Pertemuan dan Perpisahan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Pengalaman Pribadi, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 19 August 2017

Aku masih ingat hari itu, hari dimana aku bertemu dengannya, seorang wanita asal Medan yang kuat dan tegar, seorang chef yang handal memasak western food, dan seorang wanita sederhana yang selalu aku cintai.

Namaku Fergy, tanggal 1 Agustus 2016 aku memulai job training di Turi Beach Resort Batam untuk 5 bulan lamanya. Saat itu, seperti biasa ketika hari pertama kami memulai aktivitas dengan melakukan orientasi yaitu perkenalan dengan segala macam yang terdapat di Turi Beach Resort, berkeliling kesana kemari, disambut oleh staff-staff yang sedang bekerja, dan tentu saja oleh General Manager. Ketika kami mulai berorientasi di bagian kitchen, di situlah aku melihat sosok wanita berkerudung sedang memasak, awalnya aku kira dia sama-sama training, tapi ternyata dugaanku salah, dia adalah staff. Tidak ada yang istimewa saat itu, aku hanya melihatnya sebentar dan kembali melakukan orientasi.

Waktu terus berlalu, hari demi hari aku lewati, sampai tiba saatnya dimana kami memulai percakapan untuk pertama kalinya, dimana kami duduk bersama untuk menunggu shuttle yang akan membawa kami ke tempat kerja, dan ketika aku sedang menunggu, wanita itu duduk di sampingku, awalnya aku tidak terlalu menghiraukannya, namun sampai akhirnya dia memulai percakapan

“Hai, training dari Bandung ya?” tanya-nya kepadaku
“Hehe, iya.” Jawabku singkat
“Namanya siapa?”
“Fergy”
“Sorry, siapa?” tanya-nya lagi
“Fergy, seperti pergi, pergi…” Jawabku dengan sedikit menjelaskan
“Oh hehe iya…”
“Namamu siapa?” tanyaku balik
“Ira” jawabnya singkat
“Training juga ya?” aku kembali bertanya
“Bukan, aku kerja”
“Oh hehe, aku kira training…”
Dan begitulah percakapan singkat kami, sampai akhirnya shuttle tiba dan kami pun berangkat ke tempat kerja.

Sesampainya di tempat kerja, aku duduk sebentar di smoking area sambil menunggu waktu pukul 15.00, tidak disangka Ira kembali duduk di sampingku, dan dia sedang memegang ponselnya. Aku berpikir mungkin dengan sedikit bercanda aku bisa lebih dekat dengannya, dan ketika dia sedang memainkan ponselnya, aku rebut langsung ponsel dari genggamannya, dan aku langsung membuka instagram, aku berniat ingin memperlihatkan akun instagram milikku, namun sayang koneksinya lambat, dan akhirnya rencanaku gagal, walaupun begitu aku tidak menyerah, kemudian ketika aku sadar koneksinya lemah, aku langsung berkata
“Nanti saja difollow ya, kalau koneksinya lancar hehehe”

Waktu sudah menujukkan pukul 3 sore, dan kami pun mulai bekerja. Pekerjaan dilakukan selama 8 jam, dan apabila kami masuk shift sore yaitu mulai pukul 15.00, maka pekerjaan akan berakhir pada pukul 23.00.
Tak terasa waktu cepat berlalu, dan pekerjaan kami pun selesai, dan ini saatnya kami kembali pulang. Ira tinggal di sebuah kost, dan aku tinggal di sebuah mess Turi Beach Resort.

Keesokan harinya, benar saja ternyata Ira mem-follow instagramku, dan aku pun langsung mem-follow back-nya. Saat itu, tiba-tiba dia berkomentar di salah satu fotoku, dan aku pun langsung membalasnya dengan cepat, sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk meminta kontak BBM dan juga ID LINE-nya, lalu dia pun meng-iyakan dan langsung memberikan kontaknya. Aku merasa begitu senang dan juga gugup, namun aku bertekad untuk terus mendekatinya, karena tidak bisa aku pungkiri bahwa aku tertarik dengannya.

Beberapa saat kemudian, kami langsung berkomunikasi lewat BBM dan mulai saat itu, kami semakin dekat, semakin dekat dan semakin dekat. Tak terasa hari demi hari sudah kami lewati bersama, dan tak disangka kami sudah memulai hubungan, kami saling menyayangi, dan kami saling mencintai. Sebenarnya Ira lebih tua dariku, saat itu aku berumur 21 tahun, dan dia berumur 23 tahun, tapi yang ada di benakku adalah, apa yang salah dengan umur? Cinta tidak memandang umur, bukan begitu?

“Ira, aku gak bisa bayangin, bagaimana nanti kalau masa job trainingku sudah berakhir?” tanyaku kepadanya dengan penuh rasa khawatir
“It’s okay, jarak tidak terlalu penting, apapun itu, sejauh apapun kamu, aku bakalan tetap sayang sama kamu, dan aku bakal tetap cinta sama kamu” Jawabnya
“Begitupun sebaliknya, hanya saja aku gak bisa bayangin bagaimana jadinya nanti, apa aku bisa?”
“jangan khawatir, semua pasti akan baik-baik saja”
“Very well, I’ll try the best”
“Pokoknnya ketika kamu nanti balik lagi ke Bandung, hal yang harus kamu ingat, bahwa aku di sini selalu sayang sama kamu”
“…” aku terdiam dan terharu, dan sedikit menahan tangis
“Sudah, lebih baik kita bicarakan hal yang lain saja ya”
“Hehe, okay…”

Suka duka sudah kami alami, aku tidak bisa kehilangannya, dan begitupun sebaliknya, kami terlalu mencintai satu sama lain, aku begitu nyaman dengannya, sering kali kami tertawa bersama, kami saling bercerita, dan aku selalu ingin membuatnya bahagia, aku selalu ingin membuatnya tenang dan nyaman ketika dia mempunyai masalah. Tapi aku akui, bahwa aku merupakan seorang yang temperamental, aku selalu mudah marah dan emosi, tak jarang aku selalu membuat sakit hati Ira dengan emosiku, namun dia tidak pernah menjauhiku, dia tidak pernah sedikitpun membenciku, dan hal itulah yang membuatku bertanya-tanya ‘kenapa’. Ira selalu menyayangiku, dia selalu berusaha memberikan yang terbaik untukku, aku begitu beruntung bisa memiliki wanita seperti dia.

Sampai akhirnya 5 bulan berlalu, saat itu bulan Desember, tepatnya 28 Desember, setelah berbagai cerita sudah kami buat, suka duka sudah kami lewati, aku harus menerima kenyataan bahwa kebersamaan ini akan segera berakhir, mungkin lebih tepatnya segera berakhir untuk sementara waktu karena aku yakin suatu saat kami pasti bisa bertemu kembali.

“Fergian, sebentar lagi kamu pulang ya hehehe”
“Iya…”
“Selamat ya, akhirnya job training kamu selesai juga”
“Makasih sayang,..”
“Kenapa?”
“Janji ya, kamu harus selalu sehat di sini, selalu baik-baik aja”
“Hey, nanti aja kamu ngomong masalah itu, aku rasa omongan kamu tadi belum waktunya untuk diucapkan”
“Hehehe, maaf…”

Tanggal 4 Januari 2017 aku sudah menyelesaikan semuanya dan tinggal bersiap untuk pulang, sampai akhirnya tanggal 8 Januari 2017 aku harus kembali ke Bandung, Ira sengaja meminta libur kepada Executive Chef agar dia bisa mengantarku ke bandara, karena pada saat itu adalah hari Minggu. Aku sudah membereskan semua peralatan dan juga barang-barang yang ada di mess, lalu Ira menjemputku dan mengantarku ke bandara. Setibanya di bandara Hang Nadim Batam, kami sempatkan untuk berfoto-foto ria, walaupun aku sadari kami berdua saling menahan isak tangis, begitu berat yang aku rasakan ketika aku harus berpisah, ketika aku harus meninggalkan kekasih yang aku cintai.

“This is it…” Ira berkata kepadaku
“I know, gak terasa ya…”
“Fergian…”
“Iya sayang?”
“Kamu baik-baik ya di sana, jaga kesehatan kamu, makan yang banyak, dan kalau kamu udah nyampe di Bandung, tolong langsung kabarin ya..”
“Okay,…”
“I’m gonna miss You here, I will always love You my Fergian…”
“Begitu pun aku, aku bakalan rindu kamu, dan aku juga bakalan sayang sama kamu, I love You” kataku sambil melihat kedua matanya.

Kami berdua pun mulai mengeluarkan air mata, kami mulai menangis, kami sudah tidak bisa menahannya, menahan kepedihan yang harus kami terima, tidak lupa kami saling menukar buku catatan yang sudah kami tulis beberapa bulan sebelumnya, sebuah buku catatan agar bisa dibaca di kemudian hari ketika kami berpisah, atau lebih tepatnya ketika kami harus dibatasi oleh jarak.

Waktu sudah menunjukkan pukul 13.30, dan aku harus segera check-in.
“Sayang, ini saatnya, aku harus masuk ke dalam” kataku sambil mengusap air matanya
“Iya, hati-hati ya…”
“Keep in touch with me”
“Always…”
“Suatu saat nanti, kita pasti bisa ketemu lagi, aku berjanji. Kamu bisa pegang omonganku sayang” kataku sambil meyakinkannya
“Iya, bisa jadi kamu yang ke Batam lagi, atau aku yang pergi ke Bandung”
“Hehe, iya sayangku”
“So, have a safe flight my dear”
“See you next time…”
“See you…”

Dan itulah perpisahan yang harus aku terima, rasa sedih begitu terasa oleh kami berdua, aku selalu sadar dimana ada pertemua pasti ada perpisahan, tapi satu hal yang aku tahu bahwa perpisahan ini hanyalah perpisahan sementara, suatu saat kami pasti bisa bertemu lagi, dan ketika kami bertemu kembali, maka kami akan melanjutkan cerita kembali, kami akan melanjutkan kebahagiaan kami berdua. Cinta memang membutuhkan pengorbanan, termasuk perpisahan. Ira, di mana pun kamu berada, aku selalu menyayangimu, dan aku akan selalu mencintaimu, suka duka sudah kita lalui bersama, aku berharap kita bisa bersatu kembali dan kita bisa tertawa bersama lagi.

THE END

Cerpen Karangan: Fergian Indra Mahardhika
Facebook: Fergian Indra Mahardhika
Fergian Indra Mahardhika biasa dikenal Fergy, pria kelahiran Ciamis 10 Januari 1995, masih seorang mahasiswa STPB (Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung) dan juga merupakan musisi solo karir.

Cerpen Pertemuan dan Perpisahan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Serabi Layla

Oleh:
Seperti kaca cermin, air laut itu memantulkan sekawanan awan putih di antara gelombang-gelombang birunya yang menderu menuju bibir pantai. Sedangkan birunya langit di waktu sore itu seakan tak mau

Pengorbanan Cinta

Oleh:
Hidup ini penuh dengan pengorbanan, mencintaimu juga butuh pengorbanan, ketika rasa cintaku ke kamu sudah mulai ada, ketika itulah aku berani mengorbankan cintaku ke kamu… Banyak yang sudah aku

Cinta Yang Berawal Dari Mimpi

Oleh:
Kicauan burung yang merdu, hembusan angin yang menerpa dedaunan, dan hamparan pesawahan yang indah. Itulah gambaran dari desa tempatku di lahirkan. Di tempat ini pulalah aku tumbuh menjadi seorang

Bunga Terbuang

Oleh:
Sejenak kuhela nafas, sangat terdengar nafasku yang terengah-engah. Kulihat lagi kedepan, ternyata dia sudah sangat jauh. Ingin terus kukejar dia, tapi kakiku tak sanggup, luka ini belum sembuh penuh.

Masa Depan Atau Masa Laluku

Oleh:
Malam hari, seorang gadis menatap layar laptopnya dengan bersedih air matanya perlahan menetes tanpa ia sadari, ketika semua orang dirumahnya telah tidur terlelap. Membuka “FACEBOOK” memang rutinitasnya tiap malam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *