Petikan Terakhir Senar Cinta Rafa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 7 January 2013

Cerita yang telah lama terpendam , Kisah persahabatan dan cinta antara Tia dengan Rafa. Ditengah kota Fentaly yang panas disertai hiruk pikuk kendaraan bermotor yang tidak kenal lelah ternyata masih ada sebuah tempat yang begitu indah yang bernama bukit Mictasathia, bukit ini jarang sekali dikunjungi orang bahkan nyaris tidak pernah. Hanya orang-orang tertentu yang mau memasuki bukit itu, mungkin karena hutannya yang lebat atau apa. Namun berbeda dengan Tia dan Rafa, kedua sahabat ini setiap harinya selalu bermain dibukit ini sampai – sampai mereka tidak ingat waktu, pernah sampai mereka ketiduran dibawah pohon sesawi itu dan baru tersadar keesokan harinya dan ternyata orang tua merka beserta para penduduk sudah berbondong – bondong untuk mencari mereka yang sudah satu hari berada dibukit tanpa sepengetahuan orang tua mereka sedikitpun.

Persahabatan Tia dan Rafa terjalin dengan tidak sengaja, karena mereka berasal dari daerah yang berbeda, Tia berasal dari kota Kupoja sedangkan Rafa berasal dari kota Taruki. Mereka bisa sampai di Kota Fentaly ini karena kedua orang tua mereka memilih untuk pindah kedaerah yang lebih strategis. Rafa memiliki seorang kembaran bernama Ezi, ya kembar identik.

Tia dan Rafa duduk dibangku SMP kelas 7 di SMP KARYA CENDANA, persahabatan mereka dimulai sejak mereka bermusuhan. Ya, awalnya mereka itu memang seperti minyak dan air yang tidak bisa bersatu, namun karena rumah mereka yang bersebelahan dengan cepat mereka bisa akrab dan bersahabat.

Pukul 10.25 tampak dijam dinding dikamar Tia, ia sedang duduk bersila dikarpet bulu pemberian neneknya. Satu dua jam Tia menanti handphonenya berbunyi dan berharap itu pesan masuk dari Rafa. Lalu dari luar jendela tampak Rafa yang memanggil Tia dengan suaranya yang lirih, kaos tipis dengan celana panjang sudah menjadi ciri khas Rafa. Ternyata Rafa ingin menunjukan sesuatu kepada Tia, yah itu adalah lagu baru ciptaannya yang berjudul ‘angel and the dew’, lagunya begitu indah didengar bahkan lagu itu sangan erat dengan mereka.

Setelah itu pukul 13.30, Tia mengajak Rafa pergi ke bukit Mictasathia, seperti biasa burung-burung bernyanyi menyambut kedatangan mereka dengan suaranya yang semerdu suling emas. Sebuah pohon besar bernama pohon Sesawi diujung bukit sudah menunggu mereka untuk berayun didahannya sambil bermain kemericik air sungai nan jernih dan segar “ eeemn kamu tahu ga Raf ?, setiap kita main kesini itu aku ngerasa jadi seorang putri kerajaan” kata Tia dengan gembira. Selalu terdengar suara canda dan tawa yang akrab dengan bukit ini. Dan disaat itu Rafa memberikan sekuntum bunga adelweis pertamanya yang berjumlah sembilan tangkai untuk Tia dan sebuah mahkota dari bebungaan kering di hutan, betapa bahagianya Tia, lalu mereka kembali bermain mereka berlari, meloncat, bahkan terguling ditanah yang licin. Dibukit ini juga mereka saling menyimpan sebuah rahasia tentang perasaan mereka, keinginan mereka, dan lain sebagainya. Bukit ini sudah seperti rumah mereka sendiri.

Hari ini adalah hari istimewa bagi Tia, karena hari ini ia akan mengikuti lomba out bon tingkat nasional. Karena sudah terbiasa naik – turun bukit jadi Tia sudah lihai menghadapi berbagai medan yang sulit dan terjal. Lomba kali ini ia tidak ditemani Rafa, sebenarnya dalam hati Tia sangat mengharapkan kehadiran Rafa namun mau bagaimana lagi pihak sekolah tidak mengijinkan. Tiap detik Tia selalu kepikiran Rafa, Rafa dirumah juga selalu memikirkan Tia, Sedang apa, dimana, sama siapa itu-itu saja yang ada dibenaknya. Rasa rindu dan khawatir tidak bisa dihindarkan hingga akhirnya setiap kali ada kesempatan Tia menyempatkan waktunya yang sempit untuk menghubungi Rafa yang jauh disana.

Hari ini adalah hari persahabatan di kota Fentaly, namun minggu ini benar-benar minggu yang berat bagi mereka karena mereka harus berpisah karena Rafa harus pergi ke rumah neneknya di desa Hundayan karena neneknya sedang sakit keras. Dirumah Tia selalu merindukan Rafa, begitu juga Rafa. Sekarang mereka sudah seperti dinding dan pintu yang saling membutuhkan. Satu hari tanpa bersama bagi mereka serasa satu bulan penuh.

Lambat laun persahabatan mereka sudah sampai ke tahun yang ke- 3, dimana saat itu mereka sudah menginjak usia remaja yang sesungguhnya usia SMA. Ya, Rafa memang tergolong pria yang tampan maka tidak heran jika banyak wanita yang mengaguminya dan itu membuat Tia cemburu namun anehnya Rafa juga cemburu dengan Tia yang selalu didekati pria lain karena keanggunannya. Dan itu membuat persahabat mereka sering dilanda pertengkaran. Namun tidak pernah mereka lupakan bukit Mictasathia, karena ditempat ini mereka hanya berdua dan bermain dengan leluasa bersama keasrian bukit ini. Tempat dimana mereka mengadu , tertawa, dan bahkan mereka pernah mengadakan sebuah pesta kecil disini, yaitu pada hari ulang tahun persahabatan mereka. Bukit ini akan selalu menjadi saksi bisu betapa eratnya persahabatan mereka ini yang tak lekang oleh waktu tak runtuh oleh badai dan tak kenal lelah tawa mereka, bahkan kedekatan Tia dan Rafa jauh lebih dekat dari pada Rafa dengan Ezi yang saudara kembar identik. Mereka mendapat keturunan kembar dari ibu mereka.

Seperti anak remaja biasanya mereka juga suka kebebasan, bahkan berbagai cerita lucu dan unik sering terjadi dalam hidup mereka. Dimana saat mereka nakal, bandel, sakit, manja, marah, dan lain sebagainya. Kenangan itu tidak akan mereka lupakan karena semua kenangan itu telah mereka ukir dalam hati dan pikiran mereka. Persahabatan yang dilandaskan dengan kasih sayang bukan hanya sahabat yang embel-embelan saja.

Suatu hari Rafa jatuh sakit, entah apa. Rafa tidak menginginkan Tia tahu tentang penyakit akutnya tersebut. Rasa penasaran dan kasih sayang Tia membuatya selalu ingin tahu, namun tetap saja Rafa selalu merahasiakannya. Sebagai sahabat yang baik Tia selalu menemani Rafa disaat-saat terberat bagi Rafa, satu dua minggu lagi mereka harus mengerjakan soal try out uji coba pertama untuk kelulusan. Dengan segenap tenaga Rafa mengerjakan soal-soal tersebut , Tia merasa iba dengan keadaan Rafa saat ini yang sangat berbeda dari Rafa yang dulu, canda tawa itu seolah lenyap dari kehidupannya bahkan para kaum hawa yang mengaguminya kini mulai menghindar. Namun satu yang tidak hilang dari Rafa, ia memberi Tia dua tangkai bunga adelweis , dengan senyuman kecil Tia menerimanya namun dengan begitu saja Rafa pergi meninggalkannya dibukit tanpa menghiraukan Tia yang bengong dibelakangnya menyaksikan langkah demi langkah kepergiannya “ Raf, panggil aku saat kamu butuh aku ya, karena aku akan ada untukmu.. selalu. Kamu janagan takut karena kamu tidak sendiri. Kamu masih punya aku, keluarga dan teman-teman yang juga menyayangimu ” kalimat Tia ini membuat beberapa tetesan air mata dipipi merah Rafa.

Ujian demi ujian dilaksanakan Rafa dengan keadaan yang sebenarnya tidak memungkinkan, namun ia tetap yakin pada dirinya, betapa ringkihnya tubuh Rafa saat ini berjalanpun ia tak bisa tegak. Dengan keadaan Rafa, Tia pun semakin menyayangi dan memberi perhatian lebih kepada Rafa namun Rafa yang merasa malu selalu menjauh dari Tia bahkan Rafa sempat mencoba bunuh diri karena depresi yang berlebihan, namun aksinya tersebut dapat digagalkan oleh Tia. “aku tak tahu apa yang harus aku lakukan saat ini, aku bukan apa-apa lagi, aku tidak berguna, aku hanya menyusahkan orang lain” guman Rafa selalu. Ayah dan ibu Tia juga khawatir dengan keadaan anak bungsu dari keluarga bermatabat itu. Dengan segala upaya Tia memberi semangat kepada Rafa.

Pengumuman ujian kelulusan , Rafa menjadi anak paling berprestasi ditahun ini ia mendapat peringkat satu dari sekian ribu siswa di kota Fentaly ini, dan Tia menjadi yang ke 10. Namun saat orang lain bangga dengan hasil yang didapat Rafa, ia sama sekali tidak bangga dengan hasil yang ia peroleh, ia masih saja bergumam “aku tak tahu apa yang harus aku lakukan saat ini, aku bukan apa-apa lagi, aku tidak berguna, aku hanya menyusahkan orang lain”. Hingga saatnya mereka manginjak bangku kuliah, ya mereka masuk di Universitas yang sama namun beda jurusan. Tia masih saja menemani dan menjaga Rafa yang selalu menghindar darinya, entah apa yang membuat Tia menjadi seperti ini.

Hari ini adalah hari ulang tahun Rafa yang ke -20, banyak orang merayakan dengan gembira namun tidak dengan Rafa yang terus berdiam karena baginya berarti usianya sudah dekat, kue tar coklat yang tampak mewah dan lezat tidak ia hiraukan. Dari kejauhan tampak Tia dengan gaun putih anggunnya berlari kearah Rafa dan langsung memeluk Rafa dengan penuh kasih sayang. Hanya linangan air mata terus menetes dari mata Rafa yang telah menyesal karena sudah mencamakan Tia selama ini, balasan peluknya pun membuat Tia merasa berbeda, ia merasakan kenyamanan tersendiri dan dari sinilah muncul benih cinta diantara mereka. Namun Rafa masih jauh berfikir tentang hidupnya yang tidak akan lama lagi, ia enggan mengungkapkan perasaannya kepada Tia. Hingga akhirnya Rafa benar-benar sakit, ia sangan lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa, linangan air mata selalu saja membanjiri pipi Tia saat ia ada disamping Rafa. Dan baru saat itu Tia tahu penyakit Rafa melalui buku Diary Rafa yang ada dimeja kamarnya, ya Rafa menderita penyaki t “Lupus” , wajah Rafa memerah, persendiannya kaku, kepalanya amat sangat berat sampai ia tidak sanggup mengangkatnya. Terkejut dan menangislah Tia, Dengan lembut Tia mengucapkan untaian kata kearah Rafa “ Kenapa Raf?, kenapa selama ini kamu ga cerita sama aku ? Kamu anggap apa aku Raf ? Aku ini Sahabat kamu.. aku akan selalu disamping kamu seburuk apapun kamu ” dalam sekejab Rafa menangis menangis dan menangis dipelukan Tia.

Lalu Rafa duduk sejenak bersandarkan bantal berwarna hijau segar lalu ia menatap Tia dan menyanyikan lagu “ Angel and the dew ” tersebut dengan suara lirih kesakitan dan mata yang lemah.
“ ku pejamkan mataku disaat terakhir aku untuk bersamamu …
Kunyanyikan sebuah senandung dari hatiku hanya untukmu …
Mungkin ini yang aku cari selama ini, cinta.. cinta pertamaku kepadamu…
Tahukan dirimu.. betapa aku menyayangimu..
I love you with all my heart.. no lie oh dear…
maybe you thought we were just friends, but to me you’re more than friends
you’re my angel .. angel of love .. always kept myself .. oo keeping myself ..
with you wholeheartedly love me, I’ll be the dew that is always there for you ..
I am the dew to you, only you hooo
ku pejamkan mataku Kunyanyikan sebuah senandung hanya untukmu ”

setelah itu Tia menghentikan nyanyian itu dan memeluk Rafa sekuat hatinya, tangannya yang lebut terus bergetar dan dingin.. rambut indahnya basah oleh keringat, dan matanya yang bercahaya digenangi air mata. Semenjak itu Tia sudah tahu semuanya dan tidak ada lagi kebohongan, Tia semakin perhatian dan sayang kepada Rafa. Apapun yang terbaik untuk Rafa selalu Tia cari dengan susah payahnya padahal hal itu sama sekali tidak menguntungkannya namun dengan melihat kebahagiaan Rafa saja itu membuat Tia memiliki kebahagiaan dan semangat tersendiri.

Belaian sayang selalu ia berikan kepada kepada Rafa karena sekarang status mereka adalah ‘Pacaran’ wow!!. Setiap pulang kuliah Tia selalu menemani Rafa berkeliling taman dan bukit, menyanyi. Tapi dibalik tawanya Tia menyimpan air mata yang bisa keluar kapan saja. Dipertemuan ini Rafa Memberi tiga tangkai bunga adelweis yang ia cari sendiri dibukit ini dengan jalan terpincang – pincang. Entah apa yang ada dibenak Rafa saat itu, tangis haru Tia pun mulai membasahi pipinya yang manis dan tentu itu membuat Rafa menjadi tidak senang dan merasa tidak berguna sehingga ia berjalan menuju tebing bukit dan terduduk diam. Sempat terfikir dibenak Rafa untuk menyudahi hubungan khusus mereka karena ia merasa tidak akan bisa membahagiakan Tia, namun lain dengan keinginan Tia yang ingin selalu menjaga Rafa. “ Tia, maafin aku yang tidak pernah membahagiakanmu,. Aku hanya bisa menyusahkanmu saja. Aku pikir aku tidak pantas untuk berada disampingmu apalagi menjadi orang spesial karena aku ini hanya sehelai daun yang tak tentu arah “ kata Rafa kepada Tia, lalu dengan sedikit pendekatan Tia memegang tangan Rafa yang dingin “ Raf, aku sudah pernah berjanji kalau aku akan selalu ada untuk kamu, dan dengan adanya kamu disisi aku itu aku sangat bahagia, aku merasa seperti putri ”.

Dihari Rabu ini Tia tidak ada kuliah maka ia menyempatkan diri untuk mengajak Rafa ke bukit, tanpa pikir panjang Rafa menyetujuinya hingga obat yang harus ia bawa kemanapun tertinggal dikamarnya. Dengan dipapah-papah Rafa mendaki terjalnya tanah bukit yang dulu baginya sangatlah empuk dan mudah dilewatinya namun kini sangatlah berbeda sering kali ia terjatuh dan terjatuh. Sesampainya dibukit Rafa duduk di bawah pohon sesawi tua itu dengan nafas yang tidak beraturan karena kelelahan. Mereka bernyanyi, bercanda dan tertawa seperti dulu namun beberapa menit kemudian Rafa sangat merasa pusing dan iapun mencari obatnya.. disaku jaket, celana ,baju bahkan ditas Tia pun tak ada. Betapa bingungnya Tia saat itu, keadaan Rafa semakin parah bahkan hampir pingsan dan pandangannya kabur. Tia mencoba menghubungi rumah namun tak ada satupun yang menjawab panggilan sellulernya. Air matanyapun kembali mengalir karena menyesal “ bodohnya aku ” gumamnya. Dengan kaki gemetaran ia memapah Rafa turun bukit, sesampainya dijalan raya Tia mencari tumpangan yang mau mengantar mereka ke rumah sakit karena keadaan Rafa tidaklah mungkin dibawa pulang kerumah. Sesampai dirumah sakit segera Tia menghubungi tante Farah ( ibu Rafa ) , keadaan Rafa semakin memburuk bahkan seketika ia menjadi lebih kurus dari sebelumnya. Tangis sesal Tia pun kian menjadi dipelukan Tante Farah, bahkan Ezi pun yang terkenal pantang air mata itu menangis dengan derasnya. Hari itu juga Tia mengundang sejumlah teman terdekat Rafa dan seluruh keluarga. Semua mendo’akan Rafa dengan cemas yang berlebih.

Beberapa waktu kemudian dokter keluar dari kamar Rafa, serentak semua berdiri dan terdiam hanya Tia yang menanyakan keadaan Rafa dan ternyata Rafa sudah sadar , tanpa panjang lebar Tia masuk kekamar Rafa dan menyaksikan pangerannya menatap matanya dengan senyuman khasnya “ Hi putri Tia, kenapa wajahmu kaku begitu? Gara-gara aku ya? Aku sudah tahu bahwa aku itu hanya benalu untuk senyummu ” kalimat Rafa yang membuat Tia merasa lemah . Rafa lalu memeluk Tia dan minta maaf karena telah membuatnya khawatir dan repot tapi Rafa meminta kepada Tia untuk mengantarnya ke Bukit lagi. Begitu mereka keluar dari kamar, semua menatap Rafa yang pucat mayat dengan haru namun Rafa hanya memandangi mereka dengan senyuman dan menyapa mereka satu per satu “ mama, papa, tante, om, sisca, fria, Ken, Jua, Rispa, michael, erwin, chaca, redy, kakek ada disini? Kakek.. (memeluk kakeknya) bi yum, pak rumi, eeh bu Ita, pak Tio. Mari semua ”. Lalu mereka semua mengikuti Rafa dan Tia ke bukit Mictasathia, baru kali itu mereka mengajak orang lain kebukit dunia mereka itu.

Setibanya dibukit mereka semua terkagum-kagum dengan pesona pemandangan di bukit dan terus berfikir “ mengapa sedari dulu aku tidak pernah menghiraukan tempat ini ” Rafa dan Tia hanya tersenyum. Beberapa jam kemudian Rafa mengajak Tia untuk naik ke atas pohon. Dari bawah kak Ezi terus mempotret mereka, tante Farah juga mengabadikannya sebagai video. Diatas sana mereka tertawa, menyanyi, bercanda, dan saling menyayangi. Lalu orang-orang dibawah mulai berpergian kecuali kak Ezi yang mengawasi Rafa. Tiba-tiba saja angin berhembus lebih kencang dari sebelumnya dan burung-burung penghuni bukut iyu berkumpul disekitar pohon sesawi tersebut, lalu mereka berkicauan merdu bagai shymponi.

Lima menit sudah mereka diatas sana, kak Ezi masih melihat mereka bernyanyi dan tertawa, ia mengabadikannya dengan kameranya. Waktu terus berjalan, senyuman Rafa yang semakin membius Tia pun membuat Tia enggan untuk melepaskan tangannya dari pelukan Rafa, Tia berharap masa-masa seperti ini akan abadi untuk selamanya. Detik demi detik Rafa menyanyikan lagu Angel and The Dew yang hampir membuat Tia tertidur. Diatas sana mereka menyaksikan kemericik air sungai yang menuju ke air terjun dan indahnya matahari terbenam,
Detik demi detik menit demi menit hingga sepuluh menit mereka diatas sana, tiba-tiba dedaunan pohon Sesawi itu mengering dan gugur dan menghujani mereka. Tia merasakan tangan Rafa mulai mendingin dan lemas, air matanyapun mengalir. Rafa kembali menyanyikan lagu itu namun semakin lirih dan lirih dan akhirnya Rafa memberikan sebuah kalung berbandul mas putih bertuliskan “TR_A&D” lalu ia tersenyum dan memberi sebuah ciuman dikening Tia, dan memeluk tia dengan tangan yang gemetaran. Kak Ezi dibawah terus mengabadikan moment itu dengan kamera yang batrainya hampir habis.

Tiga belas menit mereka berdua diatas, Rafa memberikan setangkai bunga adelweis terakhir untuk Tia dan berkata “ Tia, jika nanti aku harus pergi aku mohon kamu jangan sedih, jika nanti aku tak kembali aku minta kamu untuk menjaga Ezi, kamu tahu ga? Ezi itu kan takut banget sama tikus dan cicak hihihi ”. Akhirnya Rafa tertawa lirih dengan tatapan matanya ke arah Tia, Tia merasa ada yang aneh hingga akhirnya, menit ke lima belas mereka diatas sana terdiam. Hujan gerimis membasahi mata Rafa yang tengah terpejam dipelukan Tia itu kini sudah tak bernyawa. Rintih tangisan Tia terdenga r oleh kak Ezi, dengan hati pilu kak Ezi memanjat pohon dan menurunkan Rafa yang sudah dingin tersebut. Tubuh Tia lemas dan basah menyaksikan kekasihnya yang kini sudah kaku tidak bernyawa. Dipemakaman hati Tia tampak begitu hancur dengan tangisan yang menjadi-jadi, saking teriknya matahari akhirnya para peziarah pulang kecuali kak Ezi dan Tia. Namun mereka mendapat kejutan istimewa, Rafa nampak hadir dihadapan mata mereka dan mengucapkan selamat tinggal dan bisikan kecil kepada Tia “ aku tidak benar – benar meninggalkanmu namun aku pergi untuk menjadi abadi denganmu ”.

Kak Ezi berjanji akan selalu menjaga Tia untuk Rafa hingga lambat laun mereka menjalin hubungan yang berujung pada pernikahan “ Tia, aku akan berusaha menjadi seperti Rafa seutuhnya mulai dari hal sekecil apapun dan dengan demikian aku berharap kamu tidak akan sedih lagi dan aku tidak ingin melihat kamu menangis karena mengingat Rafa ” kata Ezi dengan penuh kasih sayang, setelah menikah mereka pergi ke bukit untuk mengenang Rafa dan akhirnya mereka melihat sosok Rafa bahkan Tia sempat memeluknya, dipertemuan itu Rafa berkata bahwa bunga adelweis pemberiaannya itu adalah sebagai bukti cinta tulusnya yang tidak akan pernah busuk dan mati walau dirinya sudah tiada namun cintanya akan tetap abadi untuk Tia.

Cinta dapat membutakan seseorang, namun cinta akan memberi kehidupan dan semangat lebih untuk orang tersebut. Sering cinta hanya dipandang sebelah mata, namun apa daya? Cinta memang selalu ada dalam setiap hembusan nafas semua mahkluk hidup dan tanpa cinta kehidupan terasa tidak berarti. Namun kadang para remaja menganggap cinta itu hanya kepada kekasih dan akhirnya cinta tulus orang tua hanyalah angin lalu saja. Cinta itu adalah sebuah anugrah yang harus tetap dijaga agar selalu ada dalam setiap langkah perjalanan kita. Cinta itu bagai baju tanpa sebuah kancing pun maka akan tampak kurang menarik.

Cerpen Karangan: Aulia Farhah FA
Blog: auliaindonesia.blogspot.com
Facebook: auliafarhah.a[-at-]facebook.com
SD N 2 Prambanan
SMP N1 Prambanan
@AuliaFarhahFA

Cerpen Petikan Terakhir Senar Cinta Rafa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat Atau Musuh

Oleh:
Terasa hariku tak pernah dipenuhi dengan namanya kasih sayang yang tulus. Mereka hanya memanfaatkan apa yang aku miliki. Aku tau dan aku pun sangat mengertikan hal itu. Tak ada

Cinta Jarak Jauh

Oleh:
Aku melangkahkan kakiku ke ruang makan. Seperti biasanya setelah selesai mandi kami harus berkumpul di ruang makan untuk sarapan. Aku terdiri dari dua orang, aku -Raina- dan kakak laki-lakiku

Sahabat Sosmed

Oleh:
Berkali-kali kulihat handphone seluler yang ada di tanganku. Salah satu teman dari akun pribadiku di Sosmed memintaku untuk bertemu dengannya. Berulang kali kupandang foto yang ada pada akun pribadinya

Dipenghujung Penantianku

Oleh:
Nada berganti nada mengiringi langkahku, disaat itu aku sedang dibalut kesepian tepatnya patah hati. Andai Tuhan menyatuhkan dua hati yang berbeda ini, mungkin tiada tangis pilu yang melarat jiwa

Hilang dan Kembali

Oleh:
Kecelakaan tunggal yang melibatkan taxi biru di Bundaran Waru itu menenggelamkan Diqha dan Ari dalam lautan kendaraan dan manusia yang terpanggang di bawah sinar matahari. Tak jarang ucapan kotor

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *