Pembelajaran Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 28 October 2017

Namaku Alicia Cantika tapi biasa dipanggil Ica, karena mayoritas kata orang aku ini imut-imut gitu. Selain itu, aku punya 2 sahabat yang sangat dekat denganku. Namanya Salsa dan Rani, mereka dekat denganku sejak masuk sekolah di sini. Aku masih sekolah di SMP N 8 Bandung, di kelas IX A dan menjabat sebagai Sekretaris OSIS. Begitu juga, Salsa sebagai Bendahara dan Rani sebagai Ketua Bidang Olahraga. Acara rutinan tiap tahun yaitu pelaksanaan MOS, setelah itu kami lepas jabatan.

Selesai MOS, aku tidak sengaja kenal dengan adik kelas bernama Mohammad Ridwan. Dia yang memulai SMS aku duluan hingga akhirnya bisa dibilang kami sangat dekat dan sudah mengenal satu dengan yang lain. Menurutku dia anak yang humoris, baik, asyik dan cukup dewasa meskipun adik kelasku. Hingga teman-temanku tahu bahwa aku dekat dengannya, Salsa dan Rani merasa keberatan jika sampai aku jadian dengan Ridwan. Mereka menilai bahwa dia bukan cowok yang baik untukku.

Hari Sabtu, 23 Maret 2012, dia memberanikan untuk main ke rumahku. Awalnya aku bingung gimana-gimananya karena dia adalah cowok pertama yang main ke rumah. Pukul 19.00 WIB, dia sampai di rumahku dan berkenalan dengan ayah dan ibuku. Setalah lama kita mengobrol, dia pamit pulang dan hanya mengatakan nanti SMS yaa.

“Anaknya sopan yaa nak?”. Kata ibuku dengan senyum-senyum
“Kamu jangan pacaran dulu yaa, Ca!”. Kata ayah tegas
“Nggak yah, Ridwan itu hanya teman Ica”. Jawabku singkat
“Bagus itu Ca, berteman boleh tapi pacaran jangan yaa. Belajar untuk UN kamu sebentar lagi biar cita-citamu tercapai, nak”. Tambah ibu panjang
Aku hanya mengganguk dan pamit untuk ke kamar karena ingin SMS’an dengan Ridwan. Entah, aku sangat bersemangat saat Ridwan SMS aku. Tapi aku sadari, mungkin aku jatuh cinta dengannya, Iya dengan adik kelasku. Hal yang sebelumnya tidak pernah ada di benakku.

Benar saja, pukul 22.00 WIB, Ridwan SMS panjang yang isinya pengungkapan rasa cintanya kepadaku.
“Selamat Malam Manisku, ada yang ingin aku sampaikan tentang perasaanku kepadamu. Sejak awal aku melihatmu, aku sangat tertarik dengan pribadimu dan ternyata benar bahwa kamu sangat baik dan anggun. Itu membuatku semakin kagum dan jatuh cinta kepadamu. Singkat kata, Apakah kamu mau jadi cewek teristimewa di kehidupanku? Aku harap jawabannya “Iya”. I love You Icaa.”

Aku langsung tersenyum-senyum dan merasa istimewa. Tapi, aku bingung harus menjawab apa? Jujur, aku memang jatuh cinta dengannya tapi kata ayah dan ibu harus fokus sekolah dulu. Aku berfikir dengan perasaan senang juga. Aku harus curhat dengan siapa, Salsa dan Rani pasti menyuruhku untuk menolak tapi aku cinta beneran dengan Ridwan. Tapi akhirnya aku membalas dengan sejujurnya dengan apa yang sedang aku fikirkan.

“Hehee, malam juga. Terima kasih atas pujianmu untukku, jujur aku bingung harus jawab apa Rid, banyak yang harus aku pertimbangkan karena menurutku suatu hubungan itu butuh keseriusan tidak dengan main-main”. Balasku dengan takut dia marah.
“Prinsipku juga sama, aku akan serius denganmu Ca walaupun kamu itu kakak kelasku tapi hati tidak bisa dibohongin. Aku sayang cinta sama kamu, Icaa. Pliss, percaya denganku”. SMS yang meyakinkan untukku.
“Rid, jujur aku juga cinta dan sayang sama kamu tetapi ayah dan ibuku tidak memperbolehkanku untuk pacaran dulu, aku bingung harus bagaimana, Rid?” Balasku lagi dengan kecemasan dihatiku.
“Aku paham Ca, kita pacaran diam-diam saja. Kamu bilang ayah dan ibumu kita berteman, aku juga ingin kita fokus sekolah kok, gimana menurutmu, Ca?”. SMS yang semakin membingungkan untukku.
“Iya, aku setuju dengan kamu Rid. Aku mau jadi pacarmu, kita jalanin saja seperti air yang mengalir”. Balasku dengan lega.
“Makasih ya, Ca. I love you Ica Sayang”. SMSnya lagi.
“I love you too, Ridwan”. Balasku dengan gembira dan tidur dengan nyenyak.
“Good Night My Princess”. SMS terakhirnya

Keesokannya, hari minggu yang sangat cerah karena aku mempunyai status pacaran meskipun diam-diam. Seperti biasa, aku jogging di alun-alun Bandung bersama ibu dan ayah. Di sana aku ketemu Ridwan, tambah gembiranya hatiku ini. Dia salaman dengan ayah dan ibuku dengan sopannya. Sesampai di rumah, aku mandi dan menonton tv sambil menunggu Ridwan SMS, karena hanya komunikasi seperti inilah yang bisa aku lakukan dengannya.

“Pagi Sayang, Lagi apa? Aku senang pagi tadi bertemu denganmu, kamu Cantik. I love You Icaa.”
“Pagi juga Ridwan, kamu juga ganteng kok. I love you too.
“Aku kepengen kita jalan, yang. Kapan yaa?”
“Maaf ya, mungkin suatu saat nanti”.
“Iya udah, gak papa kok sayang tapi malam minggu besok aku main ke rumahmu lagi yaa”.
“Iya sayang silahkan”.

Sekarang aku jarang belajar dan kegiatanku ketika di kamar hanya SMS’an dengan Ridwan, pacarku. Di sekolah pun kami tidak saling sapa tapi curi curi pandang, karena kami sepakat untuk tidak memberitahu teman-teman kami. Tapi Salsa dan Rani tahu bahwa ada suatu hal yang aku sembunyikan. Cinta memang membuatku gila dan tak mampu menyadarkanku atas kebohonganku.

“Ca, kamu sekarang beda banget sih, banyak main hp. Kamu pacaran sama adik kelas itu?”. Tanya Rani
“Kata siapa sih Ran? Aku tetap Ica yang dulu kok gak ada yang berubah”. Jawabku dengan ggup
“Kamu nggak mau cerita dengan kita lagi yaa, Ca? Nggak papa, tapi satu saja yang ingin aku katakan, jangan menyesal jika memang kamu pacaran sama adik kelas itu, karena feelingku dia akan menyakitimu”. Kata Salsa tegas
dengan meninggalku.

Semenjak kejadian itu, aku semakin jauh dengan Salsa dan Rani. Tapi aku merasa biasa saja karena masih ada Ridwan yang selalu ada buatku. Hingga UN tinggal satu bulan, Ridwan mengerti keadaanku dan kami jarang komunikasi demi kesuksesan UN’ku. Aku merasa kangen banget dengan Ridwan karena sepi tanpa SMS dari dia.

UN pun selesai, tapi malah membuat Ridwan tambah jarang SMS aku. Aku yang selalu memulai SMS dia duluan, hingga aku memberanikan diri menanyakan alasan dia berubah.
“Sayang, ada yang ingin aku tanyakan”.
“Apa yank? Kamu ada masalah apa lagi?”
“Mengapa kamu berubah tidak seperti dulu lagi? Kamu udah tidak cinta denganku lagi? Udah ada cewek lain yaa?”
“Nggak sayang, hanya saja aku masih banyak tugas. Aku harap kamu juga mengerti seperti aku ngerti kamu”.

Semua berjalan seperti semula, Ridwan yang sering SMS dan perhatian kepadaku. Hingga aku lulus SMP, ada beberapa pilihan SMA yang menjadi keinginanku tapi ayah dan ibuku menyuruh untuk melanjutkan di SMA 1 Bandung, sekolah favorit di kota ini. Nilai UN’ku tertinggi di sekolahku, itu menjadikanku untuk jujur kepada ayah dan ibu atas kebohonganku selama ini. Alhamdulillah, ibu dan ayah tidak marah hanya saja berpesan untuk tidak melewati batas. Karena sudah mendapat restu dari orangtuaku, Ridwan sering main dan mengajakku untuk jalan-jalan setiap malam minggu.

Salsa dan Rani tidak satu sekolah lagi denganku dan aku lost contak dengan mereka. Terakhir aku dengar, Rani pindah ke Jakarta dan Salsa kembali ke Semarang. Aku merasa bersalah, aku sudah berusaha meminta maaf kepada mereka tapi tidak ada jawaban. Kesedihanku tidak terlalu dalam sebab di SMA aku mendapatkan sahabat yang baik, mereka adalah Elsa dan Tata dan mereka aku kenalkan kepada Ridwan. Kami sering jalan bareng dengan pacar-pacar kami, makan, main, nonton, hunting dan masih banyak lagi.

Aku merasa menjadi cewek yang sangat beruntung, mempunyai orangtua yang sempurna, pacar yang super baik dan sahabat yang istimewa. Aku menjalin hubungan dengan Ridwan hampir 2 tahun dan itu pun semua berjalan dengan baik-baik saja tidak putus nyambung. Namun semua berubah ketika Ridwan sudah kelas 3 SMP dan aku kelas 2 SMA, setiap kita komunikasi lewat SMS, dia selalu bilang ingin fokus belajar seperti halnya aku dulu. Aku selalu mencoba memahami akan tetapi Tata pernah melihat Ridwan jalan bareng dengan adik kelasnya yang bernama Riska anak hits di SMP N 8 Bandung. Setiap kali aku menanyakan hal itu pasti Ridwan selalu marah-marah nggak jelas. Aku bingung hingga nggak fokus sekolah, sampai aku sempat jatuh sakit dan dirawat inap di RS Bandung tapi Ridwan tidak pernah menjengukku bahkan tidak SMS aku sekedar mengucapkan “cepet sembuh sayang”, yang ada di benakku apa sesibuk itu kah dia?

Ayah dan ibuku cemas akan keadaanku, mereka menasihatiku agar tidak larut dalam kesedihan karena masa depanku masih sangat panjang. Kedua orangtuaku menyuruhku untuk memutuskan hubungan pacaran selama ini dengan Ridwan. Tapi hati kecil sangat sulit untuk melakukan itu, aku terlanjur sangat sayang dengannya. Ridwan adalah cowok yang pertama menciumku dan dia sangat spesial buatku. Aku sangat galau tapi Elsa dan Tata selalu menghiburku, mereka juga mengatakan hal yang sama dengan oraangtuaku. Aku akan memberanikan diriku untuk memutuskan Ridwan karena aku capek digantungin seperti ini.

Tanggal 7 Februari 2014, itu tanggal dimana Ridwan berumur 17 tahun (memang dia masih SMP tapi dulu sewaktu SD pernah tidak naik kelas 2x), aku berniat untuk memberi dia surprise. Pukul 19.00 WIB aku sudah bersiap dengan baju rapi serta kue yang tadi sudah ku beli dan aku mengajak kedua sahabatku Elsa dan Tata. Aku mengetahui posisi Ridwan berada di alun-alun Bandung karena tadi aku SMS dia.

“Happy Birthday 17 tahun yaa Sayang, tambah yang baik-baik aja pokoknyaa. Selalu sayang kamuu”.
“Terima Kasih, Ca.”
“Hari ini ada acara nggak? Aku pengen keluar bareng kamu, pengen ngerayain ultah kamu, Rid. Plisss.”
“Maaf Ca, aku udah ada janji bareng teman-temanku di alun-alun Bandung, lain waktu lagi aja yaa.”
“Kamu memang sekarang udah beda Rid, janjimu dulu hanya sepenggal janji, semoga kamu happy.”
“Apa salah aku ingin menghabiskan waktuku bareng teman-temanku, dan ingin fokus sekolah? Salah?! Mending kita break aja dulu!”

Aku dan kedua sahabatku sudah sampai di alun-alun dan mencari posisi Ridwan di mana. Ternyata, Ridwan makan bareng Riska, aku tidak kuasa menahan tangisku. Elsa dan Tata langsung menghampiri Ridwan sedangkan aku lari sekuat tenagaku. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba aku sudah ada di kamarku tapi tak henti-hentinya aku menangis. Ayah dan ibuku hanya diam melihatku tanpa kata-kata apapun. Ingin rasanya ku memaki Ridwan dan diriku sendiri dengan segala keadaan ini.

Keesokan harinya, Elsa dan Tata mengajakku ke taman untuk mencari udara yang segar. Tak lama kami sampai di sana, ternyata Ridwan juga ada di sana, aku tak mengerti. Aku putar balik badan namun tanganku ditahan oleh Ridwan, kedua sahabatku meninggalkan aku dan Ridwan. Lagi lagi aku menangis tapi air mataku diusap Ridwan dengan lembutnya seperti dulu, aku hanya diam dan dia memulai membuka pembicaraan.

“Ica, maafin aku, aku tak bermaksud menyakiti hatimu tapi aku juga tidak bisa membohongi perasaanku sendiri, kalau sekarang aku udah jatuh cinta dengan Riska, maafin aku Ca tapi kita masih tetap jadi sahabat yaa, karena aku juga sayang kamu”.
“Kamu jahat Rid! Kamu egois!”

Aku pergi dan aku nggak ingin lagi ketemu dengan Ridwan, kedua sahabatku menghiburku dan mengatakan aku harus ikhlas demi kebahagiaan dia. Setelah kejadian itu semua yang berhubungan dengan Ridwan aku hapus, mulai dari nomor sampai foto bersamanya. Aku menjalani kegiatanku seperti dulu, single lagi tapi masih ada Elsa dan Tata yang selalu ada untukku. Aku pun mulai menyibukkan diri dengan membaca buku, novel, cerpen sampai belajar memasak bareng ibu.

Hari-hariku kini diisi oleh Elsa dan Tata, aku berusaha menghapus semua kenanganku bersama Ridwan namun sahabatku mengatakan kenangan itu jangan dihapus tapi diambil pelajaran yang terkandung di dalamnya agar kamu bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Aku mulai move on dan hanya ingin fokus sekolah sampai perguruan nanti, kerja, bahagiain bapak dan ibu baru setelah itu memikirkan jodoh. Di kenaikan kelas 3 ini, aku menjadi peringkat pertama, betapa senangnya kedua orangtuaku. Ketika itu aku baru sadar bahwa pacaran itu hanya menganggu waktu belajarku.

Fikiranku kembali buyar saat Ridwan SMS aku jika dia dan Riska sekolah di tempat kini aku sekolah. Dia pun mengatakan kalau sudah putus dengan Riska karena keegoisan mereka. Aku sudah nggak mau mempedulikannya lagi tapi dia selalu berusaha masuk lagi dalam kehidupanku hingga aku secara tegas mengatakan jika aku sudah tidak ingin kembali dengannya. Setelah kejadian itu, kami benar-benar lost kontak bahkan di sekolah pun, aku dan Ridwan seperti seseorang yang tak saling mengenal. Biarlah kisah cintaku dengan Ridwan menjadi coretan dalam kertas kehidupanku. Jika jodoh, dia akan kembali dan bila tidak berjodoh berarti itu yang terbaik dari Allah SWT.

Cerpen Karangan: Danny Fergianto
Facebook: Danny Fergi
Menulis salah satu aku menuangkan rasa yang terpendam dalam hati.

Cerpen Pembelajaran Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pangeran Masa Laluku

Oleh:
Namanya SANISA seorang gadis berusia tujuh belas tahunan yang mempunyai paras nan cantik dan rambut yang terurai sebahu… “Prangg” minuman itu tumpah tempat di kertas putih tempat dimana namanya

Aku, Kamu dan Dia

Oleh:
Sore yang indah dengan paparan cahaya senja yang menyinari. Saat itu di lapangan, Aldi sedang asyik latihan bermain bola bersama teman-temannya. Sambil istirahat dan sesekali meneguk air yang sudah

Manisnya Sebuah Proses

Oleh:
“Allahu Akbar Allahu Akbar..”, suara adzan shubuh terngiang di telingaku. Aku berusaha untuk bangun dari tempat tidur beralaskan tikar itu. Kedua orangtuaku sudah terbangun lebih dulu sedangkan Rifan adikku

Antara Cinta dan Benci

Oleh:
Sinar cahaya Mentari pagi telah membangunkanku dari mimpi indahku. Dan selamat pagiii saatnya aku mulai dengan aktivitasku yang baru. Hari ini adalah hari pertama aku bekerja di kantor baruku,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *