Haruskah Kita Berpisah, Dyl?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 4 May 2021

Siang ini langit terlihat sangat cerah, hanya beberapa lembar awan putih yang menggantung di bawahnya. Entah mengapa sang raja siang begitu semangatnya, hingga peluhku tak hentinya berjatuhan. Sungguh, hari ini hari yang melelahkan. Yang ada di kepalaku saat ini aku ingin refreshing ke alam terbuka, itu saja.

“Hei, kenapa kamu di sini?”, Dyl tiba-tiba datang. Ia berhenti tepat di depanku, “Kenapa kamu ngga ngasih tau aku kalau kamu ke halte, tadi aku nunggu kamu di parkiran. Aku kira seperti biasanya kamu nyamperin ke parkiran”. Raut muka Dyl terlihat sangat kesal, sementara aku masih belum menemukan kata-kata untuk menjawabnya. “Hei, kamu kenapa, An?”, tangannya bergerak-gerak berusaha membuyarkan lamunanku.

“Eh iya, Dyl. Maaf, aku lupa ngga ngasih tau kamu”, aku menyesal hanya memberi tahu jam pulangku ke Dyl tadi. Aku benar-benar lupa, bahkan tidak terbesit sedikitpun bayangan akan Dyl. Kepalaku terasa penuh dan sesak, aku tidak bisa berpikir jernih. “Kamu ada masalah? Cerita ke aku, An. Kalau ada masalah jangan kamu pendam sendiri”. Dyl kemudian duduk tepat di sampingku, ia memandang wajahku sembari mengukir senyum tipisnya.

Aku mendadak berdiri dan pandangan Dyl mengikuti gerakanku. “Dyl, antar aku ke suatu tempat yang nyaman, sejuk, dan jauh dari keramaian”, ucapku menggebu-nggebu sembari menarik tangannya. Tanpa banyak bicara Dyl menuruti kemauanku. Aku hanya diam diboncengan Dyl, aku tidak ingin bersuara. Moodku benar-benar berantakan.

“Nah, ini sudah sampai. Ayok turun, kita nikmati panorama di sini”. Aku turun dari motornya dan memandang sekeliling. Ini di mana? Batinku. Kemudian aku menemukan sebuah tulisan “Beiji Park”, ah ini ternyata di bukit Pacitan Indah, batinku lagi. Di sini aku benar-benar menikmati suasananya yang menyatu dengan alam. Duduk di ayunan dengan naungan pohon-pohon mahoni yang sangat rindang, udaranya sejuk sekali, ditambah lagi aku ditemani Dyl, laki-laki jangkung semester akhir itu sudah dua tahun terakhir marajut kasih denganku.

Sembari mengayunku, Dyl mencoba menanyakan masalah yang sedang kupendam. “Aku ngga ada masalah yang serius kok, Dyl. Kamu ngga usah khawatir, aku hanya perlu refreshing saja”, tukasku singkat. Dyl diam, kemudian berhenti mengayunku. “Aku tidak suka melihat kamu sedih, kembalilah menjadi Anne yang selalu ceria”. Aku tersenyum mendengar ucapan Dyl. “Makasih, Dyl, selama ini kamu selalu ada untukku”, ucapku sambil memandangnya. Kemudian Dyl duduk di sampingku, dan kami berayun bersama sambil menikmati suasana senja.

Hari ini adalah hari kebahagiaan Dyl, akhirnya ia benar-benar berhasil mengenakan toganya. Aku datang dengan sebuket bunga. Rasanya tak sabar ingin segera melihat Dyl memakai toga keluar bersama kedua orangtuanya. Ketika para wisudawan dan wisudawati keluar, aku bingung menemukan wajah Dyl. Kepalaku celingukan ke sana kemari, berusaha menemukan sosok jangkung tersebut. “Anneee…”, telingaku mendengar panggilan dari Dyl. Aku segera menoleh ke arah datangnya suara nyaring itu. Terlihat Dyl dengan raut bahagianya, ia berjalan menujuku.

“Dylooonn, happy graduation my dear”, ucapku dengan lantang sambil memberinya sebuket mawar merah. Tak lupa ku mencium tangan kedua orangtua Dyl. Kami memang sudah akrab, mengingat hubunganku dengan Dyl bisa dibilang sudah sangat lama. Aku dan Dyl sudah saling kenal sejak bangku SMA, namun kami baru dekat ketika di bangku perkuliahan.

“Segera menyusul ya, Ann. Semangat mengerjakan skripsinya, semoga kamu lulus dengan predikat cumlaude”, ucap Tante Iva ketika memelukku. “Doakan yang terbaik untuk Anne, ya, Tante”, jawabku yang masih berada dipelukannya. Tante Iva mengukir senyum tulusnya padaku. Kemudian kami berfoto-foto sebagai kenang-kenangan momen bahagia ini. Tak lupa aku pun foto berdua dengan Dyl. Aku sangat bahagia melihat kebahagiaan yang dirasakan Dyl dan keluarganya.

Hari kebahagiaan Dyl sudah berlalu tiga bulan yang lalu. Sekarang aku baru saja menyelesaikan seminar proposalku. Akhirnya tinggal selangkah lagi aku bisa menyelesaikan pendidikan ini. Ketika aku keluar dari ruang seminar, terlihat Dyl sudah menungguku. Ia melambaikan tangan sambil melemparkan senyumannya padaku.

“Gimana, lancar kan?”, tanya Dyl padaku. Ia memberiku sebuah boneka beruang warna biru, warna kesukaanku. “Terima kasih Dyl, kamu sudah datang. Terima kasih kamu sudah membantuku menyusun proposal ini, dan tadi aku presentasinya lancar”, jawabku kegirangan. “Itu aja? Ngga makasih dikasih boneka?”, tanyanya lagi. “Eh iyaa, makasih banyak Dylon sayang”, jawabku manja.

Dyl mengajakku pergi jalan-jalan. Kali aku aku diajak ke Pantai Pidakan, aku suka sekali karena suasana yang sejuk. Ombaknya juga terlihat damai, dan lagi-lagi aku sangat menikmati ciptaan-Mu yang luar biasa ini Tuhan. Kami duduk di sebuah bangku yang menghadap tepat ke arah pantai, ditemani es degan yang diambil langsung dari pohonnya, kamipun memulai obrolan-obrolan kecil. Sesekali aku tertawa dengan candaan Dyl.

“Ann, aku mau ke Jepang”, tiba-tiba Dyl memotong candaan yang dibuatnya. Aku sontak terkejut, mataku membulat dan padanganku tepat ke matanya. “Aku ditunjuk perusahan untuk studi banding ke Jepang”, lanjutnya. “Berapa lama?”, tanyaku. “Paling cepat 2,5 tahun dan paling lama 3 tahun, Ann. Tapi untuk satu tahun pertama, aku ada cuti kok, jadi bisa pulang saat liburan”, jelas Dyl. Aku hanya bisa diam mendengar jawaban darinya.

“Ann?”, Dyl memegang kedua pundakku. Aku menunduk berusaha menyembunyikan raut wajahku. Aku tidak ingin menghalangi langkah Dyl. “Pergilah, Dyl”, jawabku sembari mengangkat pandanganku. Dyl terlihat menunggu jawaban lain dariku, namun hanya itulah kata-kata yang mampu kuucap. “Sesederhana itukah jawabanmu? Tidak ada lagi?”

Aku bangkit, “Mau kujawab apalagi Dyl, toh kamu akan tetap berangkat. Iya kan? Aku tahu Dyl, ini adalah kesempatan emas bagimu. Aku yakin kamu tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, jadi pergilah”. Dyl kemudian memelukku. “Aku janji, Ann. Meski kita terpisahkan oleh jarak yang sangat jauh, aku akan selalu ada untukmu. Aku pasti kembali padamu, Ann”.

Kulepaskan pelukan Dyl, aku menatap wajahnya. “Kamu tidak perlu berjanji Dyl, untuk apa kamu berjanji kalau kamu belum tentu bisa menepatinya. Lebih baik sekarang kamu memantapkan pikiran kamu, jangan terlalu banyak membuat janji”, tukasku. “Maksud kamu apa, An? Aku tidak mengerti”. Kali ini aku tidak mau menjawab pertanyaan dari Dyl, aku memilih untuk mengajaknya pulang. Selama di perjalanan, suasana di antara kami mendadak sangat canggung.

Benar, di tahun pertamanya Dyl pulang dan datang ke tempat kerjaku. Kali ini aku sudah bekerja di salah satu perusahaan swasta di ibu kota. Di sini aku benar-benar sendiri, jauh dari sanak keluarga. Jadi sebuah kebahagiaan tersendiri ketika Dyl datang menemuiku. Banyak sekali obrolan yang muncul di antara kami, dengan ditemani secangkir mocca aku menikmati kebersamaan seperti ini. Kupandang wajah Dyl sembari tersenyum, aku benar-benar rindu dengannya. Dyl menceritakan pengalamannya di Jepang, dan aku pun menceritakan pengalamanku di sini.

Di tengah-tengah obrolan hangat kami, tiba-tiba ponsel Dyl yang ia letaknya di atas meja berdering. Kulihat tertera nama Ayako Kazumi di layar ponselnya, jelas itu adalah nama perempuan. Dyl terlihat ragu mau menjawabnya, “Kenapa ngga diangkat, Dyl? Siapa tau itu penting”, ucapku. Dyl kemudian mengangkatnya, ia sedikit menjauh dariku. Entah apa yang mereka bicarakan, aku pun tak tahu. Bahkan ketika aku tanya siapa wanita itu, Dyl hanya menjawabnya tidak penting dan katanya dia hanya teman kerjanya. Okelah, aku berusaha untuk mempercayainya.

“Dyl, sebelum kamu kembali ke Jepang. Aku boleh menanyakan sesuatu?”, kataku ketika kami makan malam. Sebelumnya, Dyl akan kembali ke Jepang esok hari. Dyl menghabiskan makanan yang ada di mulutnya, “Tanya apa, Ann? Tanyakan saja, sebelum kita dibelenggu oleh jarak”, jawabnya dengan sedikit candaan. “Kamu serius dengan hubungan kita ini kan?”, tanyaku tanpa basa-basi. “Ya serius dong, An”, jawab Dyl.

“Kalau kamu serius, mau sampai kapan kita seperti ini?”. Dyl diam sejenak dan menghela napas panjang. “Kita tunggu waktu yang tepat ya, sayang. Sekarang kita nikmati makan malam ini sebelum kita saling memendam rindu”, lagi-lagi Dyl meremehkan pertanyaanku. Akhirnya batas kesabaranku hilang, aku kesal dan kemarahanku meluap dihadapannya.

“Maksud kamu apa, Dyl? Kamu kira aku buta? Sekarang aku tanya lagi ke kamu, dan ini tolong jawab dengan jujur. Siapa Ayako Kazumi? Jawab jujur, Dyl!”, aku benar-benar berada di puncak kemarahan setelah Dyl berkali-kali sok romantis padaku. “Anne, kan aku sudah bilang berkali-kali sama kamu kalau Ayako itu rekan kerjaku di Jepang”, dengan berhati-hati sekali Dyl menjawab pertanyaanku. “Kamu tidak perlu cemburu, Anne. Kami hanya sebatas rekan kerja” tambahnya lagi.

“Kamu kira selama ini aku tidak tahu, Dyl. Kemarin saat kamu ke toilet mungkin kamu lupa kalau kamu meninggalkan hp mu. Saat itu juga Ayako yang katamu rekan kerja itu menelponmu lagi, aku mengangkatnya dan aku bicara dengannya. Aku sudah tahu semuanya, Dyl. Sekarang tidak ada yang perlu kamu tutup-tutupi lagi”, aku tak kuasa menahan tangis. Tidak pernah kusangka Dyl yang aku kenal selama ini memiliki sisi yang sangat buruk. Dan keburukannya itu telah menorehkan ribuan luka yang sangat dalam padaku.

“Kita putus!!!”

“Ann, aku bisa jelaskan semuanya, Ann”, Dyl berkali-kali memohon padaku. Kali ini aku benar-benar kesal. Benar bahwa hidup ini penuh misteri, semua tidak ada yang tahu. Hidup ini memang penuh tanda tanya. Dyl yang telah kukenal sangat lama ternyata ia tega mengkhianatiku. Tidak pernah kusangka sebelumnya, orang yang sangat kucintai teganya menorehkan luka.

“Hidup ini memang penuh tanda tanya, ya, Dyl. Sama seperti hubungan kita, tidak ada kepastian. Aku rasa tanda tanya itu sudah terjawab sekarang. Terima kasih untuk tiga tahunnya, Dyl”. Aku lari, meninggalkan Dyl tanpa permisi. Aku benar-benar muak, aku benci kamu Dyl! Sesekali terdengar suara Dyl, aku berusaha mengabaikannya dan tetap terus berlari sejauh mungkin dari Dyl. Maafkan aku, Dyl. Jujur, ini adalah keputusan yang sangat berat bagiku. Terima kasih tiga tahunnya, Dyl. Terima kasih untuk semua cintanya…

Cerpen Karangan: Vira Maulisa Dewi
Penulis bernama Vira Maulisa Dewi, yang sering disapa Vira. Ia seorang mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Jember. Penulis berasal dari Pacitan, Jawa Timur. Menulis adalah salah satu hobinya. Menulis adalah cara ampuh untuk mengeluarkan isi hati yang terlampau lama dibumikan dalam tubuhnya.

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 4 Mei 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Haruskah Kita Berpisah, Dyl? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


My Love is Eternal

Oleh:
Aku menyesap hangatnya susu coklat di gelas putihku sambil menatap lekat-lekat setiap gerakan dan tindakan laki-laki di depanku. kutegaskan lagi, setiap gerakan dan tindakan. tidak terkecuali wajahnya yang terlihat

When Love is Spoken

Oleh:
Cinta adalah naluri alami yang tumbuh dari setiap diri mahkluk. Cinta adalah perasaan murni dan suci dari hati. Getaran cinta terkadang menjelma menjadi senyum simpul yang sedap di pandang

Sebuah Ikatan

Oleh:
Moodku hilang. Berubah seketika ketika kau ucapkan hubungan kita tak akan berujung. Selama ini? Aku membuang waktuku denganmu. Menanti pagi, bermain dengan siang hingga senja, lantas berpisah ketika malam.

Empat Kata Yang Terlambat

Oleh:
Seperti biasa, suara tertawa ibuku terdengar nyaring di telinga. Aku pun mulai tak nyaman disertai konsentrasi yang semakin memudar. Sejenak aku berpikir, “Apa sih serunya sebuah sinetron di televisi?

Langit Sore

Oleh:
Langit sore ini memang indah. Ia terhampar anggun tanpa awan yang menggantung. Aku memejamkan kedua mata. Merasakan belaian angin senja di atas bukit. Damai. Ku buka kedua mata mata

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *