Kertas Putih

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 12 January 2014

Semalam sudah aku menantikan kehadiran sesosok pangeran yang aku dambakan di malam spesialku ini, aku berharap dia hadir dalam acara sweet seventeenku, Davit itu nama yang tak pernah asing di sekolah ini, siapa sih yang nggak suka dengan dia? Tegas, bijaksana, smart, dengan menguasai english yang cukup mendukung, dia tak pernah bermain dengan hal yang cukup ilfeel di mata wanita, selalu tetap teguh pendirian, I mean konsisten guys he! Itulah yang membuat dia menarik perhatin banyak wanita di sekolahku ini.

Aku berjalan menusurui koridor sekolah dengan bola mata yang berputar sibuk mencari sosok lelaki tampan yang ingin aku temukan, tapi itu semua nihil, “kemana kak Davit, apa dia nggak masuk hari ini? Tumben banget orang serajin dia tak masuk sekolah di hari biasa ini? Apa dia sakit? Lalu kemana dia? Apa yang sudah terjadi dengannya?” gumamku dalam hati yang mengkhawaatirkannya. Tapi sepertinya itu kak Beni, aku melihatnya dari jarak kejauhan, Beni, dia adalah sahabat kak Davit yang gokil dan nggak jelas abis, tapi dia jago basket lho, nggak rugi juga kalau ngegebet dia hehehe, “Kak!!!” teriakku memanggilnya, “iya Cha? Kebetulan nih!” jawabnya menyapaku dengan raut wajah yang begitu tegas dan menyambutku dengan senyuman yang cukup membuat para cewek di sekolah jadi klepek klepek “Lho kok kebetulan sih kak?” tanyaku dengan nada yang sedikit penasaran dengan jawaban kak beni tadi “tenang Cha, aku tahu kamu mau tanya Davit khan? udah tenang aja dia nggak apa-apa kok, maafin dia yah semalam dia nggak bisa datang di acaranya kamu, dia harus keluar kota dadakan Cha, dan dia hanya nitipin ini buat kamu, maafin dia yah!” jelasnya menenangkanku, seolah dia tahu apa yang ingin aku tanyakan padanya “lalu, kak Davit tak berpesan apa-apa sama kakak?” “hem, Enggak Cha soalnya dia tadi malem udah keburu banget, waktunya mepet katanya” “owh! Ya udah kak makasih banyak yah udah buat Lucha tenang” “wahhh! Sayang banget nih yah sama Davit?” celetuknya mengejekku, aku hanya bisa tersenyum dan tersipu malu.

Hari-hari yang telah aku jalani dalam minggu ini dan kemarin begitu aneh, aku sendiri entah tak mengerti apa maksud dari semua ini, setiap pagi mama selalu menemukan surat kaleng yang tak pernah tertera nama dan alamat di amplop itu, kertas putih itu pun tak pernah penuh dengan tulisan, entah siapa pengirimnya aku juga bingung dengan itu, sudah satu minggu terakhir ini mama menemukan itu.

For: Lucha kecilku
Ceria mu tak pernah hilang dari pandangan mataku, senyummu menyejukan hatiku seperti embun pagi yang tersebar di bumi ini, dingin, sejuk dan indah, kabut putihmu yang selalu menenangkan hati kusamku
By: harapan senyum mu

Puitis sih, tapi kalau lama kelamaan seperti ini, buat aku jadi jengkel aja ni orang nggak ada kerjaan banget sih gangguin aku mulu, dari tulisannya sih aku nggak pernah kenal, bahkan nggak pernah lihat. Siapa sih orang ini? Hatiku gelisah penasaran dengan pengirim kertas putih yang tak penuh itu. Ih mikirin dia keburu gila sendiri aku, biarlah nanti juga capek sendiri tuh orang!

Kriiinnnggg… waktu menunjukkan jam 03:00 WIB, “tumben Cha bangun pagi-pagi bener, lha wong biasanya kayak bagong tidur nggak bangun-bangun” cletuk mama padaku “hehehe emang sengaja ma Lucha bangun pagi, penasaran sama orang yang sering ngasih Lucha surat kaleng itu, kira-kira orangnya ganteng nggak yah ma?” “kamu itu Cha yang dipikirin cowok melulu, sekolah masih nggak bener gitu” “hehehe biasa ma kan udah remaja masak mau datar-datar aja, nggak asyik donk!” Aku lari meninggalkan mama untuk menuju pintu rumah bagian depan Krrreeekkk… pintu ku buka dengan perlahan-lahan
“ya ampun” kejutku melihat itu “sepagi ini udah ada lagi, siapa sih orang itu? Jadi tambah curiga deh!” ku ambil amplop itu dan ku buka dengan rasa penasaran yang tinggi, seolah seseorang yang mengharapkanku tau ketika aku akan melakukan sesuatu hal yang berhubungan dengannya, apakah ada orang rumah yang tau tetang ini? Aku juga cukup bingung dengan semua ini, aku sering bertanya pada mama, apakah beliau tahu tentang semua ini? Tapi mama hanya menjawab tidak tahu dan tidaak mengerti, apa yang ia inginkan dariku? Hemh!

For: Lucha kecilku
Bulat matamu mengingatkanku pada peri kecil yang ku temui di dalam mimpiku, kamu yang selalu ku buat resah dengan kehadiranku, maafkan aku peri kecil, jika aku selalu membuatmu gelisah, karena aku sangat menyayangimu
Peri kecilku yang selalu hadir dalam mimpiku
By: harapan senyumu

Ya tuhan, siapa seseorang ini? “mama,” teriakku memanggil mama “apa sih Cha pagi-pagi udah teriak-teriak” “ma, ini siapa sih ma sepagi ini kok udah ada orang yang nggak jelas kayak gini?” “fanstermu mungking Cha, udah lah nggak usah di fikiran nanti juga bakalan ketemu sama orangnya kok” jawab mama padaku “lho emangnya mama tau orangnya?” “ya enggak sih, tapi mungkin aja nanti dia bakalan ngaku sendiri” hem ya juga sih, mama bener juga ngapain aku susah-susah mikirin orang yang nggak jelas kayak gini, tapi, tunggu dulu tadi mama bilang “udah lah nggak usah di fikirin nanti juga bakalan ketemu sama orangnya kok” kok mama bilang kayak gitu yah? Masa sih mama nggak tau orang itu? Toh mama setiap hari ada di rumah nggak kemana-mana, kalau mama bener-bener nggak tau orang itu ngapain mama bilang seperti itu? Aaarrrkkkggg udahlah kok jadi su’udzon sama mama sih. Terangku menyadarkan lamunan itu

“woy! Kok nglamun terus sih Cha? memang apa sih yang di lamunin?” sapa poppy mengagetkan ku “hem aku bingung nih pop” “emangnya bingung kenapa sih cha?” “surat kaleng itu masih ada sampai sekarang pop” “HAH! Yang bener kamu Cha, gila banget tuh orang sama kamu!” poppy kaget mendengarnya, siapa yang nggak kaget sih udah dua minggu ini di timbun terus sama surat kaleng yang nggak jelas banget, sebel juga kan? “kenapa sih pop tuh orang nggak langsung bilang aja sama aku gitu?” tanyaku pada poppy “hem mungkin dia nervous Cha, kamu kan orangnya cuek banget” hem bener juga yah kata poppy, emang ada yang menakutkan pada diriku? Ah biarlah aku harus tetap bersama kak Davit, by the way sekarang kak Davit kok nggak pernah nongol yah? Apa dia masih belum pulang dari luar kota? Kok lama banget sih, emang ngapain ajja disana? Jangan jangan? ih nggak boleh mikir yang macem-macem Lucha, kamu harus semangat mendapatkannya OK! Spirit Lucha!!!

Kriiiggg!!! Bel berdering kencang, waktunya pulang sekolah!
Hem! Kira-kira mama masak apa hari ini yah? Jadi nggak sabar nih, laper banget udah nggak ketulungan, hehehe
Menempuh perjalan selama 15 menit itu cukup menguras tenaga juga yah, hem tapi nggak apalah yang penting aku sudah sampai di rumah sekarang, KRIIIEEEKKK, ku buka pintu rumahku, lho kok ada surat kaleng ini lagi?

For: Lucha kecilku
Duduk
Termenung manis menunggu seorang peri kecil yang hadir dalam hidupku, untuk mencurahkan rasa rinduku pada seorang peri kecil yang lugu.

Lagi-lagi Lucha kecilku, peri kecilku? Siapa sih ini? aku tak pernah mempunyai inisiatif untuk membalas surat-surat itu semua, tapi kenapa saat ini aku berkeinginan untuk membalas meskipun itu hanya sekali? Tak apalah, mungkin dengan aku membalas itu semua aku bisa tau siapa orang itu, Ok aku akan mencoba!

For: someone who i don’t know
Berjalan & Berlari
Langkah demi langkah kau berjalan, lebih cepat kau mengejar, begitu dengan perasaan, tak pernah bisa terlihat dengan mata dan rabaan tangan yang memegang, begitu juga dengan mu yang tak pernah kulihat dan tak pernah hadir di dalam hidupku, jika kau ijinkan aku bertanya Siapakah dirimu? Apakah kau bisa hadir untuk menemuiku? Dan apa maksudmu dengan permainan mu ini?

Itu yang aku ingin katakan kepadanya, apakah dia bisa membaca itu? Hem! Terus aku kasihkan pada siapa? Oh aku tahu, mungkin nanti malam aku taruh ini di tempat biasanya dia meletaktan surat-surat itu. Sip! ternyata aku pintar juga ya? Hahahaha GR sedikit nggak apa-apa khan?

“mau kemana Cha?” teriak mama bertanya “mau ke halaman depan ma” sahutku keras “emangnya ngapain malam-malam gini kamu ke halaman? Mau bersih-bersih? Tumben Cha bersih-bersih?” “yeee mama, masa malem-malem begini Lucha mau bersih-bersih ya nggak mungkin banget lah ma” bela Lucha “terus kamu mau ngapain jongkok disana?” tanya mama sewot pada ku “lagi nyari surat kaleng ma” “hem! Ternyata kamu kangen juga ya Cha kalau nggak ada surat sehari?” “yeee mama ya nggak lah ngapain Lucha kangen sama orang yang nggak jelas kayak gituan?” difikir-fikir iya juga yah ngapain aku masih nyari surat yang nggak penting kayak gitu, hem tapi aku penasaran dengan pengirim yang nggak pernah jelas dan nggak pernah nunjukin wajahnya di depanku, mungkin aja aku bisa tertarik dengan orang itu, bukan berarti aku suka dengan kak Davit terus aku nggak bakalan ada rasa dengan cowok lainnya gitu? Hem mungkin aja suatu hari aku sudah nggak ada rasa lagi, ya kan? betul nggak? Sepertinya untuk malam ini nggak ada coretan lagi deh? “Udah lah lagian ngapain sih Cha kamu masih nyari-nyari hal yang nggak penting itu” gumamku dalam hati.

KRIIINNNGGG… suara bekerku berdering keras pagi ini, mataku mulai terbuka secara perlahan untuk menyambut awal hari minggu ini, “Good morning weekend” senyuman keceriaan selamat pagi dunia, hemh!!! Melihat embun dan kabut pekat rasanya kaki ingin berjalan menelusuri rumput yang basah. Menghirup udara segar lembab dingin dan basah.

Aku memasang sepatu untuk memulai pagi ku dengan joging bersama kak zeta tetangga samping rumah yang selalu siap kapan saja buat nemenin aku.
“mama… Lucha mau joging dulu ya” teriakku pada mama, aku pun mulai berjalan menuju rumah kak Zeta. Tiba-tiba dari arah yang berlawanan terdengar suara teriakan “Luchaaa” aku menoleh untuk melihat orang itu, “hem! kak Zeta, kok ada di sini, kan Lucha yang mau jemput kakak?” tanyaku padanya “hem nggak baik cewek kayak kamu sendirian” “hem, iya juga sih kak.”

aku mulai berlari-lari kecil bersama kak Zeta, tapi, tiba-tiba “Cha!!!” panggil kak Zeta kepadaku “hemhhh” sahutku singkat “Cha kakak boleh ngomong sesuatu nggak?” tanyanya “hem boleh aja, langsung ngomong aja kali kak, lagian kita udah biasa kan setiap minggu kayak gini, lagian kakak udah Lucha anggap seperti kakak Lucha sendiri.” Aku mulai merasa aneh dengan tinngkah kak Zeta saat ini, nggak biasanya dia merasa canggung dengan aku, memang sih akhir-akhir ini aku jarang menemuinya, tapi apa mungkin Cuma gara-gara nggak ketemu denganku beberapa hari jadi canggung seperti ini? Hem! Jadi aneh mikirin dia, udahlah yang penting aku biasa aja dengannya ya khan? gumamku dalam hati.

“Cha kita main ke bukit sana aja yuk!” ajaknya padaku “OK! Kak, mumpung masih pagi juga sih, tapi kan lebih dingin kan kak?” “hem! Nggak mungkin dingin Cha kan ada kakak yang ngelindungin kamu.” “hem bener juga sih kak hehehe.” Heh aku mulai tercengan dengan tingkahnya kak Zeta, rasanya aneh banget tak seperti biasanya, biasanya kan kita bincang-bincang tak ada kecanggungan sedikitpun, tapi kalau sekarang ini sungguh aku tak menduga, memang dunia sering jungkir balik yah!.

Setelah menaiki bukit yang lumayan tinggi, dan cukup lelah untuk menaiki, tapi tak terasa kita sudah sampai di puncak bukit itu, saat aku melihat ke bawah Waw!!! Menabjubkan mata, embun, kabut, udara dingin dan pemandangan yang hijau alami dan sangat mempesona it is nature, semua yang masih alamai.
“Waw!!! kak kenapa kakak nggak pernah ngasih tau Lucha kalau disini ada tempat yang sangat indah dan sangat alami? Kenapa kakak nggak pernah ngajak Lucha ke tempat ini?” tanyaku pada kak Zeta “Cha…” pangilnya dengan lembut “kok jadi deg degan kayak gini yah?” batinku dalam hati “ya kak?” “Maafin kakak ya Cha?” tiba-tiba kak Zeta memelukku dengan sangat erat. Kenapa seperti ini? Ada apa ini? “iya kak kenapa? Kenapa kakak harus minta maaf? Kan kakak nggak punya salah sama Lucha?” tanyaku pada kak Zeta “Lucha, apakah kamu tau tentang ini?” kak Zeta memberikan sepucuk kertas kecil pada ku, dan aku membukanya dan isinya,

For: Lucha kecilku
Saat ini aku bersamamu, menemanimu, dan menjagamu, dan aku ingin selamanya tuk mendekapmu. Apakah kau juga merasakan itu? Apakah aku tepat jika ingin menempati hatimu? Aku menyayangimu peri kecilku.

Aku terkejut saat aku membaca itu semua, apa maksud dari ini? Apakah selama ini kak Zeta yang mengirimkan surat-surat kaleng itu, lalu mengapa dia melakukan itu padaku? Aku sudah menganggapnya seperti kakak kadungku sendiri, lalu apa yang harus aku lakukan? Benar-bernat jungkir balik dunia ini. “kak Zeta, apa maksud kakak memberi Lucha seperti ini? Apakah memang benar yang selama ini mengerimkan surat kaleng itu adalah kakak? Kenapa kakak tak berani menunjukan wajah kakak langsung? Apakah memang ini permainan kakak untuk membuat Lucha risih dan sebel?” tanyaku sedikit marah pada kak Zeta “maafkan kakak Lucha, tapi kakak memendam ini sudah terlalu lama, kakak tak cukup mempunyai keberanian untuk itu. Dan kakak tau jika Lucha memendam rasa pada Davit kan?, lalu harus apa kakak? Agar Lucha bisa maafin kakak?” aku meraih dan mendekap tubuh kak Zeta “kak kenapa kak Zeta beru bilang sekarang ini? Apakah kakak tau apa yang terpendam dalam hatinya Lucha? Kenapa kak Zeta tak pernah menanyakan hal ini?” kak Zeta melepas pelukanku, dan menatap mataku “Cha tatap mata kakak” perintahnya padaku “lihat mata kakak Cha, apakah di mata kakak ada keraguan? Apakah di mata kakak ada kebohongan, kakak hanya takut untuk kehilangan kamu peri kecilku, kakak takut jika kita bersatu kak Zeta kehilangan kamu, peri kecilku dengar kakak dengan baik, kakak menyayangimu, kakak tak ingin memilikimu hanya untuk sementara, kakak ingin memilikimu untuk selamanya peri kecilku, sekarang Lucha ngerti kenapa kakak takut untuk mengungkapkan ini?” “iya kak Lucha ngerti, tapi bagaimna lagi jika kenyataan bilang kita akan bersatu?” “maksudnya?” kejutnya mendengarku “Lucha juga sayang kak Zeta” dengan mataku yang berkaca-kaca aku mengungkapkan itu, mungkin kalian berfikir jika aku hanya menyayangi kak Davit, tapi itu semua salah, aku menyayanginya hanyalah untuk pelarian saja, karena aku telah memendam rasa ini pada kak Zeta sudah lama, aku yang menunggunya untuk mengungkapkan itu semua, tapi mungkin tuhanlah yang tahu tentang semua isi hatiku, aku menyayangi seseorang dan aku memendam sedalam mungkin dia hatiku agar aku bisa tetap mengingat siapa yang aku sayang dan siapa yang aku tunggu, “Cha, apakah kamu yakin dengan hatimu? Lalu bagaimana denga Davit? Apakah kamu tak ingin berusaha untuk mendapatkannya?” dia ragu denganku, itulah aku yang selalu membuat ragu kenyataan, aku tak pasti dan aku selalu menyembunyikan semua yang seharusnya aku tampakkan mungkin inilah saatnya aku untuk jujur tentang ini semua “kak Zeta, sekarang Lucha yang meminta kakak untuk menatap mata Lucha dengan tajam, Lucha ingin jujur dengan kakak, Lucha ingin meyakinkan kakak, kak Zeta, kakak tau kenapa Lucha bilang jika Lucha sayang dengan kak Davit? Apakah kakak tau apa yang sebenarnya terjadi pada hatinya Lucha? Selama ini Lucha hanya bisa melampiaskan itu semua pada kak Davit kak, karena Lucha tak mampu untuk mengungkapkan ini semua pada kenyataan, Lucha salah telah menyayangi kakak, salah kak salah besar, tak seharusnya Lucha seperti ini, Lucha hanya bisa menunggu kakak” “maafkan kakak yah peri kecilku, sudah membuatmu menunggu selama ini, maafkan kakak yang tak mempunyai keberanian sedikitpun untuk itu, maafkan kakak yah peri kecilku?” pintanya padaku “iya kak, itulah yang seharusnya Lucha lakukan, tetap menunggumu sampai akhir hayatku, aku menyayangimu tanpa setitik batas pun” “Terimakasih Peri kecilku aku sangat menyayangimu I LOVE YOU.”

Aku pun bahagia atas apa yang selama ini aku jalani, di awal aku menjalani dengan banyak rintangan yang datang pada ku, tapi aku tak pernah menyesal apa yang telah aku jalani, bahkan aku sangat bersyukur atas semua ini, akhirnya tuhan lah yang bertindak atas apa yang selama ini aku rasakan, terimakasih ya Rabb Engkaulah sahabat sejatiku Engakaulah yang selalu mengerti aku, aku menminta dan memohon padaMU dan Engkau telah mewujudkan itu, sungguh aku bersyukur atas apa yang Engkau berikan kepadaku.

Setelah tangis, setelah sedih, setelah sakit, senyuman, keindahan, kecerahan dan kebahagiaan, itulah yang dinamakan harapan.
Memeluknya, mendekapnya dan bersamanya itulah yang aku inginkan selama aku hidup dan menginjak dunia.

Selamat datang cinta

Cinta aku milikmu, aku telah belajar bersamamu, berjalan dan menuntunku di saat aku tertatih dan terbelenggu, terkadang kau menyakitkan hatiku, tapi aku tak pernah ingin melupakan dan menghapus jejak pelukmu.
Yang selalu aku harapkan dari cintaku adalah kamu yang slalu bersamaku di setiap gerak kaki dan langkahku, mengikatmu dan menciptakan rumah kecil untuk hidup, itulah harapanku saat aku bersamamu. Untukmu yang menyayangiku.

Cerpen Karangan: Miftahul Jannah
Blog: Catatanmyetha.blogspot.com
hay, namaku miftahul jannah , aku sering di panggil myetha, aku tinggal di jember jawa timur, aku lahir 11 november 1995, iya sich aku suka banget sama yang namanya tulisan, dan aku juga suka nulis, apapun yang ada dalam pikirankku seaka akan slalu pingin aku tulis dimanapun aku berada, pokoknya aku ingin mulai dari awal ini, dengan ucapka basmallah, semoga akan menjadi awal dari kesuksesan amin

Cerpen Kertas Putih merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lentera Bintang (Part 2)

Oleh:
Mentari menyapa dengan pendaran cahayanya melalui jendela kamar. Embun tertetes dengan kesegaran. Langit penuh dengan coretan pigmen. Lembayung angin menerpa sedertan bunga kesayangan mama di taman. Meniup air mancur

Cinta di LDR

Oleh:
Minggu 16 Februari 2014. Hari dimana gue libur kerja. Sebelumnya nama gue Daffa, gue bekerja sebagai IT Support di suatu perusahaan abrasive dan gue juga mahasiswa S1 TI di

Seperti Menyentuh Strawberry

Oleh:
Aku bodoh hanya karena cinta. Setiap hari, aku menunggunya. Waktu-waktuku terbuang sia-sia. Aku mengorbankan waktu yang menurut sebagian orang berharga hanya untuk melihatnya. Aku menunggu dia pulang, aku mengintip

Hujan Yang Sama Cerita Berbeda (Part 2)

Oleh:
Hari ini benar-benar menyebalkan, bagaimana tidak menyebalkan kalau gua sedari tadi harus mendengarkan ejekan dari teman gua karena gua mendapatkan hukuman. Dan pastinya orang yang berani mengejek gua tidak

Dia Yang Ku Sayang

Oleh:
Waktu pertama kali aku kenal dia waktu aku baru menjejakan kaki di smp 5.. Waktu itu aku tak tau mengapa aku sebenci itu pada seorang lelaki yang bernama avan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *