Not Goodbye (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 18 January 2017

Brukkkkkk… Suara hantaman keras berasal dari atap rumah Dera.
Semua orang buru-buru keluar dan melihat apa yang terjadi.

“Ma itu suara apa sih? Ganggu tidur Dera ajah!” ucapnya sembari merapikan rambutnya dengan karet gelang di tangannya.
“Itu Papa sama Rafa lagi lihat ke atas genteng!”

Dera dan Mama menyusul ke luar rumah, terlihat juga orang-orang berlarian ke arah sungai yang tak jauh dari kediaman mereka.

Mama yang penasaran keluar pagar dan bertanya pada seorang warga.

“Ada apa ibu? Kenapa orang-orang pada berlarian ke sana?!”
“Oh itu bu’… Katanya ada pesawat jatuh di sungai, kalau begitu saya permisi!” begitu ucapnya kemudian berlalu.
“Iya bu’!” begitu selesai bertanya Mama Dera lalu menginfokan ke keluarganya.
“Pa… nggak usah manjat genteng, kayaknya suaranya dari sungai. Kata warga, di sana ada pesawat jatuh!” jelas Mama Dera.
“Yah udah Raf… Kamu bawa balik tangga nya ke gudang, habis itu kita ke sungai!”
“Ngapain ke sungai lagi Pa! nggak penting juga!” ucap Rafa.
“Dasar malas!!! Yah udah biar Dera ajah yang ikut sama Papa, lagian di rumah bete juga!” sambung Dera.
“Ngapain gue capek-capek jalan ke Sungai, palingan tempatnya kotor banyak cewek-cewek desa yang biasa-biasa ajah!” tambahnya lagi.
“Huhhhh…!”

Dera dan Papa pun pergi menuju tempat yang di datangi warga lain, sementara Rafa berkemas-kemas untuk segera keluar dari kampung itu.

Sesampainya dari sana benar saja pesawat itu sebagian sudah menjadi puing dan terbelah dan mengeluarkan kobaran api.
Semua warga bersama-sama menggunakan pemompa mesin air untuk memadamkan kobaran api.

“Kamu di sini saja yah! Biar papa bantu mereka dulu!”
“Hati-hati Pa!” sahut Dera.
“Kamu jaga jarak takut ada ledakan!”
“Ok Pa!”

Dera kemudian mendekat ke bibir sungai, sementara Papa nya menyebrang lewat jembatan untuk membantu warga yang ada di seberang sungai.

“Saya yakin tidak ada orang yang selamat, pesawatnya sudah hancur begitu!” ucap seorang ibu-ibu kepada ibu-ibu lainnya.
“Iya kamu benar. Kasihan yah mereka, dan kabarnya udah banyak keluarga mereka yang menuju ke desa kita!”
“Permisi bu’…!” begitu ucap Dera.
“Iya De’? Kamu anaknya pak Nugroho?!”
“Iya Bu’… Ibu-ibu sudah lama di sini? Apa ibu nggak lihat satu orang pun selamat?!” tanya Dera.
“Kayaknya nggak ada De’. Pesawatnya ajah sudah ke belah begitu!”
“Kasihan banget yah!”
“Iya benar, Ibu mah jadi ngeri naik pesawat!”
“Ih kenapa? Yang penting kita niat yang baik-baik, berdoa biar sampai ketujuan dengan selamat!” ujar Dera lagi.
“Benar juga itu, ngapain takut naik pesawat. Lagian hidup mati kita kan sudah diatur sama Tuhan!” umpat ibu-ibu satunya lagi.
“Kalau begitu kami pamit yah De’. Hati-hati batunya licin!”
“Iya Bu’.”

Sepergi ibu-ibu itu Dera mencoba melihat sekeliling, ada sawah hijau, sungai dengan batu-batu dan air yang arusnya lumayan kencang.
Dera duduk menikmati itu sembari menunggu Papanya,

Satu jam, dua jam kemudian tempat itu kembali ramai. Api dari badan pesawat itu pun mulai memadam, Dera melihat orang-orang yang berdatangan mereka menangis melihat kondisi pesawat.
Mungkin mereka sedih karena harus kehilangan keluarga dengan cara seperti itu, dan saat menengok ke sungai seberang dilihat perempuan sebayanya. Matanya begitu sembab harap-harap cemas, dia mendekat ke arah bibir sungai dan diam saat melihat sesuatu di sana.
Dibungkukkan badannya, rupanya perempuan itu mengambil kertas. Entah apa isinya, tapi setelah melihat itu dia begitu histeris tak bisa menahan lagi kesedihannya air mata pun tumpah lewat matanya yang indah.

“Ahhhh kasihan… Aku kayak lagi nonton film yang sangat dramatis, perempuan menangisi secarik kertas yang meluapkan kesedihannya dengan berteriak sambil meneriakkan nama kekasihnya!” tutur Dera.

Lamunan itu terhenti saat tepukan dirasakannya di bahu kanan.

“Papa?!” begitu ucapnya saat membalikkan badan.
“Ayo kita pulang!”
“Gimana Pa? Korbannya banyak yah?!” tanya Dera sambil berjalan didekat Papanya.
“Mmmm sepertinya begitu, tim sar baru bisa mengambil mayat-mayat di bangkai pesawat!”
“Kasihan banget yah. Tadi Dera juga lihat ada perempuan kayaknya seumuran dengan Dera, dia itu sedih banget. Mungkin pacarnya ada di sana juga!”
“Ia… Ayo udah siang nih Papa lapar! Ngomong-ngomong kamu sudah punya pacar lagi nggak?!”
“Ihh Papa… Ngapain ngomongin pacar? Dera nggak ada lagi niat buat pacar-pacaran lagi, semua cowok sama ajah Pa!”
“Hmmmmm… nggak semua Nak!”
“Bisa jadi. Udah ahhh kok malah ngomngin Dera sih!”
“Iya iya!”

Sesampainya di rumah Dera bergegas ke kamar dan mandi, sementara Papa dan Mama berbincang di ruang tamu.

Rafa yang baru datang terus mengpmentari tempat tinggal baru mereka.

“Ma… Ngapain sih kita lama-lama di sini!!! Rafa nggak tahu apa-apa soal tempat ini, nggak ada anak gaul, anak muda di sini juga kampungan banget, apalagi ceweknya.!”
“Yah elah kak Rafa!!! Enakan juga di sini…!” sambung Dera.
“Itu kan kamu!!! Seandainya Marcel nggak nguber kamu, pasti nggak bakal mau diajak ke sini!” tambah Rafa.
“Ngapain sih masih bahas tuh cowok? Pa… Ma..!” rengek Dera.
“Rafa… Nanti sore ada anak teman Papa yang bakal temani kalian jalan-jalan!”
“Ihhh manja banget sih!” Rafa menyubit pipi Dera dengan gemas.
“Bener Pa? Cewek apa cowok?!” kepo Dera.
“Ahhhh ngapain jalan di sini! Cafe ajah nggak ada! Paling teman anak Papa sama dengan anak muda di sini kampungan!”
“Aduh kak… Di kampung mana ada Cafe, ada-ada ajah! Udah deh kali ini nurut ajah lagian di rumah mau ngapain coba?!”
“Terserah mending tidur!”
Hahaahahahahah mereka semua tertawa melihat tingkah Rafa yang sangat tergantung dengan gaya hidup di kota.

Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore, Papa dan Mama sudah lebih awal keluar berjalan-jalan menikmati udarah sore.
Sementara Dera masih bersiap-siap sembari menunggu Rafa bangun tidur.

Tok tok tok tok
Suara ketukan pintu, Dera dengan buru-buru keluar melihat siapa yang datang.

“Dera yah?!” ucap perempuan itu.
“Iya!!! Kamu anak temannya Papa?!” tanya Dera kembali.
“Iya. Saya Aisyah, panggil Ais ajah!”
“Oh iya Ais masuk dulu, aku mau bangunin kak Rafa juga!”
Aisyah lalu duduk di ruang tamu, sementara Dera berjalan menuju kamar Rafa.

“Kak Rafa?” ucap Dera sesekali mengetuk pintu kamar Rafa.
Begitu diulangnya sampai berkali-kali namun tak ada sahutan dari Rafa.
Dera kemudian memegang gagang pintu dan mendorongnya perlahan, rupanya kamarnya tidak terkunci.

“Dera… nggak kekunci rupanya!”

Dera lalu menarik selimut di badan Rafa.

“Keluar jangan ganggu!” ucap Rafa dengan kesalnya.
“Katanya mau jalan! Di luar sudah Aisyah anaknya teman Papa, cewek cantik!” Dera menarik Rafa.
“Mana ada cewek cantik namanya Aisyah! Paling kepangan dua pakai rok panjang, ada kutil di muka nya!”
“Jangan ngejudge orang sebelum ngelihat! Ayo mandi buruan, Dera sama Aisyah nunggu di ruang tamu!”
“Yah sudah sana-sana!”
“Ntar aku yakin bakal nyesel karena ngejudge Ais sampai segitunya!” Dera tersenyum.

Beberapa menit kemudian Rafa sudah siap dan berjalan mendekati Dera dan Aisyah, Rafa semakin penasaran karena sosok Aisyah yang dibangga-banggakan Dera itu membelakanginya.

“Ehhh udah siap kak? Lama banget bikin bosan nunggunya!” ucap Dera.

Bersamaan dengan itu Aisyah membalikkan badan, rupanya dia juga sangat penasaran dengan Rafa.
Saat melihat Aisyah, Rafa kaget dan benar saja apa yang dia bayangkan tentang Aisyah benar. Kepangan rambut dua, baju lengan panjang dan rok panjang yang senada, bukan cuma itu Aisyah yang dilihatnya memiliki tahi lalat besar di bawa mata kanannya yang ukurannya lumayan besar untuk ukuran tahi lalat, bisa dibilang tompel.
Rafa jadi geli sendiri, dia sangat yakin jalan-jalan kali ini bakal membawa sial baginya.

“Ehhh Kak Rafa ngapain diam? Ayo! Di luar sudah ada sepeda, kita jalan-jalan pakai sepeda yah!”
“Ayo Kak!” ajak Aisyah pula.
“Iya… Iya kamu duluan deh!” Rafa sangat ilfeel dengan Aisyah.
“Bisa-bisanya Papa cari teman jalan sejelek Aisyah! nggak ada yang lebih baik dikit nggak sih? Setidaknya nggak bertompel kayak gitu!” Rafa menepuk jidat.

Mereka bertiga lalu menyusuri Desa dengan menggunakan sepeda, di perjalanan Aisyah menjelaskan semuanya kepada Dera dan Rafa.
Dera begitu akrab dengan Aisyah namun Rafa terlihat sedikit menjauh dari Aisyah.

“Yah sudah! Kita bakal ke sana! Tapi nggak pakai sepeda, soalnya licin!” jelas Aisyah.
“Emang di sana ada apa Ais?!” tanya Dera.
“Ahhh… Ngapain sih? Balik yuk!”
“Tunggu dulu, di sana ada air terjun. Sekalian kita istirahat sebelum pulang, Dera pasti capek, emang kak Rafa nggak capek?!” tambah Aisyah.
“Ihhh… nggak usah sok perhatian deh! Ayo jalan!”
Dera dan Aisyah tertawa…

Sekitar 10 menit berjalan benar saja di sana ada air terjun yang sangat indah, dengan segera Rafa mendekat mendahului Dera dan Aisyah.

“Dera… Kamu bawa kamera nggak?” tanya Rafa yang begitu menikmati gemercik air yang seakan menusuk badannya.
“Dera lupa kak!”
“Yah udah besok kalau mau ke sini lagi nanti Ais temanin kak Rafa! Kak Rafa bisa foto-foto kan!”
“Apaan? Ahhh nggak usah! Lagian tempat ini mudah banget ditemuin, tanpa ada guide aku juga bisa sendiri!”
“Kak Rafa ditawarin malah gitu! Aisyah baik loh!”
“Udah nggak usah banyak bicara!!! Dera sini, enak banget!” ajak Rafa.
“Bentar kak!”

Rafa dan Dera menikmati sampai sesekali mereka berteriak bahagia.

“Ais sini!” panggil Dera.
Aisyah pun mendekat, Rafa yang tadi tidak bisa diam karena ke asyikan justru diam memandangi Aisyah entah apa yang di lihatnya.
“Bentar!!! Ada yang aneh!” ucap Rafa yang semakin mendekat ke wajah Aisyah.
“Kenapa kak?!” tanya Aisyah bingung.
Sementara Dera di belakang Rafa, seperti memberi sesuatu pada Aisyah namun Aisyah tidak tahu karena Dera tak bersuara sama sekali.

“Sejak kapan kamu punya tompel kayak gini?!” tanya Rafa.
“Oh ini tompel dari lahir! Kenapa?!”
“Yakin?!”
Aisyah merabah wajahnya, dan dia hanya bisa menggigit jari saat tompelnya itu berpindah ke tangannya.
“Kenapa mesti bohong? Kamu fikir tanpa pakai tompel gini, seorang Rafa bakal jatuh cinta?!”
“Maaf kaak! Bukan maksud Ais buat boho…!”
“Udah deh! Dera balik sekarang!” Rafa terlihat marah sekali.
“Kak…!” panggil Aisyah.
“Bisa balik sendiri kan? Dera ayo balik!”
“Tapi kak Aisyah masa kita tinggal sendiri?!”
“Nggak usah mikirin itu!”

Di perjalanan pulang Dera berusaha menjelaskan kepada kakaknya kalau semua itu karena ide Dera.

“Aisyah nggak tahu apa-apa semua ide dari Dera! Kakak kenapa sih?!”

Namun Rafa tetap tidak mau tahu, bahkan sesampai di rumah Rafa terlihat kesal sampai Papa dan Mama menegur tak membuat wajahnya itu kembali biasa-biasa saja.

Malam pun datang…
Dera selalu saja mengharapkan ada sosok yang akan datang di hadapannya, dan bisa membuat hatinya bergetar dan bisa merasakan cinta yang tulus lagi.
Perlahan-lahan berjalan, ruapanya malam ini dia naik ke balkon untuk menikmati suasana malam sendiri.

“Kak Rafa di jodohin sama Aisyah, kak Rafa pasti sangat bahagia kalau tahu itu. Tapi gara-gara aku, semua berantakan pasti kak Rafa bakal nolak di jodihin sama Ais… Oh Tuhan kapan Dera bisa…!”

Belum juga selesai, Dera kaget melihat sesuatu di atap genteng. Seperti manusia, Dera awalnya sangat takut namun dia memberanikan diri melihat lebih jelas. Perlahan dia turun dengan hati-hati, namun sesekali dia ingin terjatuh tapi dia berusaha menyeimbangkan kembali badannya.
Akhirnya Dera sampai juga ke tengah-tengah walau begitu dia tetap was-was, di balik sosok itu dan benar saja.

“Kenapa bisa ada orang di sini?!” ucapnya.

Dera lalu berteriak, tak lama Papa Rafa dan Mama datang.
Dera lalu di selamatkan terlebih dahulu kemudian Papa dan Rafa bersama-sama menolong orang itu, kepalanya berlumur darah.
Setelah begitu sulit untuk bisa membawa ke balkon, akhirnya selesai juga. Mama kemudian menelepon mantri dan tak beberapa lama pria itu diperiksa dan dibersihkan karena bajunya begitu kotor karena darah.

Mereka lalu membiarkan pria itu beristirahat di dalam kamar tamu.

Cerpen Karangan: Yani Mariyani
Facebook: Yani Mariyani

Cerpen Not Goodbye (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dia Bukan Kakakku

Oleh:
“Masih belum mau cerita siapa dia?” Kinan terkejut mendengar suara ayahnya. Buru-buru dia mematikan ponselnya. “Apaan sih, Papa? Bikin kaget aja!” “Walaupun cuma namanya?” tanya ayahnya sekali lagi. Kinan

Te Amorr, Nai! – Senandung Cinta

Oleh:
Siang itu Nara sedang melepas lelah di kamar kozannya. Rita nampaknya masih di kampus dan sibuk dengan tugas jurnalistiknya. Maklum lah, dia memang mahasiswi fakultas Dakwah dan Komunikasi, jadi

When You’re Lost

Oleh:
Alvino Offyan Nugraha, sosok setengah ganteng, tinggi, sawo mentah menuju mateng, kalo dilihat di fotonya (gue belum pernah ketemu orangnya langsung sih) sosok yang gue kenal lewat aplikasi bernama

Sahabatku Cintaku

Oleh:
Namaku Ranti aku lahir di keluarga yang bisa dibilang tidak bahagia, karena aku lahir di keluarga yang “Broken Home”. Ya… Kedua orangtuaku telah berpisah sejak aku kecil, dulu aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *