana bisa kau langsung menyukainya? Wanita itu tampak kebingungan mencari tempat duduk. Semua kursi di kafe itu memang sudah hampir penuh karena banyak pelanggan yang akhirnya enggan untuk pergi setelah tahu hujan turun membasahi bumi dengan derasnya.

“Permisi, apakah kursi ini kosong?” Tanya wanita tersebut pada Hans. Ya, kursi kafe ini memang hampir penuh. Karena satu-satunya kursi kosong adalah kursi yang berada di depan Hans.
“K-kosong kok,” Balas Hans terbata-bata. Kumat deh, kebiasaannya yang selalu canggung di depan lawan jenis.
“Kalau begitu, tidak keberatan kan kalau aku duduk di sini?”
Hans mengangguk, “I-iya, silahkan duduk.” Ucapnya mempersilahkan sambil membereskan beberapa kertas sketsa yang bertebaran acak di atas meja.

Wanita itu tersenyum lalu duduk dengan anggunnya. “Terima kasih. Omong-omong, siapa namamu?” Tanya wanita itu lagi. “Aku Hans Kirkland, panggil saja aku Hans,” Jawab Hans yang kali ini dapat bernapas sedikit lega karena dapat berucap tanpa harus terbata. “Kalau boleh tahu, siapa namamu?”
“Salam kenal, Hans. Aku Siela Klein, panggil saja Siela.”
“Ah, salam kenal juga Siela,” Hans tersenyum. “Orang baru, ya?”
Siela mengiyakan, “Sebenarnya aku kemari ingin mengunjungi Ayahku. Sedangkan aku sendiri tinggal di Jepang bersama Ibu.”
“Jepang?”
“Iya. Ayahku adalah orang Belgia dan Ibuku orang Jepang. Karena urusan pekerjaan dan lainnya, Ayah dan Ibu tinggal terpisah.”
Ah, begitu rupanya. Pantas saja gadis di hadapan Hans ini memiliki paras cantik khas wanita Asia. “Wah, sepertinya mengasyikan memiliki keluarga dengan berbagai kewarganegaraan seperti itu.”
“Mungkin bisa dibilang begitu,” Terukir senyum tipis di wajah Siela dan jujur saja, Hans menyukai itu.

Kemudian antara mereka berdua, hening mendominasi. Sebelum akhirnya Siela memutuskan untuk mengangkat suara.

“Hans seorang pelukis, ya?”
Kepala Hans terangkat setelah sebelumnya ia tengah berjibaku dengan sketsa lukisannya. “Err.. belum bisa disebut pelukis, sih.” Jawab Hans sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aku masih mahasiswa di jurusan seni rupa.”
“Wah, keren sekali!” Binar kekaguman tampak jelas di mata gadis manis tersebut, “Selain melukis, Hans bisa membuat apa lagi?”
“Pahatan, patung, dan terkadang ukiran kaca,” jawab Hans sekenanya.
“Hans orang yang punya banyak bakat, ya,” Puji Siela.
“T-tidak juga, kok,” Hans menjawab sambil tertawa canggung. Bertemu dengan gadis cantik dan dipuji olehnya, mimpi apa Hans semalam?

Mereka terus bertukar cerita satu sama lain. Mulai menceritakan mengenai hal akademik, kegemaran, hobi yang dilakukan saat waktu luang, dan lainnya. Bahkan sampai hal remeh seperti berapa takaran blok gula yang biasa mereka nikmati saat meminum kopi. Lambat laun, Hans menyadari bahwa Siela berhasil menarik hatinya. Berhasil menjeratnya dalam cinta pada pandangan pertama.

Tidak terasa detik-detik waktu yang bergulir konstan, telah berubah menjadi hitungan jam. Sang surya hampir tenggelam sepenuhnya di ufuk barat. Rintik-rintik air pun sudah tidak terdengar lagi. Mereka berdua telah sampai pada penghujung hari dan kata perpisahan akan mengakhiri pertemuan mereka pada hari ini. Namun, baik Hans maupun Siela sendiri sudah berjanji untuk bertemu kembali di kesempatan yang lain. Saat Siela kembali lagi ke Belgia atau lebih tepatnya saat Siela kembali lagi ke kafe ini.

Perjumpaan yang singkat dan tidak selayaknya untuk dilupakan. Hans sudah memutuskan lukisan apa yang akan ia lukis untuk tugas akhirnya.
Seorang gadis yang kecantikannya bagai sekuntum bunga lili putih, rintik hujan, dan dua cangkir kopi.

“Hari ini” memang tidak akan dilupakan oleh Hans.

Cerpen Karangan: Safira Pinaka
Untuk seorang teman yang telah menunjukkanku indahnya berkisah.

Cerpen Gadis Lili Putih merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kapan Bahagia Itu? Until You And I Meet

Oleh:
Aku mengenalnya di dunia maya, sosial media yang paling populer facebook. Gheo Prakarsa Putra, itulah namanya. Dia misterius karena jarang buat status, menurutku sih begitu. Yang kulakukan hanya membuka

My Friend Is My Love

Oleh:
“Aku bawa es krim kesukaan kamu Mut, es krim bang Jon,” “Ihh, kamu emang sahabat aku paling TOP sedunia deh, makasih Van,” “Aku mau ngomong sama kamu Mut,” “Yaelah,

Dinda, Ku Tunggu Kau Kembali

Oleh:
Cintaku indah seindah suara yang kau lantunkan dari bibir merahmu, cintaku sejati bagaikan karang yang di hempas ombak, cintaku putih, seputih berlian dan mutiara yang bersinar. Namun, cintaku hancur

Hanya Sederas Hujan

Oleh:
Musim hujan sudah mulai terasa, setiap sore hujan mulai mengguyur kota kami dan keadaanku tak berubah masih seperti 2 bulan yang lalu. “ifa… minum dulu obatnya.” suara ibuku selalu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

0 responses to “Gadis Lili Putih”

  1. Putri Matsya says:

    Cerpennya bagus banget, ide ceritanya simple tapi menarik :))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *