Jarak Ini Tak Akan Memisahkan Kita

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 18 April 2016

“Jangan pergi Ayra. Jangan tinggalkan mama.” Kata mama dengan tetesan air mata di pipinya.
“Maafkan aku, Ma. Aku harus pergi. Aku tidak bisa tinggal di sini lagi. Rumah ini selalu mengingatkan aku sama almarhum Papa. Aku tidak sanggup, Ma. Sudah tiga bulan aku berusaha mengikhlaskan kepergian Papa. Tapi kenangan-kenangan bersama Papa terus membayangi pikiranku, Ma. Kini aku telah lulus SMA. Aku ingin kuliah dan tinggal bersama Bibi di Luksemburg. Aku ingin mengikhlaskan kepergian Papa, Ma.” kataku kepada mama sambil tersenyum.

“Mama tidak ingin berpisah sama kamu sayang. Kamu adalah anak perempuan mama satu-satunya Ayra. Jangan pergi sayang.” Kata mama mencoba menghentikan kepergianku.
“Biarkan aku pergi, Ma. Mama jangan sedih, suatu saat nanti aku pasti kembali. Titip salamku untuk Kakak. Assalamu’alaikum, Ma.” Kataku mencoba menenangkan mama. Lalu aku mencium tangan mama dan pergi keluar rumah meninggalkan mama di ruang tamu.
“Ayraa… Jangan pergi. Jangan tinggalkan Mama.” Teriak mama dengan suara yang parau karena menangis terus menerus.

Aku melangkahkan kakiku ke luar rumah menuju taksi yang sudah parkir di depan rumahku. Aku masuk ke dalam taksi lalu pak sopir memacu mobilnya menuju Bandar Udara Ngurah Rai. Setelah menempuh waktu sembilan belas jam perjalanan akhirnya aku sampai di Lukemburg Airport. Aku ke luar dari bandara dan ternyata sepupuku telah menungguku. Kami berdua berpelukan untuk melepas rindu karena sudah tujuh tahun tidak berjumpa. Lalu dia membawaku ke sebuah mobil Mercedes Benz E-Class E400 AMG warna putih dan mempersilahkan aku masuk. Kami langsung menuju ke rumah bibi yang terletak di daerah Marmer, kira-kira 7 km di barat kota Luksemburg. Kami menempuh perjalanan selama delapan belas menit untuk sampai di rumah bibi.

Sesampainya di rumah bibi, aku langsung memeluk bibi sangat erat. Aku sangat merindukannya. Sejak paman meninggal tujuh tahun yang lalu bibi hanya tinggal berdua dengan anaknya yaitu Zulfa yang menjemputku di bandara. Dia lebih tua dariku dua tahun dan sekarang dia tengah menempuh pendidikannya di University of Luxembourg. Zulfa membawaku ke sebuah kamar dengan desain interior khas Eropa. Setelah selesai meletakkan barang-barangku di lemari aku pergi ke ruang makan yang terletak di lantai bawah. Disana bibi telah mempersiapkan makan malam untuk kami bertiga. Selesai makan malam aku membantu bibi dan Zulfa membereskan meja makan serta mencuci piring. Setelah itu bibi menyuruhku untuk beristirahat di kamar. Bahasa resmi di Luksemburg adalah bahasa Luksemburg, Jerman, dan Perancis. Aku belum bisa menggunakan ketiga bahasa tersebut. Oleh karena itu, aku menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi. Aku belajar ketiga bahasa tersebut kepada Zulfa dan bibi.

Aku mendaftarkan diriku di Luxembourg School of Business dan alhamdulillah aku diterima. Aku mengambil ilmu bisnis internasional. Aku berangkat kuliah dengan menggunakan mobil BMW M4 Coupe warna putih milik Zulfa. Dia sengaja meminjamkan mobilnya untukku supaya aku mudah untuk bepergian. Daerah Marmer ini merupakan pusat agama islam di Luksemburg. Di sini terdapat sebuah masjid dan juga dibangun sebuah perpustakaan yang lengkap dengan koleksi buku-buku bernuansa Islam berbagai bahasa seperti bahasa Arab, Inggris, Prancis, Bosnia maupun Turki. Ada juga kafetaria atau kantin yang hanya dibuka pada hari minggu maupun hari Jum’at yang dapat digunakan oleh kaum muslim untuk sekedar pertemuan maupun perayaan kecil-kecilan.

Jika tidak ada kuliah terkadang aku pergi ke perpustakaan di Marmer untuk sekedar membaca buku tentang Islam. Walaupun mayoritas penduduk di sini memeluk agama Katolik Roma tetapi tidak sedikit yang beragama Islam. Bahkan agama Islam telah diakui oleh pemerintah Luksemburg sebagai agama yang legal atau resmi untuk dipeluk oleh masyarakatnya sejak tahun 2008. Sudah empat tahun aku tinggal di marmer. Aku sudah bisa berbahasa Perancis, Jerman, dan Luksemburg. Aku juga sudah bisa mengikhlaskan kepergian papa. Tanggal 22 Juli 2014 adalah hari aku diwisuda. Mama, bibi, dan Zulfa hadir dalam acara wisudaku. Mereka sangat bahagia karena aku telah menjadi sarjana dan mendapatkan nilai bagus. Kakak tidak bisa datang karena ada kepentingan yang tidak bisa dia tinggalkan. Mama hanya dua hari di sini. Dia harus kembali ke Indonesia karena dia harus mengurus hotel.

Aku tidak ikut mama kembali ke Indonesia karena aku ingin mencari pengalaman bekerja di sini. Aku melamar kerja di salah satu perusahaan di kota Luksemburg dan alhamdulillah aku diterima. Di sana aku berteman dengan Alfreda, Edeline, dan Valerie. Mereka semua beragama Katolik Roma. Walaupun aku dan mereka berbeda keyakinan tetapi kami berempat saling menghargai dan menghormati satu sama lain. Saat libur kerja aku memutuskan untuk pergi ke sebuah cafe. Aku memesan kue dan jus. Tiba-tiba seorang pria datang menghampiriku dan mengajak berkenalan. Pria itu bernama Larry. Dia adalah seorang pengusaha di kota Luksemburg. Kami berdua saling bertukar cerita. Semakin hari kami semakin dekat dan sering jalan berdua.

Suatu hari aku, Alfreda, Valerie, dan Edeline pergi ke pusat perbelanjaan. Kami bertiga sibuk berbelanja, tetapi tidak dengan Valerie. Aku melihat dia dari kejauhan sibuk berbincang-bincang dengan seorang pria dan setelah aku perhatikan baik-baik ternyata pria itu adalah Larry. Pria yang selama ini aku kagumi. Saat Valerie selesai berbicara dengan Larry aku bertanya kepada Valerie. Valerie mengatakan bahwa pria itu adalah mantan kekasihnya satu tahun yang lalu. Hatiku berubah tidak menentu saat aku mendengar hal itu. Orang yang selama ini aku kagumi adalah mantan kekasih temanku sendiri. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tidak mungkin bercerita kepada Valerie bahwa orang yang selama ini dekat denganku adalah mantan pacarnya. Aku tidak mungkin menjalin hubungan dengan mantan kekasih temanku sendiri. Semakin hari aku dan Larry semakin dekat. Dan aku semakin merasa tidak enak kepada Valerie.

Ketiga temanku tidak tahu kedekatanku dengan Larry karena aku tidak pernah bercerita kepada mereka bertiga. Aku bingung apakah aku harus bercerita kepada mereka atau tidak. Aku juga tidak tahu harus bercerita dari mana. Satu bulan lebih aku menyembunyikan kedekatanku dengan Larry. Suatu hari Larry mengajakku makan malam. Dia menjemputku dengan mobil Ferrari California T warna merah. Sebelum berangkat dia berpamitan kepada bibi dengan sopan. Setelah itu dia membawaku ke mobilnya dan membukakan aku pintu. Dia membawaku ke sebuah cafe yang elegan dan romantis. Dia membukakan aku pintu dan menggandeng tanganku masuk ke dalam cafe. Dia membawaku ke sebuah meja yang dihiasi oleh bunga mawar merah dan lilin putih. Di sana dia menyatakan perasaannya kepadaku.

“Ayra, aku mencintaimu. Maukah kamu menikah denganku?” kata Larry dengan sangat lembut sambil memberiku sebuah cincin berlian.
“Aku tidak bisa. Maafkan aku, Larry.” Kataku dengan nada pelan sambil melepaskan tanganku dan menundukkan wajahku.
“Mengapa Ayra? Apakah karena perbedaan keyakinan di antara kita? Aku sudah berjanji padamu Aku akan mengikuti keyakinanmu.” Tanya Larry dengan raut wajah penasaran.

“Apakah kamu yakin dengan pilihanmu Larry? Aku tidak ingin suatu saat nanti kamu menyesal karena telah pindah agama. Lalu bagaimana dengan orangtuamu jika kamu pindah keyakinan? Dan ada satu alasan lagi yang tidak bisa Aku jelaskan.” Tanyaku dengan nada serius sambil menatap Larry.
“Aku tidak akan menyesal Ayra. Ibuku seorang muslim Ayra. Sedangkan Ayah beragama Katolik-roma. Sejak kecil orangtuaku membebaskanku memilih agama yang aku yakini dan aku mengikuti keyakinan Ayah. Tetapi selama ini aku tidak merasakan ketenangan di dalam jiwaku. Aku hanya merasa tenang saat mendengar Ibu melantunkan ayat suci Al-Quran. Alasan apa yang tidak bisa kamu jelaskan? Tolong katakan padaku.” Jawab Larry dengan nada lembut.

“Apakah hatimu sudah yakin dengan pilihanmu untuk mengikuti agamaku? Kamu adalah mantan kekasih Valerie. Aku tidak bisa menjalin hubungan dengan mantan kekasih temanku sendiri.” Kataku dengan nada pelan.
“Iya hatiku sangat yakin Ayra. Aku mencintaimu Ayra. Valerie adalah masa laluku. Kamulah masa depanku.” Kata Larry mencoba meyakinkanku.
“Aku tidak bisa Larry. Maafkan aku.” Kataku lalu pergi meninggalkan Larry.

Aku ke luar dari cafe dan menuju halte bus. Air mataku tidak bisa aku tahan lagi. Setiap langkahku diiringi oleh air mata. Tetesan demi tetesan jatuh di sepanjang jalan yang aku lewati. Aku tidak bisa membohongi perasaanku bahwa aku sangat mencintai Larry. Tapi di sisi lain aku tidak enak kepada Valerie. Andai saja dia bukan mantan kekasih Valerie aku pasti akan menerimanya. Keesokan harinya saat aku sampai di kantor ternyata Larry menungguku di depan kantorku. Dia terus memohon kepadaku agar aku mau menerima cintanya. Tetapi aku tetap tidak mau. Aku memintanya untuk segera pergi karena aku harus bekerja dan dia pun pergi. Setelah Larry pergi, aku membalikkan badanku. Dan aku sangat terkejut karena Valerie berdiri tepat di hadapanku.

“Aku telah mendengar semuanya. Kamu tidak perlu merasa tidak nyaman denganku, Ayra. Dia mencintaimu dan aku tahu kamu juga mencintainya. Jangan bohongi perasaan kamu sendiri. Dia telah mengubah keyakinannya demi kamu Ayra. Apa kamu tidak melihat ketulusannya kepadamu? Sekarang dia telah banyak berubah dan itu karena dirimu. Kamu yang telah membawa ketenangan dalam hidupnya. Jangan menyia-nyiakan orang yang benar-benar mencintaimu Ayra.” Kata Valerie menasehatiku dengan lembut.

“Terima kasih atas nasihatmu Valerie. Aku tidak akan menyia-nyiakannya. Aku akan berusaha untuk membuatnya bahagia.” Kataku sambil memeluk Valerie.
“Kejarlah dia sebelum terlambat, Ayra. Jangan sampai penyesalan menyelimuti hidupmu.” Kata Valerie sambil membalas pelukanku. “Baiklah aku akan pergi mengejarnya.” Kataku sambil tersenyum.

Aku berlari mengambil mobilku dan pergi mencari Larry. Seluruh tempat yang biasa Larry datangi tidak ada. Di kantornya juga tidak ada. Aku sudah merasa lelah dan waktu untuk salat Dzuhur sudah tiba. Aku berniat untuk salat Dzuhur dan berdoa kepada Allah. Aku datang ke sebuah masjid di kota Luksemburg. Sesampainya di Masjid aku melihat Larry sedang salat. Tidak terasa air mataku jatuh di pipiku. Aku terharu karena dia telah menjadi muallaf. Aku mengambil wudhu dan salat Dzuhur. Setelah itu aku menunggu Larry yang sedang mengaji. Saat aku menunggu Larry, kakak meneleponku. Setelah aku selesai berbicara dengan kakak. Aku datang menghampiri Larry yang telah selesai mengaji dan hendak turun dari Masjid.

“Apakah kamu benar-benar mencintaiku, Larry?” tanyaku kepada Larry dengan nada lembut.
“Iya, aku benar-benar mencintai kamu, Ayra.” Jawab Larry sambil tersenyum.
“Jika kamu benar-benar mencintaiku. Datanglah ke rumahku di Indonesia. Aku akan kembali ke Indonesia hari ini. Ini alamatku.” Kataku sambil memberikan alamatku kepada Larry.
“Mengapa mendadak seperti ini Ayra?” tanya Larry penasaran.
“Aku tidak bisa mengatakannya kepadamu. Aku tunggu kamu di Indonesia. Sampai jumpa.” Jawabku sambil tersenyum.
“Aku berjanji akan menemui kamu di Indonesia Ayra.” Kata Larry sambil tersenyum.

Aku memacu mobilku ke rumah bibi. Aku membereskan semua barang-barangku dan membuat surat pengunduran diri serta berpamitan kepada bibi dan Zulfa. Mereka sangat sedih mendengar kabar bahwa mama sakit. Tapi mereka tidak bisa menjenguk karena pekerjaan mereka di sini tidak bisa ditinggalkan. Zulfa mengantarku ke kantor untuk memberikan surat pengunduran diriku kepada atasanku dan mengantarku ke Luxembourg Airport.

Sesampainya di Bandar Udara Ngurah Rai aku mencari taksi. Setelah itu aku ke rumahku untuk meletakkan barang-barangku. Aku menyuruh sopir taksi untuk menungguku karena aku akan ke rumah sakit. Setelah selesai meletakkan barang-barangku aku langsung ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit aku langsung memeluk mama dan meminta maaf karena aku telah meninggalkannya selama ini. Setiap hari aku menjaga mama sampai mama sembuh. Aku berjanji tidak akan meninggalkan mama lagi. Setiap hari aku menunggu kedatangan Larry. Namun dia tidak kunjung datang sampai tiga bulan.

Tidak ada kabar darinya dan nomornya tidak bisa dihubungi. Muncul seribu pertanyaan di dalam pikiranku. Sementara hatiku tetap percaya kepada Larry. Aku berharap dia akan datang meminangku. Aku akan tetap menunggu dia sampai kapan pun. Aku yakin dia tidak akan mengingkari janjinya. Aku yakin dia adalah cinta pertama dan terakhirku. Suatu hari aku berniat pergi ke Danau Beratan yang terletak di kawasan Bedugul, Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali, untuk sekedar jalan-jalan. Aku berpamitan kepada mama lalu menuju ke parkir mengambil mobil Lamborghini Aventador Lp700-4 warna emas milikku.

Aku memacu mobilku ke Danau Beratan dengan kecepatan sedang. Kira-kira dua jam aku sampai di Danau Beratan. Setelah membayar karcis aku masuk ke dalam. Udara di sini sangat sejuk dengan suhu 18?. Ku lihat para turis domestik maupun turis asing sibuk berfoto dengan gadget mereka. Sementara aku hanya duduk sambil mendengarkan musik menikmati hembusan angin yang berlalu lalang. Pikiranku tidak berhenti memikirkan Larry. Aku berusaha untuk tidak berburuk sangka kepadanya. Tetapi pikiranku terus meracuniku. Aku ingin berhenti memikirkan dia tetapi aku tidak bisa. Aku terlalu mencintainya. Aku tidak bisa memalingkan wajahku kepada pria lain. Tiba-tiba musik yang aku dengarkan berhenti. Aku memeriksa ponselku dan ternyata ada pesan dari nomor yang tidak aku kenal. Aku membuka pesan itu dan membaca kata demi kata.

“Assalamu’alaikum Ayra, ini Mamanya Larry. Maafkan Larry karena dia tidak datang menemuimu di Indonesia. Dengan berat hati tante harus mengatakan bahwa Larry koma. Larry mengalami kecelakaan mobil saat hendak pergi ke Indonesia. Sekarang dia koma di rumah sakit. Maaf Tante baru mengatakan hari ini. Tante tidak ingin membuat kamu bersedih. Tetapi Tante akan sangat berdosa jika tidak memberitahu kamu. Sekali lagi maafkan Tante. Wassalamu’alaikum.”

Ku baca pesan itu dengan deraian air mata di pipiku. Aku segera berlari menuju parkir. Aku mengambil mobilku dan ku pacu mobilku menuju rumah. Aku berniat akan pergi ke Luksemburg untuk melihat keadaan Larry. Tiba-tiba ponselku berdering, ternyata pembantuku yang meneleponku. Dia mengatakan bahwa mama pingsan dan dibawa ke rumah sakit. Aku langsung memacu mobilku dengan sangat cepat menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit aku langsung menuju kamar mama yang telah ditunjukkan oleh pembantuku. Air mataku terus mengalir di pipiku.

Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Orang yang aku sayangi terbaring lemah di rumah sakit. Aku tidak kuasa melihat mama terbaring lemah di ruang ICU dengan selang infus di tangannya yang mungil dan oksigen di hidung mancungnya. Wajah cantik mama berubah menjadi pucat pasi. Bibir merahnya kini menjadi putih. Tidak ada lagi senyuman di wajahnya. Aku tidak ingin kehilangan orang yang aku sayangi lagi. Sudah cukup aku kehilangan papa. Aku tidak ingin kehilangan mama ataupun Larry. Mereka sangat berarti untukku. Aku hanya bisa mendoakan mama dan juga Larry.

Aku sangat ingin mengetahui keadaan Larry secara langsung, tetapi aku tidak bisa. Aku tidak mungkin meninggalkan mama dalam keadaan seperti ini. Setiap hari aku hanya melihat keadaannya lewat video call dengan mamanya. Kedua orangtuanya sudah pasrah. Mereka hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Larry, begitu juga denganku. Andai saja Larry ada di sini maka aku akan merawatnya dengan sepenuh hatiku. Tetapi jarak ini membuatku tak bisa bersamanya. Semakin hari keadaan mama semakin membaik. Tetapi tidak dengan Larry. Tidak ada perkembangan apa pun darinya. Aku sangat khawatir terhadap kondisi Larry. Aku hanya bisa mendoakan dia supaya cepat sembuh. Aku tidak pernah berhenti untuk berdoa. Yang ada di pikiranku hanya mama dan Larry. Aku tidak peduli dengan kesehatanku sendiri. Yang aku pedulikan hanyalah kesembuhan mama dan Larry.

Pada hari ketujuh belas di rumah sakit mama diperbolehkan untuk pulang karena keadaan mama sudah membaik. Aku merawat mama dengan penuh kasih sayang. Hari demi hari keadaan mama semakin membaik. Sementara Larry tidak ada perkembangan. Dia tetap terbujur kaku di atas pembaringan rumah sakit. Aku ingin merawat Larry tetapi aku takut jika aku pergi, nanti kesehatan mama menurun. Aku memutuskan untuk tidak pergi ke Luksemburg sampai mama sembuh total. Pagi itu saat aku menemani mama berjemur di halaman sambil menikmati keindahan pantai. Tiba-tiba ponselku berbunyi. Ternyata yang menelepon adalah mamanya Larry.

“Assamu’alaikum, Ayra.” Kata mamanya Larry sangat lembut.
“Wa’alaikumsalam Tante. Ada apa tante?” tanyaku dengan sopan.
“Larry sudah siuman dan dia ingin bertemu denganmu, Ayra.” Jawab mamanya Larry.
“Alhamdulillah. Aku akan segera pergi ke sana Tante.” Kataku dengan nada pelan.

Setelah itu tante menutup teleponnya. Aku meminta izin kepada mama untuk menjenguk Larry di Luksemburg dan mama mengizinkan. Aku langsung memesan tiket pesawat dan menyiapkan barang-barang yang akan aku bawa. Aku pergi ke bandara dengan taksi. Sesampainya di Luxemburg Airport aku dijemput oleh sopir keluarga Larry. Aku dibawa ke rumah sakit tempat Larry dirawat. Saat aku bertemu dengan Larry aku langsung memeluknya. Aku merawatnya hanya satu minggu karena aku harus pulang ke Indonesia untuk merawat mama. Dia berjanji setelah dia sembuh total dia akan ke Indonesia untuk melamarku.

Tujuh bulan kemudian Larry sungguh menepati janjinya. Dia datang ke rumahku bersama kedua orangtuanya untuk melamarku. Dan aku menerima lamarannya. Setelah proses lamaran selesai keluarga Larry kembali ke Luksemburg dan akan datang lagi ke Bali saat mendekati hari pernikahan. Sedangkan Larry tinggal di hotel keluargaku untuk mempersiapkan pernikahan kita. Aku membuat foto prewedding di Tirta Gangga dan Hutan Mangrove. Aku menyewa jasa Wedding Organizer (WO) yang paling bagus di Bali. Aku ingin pernikahanku menjadi momen yang sangat berkesan di dalam hidupku. Pada tanggal 14 Januari 2016 kami melangsungkan akad nikah di rumahku dengan sangat sederhana yang hanya dihadiri oleh keluargaku dan keluarga Larry supaya pernikahanku benar-benar sakral. Lalu malam harinya dilangsungkan pesta pernikahan di hotel keluargaku dengan gaya internasional modern dan mewah. Pesta itu didominasi oleh warna putih dan pink namun tetap terkesan mewah.

Keesokan harinya saat semua keluarga berkumpul di ruang tamu, mama membawa sebuah map yang berisi surat wasiat almarhum papa. Almarhum papa mewariskan lima puluh tujuh persen dari seluruh kekayaannya kepadaku sebagai hadiah pernikahanku. Setelah aku menerima warisan itu, akulah yang memegang kendali hotel. Sejak awal kakak memang tidak ingin sukses karena papa. Dia ingin sukses dengan hasil kerja kerasnya. Sekarang dia fokus kepada usaha kulinernya.

Satu minggu setelah menikah aku dan Larry bulan madu di Indonesia yang kaya akan keindahan alamnya. Aku memilih berbulan madu di kampung Sampireun, Garut. Aku memilih tempat ini karena aku ingin menikmati indahnya pedesaan bernuansa sunda dengan rumah bambu dan sebuah danau di tengahnya. Seminggu kemudian aku pergi ke Pulau Moyo, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Kami bukan hanya sekedar bulan madu tetapi aku juga memperkenalkan keindahan Indonesia kepada Larry. Bukan hanya pantai di Bali yang indah, tetapi seluruh pantai Indonesia. Itulah alasanku memilih bulan madu di luar Pulau Bali.

Setelah berbulan madu, Larry harus kembali ke Luksemburg untuk mengurus perusahaannya sampai adiknya mampu menggantikannya. Sementara aku mengurus hotelku di Kuta. Di awal pernikahan aku dan Larry harus terpisah oleh jarak yang sangat jauh karena pekerjaan kita masing-masing. Kadang Larry yang ke Bali dan kadang aku yang ke Luksemburg. Inilah ujian cinta yang harus aku dan Larry lewati bersama. Kita percaya bahwa jarak ini tak akan memisahkan kita. Tiga tahun kemudian adik kandung Larry sudah mampu menggantikan Larry. Oleh karena itu, Larry memberikan perusahaannya kepada adiknya. Dan aku dikaruniai seorang anak yang sangat tampan yang ku beri nama Alfred Nelson. Larry tinggal di Bali bersamaku dan mama. Aku dan Larry mengurus hotel bersama-sama. Sementara kakakku sudah sukses dengan bisnis kulinernya dan akan segera menikah dengan kekasihnya yaitu Ni Nyoman Indrina.

Cerpen Karangan: Anindita Putri Dewinta
Facebook: Anindyta Putry Dewynta

Cerpen Jarak Ini Tak Akan Memisahkan Kita merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sorry, I Love U

Oleh:
Tit….Tit…Tit…. Terdengar suara klakson yang mengagetkan Icha dari lamunannya. “itu pasti adit” batinnya dalam hati. Ichapun mengambil tasnya dan berlari kedepan,,, tapi Icha lebih kaget lagi saat tiba di

Syal Tuk Yang Tersayang

Oleh:
Jam dinding di kelas sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh, saatnya istirahat. Seiring bel berdentang tiga kali, semua siswa keluar dari kelas masing-masing. Ada yang langsung ke kantin, ke kamar

The Word Destiny (Part 2)

Oleh:
Cuaca sangat cerah hari ini dan juga hatiku terasa nyaman. Angin semilir menemaniku dan juga seseorang laki-laki yang sudah bersamaku selama dua tahun ini. Tak terasa, sahabatku itu tak

Kehilangan Rini

Oleh:
“Ini bukan salahku.” “Sudah jelas itu salah kamu, Wil. Ingat, kamu orang terakhir yang bertemu Rini. Setelah itu dia hilang entah ke mana, bak ditelan bumi.” “Iya bener tuh.”

Meskipun Itu

Oleh:
Bagiku cinta adalah salah satu kekuatan yang menguatkan. Masa jatuh cinta, cinta diam-diam, cinta dijatuhkan bahkan cinta kembali bangkit setelah dicampakkan. Cinta memang ada, tetapi tidak mudah untuk mendapatkannya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *