Kita Berbeda

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 9 January 2016

Pertemuan singkat yang sangat mengesankan. Satelah pertemuan itu aku selalu memikirkanmu, entah kenapa bayanganmu selalu ada dalam pikiranku. Selalu terbayang senyummu yang membuatku terpana. Dan aku masih mengingatnya, saat itu kau membantuku ketika aku lupa membawa uang untuk membayar buku yang ingin ku beli. Kau datang menghampiriku yang saat itu sedang kebingungan dan dengan baik hati kau menolongku untuk membayar buku itu.

Meskipun sudah ku tolak bantuanmu tapi kau tetap memaksa untuk membayarnya. Akhirnya aku pun menerima bantuan itu dan tentunya tak lupa mengucapkan terima kasih padamu. Setelah kejadian itulah aku jadi semakin sering datang ke toko buku di mana pertama kali kita bertemu, berharap bertemu denganmu lagi. Akhirnya doaku pun terkabul. Aku bertemu denganmu kembali dan aku semakin senang saat kau masih mengingatku.

“Kamu orang yang waktu itu kan?” tanyanya meyakinkan bahwa dia tidak salah orang.
“Iyah, aku yang waktu itu kamu tolong. Ini aku mau ngembaliin uang kamu yang aku pinjam kemarin.” ucapku sambil menyerahkan sejumlah uang kepadanya.
“Eh, tidak perlu dikembalikan, aku senang bisa membantumu.” kamu pun tersenyum membuatku salah tingkah.

“Apa tidak apa-apa?” tanyaku meyakinkan.
“Tentu saja tidak apa-apa.”
“Ya sudah, terima kasih ya?”
“Iya. Aku Rafa, kamu?” kamu pun mengulurkan tangan.
“Aku Via.” ucapku malu-malu sambil membalas uluran tangannya. Saat tanganku menyentuh tangannya, entah kenapa jantungku berdetak lebih cepat.

Sejak itulah kita mulai dekat, kita pun saling bertukar nomor handphone. Berkomunikasi selalu kita lakukan, walaupun hanya memberitahu kabar saja. Sudah 1 bulan aku mengenalmu, aku semakin nyaman dan merasa aman berada di dekatmu. Kamu selalu mengajakku nonton, makan malam atau sekedar jalan-jalan. Setiap hari dan setiap saat kamu selalu ada untukku. Mungkinkah aku jatuh cinta padamu? Entahlah aku tidak tahu.

Dan sejak sebulan mengenalmu aku mulai mengetahui bahwa kita berbeda keyakinan. Sejak itu juga aku berusaha menghilangkan perasaanku padamu tapi aku tidak bisa, malah perasaanku semakin menjadi ketika berada di dekatmu. Bahkan aku berharap kau tidak mendengar detak jantungku saat aku di dekatmu. Memang awalnya aku terkejut dengan perbedaan kita tapi bagi kamu itu tidaklah masalah, tapi bagiku itulah masalahnya karena dengan perbedaan itu kita tidak mungkin bisa bersatu. Memang kamu juga sempat terkejut saat aku meminta waktu sebentar untuk melaksanakan salat.

“Kau melakukan salat?” tanyanya terkejut. Aku pun heran dengan apa yang dia bicarakan, tentu saja aku melaksanakan salat karena itu adalah sebuah kewajiban dalam agamaku.
“Tentu saja aku salat, memang kau tidak salat?” tanyaku balik.
“Tidak, aku bukan muslim.” aku pun terkejut dengan pengakuannya.
“Jadi kita beda agama?” tanyaku meyakinkan.
“Ya, tapi tidak apa-apa, itu tidak masalah, aku akan tetap menghormatimu dan mempersilahkan kamu untuk beribadah.

“Aku kira kamu bukan muslim karena kamu tidak berpakaian panjang dan memakai penutup kepala seperti kebanyakan wanita muslim yang pernah ku lihat.” meskipun kamu mengatakannya dengan senyummu yang mampu membuatku terpana tapi tetap saja kata-katamu itu membuat hatiku sakit seperti dicubit. Memang aku bukanlah wanita yang berjilbab dan memakai pakaian panjang seperti kebanyakan wanita muslim lainnya. Aku belum siap berjilbab.

Hari ini Rafa mengajakku ke toko buku di mana tempat kita pertama kali bertemu, entah kenapa kamu mengajakku ke tempat itu, biasanya kita selalu pergi ke taman untuk melihat anak kecil bermain dan mendengar tawa polos mereka. Sesampainya di toko buku aku pun langsung pergi ke tempat penyimpanan buku novel. Sedang sibuk memilih buku novel tiba-tiba seseorang memanggil namaku dengan lembut, seketika aku diam dari aktivitasku memilih buku. Aku mengenali suara itu, ya, itu adalah suara Rafa. Aku pun membalikkan badan dan melihat Rafa yang sedang terseyum sangat manis sekali.

Entah kenapa saat melihatnya tersenyum seperti itu jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. Aku semakin salah tingkah saat Rafa melihatku lekat-lekat. “Ada apa?” tanyaku gugup, apalagi ada beberapa pengunjung toko buku yang memandang kami dengan pandangan heran, sedangkan Rafa hanya diam dan tersenyum manis, dan ku lihat dia membawa beberapa buku di tangannya. “Rafa, jangan membuatku takut.” Rafa mulai mendekatiku dan dia memegang tanganku.

Aku pun terkejut dengan apa yang dia lakukan tapi aku hanya diam dan tak bisa berbuat apa-apa, seluruh tubuhku seperti tidak bisa digerakkan. Kita hanya saling bertatapan dan tidak mempedulikan orang-orang yang melihat dengan heran. “Via, jujur, sejak pertama bertemu denganmu di tempat ini, aku selalu terbayang wajahmu yang ceria, kamu selalu merusak konsentrasiku saat aku sedang mengerjakan sesuatu, akhirnya aku datang lagi ke toko buku ini berharap bertemu denganmu lagi. Aku semakin senang saat malihatmu ada di toko buku ini lagi.”

“Aku pun memberanikan diri untuk mendekatimu dan mencoba berkenalan denganmu. Dari hari ke hari kita semakin dekat, aku semakin nyaman berada di dekatmu. Dan aku semakin yakin jika aku jatuh cinta padamu Via.” tubuhku menegang mendengar pengakuan Rafa, aku tidak menyangka Rafa akan mengucapkan kata-kata yang selama ini aku idam-idamkan, aku sangat senang jika ternyata cintaku tak bertepuk sebelah tangan.

“Tapi bagaimana dengan perbedaan agama kita?” tanyaku setelah berdiam cukup lama. Karena menurutku yang menjadi masalah adalah perbedaan agama kita.
“Jangan khawatir, seperti yang ku bilang aku akan tetap menghormatimu sebagai seorang muslim dan aku tidak akan melarang kamu untuk beribadah.”

Rafa mengangkat sebelah tangannya yang memegang buku, ternyata ada 2 buku yang dia pegang. Dia menunjukkan padaku sebuah buku yang berjudul ‘I Love You’ dan buku yang satunya lagi berjudul ‘I Hope You Love Me’. Setelah membaca tulisan itu aku langsung menatap kedua matanya yang teduh.

“Via, I love you and I hope you love me, Would you be my lady?” aku pun terkejut dengan apa yang dia katakan. Rafa memintaku menjadi kekasihya! Apa ini mimpi? Jika ini mimpi aku berharap aku tidak akan bangun dari tidurku.
“Jawab, jawab, jawab!!” suara riuh pengunjung toko buku yang ternyata mendengar pengakuan Rafa terhadapku.

Ternyata dari tadi sudah banyak sekali yang memperhatikanku dan Rafa. Rafa hanya tersenyum menunggu jawabanku. Aku hanya mampu mengangguk dengan air mata yang terus mengalir dari mataku, ku lihat Rafa tersenyum senang melihatku mengangguk, lalu dia memelukku dengan erat seolah tidak mau lepas, aku hanya diam saat Rafa memelukku. Ku dengar seluruh pengunjung toko buku tertawa bahagia dengan jawabanku.

“Aku mencintaimu, Rafa.” ucapku sambil membalas pelukannya.
“Aku lebih mencintaimu, sayang.” Rafa pun mencium keningku dengan lembut. Akhirnya aku resmi menjadi kekasihnya dengan disaksikan banyak orang. Meskipun kita berbeda tapi aku tetap akan mencintai Rafa sampai kapan pun, walaupun itu akan menyakitkan pada saatnya.

The End

Cerpen Karangan: Amelia

Cerpen Kita Berbeda merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jangan Bohong Kak

Oleh:
Aku punya kakak. Dia tinggi dan tampan. Dia segalanya bagiku. Sejak orangtuaku meninggal, aku hanya bergantung padanya. Dia selalu melakukan hal yang benar. Dia sempurna. Kadang, jika aku punya

Rosalia

Oleh:
“Siapa wanita itu?” “Kenapa?” “Dia wanita sempurna yang pernah kulihat!” “Jangan bodoh, bung!” “Mengapa?” “Sebaiknya kau jangan mengganggunya, jika kau masih menyayangi hidupmu!” “Maksudmu apa?!” “Kau pura-pura bodoh atau

Je T’aime (Part 3)

Oleh:
“Dek cepetan ke sini sekarang!! Emergency!!” teriak kak Cello tiba-tiba setelah Chika mengangkat telponnya. Chika menjawab dengan bingung, “Kemana kak? Apa yang emergency?”. “Pokoknya sekarang kamu ke rumah sakit,

Menghitung Hari

Oleh:
“1.043” Tidak terasa, sudah hamper 3 tahun aku terus seperti ini. Setiap pagi kerjaannya hanya merobek kalender yang aku buat khusus dengan angka yang aku tulis manual hingga ribuan.

Don’t Leave

Oleh:
Entah mengapa keadaan di kelas tidak seperti dulu. Kini rasanya membosankan. Apalagi Rina masih terlihat cuek kepadaku. Entah mengapa itu terjadi. Aku merasa seperti telah melakukan sesuatu terhadapnya, tapi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *