MoU Cinta (Part 4)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 12 March 2018

Kemarin adalah hari yang cukup melelahkan buatku. Untungnya, salah paham antara aku dengan Lola dapat selesai hari itu juga.

“Kenapa melamun aja?” tanya Davi atau aku harus memanggilnya Virzha seperti yang dikenal orang-orang.
“Aku punya permintaan kepada kamu,” kataku.
“What’s that?” tanya Virzha.
“Aku pengen mengenalkan kamu sama sahabat aku,” kataku.
“Sahabat lo?” tanya Virzha.
“Iya! Dia orang yang sama yang waktu itu pengen ketemu kamu juga,” kataku mengingatkan.
“Ohh! Ya udah! Atur aja jadwalnya,” kata Virzha santai.
“Kenapa harus atur jadwal segala? Dia kuliah di kampus ini juga kali. Bentar, aku calling dia dulu!” kataku sambil menelepon Lola.

“Pergi gak, ya? Pergi gak, ya?” tanya Lola pada dirinya sendiri.
Lola bingung harus bagaimana setelah menerima teleponku barusan. Dia masih ragu untuk bertemu dengan cowok yang begitu ia suka selama ini. Ia bingung harus bersikap bagaimana setelah bertemu dengan Virzha.
“Sebaiknya, aku gak usah pergi deh!” kata Lola.
“Tapi, ini kesempatan aku untuk tahu bagaimana hubungan Arin dan Virzha sebenernya,” kata Lola lagi.
“Aku harus pergi!” kata Lola akhirnya.

Sementera itu, aku dan Virzha masih duduk di bangku taman tempat favorit para mahasiswa yang sedang menunggu jam kuliah selanjutnya.
“Mana temen lo itu? Dia jadi dateng gak?” tanya Virzha.
“Gak tahu! Aku yakin dia pasti dateng, kok!” jawabku sambil melihat-lihat sekeliling.
Tidak lama kemudian, Lola muncul dari koridor kampus. Ia terlihat malu-malu menuju tempat dudukku dengan Virzha.
“Hai, Arin!” sapa Lola nampak sangat basa-basi.
“Hai! Virzha, kenalin ini sahabat aku! Namanya Lola,” kataku.
“Virzha!” kata Virzha sambil menjabat tangan Lola.
“Lola!” kata Lola dengan senyuman khas orang yang sedang falling in love.
Kami pun melanjutkan percakapan dengan santai di bangku taman ini. Aku pikir suasana cukup mencair.

“Kamu kenapa? Muka cemberut kok dipelihara, sih!” tanyaku di kantin siang ini.
“Aku lagi gak mood!” jawab Lola singkat.
“Gak mood kenapa lagi, sih? Kamu gak misunderstanding dengan siapa-siapa lagi, kan?” tanyaku.
“Enggak kok!” jawab Lola tidak bersemangat.
“Kamu masih nganggep aku sahabat kamu tidak, sih?” tanyaku serius.
“Of course!” jawab Lola.
“Kalo gitu, tell me what happen with you!” kataku.
“Aku rapopo!” jawab Lola lagi masih belum mau cerita.
“Rapopo kok gitu! Ayo, bilang ada apa! Biar aku bisa bantu,” kataku terus membujuk Lola untuk cerita masalahnya.

Lola menarik nafas panjang dan melihatku.
“Sepertinya, aku gak punya peluang sama Virzha!” kata Lola akhirnya.
“Kenapa kamu bisa bilang begitu?” tanyaku.
“Aku bisa melihat sesuatu dari tatapan matanya,” jawab Lola.
“Sejak kapan kamu tahu hanya dengan melihat mata orang?” tanyaku.
“Semua wanita yang jatuh cinta bisa jadi lebih sensitif dari biasanya,” jawab Lola.
“Virzha betul-betul hebat bisa membuat kamu seperti ini,” kataku sambil geleng-geleng kepala.
“Aku tahu dia menyukaimu hanya dengan melihat caranya menatapmu,” kata Lola membuatku kaget.
“Kamu bicara apa, sih? Kamu gak sakit, kan?” tanyaku khawatir dengan semua ocehan Lola yang menurutuku tak masuk akal.

Lola menarik nafas panjang lagi.
“Tapi itu betul, Rin! Dia punya feeling sama kamu,” kata Lola meyakinkanku.
“Jadi, karena itu kamu merasa gak punya peluang lagi dengan Virzha?” tanyaku.
Lola hanya mengangguk.
“Okelah, kita katakan seperti itu! Tapi, bagaimana dengan perasaan aku? Kamu belum tahu kan bagaimana perasaanku ke Virzha? Jadi, kamu jangan menarik kesimpulan terlalu awal,” kataku.
“Aku sudah tahu perasaan kamu dari awal. Dari cowok yang bernama Davi hingga berubah menjadi Virzha. Aku tahu kamu ada feeling sama cowok itu,” kata Lola.
“Hahh?” tanyaku kaget.

“Kenapa gue selalu nemuin lo dalam keadaan melamun? Apa melamun sudah kebiasaan lo?” tanya Virzha mengagetkanku.
Aku diam saja dan menarik nafas panjang.
“Ada masalah apa lagi, sih?” tanya Virzha duduk di sampingku.
“Aku bingung,” jawabku.
“Bingung kenapa?” tanya Virzha lagi.
“Aku bingung dengan perasaanku sendiri,” jawabku.

Virzha tampak berpikir tentang kata-kataku.
“Lo sedang jatuh cinta?” tanya Virzha mengagetkanku lagi.
Aku memegang dadaku. Aku berkali-kali dikagetkan hari ini. Kalau begini terus aku bisa kena serangan jantung.
“Sama siapa?” tanya Virzha penasaran.
“Aku gak tahu apa itu disebut cinta atau hanya rasa kagum,” jawabku.
“Lo pengkhianat,” kata Virzha.
“Kok, kamu ngomong gitu? Aku berkhianat apa?” tanyaku heran.
“Lo sudah menyalahi MoU kita. Bisa-bisanya lo menyukai orang lain di saat sedang ada hubungan dengan gue,” jawab Virzha nampak emosi.
Aku melongo melihat ekspresi Virzha.
“Apa betul yang dikatakan Lola?” tanyaku dalam hati.

“Kenapa diam?” tanya Virzha lagi.
“Lo jangan ngarep gue mau ngelepasin lo, ya!” kata Virzha.
“Hahh?” tanyaku seperti orang bego.
“Kita lupain aja tentang MoU. Jadikan ini seperti layaknya yang terjadi di dunia nyata. Kita jalani saja,” kata Virzha.
Jantungku berdegup begitu keras begitu mendengar ucapan Virzha barusan. Aku sama sekali tidak tahu perasaan seperti ini. Ini berbeda ketika aku jatuh cinta dengan Arya.

“Lola, aku galauuu!” kataku sambil memegang kedua pipiku.
“Kenapa galau lagi, sih? Udah jelas semuanya. Terima aja! Susah banget! Kalo aku jadi kamu, aku sudah bilang iya!” kata Lola dengan santainya.
“Tapi, aku masih belum tahu perasaan aku ke Virzha itu gimana sebenernya. Aku takut mengambil keputusan gegabah,” kataku.
“Kalo kamu emang gak punya perasaan ke Virzha, saat itu juga kamu pasti langsung nolak. Tapi, lihat buktinya. Kamu masih galau dan berpikir. Berarti ada rasa di dalam hati kamu terhadap Virzha,” jelas Lola.
“Sejak kapan kamu jadi penasehat cinta?” tanyaku begitu kagum pada penjelasan Lola.
“Apa sekarang waktu untuk bertanya tentang hal itu? Kamu pikirin deh perasaan kamu sekarang. Jangan terlalu lama membuat cowok menunggu. Hatinya bisa berpaling di saat yang tidak pasti seperti ini,” kata Lola menakut-nakutiku.
“Ahh, bilang aja kamu seneng kalo aku nolak! Iya, kan?” tanyaku merayu Lola.
“Iya, aku akan rebut Virzha dari kamu kalo terlalu lama mikir!” kata Lola menambahi.
“Jangan gitu, dong!” kataku.
“Apa? Jangan gitu? Jawaban spontan kamu itu menunjukkan perasaan kamu terhadap Virzha. Udah deh, stop galaunya!” kata Lola.

Aku semakin bingung dengan perasaanku sendiri. Omongan Lola kemarin malah menambah kebingunganku. Betul sih kata dia bahwa aku ada feeling ke Virzha. Tapi, aku masih menganggap itu perasaan kagum karena kekerenan dia. Aku belum pernah menganggap itu cinta. Aku berjalan sambil melamun dan tak sadar menabrak seseorang hingga kantongan belanjaannya terjatuh. Aku pun membantu memungutnya.

“Maaf, Bu! Maaf! Saya tidak sengaja,” kataku meminta maaf.
Ibu itu tersenyum.
“Tidak apa-apa! Kamu pasti berjalan sambil melamun, ya?” kata ibu itu.
Aku hanya tersenyum.
“Masa cewek cantik melamun di jalan. Nanti kalo kecopetan, gimana?” kata ibu itu lagi.
Aku tersenyum lagi.

“Maa!” teriak seorang anak lelaki dari belakang.
Aku mengucek mata. Seperti orang yang kukenal.
“Virzha!” kataku dalam hati.
Dia mendekat.
“Arin!” kata Virzha begitu melihatku.
“Kalian saling kenal?” tanya ibunya.
“Iya, Ma! Ini temen kuliah di kampus,” jawab Virzha.
“Temen apa temen?” tanya ibunya melihat kami berdua bergantian.
Virzha menggaruk kepalanya.
“Ahh, Mama!” katanya.
“Oh ya, Arin! Kenalin ini mama gue!” kata Virzha.
“Arin, Tante!” kataku memperkenalkan diri.
“Oh my God…! Ada apa ini? Kenapa aku bisa ketemu Virzha dan mamanya di saat yang bersamaan?” tanyaku dalam hati.
Ibu Virzha tampak begitu ramah. Ia tersenyum melihatku.

“Jadi, gadis ini yang membuat kamu menolak Dinda?” tanya ibu Virzha mencari tahu.
“Menurut Mama gimana? Apa Arin sesuai selera Mama?” tanya Virzha membuatku shock.
“Kenapa Virzha ngomong begitu? Apa ia sengaja buka-bukaan?” tanyaku dalam hati.
Ibu Virzha tersenyum.
“Sepertinya, Arin gadis yang baik! Berarti, Arin melamun gara-gara kamu?” tanya ibu Virzha.
Aku jadi malu. Kami pun tertawa bersama.

Hari ini aku janjian dengan Virzha di tempat biasa, taman kampus.
“Gimana? Sudah ada keputusan?” tanya Virzha.
“Kemaren-kemaren, aku masih galau ini rasa kagum atau suka,” kataku.
“Kalo sekarang?” tanya Virzha lagi.
“Setelah dipikir-pikir, maybe this is love!” jawabku dengan malu-malu.
“Of course, this is love!” kata Virzha dengan senyum lebar.
Kami merasa menjadi pasangan yang begitu bahagia di tengah taman kampus ini.
“Tapi, aku pengen kita tetap buat MoU supaya hubungan kita sehat!” kataku tiba-tiba.
“Hahh? MoU lagi?” tanya Virzha sambil menepuk jidatnya sendiri.

Cerpen Karangan: Emma J.
Blog: ceritakujie.blogspot.com

Cerpen MoU Cinta (Part 4) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


You’re the First and Last

Oleh:
Hai, namaku Alvina Alessandra, panggil aja Sandra. Aku sekolah di Internasional High School kelas 3. Aku termasuk siswi yang terkenal. Aku termasuk seorang yang tomboy. Aku senang menggunakan kemeja

Beyond The Limit (Part 2)

Oleh:
Semakin jauh Ed berjalan, hujan semakin mengecil. Hingga akhirnya ditemukanlah saat hujan reda yang membuat Ed melipat kembali payungnya. Langkah pria itu menimbulkan cipratan-cipratan kecil saat sepatunya menginjakkan kaki

Bias Asa Nadia

Oleh:
Melelahkan. Sudah lama aku tidak beres-beres kamar tidur. Akhirnya setelah melewati bulan-bulan yang sibuk aku bisa menikmati sejenak hari libur. Setelah dua hari kemarin dihabiskan berlibur bersama teman-teman sekantor,

Nostalgia

Oleh:
Langit kuning kemerah-merahan, di ujung sana tampak setengah lingkaran matahari, cahayanya mulai meredup, teduh, terbias di permukaan danau yang terbentang luas. Angin nan dingin menyelimuti daerah puncak. Di dekat

Sang Motivator

Oleh:
Apa pun yang terjadi, jangan menyerah dengan keadaan. Karena kita tak pernah tahu apa Rencana Tuhan untuk kita. Kita hanya perlu percaya bahwa Tuhan pasti punya rencana yang Indah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *