Rasa yang Pernah Tinggal (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 4 May 2021

Setelah kepergian Andrian, aku masuk ke kamar. Kata-kata panjang Andrian masih terngiang dalam telinga. Kepalaku kini dipenuhi sejuta kebimbangan, tetap di sini atau pergi mencari asa ke luar kota lagi. Berkali-kali aku mencoba untuk berpikir keras akan masalah ini. Semakin lama, aku merasa masalah ini bukanlah masalah yang sepele. Aku mulai berpikir, pasti ada tujuan lain yang lebih penting kenapa kedua orangtuaku meyuruhku untuk berkelana selagi masih muda. Mencari arti kehidupan yang sebenarnya.

Akhirnya waktu yang ditunggu kedua orangtuaku telah tiba. Aku memutuskan untuk mengikuti saran mereka. Aku memilih untuk bekerja di Surabaya dengan alasan banyak saudara yang tinggal di sana. Dengan diantar kedua orangtuaku, aku berangkat dengan menenteng koper. Kami berpisah di terminal bus. Sungguh berat hatiku kembali meninggalkan mereka yang semakin menua. Ibu, bapakkk.. Tunggu aku kembali kepelukanmu, tunggu aku kembali membawa arti kehidupan yang engkau maksudkan.

Menginjak tahun ketiga aku mulai nyaman hidup di Surabaya. Mungkin butuh waktu yang lama untukku bisa beradaptasi dengan kerasnya kehidupan kota. Dan mungkin, tahun ini merupakan tahun keberhasilan adaptasiku. Maybe.

Setiap libur semester aku selalu pulang kampung. Melepas rindu dengan kedua orangtua. Dan sesekali aku menanyakan kabar Andrian, karena selama aku di Surabaya tak pernah sekalipun aku menghubunginya. Hanya terkadang aku menanyakannya lewat bapak.

“Bapak, Via mau bicara sebentar. Ada sesuatu yang ingin Via katakan ke Bapak”, aku duduk di samping Bapak sembari melebarkan senyum.
“Mau bicara apa to, Nduk? Andrian?”.
“Bukan, Pak. Bukan tentang Andrian, tapi ini tentang tes CPNS, Pak. Begini, Pak. Kan tahun ini telah dibuka pendaftaran CPNS. Bagaimana kalau saya ikut mendaftar di sini, Pak?”, ucapku pelan-pelan. Karena aku tahu, bapakku yang semakin tua tidak semudah dulu dalam menangkap pembicaraan orang lain, karena itu aku harus menjelaskannya dengan pelan dan hati-hati.

“Hla terus pekerjaanmu di Surabaya bagaimana? Kamu tinggalkan begitu saja, Nduk? Apa tidak sayang, kamu sulit-sulit mencarinya, kemudian kamu tinggalkan begitu saja”.
“Begini, Pak. Meskipun gaji saya sebagai guru honorer di sekolah swasta tempat saya mengajar sudah memuaskan bagi saya. Tapi saya belum PNS, Pak. Menurut saya, tidak salah jika saya ikut tes CPNS di sini. Siapa tahu, Allah menghendaki saya diterima jadi guru PNS di sini. Kan saya bisa dekat dengan bapak dan ibu, bisa menemani masa tua bapak dan ibu. Lagi pula Mas Andik juga sudah bekerja di luar kota, kalau semua anak Bapak kerja di luar kota, lantas siapa yang akan mengurus bapak dan ibu?”.

Terlihat Bapak mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sepertinya masih berpikir. Kemudian Bapak memanggil Ibu kemari, bergabung dengan kami dan membicarakan masalah yang kuutarakan. Akhirnya terjadi musyawarah antara aku, ibu, dan bapak. Bapak dan ibu benar-benar memutuskannya dengan matang. Mereka memberikan begitu banyak pertimbangan untuk masa depanku. Sebelum kami mengakhiri musyawarah, Bapak memberiku izin untuk mengkuti tes CPNS, begitu juga dengan ibu. Hatiku merasa lega, sampai-sampai aku menangis. Menyambar kedua orangtuaku dengan pelukan dan cucuraan air mata. Terima kasih yang tiada tara kuucapkan untuk mereka, malaikat-malaikat tak bersayapku. Bapak dan ibu.

“Sudahlah, Nduk. Tidak perlu kamu menangis seperti ini. Ibu tahu kalau selama ini kamu terpaksa memenuhi saran Bapak dan Ibu. Dan akhirnya kamu tahu bahwa hidup itu tak semudah yang kau bayangkan. Namun akhirnya kamu berhasil menemukan jati dirimu yang sebenarnya. Kamu sekarang sudah bisa membuat kebijakan yang baik. Ibu hanya bisa berdoa, semoga engkau menjadi wanita yang sukses dan senantiasa sholehah”, aku hanya mengangguk dipelukan ibu. Air mataku masih mengalir deras, tangan ibu yang mulai keriput mengelus pelan kepalaku.

Tak ingin mengecewakan kedua orangtuaku. Aku menghabiskan hari-hariku dengan belajar untuk tes CPNS, dan tidak lupa untuk tetap berdoa kepada Yang Kuasa. Semoga Allah memberikan kemudahan untukku kelak, aamiiin.

Jantungku berdebar kencang ketika tiba saatnya pengumuman hasil tes yang dilaksanakan beberapa hari yang lalu. Sehari sebelum tanggal pengumuman tiba, rasanya lidahku beku dan semua hambar. Tidurku tak nyenyak. Di kepalaku hanyalah bayangan akankah aku diterima menjadi PNS, bagaimana jika aku tidak diterima? Semua bayangan itu selalu muncul dalam otakku.

Sesuai jadwal, hasil tes akan diumumkan hari ini pukul 13.00 di website resminya. Sejak setengah satu aku sudah siap siaga menunggu waktu tersebut, aku pun mengaktifkan alarm di ponselku sebagai peringatan bahwa waktu telah menunjuk pukul 13.00. Tapi, rasanya waktu berjalan begitu lambat, seakan semua berubah menjadi siput. Berkali-kali aku memandang jarum jam yang setia bertengger di dinding. Mungkin ini peringatan dari Allah supaya aku senantiasa sabar menghadapi waktu siput ini.

Tiba-tiba alarmku berdering kencang. Ibu dan bapak yang menunggu di ruang tamu segera menghampiriku, menanyakan pengumuman tersebut. Aku segera menggeser-geser layar ponsel, mencari namaku yang berinisial V. Betapa terkejutnya diriku, ketika namaku terdaftar sebagai CPNS yang diterima menjadi PNS. Secara refleks, tubuhku sujud syukur mengucap alhamdulillah kepada Allah SWT. Ibu terlihat meneteskan air mata, dan ayah mengucapkan doa-doa syukur untuk-Nya.

“Terima kasih, Ya Allah. Engkau telah mengabulkan doa hamba. Terima kasih ya Allah”, kutengadahkan kedua tanganku dan melantunkan kata-kata syukur kepada Sang Esa. Bapak dan ibu kemudian memeluk erat tubuhku.
“Alhamdulillah, engkau telah mempermudah urusan anak kami, Ya Allah”, ibuku memanjatkan syukur sembari tetap memelukku.

Kini aku tak perlu jauh lagi dengan malaikatku. Setelah aku diterima menjadi PNS, aku bisa bekerja di salah satu sekolah negeri yang tidak jauh dari rumahku. Semilir angin pedesaan sekarang bisa kunikmati kapanpun aku mau. Suasana damai pedesaan kini telah kembali melekat disetiap langkahku. Terima kasih Ya Allah.

Entah dari siapa Andrian mendengar kabar bahwa aku diterima menjadi PNS. Mungkin bapak yang memberitahu, karena selama ini bapak sering berkomunikasi dengannya. Sekitar tiga minggu setelah pengumuman hasil tes CPNS, Andrian datang ke rumah. Ia berkata bahwa ia punya perlu dengan bapak dan ibu. Aku hanya menanyakan kabarnya dan menyuguhnya secangkir kopi, kemudian aku kembali ke belakang. Perbincangan antara Adrian dengan Bapak terlihat begitu serius, aku tak berani untuk mendekatinya. Apalagi mendekatinya, mengupingnya dari kejauhan pun aku tak berani.

Setelah Andrian pamit, bapak memanggilku.
“Ada apa, Pak?”, tanyaku setelah membenarkan posisi dudukku.
“Begini, Via. Tadi Nak Andrian datang ke sini melamarmu. Ia dengan begitu berani datang sendiri dan membawa sebuah lisan untuk melamarmu. Bagaimana Via, apakah kamu mau menerimanya, Nduk?”, tutur kata Bapak terdengar jelas ditelingaku, hal ini membuat jantungku berdetak begitu cepat.

“Bapak, mengenai hal ini Via serahkan ke Bapak dan Ibu. Jika Bapak dan Ibu merestui, Via tentu mau menerima lamaran Andrian, Pak, Bu. Karena Via yakin, Bapak dan Ibu tahu pantas atau tidakkah Andrian menjadi imam Via”, jawabku pelan.
“Via, mulai sekarang kamu panggil Andrian dengan panggilan Mas Andrian, Nduk. Bapak dan ibumu merestui hubungan kalian. Jadi. secepatnya Bapak dan Ibu akan membicarakan pernikahan kalian dengan orangtua Andrian, karena Bapak ingin kamu segera didampingi seorang laki-laki halalmu, Nduk. Bapak tidak mau acara pacar-pacaran, itu sudah tidak pantas lagi dengan umurmu yang sekarang, Nduk”, jelas Bapak dengan penuh bijaksana. Aku menganggukkan kepala sebagai tanda bahwa aku setuju dengan keputusan Bapak.

Alhamdulillah, Engkau telah memberikan kebahagiaan yang lengkap untuk hamba dan keluarga hamba, Ya Allah. Seperti yang pepatah katakan, bahwa apa yang kamu tanam hari ini itulah yang akan kamu petik esok hari.

Cerpen Karangan: Vira Maulisa Dewi
Penulis bernama Vira Maulisa Dewi, yang sering disapa Vira. Ia seorang mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Jember. Penulis berasal dari Pacitan, Jawa Timur. Menulis adalah salah satu hobinya. Menulis adalah cara ampuh untuk mengeluarkan isi hati yang terlampau lama dibumikan dalam tubuhnya.

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 4 Mei 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Rasa yang Pernah Tinggal (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Satu Ginjal Satu Dunia

Oleh:
“Hei, Alex. Tetaplah hidup sampai aku kembali!” Itulah kata terakhir yang diucapkan Ray padaku sebelum ia berangkat menuju Singapura untuk mengejar cita-citanya, yaitu menjadi dokter. Dan saat itu aku

Rindu

Oleh:
“Loe beneran nggak mau jalan sama gue ntar sore?” Tanya Bayu padaku. “Males ah!” “Kok gitu sih Rin? Kemarin ajah Loe semangat banget pengen ke mall. Trus sekarang, Loe

Hari Yang Bersamaan (Part 2)

Oleh:
Tiga jam berlalu aku buang sia-sia untuk melamun, mondar-mandir kesana kemari tak punyai tujuan tertentu, memandang atap yang tertutup esbes berwarna putih ternyata dapat memberiku ide, “Dina”. Iya aku

Ingatan Yang Hilang

Oleh:
Aku Ross Mochammad Alifano berumur tiga belas tahun, berkepribadi baik, sopan dan jujur. Pada suatu pagi yang berkabut tipis di depan rumah aku melihat seorang gadis cantik berambut pirang

My Mother, I Miss You

Oleh:
“Bu, minta duit mau pergi kerja kelompok!” pinta Rina maksa pada ibunya. “Ibu sedang tidak ada uang nak, tinggal Rp. 20.000 inilah uang ibu untuk belanja besok!” jawab ibu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *