Penyesalan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 11 April 2020

Aku pertama masuk kuliah semester awal di salah satu Universitas di semarang. Aku ambil kuliah weekend yang khusus untuk orang-orang yang sudah bekerja kuliah hari sabtu dan minggu.

Siang yang begitu terik, aku parkir motorku lalu aku langkahkan kaki menuju gedung fakultas ekonomi. Aku berjalan seorang diri tanpa teman. Aku belum mengenal siapa siapa disini dan bukan juga asli orang semarang.

Sesampainya aku di fakultas ekonomi, aku masuk ke dalam kelas untuk segera mengikuti mata kuliah awal. Sudah terlihat banyak mahasiswa dan mahasiswi di dalam. Aku masuk sembari mencari tempat duduk, “Hai, namaku raya, salam kenal”, sapaku. “Hai, aku tari, senang berkenalan denganmu”, jawabnya sambil tersenyum. Tidak hanya tari, ada juga tya, david, nara, pertama kali perkenalan siang ini. Ya… syukurlah akhirnya mendapat teman baru, suasana baru, lingkungan baru.

Kenapa aku merasa ada seseorang yang selalu memperhatikan aku, bahkan dari awal masuk ke kelas. Entah siapa dia, aku pun tak mengenalnya. Sesekali aku pandangi orang itu, dia seakan tak ingin aku mengetahui kalau dia selalu memperhatikan aku. Usai sudah mata kuliah hari ini, aku beranjak dari kursi dan bergegas keluar kelas.

Lagi, lagi dan lagi… seseorang itu terus saja memperhatikan aku. Sudah hampir dua bulan terakhir ini dari awal perkuliahan. Kita selalu satu kelas, tapi anehnya aku tidak tau siapa namanya. Aku sendiri begitu pemalu dengan laki-laki, sehingga tak pernah aku berkenalan langsung dengan mahasiswa satu kelas denganku.

Ada satu mata kuliah yang mengharuskan untuk dikerjakan dengan berkelompok, dan akhirnya aku satu kelompok dengan orang yang selalu memperhatikan aku dia adalah joni. Kelompokku terdiri dari aku sendiri, tari, joni, tya, david dan deni, ada 6 orang setiap kelompoknya. Disitulah aku baru mengetahui siapa namanya. Dengan tugas yang diberikan oleh dosen itu kita memulai mencari bahan untuk mengerjakan tugas. Kita mulai mencari bahan di perpustakaan daerah dekat dengan kampus. Joni yang dari kejauhan sembari mencari buku, selalu curi pandang denganku. “Kenapa sih ini anak kok liatin aku melulu?”, tanyaku dalam hati.

“rayaaa…”, terdengar suara tya dari belakang dan sambil menepuk pundakku. “Ya…”, aku pun terkaget. “Kenapa sih tya, kamu ngagetin aku aja”. sambil menengok ke belakang. “Roman-romannya si joni suka kali sama kamu, aku perhatiin dari tadi dia ngeliatin kamu terus tuhh”, dengan nada meledek. “Ah.. kamu bisa aja sihh”, sembari mengambil salah satu buku di rak.

Dari situlah aku dan joni semakin akrab, ngobrol nyambung, nyaman, berharap akan tetap seperti ini. Entah kenapa, aku merasa ketakutan, rasa yang dulu sudah kupendam dalam-dalam kini mulai tumbuh kembali. Hati yang tertutup, ketraumaan akan cinta mulai memudar sejak kedatangan joni dalam hidupku. “mungkinkah ini jatuh cinta?”, tanyaku dalam hati. Aku tak berharap akan sakit karena cinta, biarlah perasaan ini aku sembunyikan.

Siang itu, dengan awan yang mendung. Usai mengerjakan tugas, joni mengajakku untuk pulang bersama. Kita telurusi jalan, joni membawaku ke sebuah pantai. Di bawah pohon yang rindang kita duduk berdua, berbincang-bincang. Ditengah pembicaraan, “raya… aku mau ngomong sesuatu”, kata joni sembari memegang tanganku. “Emmm… ya, mau ngomong apa joni?”, tanyaku agak gugup. “ray… mungkin ini aneh, bahkan terlalu cepat, tapi aku tidak bisa bohong dengan perasaanku. Aku suka kamu sejak awal masuk kuliah, aku selalu memperhatikanmu. Jujur ray… aku takut mengatakan ini semua ke kamu, karena masa laluku yang terus menghantui. Aku yang rapuh karena patah hati, tapi setelah aku bertemu denganmu semua itu perlahan menghilang. Aku berharap apa yang aku rasakan ini juga bisa kamu rasakan, apa kamu mau jadi kekasihku?”. Aku terdiam mendengarkan semua yang sudah joni katakan. Aku begitu tak meyangka, apa yang kutakutan akhirnya datang. Perasaan itu benar-benar muncul, aku tak bisa mengelak karena aku juga merasakan hal yang sama.

“Ray… aku tau ini begitu cepat, aku tak memaksakanmu untuk menjawab sekarang. Kamu boleh memikirkannya, aku akan tetap menunggu jawaban darimu”, Ucap joni sembari memegang erat tanganku. “Joni… jujur aku pendam perasaan ini sejak lama, setelah kita kenal dan mulai akrab. Aku begitu nyaman didekatmu, itu membuat aku mulai untuk bisa membuka hati. Aku akan belajar untuk menerima kamu jadi kekasihku”, kataku dengan tersenyum. Kita pun berpacaran.

Hari demi hari, kita jalani dengan sangat baik. “Ndut… ayo kita ke kantin”, ucap joni sambil menggandeng tanganku. Ya.. “Ndut”, panggilan sayang dia ke aku. “ohh ya… ayo cit”, sembari kita berjalan menuju kantin. Dan panggilan sayangku ke dia “cit”. Bahagianya hati, kita yang sama-sama sakit karena cinta. Bisa bersatu dan menjalin suatu hubungan dengan saling percaya. Itu membuat kita selalu saling menjaga perasaan.

Siang itu, di kampus ada yang aneh. Joni tidak terlihat, tak ada kabar darinya. Aku coba untuk menghubunginya, namun belum ada balasan darinya. Sepulang kuliah, suara Hp berdering kuliat telepon dari joni. “Halo ndut”, ucap joni. “Ya, halo cit, sehari gak kelihatan di kampus, kamu kenapa?”, tanyaku. “Ya ndut.. ada kerjaan, maaf ya baru ngabari”, ucapnya. “oh.. ya cuma sempet khawatir saja, karena gak ada kabar”, sambungku.” Ndut… aku mau nanya sesuatu, apa kamu pernah keluar malam bahkan sampai dini hari sama om-om?”, tanyanya. Dengan kagetnya aku menjawab, “Maksud kamu apa cit?”. “Aku dengar kamu keluar malam sama om-om, makanya aku pingin denger sendiri dari kamu. Apa semua itu benar?”, tambahnya. Aku terdiam.

Aku baru ingat, pernah suatu malam aku keluar bersama kakak dan kakak iparku. Kita pergi ke sebuah diskotik, di sana kita bertemu dengan bos kakakku. Mungkin orang akan berpikir negatif tentang aku, seperti anak yang tidak baik karena main ku ke diskotik. Padahal belum tentu ke sana untuk senang-senang seperti layaknya anak-anak gaul. Kita ke sana hanya untuk melihat perform anji. Selesai nonton, aku, kakak, kakak ipar dan bos kakakku pergi ke sebuah angkringan untuk makan. Tanpa sengaja disana aku bertemu dengan tari. “Apa tari yang kasih tau joni kalau aku keluar malam?”, tapi kalo memang iya kenapa tari bilang aku pergi sama om-om. Padahal malam itu sudah aku kenalkan siapa saja yang bersamaku”, ungkapku dalam hati.

“Ndut…tolong jawab, aku hanya ingin dengar dari mulut kamu sendiri”, ucap joni. “cit… memang malam itu aku keluar sama kakak dan kakak iparku bukan sama om-om. Kita keluar untuk lihat perform anji. Terserah kamu mau percaya atau tidak dengan apa yang sudah aku katakan”. jawabku sambil kumatikan teleponnya.

Belum ada satu bulan kita pacaran, tapi semenjak masalah waktu itu hubungan kita merenggang. Ada apa dengan semua ini, seakan ada yang mau menghancurkan hubunganku dengan joni. “Apa memang ada yang tidak suka dengan hubungan kita?”, ucapku dalam hati. Aku juga heran dengan joni, dia begitu saja percaya dengan omongan orang. Aku kecewa karena dia tidak mempercayai aku. Tidak hanya masalah itu saja yang merenggangkan hubungan kita. Banyak hal, ada yang terus berusaha menghancurkan hubungan kita. Masalah demi masalah muncul dari masalah terkecil hingga yang terbesar. Pada akhirnya hubungan kita pun berakhir. Penyebab hancurnya hubungan ini yang masih tidak bisa aku mengerti. Disaat joni berusaha untuk menjelaskan semua, aku seakan tidak mempedulikannya. Kita semakin jauh, tak sekalipun sms, telepon dari joni aku balas. Aku diam dan terus menjauh dari joni.

Sesingkat ini hubungan aku dengan joni, Hubungan baru seumur jagung harus berakhir. Lagi, lagi… dan lagi harus sakit hati karena cinta. Semakin berusaha untuk memperbaiki hubungan ini, semakin banyak masalah yang datang menghampiri. Mungkin orang akan berpikir, bahwa apa yang terjadi hanyalah masalah sepele. Kisahku dengan joni tidak hanya sampai disini. Kita memang sudah tidak lagi pacaran, tapi hati kita masih sama. Kita masih saling mencintai satu sama lain. Aku menyesal karena tidak berusaha untuk memperbaiki hubungan ini. Ego yang tinggi membuat aku terpuruk dan harus merasakan sakit hati lagi. Hari-hari begitu indah sebelum masalah itu terjadi. Namun sayang bahagia itu hanya sebatas mimpi.

Cukup lama berharap, karena tidak ada kepastian dariku, joni perlahan menjauh. Berat bagi kita, karena perasaan yang harus kita sembunyikan ini. Semua tidak seperti apa yang kita harapkan. Seiring berjalannya waktu, muncul seorang gadis tidak lain teman kampus kita rena. Dimana rena pun sudah lama mengicar joni. Begitu tau kita putus, kesempatan rena untuk mengisi kekosongan hati joni. Tidak mudah, rena meluluhkan hati joni. Dia berusaha meskipun tau joni masih menyayangiku. Usaha rena begitu besar, joni menghargai usaha rena. Hari demi hari dengan semua usaha yang sudah rena lakukan, joni mencoba untuk membuka hati. Joni mengatakan pada rena, dia akan mencoba untuk menerimanya. “Satu hal yang harus kamu tau ren, bahwa hatiku masih ada raya”, ucap joni pada rena. Rena terdiam, mata pun berlinang air mata. “Maaf jika kata-kataku ini menyakitimu, tapi aku harus jujur padamu. Aku tak mau jika harus berpura-pura. Aku harap kamu bisa mengerti”. sambung joni. “Aku akan tetap berusaha sampai kamu bisa sedikit saja membuka hatimu, dan bisa menyayangiku”. ucap rena penuh harap. Dengan kesungguhan rena, joni menerimanya dan berusaha. Mereka akhirnya berpacaran.

Dengan melihat kebersamaan mereka, aku sedih, aku marah seakan tidak mau menerima. Semua sudah terlambat, harapanku untuk bisa kembali merajut kasih dengan joni sirna. Aku hanya bisa merelakannya walau itu berat. Aku cari seseorang untuk membantu aku. Membantu agar aku bisa melupakan joni. Semua tidak mudah, rasa ini terlalu dalam untuk bisa dilupakan. Aku gagal, terus saja mengharapkan joni.

Kisah joni dan rena berlangsung hingga ke pelaminan. Sehari sebelum pernikahan joni sempat menghubungiku. Dia mengatakan bahwa dia masih mencintai aku. Sampai kapanpun perasaan itu akan tetap sama dan tidak akan berubah. Semua itu sudah terlambat, pernikahan yang sudah di depan mata tak bisa dihentikan. Perasaan kita sama, tapi kita tak bisa saling memiliki. Dengan berat hati aku datang ke pesta pernikahan mereka, menyembunyikan kesedihanku. Aku tahan air mataku, beranjak menghampiri mereka. Aku berikan ucapan selamat berbahagia untuk mereka dengan senyuman. Sepulang dari pesta itu, aku luapkan semua kesedihan ku. Aku maki-maki diriku sendiri. Aku berpura-pura untuk tetap tegar, tapi nyatanya aku hancur. Penyesalan lah yang kini ada.

Saat di kampus, setiap waktu aku akan selalu melihat kebersamaan joni dan rena. Di depan mereka aku harus terlihat kuat dan tegar meski kenyataanya tidak. Berusaha seperti apapun perasaan itu tak bisa hilang dari hatiku.

Singkat cerita, akhirnya kita pun lulus kuliah. Hari demi hari kulewati, teringat akan sebuah harapan. Aku yang harus menjalani hidup dengan sebuah penyesalan karena tak bisa mempertahankan cinta joni. Hingga saatnya kini kutemukan pendamping hidupku. Hati ini masih tersimpan namanya, cinta sayang untuk joni. Suamiku mengetahui hal itu sebelum kita menikah. Namun dia berpikir bahwa aku sudah jadi miliknya dan joni juga sudah menjadi milik orang lain.

Yahh.. aku dan joni sama-sama menjalani kehidupan baru. Namun rasa cinta dan sayang ini tak akan pernah hilang dari hati kita. Cinta tak harus memiliki, kita merelakan dan tetap menyimpan semua kenangan indah bersama.

Cerpen Karangan: Felicia
Blog / Facebook: Felicia May Wardani

Cerpen Penyesalan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pelarian Gunung Pelarian

Oleh:
Tanpa pedulikan kondisi pintu yang sudah rusak dan masih dalam kondisi terkunci, kudobrak sekuat tenaga dengan bantuan amarah yang tak terbendung menenggelaman diri dalam nafsu yang hampir tak terkendali,

Menempa Dunia

Oleh:
Waktu terus berputar dalam detik dan menit. Waktu yang terus berputar bersama dengan udara, serta waktu yang berputar dengan masa dan peristiwa. Di tengah udara yang menusuk, di bawah

Cincin Tahun Baru

Oleh:
Aku masih saja duduk termangu disini, bersama deburan ombak, serta langit dengan semburat warna oranyenya. Aku seperti merasakan anugerah yang Maha Kuasa di tempat ini. Ditambah lagi aku baru

Surat Dari Miara

Oleh:
Dinginnya pagi masih terasa di setiap sudut ruangan itu, seorang pria terbangun dari tidurnya mencoba menenangkan diri, entah apa yang membuatnya terbangun sepagi ini. Sepucuk surat berada tepat di

May

Oleh:
“Eh eh, Angga lagi di cafe nih!” Sila menunjukkan akun path di handphone-nya. “Ya terus? Bodo amat, aku sebel!” May berbicara dengan mulut manyun. “Gara-gara kemarin? Ya udah sih.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *