Perjanjian Masa Depan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 12 June 2014

Hidup dengan masalah itu membuat hidup lebih berwarna. Apalagi masalah mengagumi seseorang dengan penyebab yang gak jelas. Hahaha… itulah yang sedang ku alami. Semua ini berawal dari hari pertamaku masuk sekolah sebagai murid baru kelas tiga SMA. Ku awali dengan menjadi murid baru yang pendiam, duduk sendiri di pojokan, dengan kacamata yang tak pernah lepas, dan sebuah novel konyol yang selalu menemaniku akhir-akhir ini. Sampai pada akhirnya mataku tertuju pada sesosok cewek berambut panjang, berponi dan wajah yang terlihat seperti habis begadang menuju tempat duduknya.
“Hmm… cewek yang unik” gumamku sambil membaca.

Awalnya biasa. Tapi lama-kelamaan perasaan biasa ini berubah menjadi perasaan mengagumi. Tapi… setelah terlibat dalam satu kelompok, mengalami kejadian konyol, dan setelah satu semester berlangsung rasa kagum itu berkembang biak seperti virus yang menularkan penyakit menyukai sebagai lawan jenis.
“Dan! Hari jum’at dia ulang tahun! Kamu mau ngasih apa?”

Pertanyaan temanku itu membuat jatungku berhenti sejenak dan imajinasiku yang menyenangkan berubah menjadi hitam pekat tanpa cahaya sedikit pun. Sekejap terlintas sebuah kalimat yang langsung terucap begitu saja.
“Boneka mungkin?”
Suasana tiba-tiba menghening.
“Ya… boleh-boleh. Entar hari sabtu kita siapin kejutan bareng anak-anak lain” ucapnya sambil memberikan sebuah sampah tak berguna dan pergi begitu saja.
“HEY!”

Hanya dengan waktu empat hari aku harus mendapatkan sebuah hadiah dengan keadaan ekonomi yang sedang turun derastis. Untuk pertama kalinya tanda tanya yang besar menampakan diri di otak dan terus memberikan kebingungan tentang hadiah yang pas untuk seorang cewek yang telah memunculkan perasaan suka yang muncul dari hati, lalu ke otak, dan nyambung ke mata dan membuat semuanya menjadi indah.

Pertanyaan yang sama terus ku lontarkan ke semua sahabatku yang sudah berpengalaman. Dan hari jum’at pun tiba. Hari dimana aku memulai petualangan mencari sebuah hadiah. Bersama dua teman dekat dia, aku berangkat mencari barang yang sesuai. Dan pilihanku jatuh kepada boneka alien besar berwarna biru yang bernama Stitch.
“Kue, boneka, lilin… emm… udah semuakan? Hayu kita pulang!” ucapku sedikit lesu.
“Duluan ya Dan!” teriak temanku.
“Yooo… ditunggu buat hari sabtu!” ucapku dan tancap gas lalu menghilang.

Matahari menyambut pagi dengan sinarnya yang sangat menyilaukan yang masuk melalui jendela dan menusuk mataku yang terasa berat untuk dibuka lebar. Menikmati kasur dulu sebelum pergi mandi itu adalah tradisi burukku. Setelah semua terasa cukup aku bergegas ke kamar mandi. Semangat pagi menyambut hari sabtu yang spesial bagiku muncul dan menghilang begitu saja ketika aku tersadar jam sudah menunjukan pukul tujuh dan itu artinya aku terlambat sekolah.
“Oh god why? Mau bilang apa nih ke semua penghuni rumah? Pura-pura sakit? Entar sakit beneran.” menggumam.

Otak yang masih membeku terus dipaksa untuk berfikir mencari sebuah alasan yang cocok.
“Aaaah! Bilang aja sekolah jam sepuluh!” ujar sisi gelapku.

Detik-detik kebohongan telah terlewati. Saatnya menjalankan sebuah rencana. Hadiah, kue, dan dekorasi lilin sudah siap. Pesta kejutan akan diadakan di kamar dia. Dua orang temanku datang ke rumah dan mengambil hadiah dariku dan juga kue yang sudah didekor. Mereka langsung melesat ke TKP dan aku bersama phantom motor kesayanganku melesat dengan kecepatan cahaya menuju ke sekolah untuk menahan dia agar tidak langsung pulang ke rumah.

Semua skill akting sudah dikeluarkan. Sebagian temanku sudah berangkat ke TKP hanya aku, dia dan temanku yang lainnya.
“Vie! Kamu tahan dia di sini… saya ke rumahnya duluan. Entar kamu nyusul ok?”
“Siap Dan!”

Dengan kecepatan cahaya lagi aku melesat ke rumahnya. Berkali-kali hampir ke hilangan nyawa. Namun semua itu tidak mengurungkan niat melaju dengan kecepatan cahaya.

Semua sudah siap dan bersembunyi di tempat masing masing. Apes banget dapet tempat persembunyian di atas lemari.
“Oi… dia datang!” ucapku sedikit berbisik.

Satu orang sibuk menyalakan lilin dan kejutan bersembunyi pun gagal total. Tapi tak apa yang penting kejutan hadiahnya jangan sampai gagal. Semua larut dalam keceriaan dan kekonyolan bersama. Tiba saatnya tebak hadiah. Dengan peraturan “jika pemberi hadiah ke tebak harus dipeluk”. Peraturan yang konyol. Tiba pada hadiahku. Terdapat kesalahan dari hadiahku yaitu selembar kertas dengan sebuah kata-kata yang ku buat sendiri. Dan tulisanku itu mempunyai ciri khas. Yaitu jelek.
“Ah… ini pasti tulisan kamu ya Dan?” ucapnya sambil senyam-senyum.
“Mana? Diperiksa dulu tulisannya…” ucapku gagap.
Terlintas sebuah alasan agar hadiah ini tidak mudah ditebak.
“Bukan… tulisan saya gak sebagus ini” ucapku berusaha meyakinkan.
Dengan mudah dia percaya dengan alsan itu. Cewek yang polos. Detik, menit, jam, hari, dan bulan. Emm… gak sampe bulan sih… cuman sampe jam. Detik, menit, dan jam berlalu. Rahasia pemberi boneka Stitch terbongkar. Dengan santainya dia nawarin mau dipeluk atau tidak. Dan dengan berat hati aku menolaknya karena perasaan suka yang memicu rasa malu untuk melesat dan meracuni pikiran. Tapi biarlah. Yang penting hadiahnya diterima dengan senang hati.

Nah ini baru nyampe bulan. Detik, menit, jam, hari, dan bulan berlalu. Perasaan suka ini semakin meracuni tubuh. Aku tak bisa berhenti memikirkanya. Wajahnya terus terlintas di pikiran, suaranya yang terus terngiang membuat perasaan suka ini semakin bertambah. Haruskah aku mengungkapkannya? Hmm… cukup aku saja dan tuhan dan sahabat-sahabatku yang tahu. Tapi pada akhirnya sisi pemberani yang selalu datang telat ini muncul dan menyuruhku untuk mengungkapkannya. Hari selasa dan hari sabtu aku mengajaknya ke sekolah. Hari itu bebas karena kelas tiga telah melaksanakan UN. Mungkin memang belum waktunya, kedua hari itu gagal. Rencana yang ku susun gagal total. Selasa ada seorang pengacau suasana dan sabtunya dia terkena sakit perut. Masa mau nyatain perasaan waktu dia lagi sakit perut? Gak enak banget kebayangnya. Sudahlah semua pasti ada waktunya.

Dan… semua pasti ada waktunya itu memang benar. Hari senin ketika matahari akan mengucapkan selamat tinggal aku sedang berada di sekolah bersama dia dan rekan satu tim kerja film dokumenter kelas. Penganbilan gambar adegan di sekolah berakhir. Semua rekan satu tim sudah memberi kesempatan untuk mengobrol berduaan. Tapi dia selalu menghindar. Rasa putus asa mulai muncul. Semangat api yang sebelumnya berkobar tiba-tiba padam tertiup angin keputus asaan. Perang batin pun dimulai dan pikiran pun mulai gak karuan. Tapi semua itu berhasil teratasi berkat semua sahabat yang selalu mendorong dari belakang. Perasaan cangung menyeruak ketika aku berusaha mendekatinya. Memulai membangun suasana dengan membicarakan anime. Terlintas dipikiran sebuah pembukaan cerpen yang ku buat semalam.
“Eh saya bikin cerpen. Tapi baru pembukaannya doang. Tolong koreksi dong!” ku berikan cerpen itu ke dia.

“Hidup dengan masalah itu membuat hidup lebih berwarna. Apalagi masalah mengagumi seseorang dengan penyebab yang gak jelas. Hahaha… itulah yang sedangku alami. Semua ini berawal dari hari pertamaku masuk sekolah sebagai murid baru kelas tiga SMA. Ku awali dengan menjadi murid baru yang pendiam, duduk sendiri di pojokan, dengan kacamata yang tak pernah lepas, dan sebuah novel konyol yang selalu menemaniku akhir-akhir ini. Sampai pada akhirnya mataku tertuju pada sesosok cewek berambut panjang, berponi dan wajah yang terlihat seperti habis begadang menuju tempat duduknya.
“Hmm… cewek yang unik” gumamku sabil membaca.”

“Bagus Dan… tinggal dikembangin lagi aja.” ucapnya.
“Waduh! dia gak ngerti…” ucapku dalam hati.
“True story beuh itu…” ucapku.

Suasana tiba-tiba menghening. Ternyata gak ada yang ngerti omonganku. Sudah lah. Emang seharusnya saya ngomong langsung. Dengan bahasa jepang yang aku pelajari dari anime aku mengatakannya. Kalau diterjemahin sih kurang lebih kaya gini nih.
“Sof! Sebenarnya saya suka sama kamu… kamu udah bacakan pembukaan cerpen itu? Itu adalah cerita saya. Semua kejadian dari awal saya lihat kamu sampai sekarang bakal saya tulis di cerpen itu.”

Dia terlihat begitu bingung dan kaget. Mungkin dia berkata dalam hatinya “ini mimpi?” mungkin.
“Eeee… makasih ya Dani.” ucapnya canggung.
“Sofi! Jadi gini. Sebenarnya aku suka sama kamu. Tapi aku ingin kita bersahabat. Pasti kamu bertanya kenapa kan? Itu semua karena aku sangat menghargain persahabatan dan aku masih jadi cowok belum jadi pria. Aku masih ngemis ke orangtua…” ucapku.
“Jadi kalau udah sukses mau gimana?” potong temanku.
“Ya… Kalau aku udah sukses dan kalau kita memang dijodohkan insyaallah aku akan cari kamu lagi.” ucapku dengan senyum ciri khasku.
Hahahha… semua berjalan lancar. Tapi dia tampak kebingungan dan dia belum mengucapkan satu patah kata pun untuk akhir dari cerita ini. Tapi aku tidak terlalu berharap. Biarkan dia dan Tuhan saja yang tahu. Semua ucapanku akan ku buktikan jiga aku diberi kesempatan. Jika dipikirkan lagi ucapanku itu terlalu berlebihan, tapi emang begitulah aku adanya. Hmm… semoga perasaan ini akan terus bertahan hingga jawaban dari semua mesteri masa depan terungkap. Perasaan yang datang dari hati, lalu ke otak, dan ke mata ini tulus. Perasaan suka ini beda, bukan perasaan suka yang hanya datang begitu saja dan menghilang. Perasaan ini mengalahkan dinding perbedaan dan menjadikan semuanya menjadi lebih indah. Dia mengenalkan dunia masa laluku yang sudah ku lupakan. Dia begitu berbeda. Terdapat faktor x yang tak mudah tuk diartikan. Hahahahha… dunia itu memang berwarna.

Tiba-tiba. Ketika suasana hening di telingaku dan dipikiran ku sendiri.
“Watashi wa anata ga sukidesu! (aku juga suka kamu)” ucapnya pelan.
“Hah? Apa Sof?” tanyaku pura-pura tidak tahu.
“Ga ada replay loh Dan!” ucapnya dingin.

Debat sore dimulai. Debat ini membicarakan perkataan dia yang sangat pelan. Dan debat berakhir.
“Dan! Jangan pernah kamu jadiin foto aku jadi wallpaper di hp kamu!” ucapnya mengancam.
“Tenang aja Sof! Aku gak akan melakukan hal seperti itu”. Ucapku dengan gaya khas yaitu senyum lebar dan jempol yang diacungkan. Ya… bisa dibilang gayanya rock lee dinaruto.

Cerita ini berakhir dengan hubungan sebagai sahabat. Tapi di masa yang akan mendatang hubungan sahabat itu insya allah akan berubah seperti yang apa aku katakan.

Cerpen Karangan: Mohammad Syarif Hidayat (Botep)
Blog: botep02.blogspot.com

Cerpen Perjanjian Masa Depan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta di Ujung Purnama

Oleh:
Cinta. Tak seorang pun tahu kapan ia akan merasakan nya, dengan siapa akan menjalaninya, dimana ia mendapatkannya dan bagaimana ia merasuk ke dalam hati. Mengusik usik otak ini, sehingga

Eternal Sakura (Part 2)

Oleh:
“Masalah ini sangat langka. Rumah sakit ini baru pertama kali menerima masalah ini. Jantungnya seperti ada kelainan fungsi,” Dokter menghela napas. “Mengapa kelainannya baru muncul sekarang?” tanya wanita itu.

Baby Blue

Oleh:
Lorong sekolah dengan baris pasang mata yang berjejer di antara langkah yang nyata. Di mading sekolahku yang selalu nampak ramai di saat aktivitas kegiatan jam belajar mengajar usai ataupun

Buku Misterius

Oleh:
Namaku Linda. Aku sekolah di Story Schools. Kami hanya membaca dan mengarang cerita. Kali ini aku dan sahabat sahabat ku berlibur di vila. Semoga tidak menyeramkan. “Berangkat sekarang yuk”

Diary Ellen

Oleh:
Aku Audrey. Audrey Yisha Anggata tepatnya. Aku tergabung dalam sebuah geng. Geng persahabatan. Namanya GAC. G: Lisha Givha Ulna (Givha) A: Audrey Yisha Anggata (Aku) C: Alina Cila Hisya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Perjanjian Masa Depan”

  1. Singgih Rama Pradana says:

    uuhh hampir mirip kaya ceritaku deh :’v

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *