Si Maman

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 10 September 2015

Jatuh cinta kepada orang itu merupakan hal yang sering terjadi di setiap orang tetapi pura-pura jatuh cinta kepada banyak orang itu hal yang sangat menyebalkan. Seperti yang dilakukan Maman, salah satu siswa SMA yang terkenal dengan sifat playboynya. Contoh seperti hari ini dia merayu salah satu siswi sekolahnya di depan kelas padahal bel masuk kelas akan berbunyi sekitar sepuluh menit lagi.

“Yanti!”
“aya naon kang?”
“Yanti, tahu gak apa bedanya kamu sama matahari?”
“gak tahu kang”
“Bedanya kamu dengan matahari yaitu kalau matahari menerangi bumi kalau kamu menerangi hati aku”
“ah akang gombal”
“ih akang gak gombal apalagi sama Yanti, cewek cantik sejagad raya”

“ekheumm…” terdengar suara dibelakang Maman
“Yanti batuk?”
“Eh kang. Yanti masuk kelas dulu ya?” sembari lari.
“itu si Yanti malah kabur ke kelas”
“Ekheumm. Ekheumm!”
“siapa sih yang berdehem terus daritadi ke cowok ganteng” ujar Maman sembari berbalik badan
“Eh ibu, sudah lama di sini?” sembari nyengir
“basa-basi deh, ngapain kamu di sini? Bukannya masuk kelas dasar anak nakal”
“ah Ibu cantik, Maman itu anak ganteng bukan anak nakal. Dan itu salah belnya gak berbunyi”
“Makanya jangan asyik pacaran mulu, dari tadi juga belnya sudah berbunyi dan salah itu telinga kamu Maman…” dengan nada marah.
“hehe iya, permisi bu” ujar Maman pergi ke kelasnya.

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 15.00 WIB, itu berarti waktunya pulang sekolah. Dengan rasa percaya diri yang tinggi Maman berjalan seperti seorang pangeran yang berburu cinta para putri yang kesepian. Tetapi tiba-tiba langkahnya terhenti ketika melihat seorang cewek yang manis dan cantik jelita berjalan seperti menuju ke arahnya. Tapi dengan seketika harapannya patah karena ternyata cewek itu hanya lewat, tetapi bukan Maman namanya bila dia belum berusaha mendapatkan yang dia mau.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Maman datang ke sekolah untuk bisa mencari dan menunggu cewek yang kemarin di depan gerbang sekolah. Akhirnya dia pun bertemu dengan cewek itu, dengan ide cerdiknya dia pura-pura lari dan menabrak cewek itu.

“eh maaf” ujar cewek itu.
“ih yang ada Aa yang harus minta maaf sama cewek manis kayak kamu, karena Aa yang salah. Oh ya ada yang sakit gak?”
“iya, gak kenapa-kenapa kok”
“sekali lagi Aa minta maaf ya? Tadi tuh Aa lagi buru-buru mau ngambil hp Aa yang ketinggalan di taksi”
“hem, gawat dong”
“iya tapi sudah jauh taksinya, eh boleh pinjam hp kamu buat telepon hp Aa biar supir taksinya bisa nganterin hp Aa gitu”
“oh ya, ni…”

“untung volume hp gue, gue matiin” ujar Maman dalam hati.
“nih.. terima kasih”
“sudah? gimana kata supir taksinya”
“gak keangkat, tapi gak perlu khawatir masih banyak kok hp Aa di rumah. Eh kita belum kenalan, nama Aa Maman biar nama norak tapi ganteng kan?”
“oh aku Ratih”
“terus kalau gitu buat apa tadi sibuk mau ngejar taksi” sambung Ratih dalam hati.

Tegang, bingung, pusing, dan kesal semua tercampur aduk dengan yang dirasakan oleh Maman, dalam mengerjakan ulangan Matematika dan sampai waktu habis tak ada satu pun soal yang dia jawab. Dengan wajah murung dia membuang kertas hasil ulangan matematika tadi ke tempat sampah lalu dia pergi entah ke mana. Di sisi lain Ratih melihat kejadian itu dan setelah Maman pergi dia mengambil kertas hasil ulangan matematika Maman. Dia merasa prihatin dengan kondisi belajar Maman. Lalu Ratih pun menemui Maman yang sedang makan mie ayam kesukaannya di kantin.

“boleh aku duduk di sini?”
“eh boleh dong neng cantik. Ada apa? Kangen ya sama Aa?”
“hm Man, ini punya kamu kan?” sembari memperlihatkan kertas hasil ulangan matematikanya Maman. Tapi Maman diam tanpa kata tak menjawab pertanyaannya Ratih.
“Man, maaf ya aku lancang sama kamu tapi itu semua aku peduli sama kamu”
“sudah jangan pedulikan itu, mending kita ngomongin hubungan kita selanjutnya. Ya jalan bareng alias kencan gitu?”
“oke tapi ada syaratnya, kamu harus mau belajar dan dapat nilai di atas KKM di uts besok”
“hah? Ogah ah kecuali kalau imbalannya jadi pacar kamu”
“hm.. deal”
“beneran?”
“iya, asal kamu benar-benar belajar”
“oke deh neng cantik” sembari senyum bahagia.

Hari demi hari Maman berubah 180 derajat menjadi rajin belajar dan dia bisa mengisi soal-soal yang di uts kan dengan baik. Seminggu kemudian hasil uts dibagikan Maman mendapatkan nilai diatas KKM.

“Ayang Ratih…”
“Ayang? Maman apaan sih?”
“kok apaan sih? Kan eneng sudah janji sama Aa”
“jadi kamu dapat nilai bagus? Wah selamat ya aku bangga deh sama kamu Man”
“Ah ayang Ratih Aa Maman jadi malu”
“bukannya kamu gak punya malu ya?”
“yey ngeledek, tapi gak apa-apa karena aku tahu kamu ngeledeknya ngeledek cinta kan sama aku?”
“hehe iya deh”
“oh iya eneng tahu gak? Perasaan Aa ke eneng itu kayak kentut”
“kentut? Ih jorok kamu”
“Beneran kayak kentut, kalau ditahan sakit kalau dikeluarin malu”
“haha kamu..”

Selesai

Cerpen Karangan: Desi Fauziah
Facebook: Desi Fauziah
Cerita ini membuktikan bahwa setiap orang bisa berubah lebih baik meskipun karena orang lain tapi selama itu baik untuk kita kenapa enggak.

Cerpen Si Maman merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sang Mujahid Jatuh Cinta

Oleh:
Ponselku berdering tanda panggilan masuk, Andi incoming call tertera dilayar LCD ponselku. Ternyata sepupuku yang satu itu rupanya! Ku angkat, “Assalmu’alaikum Ndi?” “Wa’alaikumussalam mbak! Piye kabare mbak Rahma?” suara

Lilin 17 Tahun Ku (Part 1)

Oleh:
Dalam diamku aku selalu bertanya tentang suatu hal yang tak pernah terpecahkan dalam teka-teki hidupku. Terkadang aku merasa bahwa semua ini hanyalah sebuah kisah yang membuatku termenung dalam satu

Tuhan Izinkan Dia Hidup

Oleh:
Masa muda masa yang penuh warna, derita, bahagia, dan juga penyesalan bercampur jadi satu. Begitu juga dengan masa mudaku, aku selalu berpikir seandainya saja aku tidak memilih jalan itu

Krisdiawati

Oleh:
Perempuan bermata sendu itu menjadi candu bagiku. Saban hari bayang tatapan sendu matanya tak mampu aku sapu dari pikiranku, aku lemah terpesona dengan tatapannya. Apakah ini sebuah pembuktian pernyataan

Seribu Tahun

Oleh:
“Non. Non Kiran, bangun Non! Sudah jam 7, Mas Bian sudah jemput ada di bawah,” suara Bi Yuki membangunkanku pagi itu. “Iya Bi, aku bangun, bilang Bian tunggu setengah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *