Moon

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 20 March 2017

Aku Valeryan, aku adalah pelajar dari salah satu sekolah yang ada di Jakarta. Aku mempunyai sahabat perempuan, ia adalah Valery. Ia menemaniku kemanapun aku ingin pergi, menemaniku disaat aku susah, menemaniku disaat aku terpuruk.
Sayangnya, ia pergi. Karena aku. Karena kesalahan besarku.

“I have losing the moon while I counting the stars”
Aku kehilangannya. Aku membuatnya pergi dari kehiduppanku karena kesalahanku.
Aku terlalu sibuk menghitung bintang dan ternyata aku malah kehilangan bulan yang lebih penting dan bermakna di hidupku.
Ini semua terjadi karena kehadiran gadis yang sempat membuat perhatianku berpaling. Tiara.
Aku menyesal telah mengenalnya, aku menyesal telah membuatnya menjadi kekasihku.

Flashback.
“Val, apa kau tahu? aku berpacaran dengan Tiara” kata ku yan saat itu sedang duduk bersama Valery. Ya, saat itu aku memintanya menemaniku di taman.
Valery terdiam, tapi ia tersenyum. Walau aku tahu, di dalam hatinya ia takut. Aku mengerti perasaannya sekarang.
“selamat! Akhirnya” ucapannya terpotong karena handphoneku berdering. Itu Tiara. Ia meneleponku. Aku mengangkatnya.
Ia memintaku menemaninya untuk berbelanja.
Saat itu aku mencintainya, aku langsung melangkah pergi meninggalkan Valery yang memanggilku terus. Aku melupakannya. Aku lupa kalau langit saat ini sudah mulai gelap dan sepertinya akan turun hujan, aku lupa kalau ia masih memakai seragam sekolah, aku lupa kalau ia juga sedang lelah karena latihan yang ia jalankan tadi.
Aku meninggalkannya begitu saja.

Besoknya di sekolah,
Saat aku datang bersama Tiara ke dalam kelas.
Ia sudah sibuk di tempat duduknya sambil membaca sebuah novel. Wajahnya terlihat pucat. Ia sakit, karena aku.
Aku ingin menghampirinya, tapi tanganku ditahan oleh Tiara yang saat itu adalah gadisku.
Aku hanya memperhatikannya.

Saat jam istirahat tiba.
Aku mendekatinya, saat itu Tiara sedang istirahat bersama teman temannya di kantin.
“Val, apa kau sakit?” aku bertanya kepada Valery. Ia hanya menggeleng, berdiri dan pergi begitu saja.
Ia mulai menjauh dariku.

Tak lama dari itu, bel sekolah berbunyi, Valery tak ada di kelas sampai jam pulang datang.
“Ryan, apa kau tahu? Valery ada di rumah sakit sekarang, ia pingsan, apa kau ingin menjenguknya? kalau ia tolong bawakan tasnya” ucap salah satu teman sekelasku.
Aku ingin mengangguk. Sayangnya…
“tidak! Valeryan ingin pergi denganku” ucap Tiara. Temanku memandangku. Lalu mengambil tas Irene dan pergi.
Kenapa aku menurut?

2 Minggu kemudian..
Selama itu juga aku menjauh dari Valery. Lebih tepatnya aku melupakannya. Ia sekarang lebih banyak diam. Aku tahu, aku hanya satu satunya sahabat yang ia punya. Dan aku tidak tahu kenapa, perasaanku pada Tiara mulai hilang.
Tiara sangat kekanakan dan egois, ia berbeda dengan Valery yang sifatnya dewasa dan bisa mengalah denganku. Tiara sangat manja, sedangkan Valery, selama ini aku yang manja kepadanya.

Di sekolah aku merasa tidak ada lagi yang membuat hari hariku berwarna. Aku tahu, Valery mulai menjauh dari hidupku. Setiap aku ingin menegurnya, ada Tiara yang langsung menarikku. Kenapa aku tidak bisa memarahi atau membentaknya?

Saat itu, aku berjalan sendirian, menuju lokerku.
Aku menemukan surat.
Surat itu berisi:

Dear Valeryan,
Hai sahabat ku! Hampir 2 bulan kita berdiam seperti tak mengenal satu sama lain. Kehidupanku di sekolah mulai tidak berwarna. Aku tahu, kau sudah memiliki gadis itu. Wajar saja kau melupakanku kan?
Setiap malam, aku mengingat dimana kamu melempar batu kerikil ke jendela kamarku untuk menyuruhku keluar, dan kebiasaan itu sudah hilang.
Setiap pagi, aku mengingat dimana kamu masuk ke kelas sambil berteriak “Val, kau sahabat ku! Kau harus menemani ku di rumah!” “Valery!, sebagai sahabat kau harus membantuku saat ujian” Dan lain lain
Apa kau tahu, kata kata “di sebuah persahabattan antara perempuan dan laki laki itu tidak ada yang murni, salah satu dari mereka akan mulai jatuh cinta kepada sahabatnya”
Itu terjadi padaku. Bersenang senanglah dengan Tiara, mellihatmu senang, itu sudah cukup.

Tertanda,
Sahabatmu.

Aku membacanya, aku terkejut. Aku tahu tulisan ini. Bae Irene. Aku mencarinya di kelas, tidak ada. Aku menanyakannya ke teman temanku.
“ia pulang awal, katanya ada urusan”
Urusan?
Mungkin aku tidak bisa bertemu dengannya sekarang.

Satu minggu pun berlalu…
Valery sudah tidak masuk selama satu minggu. Aku terus melihat ke arah pintu. Tiara? ia mulai cuek denganku. Aku tidak tahu kenapa.
Saat aku menunduk.
Sebuah suara membuatku mendongak, suara Valery.
Aku melihatnya. Ia tampak ceria sekarang. Ia merubah model rambutnya, menjadi panjang bergelombang. Rambut lurusnya hilang. Gelang yang kukasih untuknya juga sudah hilang, tidak ia pakai lagi.
Aku menyapanya. “Valery..”
Ia melihatku sekilas lalu berjalan ke arah tempat duduknya. Dia kenapa?
Tiara tiba tiba masuk ke kelas ku dan menuju ke arahnya. Memukul meja Valery dengan keras. Ada apa dengannya.
“jangan mencoba merebut Valeryam dariku! Aku lebih cantik darimu” bentak Tiara, Valery hanya menatapnya dengan sinis.
“asal kau tahu, aku tidak berniat mengambilnya. Lagipula, ini hari terakhirku berada di sini, aku ingin melanjutkan sekolah di Jepang!” ucap Valery.
Sekolah di Jepang?
Aku menarik tangan Valery keluar kelas. Membawanya ke rooftop sekolah.Tiara yang berteriak memanggil, kuabaikan begitu saja.
“apa maksudmu ingin sekolah di Jepang?” tanyaku, Valery menatap arah lain.
Ia diam. Hanya menatap arah lain dengan pandangan kosong. Aku memintanya untuk menjawab pertanyaanku.
Ia menjawab. Jawabannya sangat membuat hatiku sakit. Ini semua karena aku.
“aku ingin melupakanmu. Kalau kau bisa melupakanku, kenapa aku tidak bisa? aku ingin melupakan semuanya, rasa sakit yang aku rasakan saat kau melupakanku karena lebih peduli dengannya” ucapnya.
Ia menangis.
Tidak, aku tidak ingin ia pergi. Aku juga tidak ingin melepaskan Tiara begitu saja.
Aku egois? ya!
“persahabatan kita sampai di sini saja. aku ingin mengurus surat perpindahan” ucapnya sambil memberiku sebuah kotak berukuran sedang.
“buka saja di rumah” ucapnya lagi lalu pergi.
Dadaku sesak. Ini semua karena aku.

Aku membuka kotak itu di rumah. Kotak itu berisi foto foto ku dan Valery saat kami bercanda, atau apapun itu.
Foto foto itu menunjukkan kami yang sangat bahagia. Dimana wajahku dan wajah Valery menampilkan senyum lebar yang cantik. Sesekali aku menemukan foto yang ternyata sengaja di foto saat kami tidak sadar adanya kamera. Aku tidak tahu siapa yang mengambil foto itu. Dan adajuga foto dimana Valery sedang menangis di kamarnya, aku tahu itu foto baru.
Dan aku juga menemukan fotoku yang sedang bersama Tiara dengan wajah yang sangat senang. Aku tahu maksudnya.
“disaat aku tertawa bersama yang lain, disaat itu juga ia menangis melihat itu semua”

Aku melihatnya. Melihat ia melambaikan tangannya padaku saat ia mulai masuk kedalam ruangan untuk bersiap siap masuk ke dalam pesawat. Ia berusaha tersenyum. Aku tahu ia ingin menangis. Tentang Tiara, ia memutuskan hubungannya denganku. Alasannya tidak masuk akal.

Aku mengendarai motorku dengan cepat, pulang ke rumah. Aku mengurung diri di kamar.

November 2016
Ia sudah meninggalkanku selama 2 tahun. Selama itu juga aku menjadi pendiam. Aku sudah kelas 3 di sekolahku. Sebentar lagi aku lulus dan akan kuliah.
Aku merindukannya, Ia juga tidak menghubungiku. Kami benar benar tidak berhubungan lagi

Hari ulangtahun ku tiba. Aku selalu merayakannya dengan ibu dan ayahku. Tidak ada yang istimewa.
Hari ini libur sekolah. Aku hanya berdiam di kamar sesudah ibu dan ayah memberi selamat. Aku hanya berharap dan berdoa agar pada ulangtahunku kali ini, Valery menghubungiku.
Aku menatap jendela dengan lesu. Ini sama seperti 2 tahun yang lalu. Tidak ada yang istimewa.
Tring…
Handphoneku berbunyi. Sebuah pesan.

From: unknown
Selamat ulang tahun, Valeryan. Semoga kau menjadi laki laki dewasa. Kumohon, bersenang senanglah di ulang tahunmu tahun ini.
dari, kelincimu

Kelinciku?
Aku tidak mempunyai panggilan khusus untuk temanku.
Tunggu, Ada…
Valery. Aku sering memanggilnya dengan sebutan itu. Apa benar ini Valery?
Aku menelepon nomor itu. Diangkat
“halo” ucapku kepada orang yang kutelepon ini.
“hai” ia menjawab, suaranya, suara yang kurindukan selama 2 tahun ini. Suara seorang gadis yang aku sayangi. Seorang gadis yang aku buat hancur perasaannya.
“Valery? kau di mana sekarang? Aku merindukanmu” ucapku, aku menangis. Laki laki boleh menangis juga kan?
“hei kau menangis? jangan menangis ini kan hari istimewamu, kau merindukanku?” ucapnya. Aku menangis lagi.
“lanjut di pesan saja ya, aku sibuk” lanjutnya, lalu memutus panggilan.

Aku menangis. Aku merindukannya. Apa ia tak ingin kembali? Apa ia tak ingin lulus sekolah bersama ku?Apa hari hariku di sekolah akan seperti ini terus? Kenapa dulu aku melupakannya? Kenapa aku terlalu sibuk dengan Tiara?

Hari ini aku bersekolah lagi. Seperti biasa, saat istirahat aku akan duduk di rooftop sendirian. Lalu mulai melukis seseorang di buku gambar yang terus aku bawa.
Seseorang yang aku rindukan. Aku ingin tahu wajahnya seperti apa sekarang.
Seseorang yang menjadi bulan untuk hidupku yang gelap.
Aku terlalu sibuk menghitung bintang sampai sampai kehilangan bulan.
Kenapa aku meninggalkan bulan yang sangat berharga demi sang bintang?
Aku terus menggambar wajah itu.

Tiba tiba handphoneku berbunyi. Pesan masuk lagi.

From: Val
Aku merindukanmu. Tapi aku masih takut untuk kembali.
Dari Valery. Aku tau maksudnya.
Ia takut kejadian itu terulang lagi.
Semenjak kejadian itu, aku tak pernah membuka hatiku untuk perempuan manapun.

Flashback
Aku ada di lapangan. Seorang gadis cantik di depanku menatap ku dengan tatappan berbinar dan senyumannya.
Cantik tapi sayangnya hatiku sudah ditempati oleh Valery.
“Kak Ryan aku menyukaimu”
Sudah beberapa kali kata kata itu terulang dari bibir yang berbeda. Dari kakak kelas, adik kelas ataupun teman seangkattan. Satu sekolah melihat kejadian yang terus berulang ini. Padahal mereka tahu jawabbanku.
“tapi aku tidak bisa membalas perasaanmu, maaf” ucapku dengan nada yang dingin lalu meninggalkannya yang mulai menangis.
Kejadian seperti itu membuatku bosan.
Aku mulai sibuk dengan tugasku, tapi anehnya kesibukan ini tidak pernah bisa membuatku melupakan Valery.
Aku sudah beberapa kali mengirimnya pesan. Tak dibalas. Mungkin ia sibuk.
Aku membaca buku ku di taman.

Handphoneku berbunyi. Pesan masuk.

From: Val
Aku kembali, sudah di rumah. Tapi tolong, jangan pernah menghampiriku sebelum aku menghampirimu

Astaga?!! Dia kembali? Apa benar?. Tapi aku belum bisa menghampirinya.
Jantungku berdetak kencang.
Aku senang ia kembali. Setidaknya aku sudah dekat dengannya lagi. Walaupun mungkin kami tidak akan seperti dulu lagi, tapi aku ingin melihatnya dan memeluknya.
Tapi, ini sudah lama dari kejadian itu. Apa ia sudah mempunyai kekasih?
Sebentar lagi ujian kelulusan. Aku ingin ia ada disaat aku sedang ujian.

Ia memberitahuku kalau ia sudah lulus karena ujian di sana lebih dahulu diadakan. Dan ia mendapatkan nilai yang tinggi. Aku tahu, Valery adalah gadis yang sangat pintar dan cantik. Ia tidak hanya membuat laki laki menyukainya hanya dengan wajahnya, ia membuat laki laki menyukainya dengan sifatnya juga
Aku yakin banyak yang menyukainya di sana, atau mungkin sekarang ia sedang menjalankan hubungan dengan seseorang.
Lagi lagi aku merasa kehilangan bagian dari hidupku.

Hari hari terlewati. Valery belum juga menemuiku.
Aku sesekali sengaja melewati rumahnya. Dijaga oleh security. Apa ia benar benar tidak ingin bertemu denganku?
Ck.. Val! Kau membuat hidupku tidak berwarna lagi.

Perubahan sifatku sangat terasa. Ibu dan ayah berkali kali membahas tentang diriku yang sangat ceria dulunya.
Itu karena ada Valery di hidupku.

Aku membuka lokerku. Sebenarnya ingin mengambil sebuah buku kosong untuk pelajaran tambahan. Tapi aku menemukan kertas berwarna biru muda. Kertas itu ditulis oleh seseorang yang aku tidak tahu tulisannya. Menyuruhku ke taman. Taman bunga tepatnya.
Dulu aku dan Valery sering ke taman itu untuk bermain, aku sering mengambil bunga dan memberikannya pada Valery. Kenangan kenangan itu terputar lagi. Aku ingin menangis lagi.

Aku berada di taman itu sekarang.
Melihat sekeliling sambil membawa ketas biru muda itu.
Bukan Valery, pikirku. Aku tahu tulisan itu bukann tulisannya. Juga, Irene kan belum siap bertemu denganku. Buat apa aku terlalu banyak berharap? itu akan membuatku sakit.

Aku menghadap dan melihat bunga bunga cantik itu. Aku menangis. Kenapa laki laki sepertiku ini sangat cengeng sih. Aku terlalu merindukannya. Sangat merindukannya.
“jangan menangis” ucap seseorang dari belakang. Suaranya sangat lembut. Aku tahu suara ini.
Aku menoleh ke belakang. Gadis itu tersenyum kepadaku. Ia memakai seragam sekolah sama sepertiku. Valery, Ia di hadapanku, tersenyum dan memakai seragam sekolah.
Ia mendekat dan menghapus air mataku.
“hai sahabat” ucapnya sambil tersenyum lebih lebar lagi.
Aku langsung memeluknya, ia terkejut. Ia terdiam sesaat lalu balas memelukku.
“aku mencoba melupakanmu dengan cara pergi dari sini, tapi kenapa tidak bisa? maafkan kebodohanku ini” ucapnya. Aku memeluknya erat. Aku tidak mau ia pergi lagi.
“aku memakai seragam sekolah ini agar kau ingat disaat pertama kali kau menjadi sahabatku, di taman ini dan juga masih memakai seragam sekolah ini, dan di saat itu juga aku menyukaimu” ucap Valery. Aku tambah erat memeluknya.
“jangan pergi lagi, aku mencintaimu” ucapku. Ia melepaskan pelukkanku dan menatapku.
“aku tidak akan pergi lagi, aku juga mencintaimu”

Cerpen Karangan: Viedhian
Viedhian (Hanya nama samaran untuk cerpen sih kk)
ingin berteman? email aja noviedhiana123[-at-]gmail.com / vrene221[-at-]gmail.com

Cerpen Moon merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Di Antara Mimpi

Oleh:
Cerita ini menceritakan kisah cinta yang rumit. Kisah cinta di cerita ini ditulis khususnya untuk remaja yang sudah mengenal arti cinta sesungguhnya. Saya menulis cerita ini karena terinspirasi dengan

The End (Part 2)

Oleh:
Tak terasa, ujian semester pertama dimulai. Aku, Richard, dan yang lainnya tengah menjalani ujian. Sering tertangkap oleh mataku Richard terlihat pucat. Terkadang ia memegang bagian perutnya. Itu membuatku cemas.

Ketika Senja Tiba

Oleh:
“sudah 2 tahun ini aku tak mendengar kabar dari Senja. Ia bagaikan ditelan bumi, hilang begitu saja tanpa jejak” Bagas merindukan Senja, kawan lamanya yang menghilang. “iya ya Gas.

Last Love

Oleh:
Entah apa yang dirasa saat aku pertama kali mengenalnya, seseorang yang menyebalkan, keterlaluan dan selalu bertingkah berlebihan. Sosok itu semakin sering aku temui karena dia satu jurusan denganku saat

Aku Pasti Mendapatkanmu

Oleh:
Aku berjalan agak malas di lorong kantor, mengingat semalam aku begadang karena menemani sepupuku yang datang dari tanah karo beberapa minggu lalu telah pulang tadi pagi, aku menemaninya ke

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *