Menikam Hati (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 13 March 2014

Obat Hati
Memasuki SMA. Aku memang berencana memasuki SMAI AL Maarif. Alhamdulillah aku lulus dari SMP. SMAI memang kecil. Tapi entah kenapa tempat inilah yang kupilih tulus dari lubuk hatiku yang paling dalam. Sinta masuk Madrasah Aliyah Al Maarif. Meski berbeda sekolah tapi persahabatan kita masih dekat kok. Di sini Osisinya memang pada Alay Alay. Tapi mereka juga bisa tegas dan serius bila waktunya harus tegas.
Temboknya berwarna hijau. Berpagar abu abu. Tempat ini membuatku dapat melupakan masa lalu menyakitkan itu. Teringat bagaimana harapan indah muncul lalu saat akan kuraih harapan itu lenyap begitu saja.

Hari pertama masuk diawali dengan baris di lapangan. Seorang ketua osis cewek berkata. “Hai temen temen. Waduh ini para calon siswa SMAI nih. Penerus kita kita. Oke sebelum persiapan MOS dimulai saya ingin kalian memperkenalkan diri. Tapi karena terlalu banyak. Gimana kalau kita pake tepuk tangan konsentrasi. Kalau saya bilang merah tepuk tangannya 1 kali. Hijau 2 kali, Kuning 3 kali.”
“Sebelumnya perkenalkan nama saya Naneng Sulistiowati. Kalian bisa memanggil saya Kak Naneng. Oke dimulai dulu yaaa.”
“Merah.”
“Prak”
“Kuning”
“Prak Prak Prak”
“Hijau”
“Prak Prak”
Itu terus dilakukan dengan acak. Akhirnya salah seorang siswa salah tepuk tangan. Dia disuruh memperkenalkan dirinya dengan cara yang Alaaaay. Rupanya dia malu malu dan pendiam. Ia mengaku dari SMPI sini. Tubuhnya kecil. Kulitnya coklat matang. Suaranya kecil. Ia memakai kaca mata hitam kotak. kalau gak salah namanya Tika. Kusapa dia. Oh ternyata dia merespon sapaanku dengan baik. Mudah mudahan saja kami jadi sahabat dekat.

Aku berada di barisan ketiga dari kerumunan siswa yang berdiri. Tubuhku memang agak gemuk akhir akhir ini. Berat badanku saja empat puluh tuju. Waw fantastis banget kan. “Tika kamu kok bisa pingin ke SMAI sih. Perasaan di MA siswanya kan jauh lebih banyak.” Sautku. “Ibuku menyuruhku masuk SMAI biar gak jauh jauh.” Aku heran dengan jawabannya barusan. Ku garuk kepalaku sebentar. Padahal MA kan di depan SMAI. Deket Hisbulloh. Tapi terserah lah mungkin memang dianya yang ingin masuk SMAI.

3 Hari berlalu dengan MOS yang melelahkan. MOS SMA tidak seperti MOS waktu SMP. Berbeda jauh. Di rumah aku merebahkan tubuh di sofa sambil menonton infotaiment. Huuu beritanya bosenin. Saat mataku hendak terpejam. Bel berbunyi. Ku angkat tubuhku lalu melangkah menuju pintu ruang tamu. “Walaikum Sallam. Eh Sinta ada apa?” Tanyaku. Hatiku langsung bahagia saat sahabatku datang kesini. Dia masih sempet berkunjug. “Eh duduk dulu ayo.” Pintaku. Kupersilahkan sahabatku itu untuk duduk di sofaku yang berwarna abu abu itu.
Sinta dengan tenang duduk di sofa itu. “Eh gimana di MA. Beta?” Tanyaku dengan nada senang. “Alhamdulillah disana aku suka banget. Gedungnya besar.” Jawabnya dengan nada bahagia. Sinta memang kelihatan berbinar binar hari ini.
Aku ceritakan semua kisahku semenjak di SMAI. Aku duduk di sampingnya. Lampu kunyalakan karena memang agak gelap ruang tamuku.

Di luar mulai gelap. Mungkin akan hujan. Kulihat ada kalung berinisial SZBF di sebuah kotak transparan yang ditarauh Sinta. “Jadi begini kedatanganku kemari ingin memberimu ini. Sinta mengambil kotak itu dan memberikan kalung itu padaku. “SZBF maksudnya?” Tanyaku dengan nada bingung. “Jadi itu kepanjangan dari SINTA ZAFRINA BEST FREDNS.”
Oooh itu menjadi lambang persahabatan kita. Entah kenapa hatiku senang sekali. Aku merasa bahagia sekali mempunyai sahabat yang masih peduli padaku.

Keesokan harinya. Saat aku dan Tika hendak di perpus. Aku melewati kelas 2 IPA. Tiba tiba kulihat seseorang sedang menulis. Wajahnya sangat familiar bagiku. Kutoleh dan kuperlambat langkahku. Wajahnya benar benar mengingatkan David. Ku tatap lagi dia. Dia malah membalas tatapannya. Dari mejanya dia duduk dengan tenang tapi matanya melirik ke mataku. Luka ini benar benar sakit. Luka hatiku yang mulai sembuh kini harus terobek menganga. Batinku tersiksa. Sebisa mungkin aku akan berusaha menjauhi dia agar hati ini tidak menangis lagi.

Saat hendak ke Masjid besar Hisbulloh untuk Sholat Duhur. Pukul 11:45 Aku bertemu Sinta. “Sinta. Eh yuk Solat sama aku aja yuk.” Ajakku. Dia mau saja dan kami pun melangkah menuju masjid. Suasana dingin dapat kami rasakan saat memasuki masjid. Tempat ini didinginkan oleh 12 kipas angin. Tentu saja suasananya sejuk banget.

Aku Sholat dengan damai. Aku Sholat di sebelah kanan dekat tirai perbatasan. Suara seorang laki laki mengumandangkan bacaan Sholat. Entah kenapa aku ingin sekali melihat siapa di balik tirai itu. Sesudah Sholat. Aku berdiri. Kulihat dari balik Tirai ternyata dia anak MA AL. MAARIF. Matanya agak sipit berkulit putih dan bertubuh lumayan tinggi. Rambutnya tidak terlalu lurus. Masih agak bergelombang. Bisa dikatakan lumayan tampan. Dia melirikku tapi entah kenapa aku tidak ingin melupakannya. “Hayo ngeliatin siapa?” Tanya Sinta mengagetkan diriku yang sedang memandangi cowok itu. “Enggak kok. Aku gak kenapa kenapa.” Jawabku dengan wajah malu.

Kini aku mempunyai alasan untuk sering ke masjid hisbulloh. Karena insya Alloh aku akan bertemu dengannya. Sepulang sekolah. Kini orangtuaku sedang berada di rumah. “Ayah besok aku ingin kita jalan jalan ya. Mumpung kalian ada.” Pintaku. Memang aku sudah lama jarang keluar. “Isya Alloh nak memangnya kamu ingin kemana.?” Tanya ayah. “Ke Mall saja. Ke Matos kek, MOG kek, Kemana kek gitu.” Jawabku. Kepalaku memang butuh refreshing berbelanja.

Keesokannya di hari minggu aku mengajak Sinta. Ayah hanya mengantarku. Kita menuju ke Matos. Ayah akan menjemput pukul 19:30 WIB.

Di MATOS rasanya seneng banget. Pintu merah dan kaca bening itu seperti dulu tidak berubah. Memasukinya langsung. Wussss. Asenya dan aroma aroma seperti Kopi akhirnya menabrak kami. Suasanya terang banget. Kita langsung naik Ekskalator. “Sin kamu berencana belanja apa aja?” Tanyaku
“Mungkin beberapa pakaian, Beberapa perlatan kulit.” Jawabnya. Kami berbelanja.

Di tengah tengah Mall. Saat aku akan masuk ke Scilight Hobbys untuk membeli miniature aku tidak sengaja menabarak seorang laki laki. “Maaf maaf. Aku tidak melihatmu.” Kataku dengan hati takut dia marah. “Oh gak masalah. Belanjaan kamu jatuh semua tuh. Aku bantuin ya.” Cara bicaranya sangat ramah. Saat kudongak. Hatiku langsung dag dig dug. Kulitku langsung dingin. Tubuhku merasa kaku. Ternyata Cowok kemarin yang aku lihat di masjid. “Lho kamu kan anak SMAI.” Herannya. Aku bertanya Tanya di dalam haati. “Kamu tahu dari mana?” Aduh bodohnya aku. Kenapa aku bertanya seperti itu. Padahal udah pasti dia tahu. Dia kan sering ketemu aku di jalan saat aku pulang atau ke Masjid. “Oh enggak. Soalnya kemarin aku ngelihat kamu waktu di Masjid. Kamu memakai seragam SMAI. Suasana Mall masih ramai. Tapi tiba tiba Sinta datang. “Lho Ilham. Kamu kok bisa sama Zafrina?” Tanya Sinta. “Oh tadi kami gak sengaja tabrakan.” Kata Ilham. “Jadi ini Ilham. Kenalin na. Dia sekolah di MA AL. MAARIF. Selisih satu kelas sama aku. Aku di kelas X. 6 dia X. 5.”
Ooo jadi namanya Ilham. Ya ampun wajahnya tampan banget. “Kenalin nama aku Zafrina.” Kataku untuk mengajaknya berkenalan. “Ilham.” Jawabnya. Kami berjabatan tangan. Ia tersenyum ke arahku dengan mata yang tajam ke mataku. Jujur saja hatiku serasa mau copot. Apakah aku menyukainya?
Entahlah.. Tapi kok dia gak melepas tanganku ya. Bahkan bisa dibilang agak terlalu lama untuk sekedar menjabat tangan perkenalan. Langsung ku tarik tanganku. Aku takut nanti salah tingkah. “Maaf.” Katanya.
“Oh iya Ham. Kamu kesini sama siapa?” Tanya Sinta. “Aku kesini sama temen. Tapi kayaknya dia lagi asyik tu pacaran di bioskop.” Aku agak geli mendengarnya. “Emangnya kamu belum punya pacar?” Tanyaku. Aduh lagi lagi kok aku memberi pertanyaan aneh. “Memangnya kamu mau jadi pacarku” Tanyanya dengan agak mulai berani gombal. “Bisa aja kamu bercandanya.” Jawabku untuk menutupi wajahku yang memerah padam karena malu.

Kami bertiga akhirnya jalan bersama. Saat hendak makan di Friend Fries Resto. Setiap mejanya dipersilahkan untuk 2 orang. Aku kaget banget baru saja aku duduk. Kok Ilham milih duduk di tempat yang satu meja sama aku. “Emm emm. Aku duduk dimana?” Tanya Sinta dengan nada manja. “Disitu aja. Masih deket kok dengan meja ini. Bersebelahan malah. “Kata Ilham ke Sinta.
Tubuhku sedikit gemetar. Entah kenapa hati ini merasa senang banget. “Na. Aku boleh Tanya?” Kata Ilham. “Mau Tanya apa?” Tanyaku balik. “Jadi begini kamu kan masuk di SMAI. Kamu kenal Tika?” Pertanyaan itu langsung membuatku tersedak saat menghisap jus nanasku. “Maaf. Oh Tika. Yang badannya kecil itu kan. Pakek kaca mata.” Jawabku dengan nada agak keras. “Yaaa. Kamu tahu enggak dia itu sepupu aku.” Katanya. Aku lebih kaget lagi. Terus terang. Mungkin dengan adanya Tika. Dia bisa memberi informasi lebih lanjut tentang Ilham ini. “Oh. Di sekolah Tika itu satu bangku sama aku.” Kataku. Senyumnya semakin mengembang. Ia menyuapkan sepotok ayam ke mulutnya. Oh tuhan. Dia benar benar telah menjadi Obat Hati. Perlahan aku merasa sembuh. Dia datang dengan cahaya.

Pertemuan
Keesokan harinya. Di saat aku akan pergi ke sekolah. Pagi hari. Aku tidak sengaja bertemu dengan Ilham yang sedang berjalan kaki. Aku sengaja diam saja. Tak mengeluarkan kata sedikit pun. Aku terlalu malu dan takut salah tingkah. Tapi saat melewati jalan raya. Tiba tiba ada yang memukul ringan pundakku. Saat kutoleh. Eh Ilham. Kok berani banget sih dia. “Eh Ilham. Ada apa?” Tanyaku. “Enggak. Cuman pingin jalan bareng saja sama kamu.”
Ya ampun. Baru kemarin kami berkenalan. Seragam SMAI di hari senin menggunakan Putih Abu Abu. Sementara di MA memakai Putih Putih. Ketampanannya semakin terlihat jelas sekali. “Aku duluan ya.” Sapaku karena sudah sampai di gerbang SMAI lebih awal. Di depan sekolah aku masih melihat dia berjalan. Dia berjalan tapi matanya masih lurus ke arahku. Kupegang tas hitamku lalu aku berbalik badan.

Kunaiki tangga sampai di lantai tiga. Aku masuk di kelas X. 1
Untung masih tidak terlalu banyak yang datang. Tika sudah dudku di bangku depan. Aku langsung duduk di sebelahnya. Awalnya kami hanya saling diam. Tika terlalu Asyik mendengar musik. “Tika.” Panggilku. “Apa” Jawabnya. Tika akhirnya melepas Headsednya dan mendengarku. “Apa?” Tanyanya. “Aku mau Tanya.” Kataku. “Iya mau Tanya apa?” Jawabnya dengan wajah datar. “Eh Ilham itu saudara kamu yaaa?” Tanyaku. “Ilham siapa. Banyak kali yang namanya Ilham.” Katanya dengan nada datar. “Ya ampun kalau gak salah namanya Ilham Pranata. Dia sekolah di MA.” Kulihat Tika akhirnya mengerti maksud ucapanku. Aku langsung merubah posisi duduk menjadi lurus menghadapnya. “Ooo kak Ilham. Kamu kenal dia dari mana?” Tanyanya. “Aku udah 2 kali secara tidak sengaja bertemu dengannya.” Kataku. Ku tata kerudungku agar tetap rapi. “Ooo gitu. Iya kak Ilham itu saudaraku. Orangnya milih MA karena dulu dia di MTS Negeri. Jadi ia ingin lulusan MA.” Katanya. Aku memberanikan diri untuk bertanya lebih lanjut. “Ilham itu orangnya gimana?” Tanyaku. “Kak Ilham itu sebenarnya baik loo orangnya. Apalagi kalau sama cewek.”
“Banyak cewek yang suka sama dia. Tapi dia orangnya memang gak pernah menganggap serius yang namanya pacaran. Emang dia gak Play boy. Tapi dia sering gonta ganti pacar. Pacaran bentar lalu putus eh dapet lagi yang baru.”
Setelah mendengar cerita panjang itu. Akhirnya aku tahu sebagian tentang dirinya.

Bell sekolah dimulai. Pelajaran hari senin. Yang pertama yaitu pelajaran Bahasa Indonesia. Pak Hari Sujarwo adalah guru Bahasa Indonesia disini. Orangnya sangat asyik. Humoris banget. Pelajaran sama sekali tidak membosankan.

Jam Istirahat. Aku dan Tika menuju ke kantin untuk membeli beberapa makanan. Kami harus melewati kelas 2 Ipa. Tapi orang yang mirip dengan David itu sepertinya tak ada. Sesampainya di Kantin Hati ini harus tersiksa kembali. Aku melihatnya sedang duduk di meja nomor 22. Itu hanya perasaanku atau memang benar benar terjadi. Matnya langsung melihatku. Dia menatapku dengan amat lekat.
Aku akui wajahnya memang tampan. Matanya indah. 70% mirip dengan David. Ia sedikit melempar senyum ke arahku. Aku menjadi ingat sesuatu.

Di sore hari pada saat cuaca mendung. David menarik tanganku. Dia mengucapkan kata indah itu. Aku meminta waktu padanya. Tapi di pagi hari saat kucari dia menghilang begitu saja. Luka ini sudah terlalu lebar sobekannnya. Darahnya keluar. Sakit sekali. Luka batin ini semakin mendesak diriku. Semakin menyiksa hidupku.

Pertemuan ini membuat hatiku sakit. “Ayo Tik kita makan di kelas saja. Kita bungkus saja kuenya.” Ajakku. Kita langsung pergi meninggalkan kantin. Melewati lorong sekolah. Naik beberapa anak tangga. Di depan kelas aku langsung duduk. Ingatan itu rupanya masih tidak mau pergi juga.

“Na. Kamu kenapa sih kok aneh. Setiap ke kantin seperti ada sesuatu yang membuat kamu tuh cepet cepet pergi dari kantin.” Heran Tika. “Maaf. Hanya banyak hal yang mengingatkanku pada sesuatu.” Jawabku agar tidak membuat cemas. Kumakan kue kue itu. Sambil mendengar musik Maher Zain.
“Lalu apa yang membuat kmu sedih?” Tanya Tika sekali lagi. “Enggak kok. Aku beneran gak kenapa kenapa.” Jawabku sedikit membentak. Saat duhur. Aku akan ke Masjid. Ilham bertemu denganku lalu kusapa duluan. “Ham. Eh kamu lihat Sinta?” Tanyaku. Tapi dia hanya diam dan berkata. “Tidak” Dia langsung lari menuju Masjid. Entah aneh sekali biasanya dia langsung deketin aku. Tapi kok beda bnget. Kayak cuek gitu.

Di jalan raya menuju Masjid aku akhirnya bertemu Sinta. “Sinta tunggu.” Panggilku. Sinta langsung berhenti dan kami berjalan bersama. Di Masjid aku benar benar tidak bisa Khusuk Sholat. Selesainya Sholat saat aku akan memakai Sepatu sambil duduk aku bercerita kepada Sinta. “Sinta aku mau curhat nih.” Kataku. “Curhat apa?” Tanyanya. “Tapi kamu janji yaa gak bakal bilang sama siapa siapa.” Pintaku. “Iya aku janji.” Jawabnya.
“Sebenarnya aku telah merasakan jatuh cinta sama sesorang.” Kataku dengan nada malu.
“Oh iya. Siapa?” Tanya Sinta. Aku masih duduk di depan masjid. Terlalu sulit untuk kuceritakan. “Siapa Na?” Tanya Sinta mengulang lagi. “Emmmm tapi bener yaa jangan bilang. Emmm Ilham.” Kataku terbata bata.
“Apa. Jadi kamu suka sama Ilham?” Katanya dengan nada agak keras. “Syuuuut.” Kataku agar Sinta bisa diam. “Jangan keras keras.” Suruhku. Memang suaranya agak keras. Aku berbicara menyerupai berbisik. “Ilham gitu sih. Suka deketin aku. Jadi kan perasaan itu muncul begitu saja.” Sahutku dengan wajah merah padam karena agak kemalu maluan.

Akhirnya aku menuju kelas. Sinta juga menuju sekolahnya. Sebelum aku akan masuk gerbang. Ilham memanggilku. “Zafrina.” Panggilnya. Aku menoleh dan melempar senyum kepadanya. “Ya.” Sahutku. Dia tersenyum padaku.
Hatiku benar benar berbunga bunga hari ini. Aku merasa cahaya telah menyinari kekosongan hati ini. Dia tiba tiba langsung masuk ke sekolahnya setelah menyapaku. Di kelas aku tak bisa berhenti tersenyum. Aku merasa senang banget pokoknya.

Cerpen Karangan: Alvan Muqorobbin Asegaf
Facebook: Alvan Railfans

Ini adalah cerita kedua saya setelah sukses dengan cerita yang berjudul Diantara Mimpi.
Semoga kalian bisa menikmati cerita saya.
ALVAN.M.A

Cerpen Menikam Hati (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Geng Motor In Love (Part 2)

Oleh:
Bukk!! Aku terkena hantaman pukulan dari salah satu dari mereka, dan seketika langsung membuatku terjatuh. Aku langsung menendang dan bangun, ketika salah satu dari mereka mau memukulku. Aku langsung

1 Minggu

Oleh:
“Selamat pagi semuanya,” sapa salah satu pemimpin redaksi yang ada di media cetak Airlangga “Pagi, Pak.” “Ok, untuk rapat hari ini saya selaku pemimpin redaksi ingin salah satu dari

Kamu Cewek Aku Cowok

Oleh:
“Ayo ngopi!” Ajak Siget (bukan personel Base Jam loh!) kepadaku siang ini. “Ke mana?” tanyaku santai sepoi-sepoi sedikit jual mahal. “Ke kafe” ujarnya mantap. “Ogah ah, entar dibom sama

Sepenggal Kisah Rumit

Oleh:
Kami harus pergi. Kami harus menyelamatkan cinta kami yang sebentar lagi akan dibantai oleh manusia-manusia tak berhati. Kami berlari di bawah rintikan salju yang mengganas sambil bergandengan, kini kami

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *