Terpleset Cinta di Lapangan Hijau (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 25 April 2017

Mentari bersinar dengan antusias menyambut pagi, lain halnya aku yang bermalas-malasan untuk memulai aktivitas hari ini. Berangkat pagi-pagi dan menemukan pemandangan yang mengesalkan. Tak biasanya aku berangkat pagi, aku pun hari ini malas. Karena bosan di rumah, aku berangkat lebih pagi walaupun lima menit lebih pagi dari biasanya tapi suatu hal yang membuat temanku heran. Biasanya aku berangkat saat bel berbunyi. Ety adalah siswa yang santai dalam hal berangkat sekolah. Itu masih lebih baik, lebih parahnya aku biasanya berangkat saat guru masuk. Itulah aku yang sesungguhnya. Ehh, pemandangan yang mengesalkan tadi apa?

Ety adalah cewek malas yang sok kuat dan tak menyukai anak manja apalagi cowok itu hal yang dibenci. Saat aku malas dan mencoba berangkat pagi niatnya biar punya greget melakukan aktivitas. Tapi, aku melihat cowok yang diantar ibunya dan dia telinganya berbalut kassa. Mungkin dia terluka telinganya. Mungkin. Sebenarnya dia ganteng. Berkulit kuning langsat, tinggi, kekar seperti atlet di televisi gitu. Sayangnya, dia diantar ibunya. Aku pun langsung melabeli dia ‘anak mama’ atau ‘anak manja’. Mungkin karena aku seumur-umur baru sekali diantar kesekolah itu pun TK karena hujan dan paying mau dipakai.

Bel masuk berbunyi. Aku duduk santai di bangku dengan posisi tanpa dosa. Pasang posisi enak. Benar-benar enak. Kenapa tidak? Aku sudah hafal bel berbunyi jam 07.00 dan guru akan masuk jan 07.30 dan saat ini belum datang guruku. Itu pasti.
“Et, mimpi apa semalam? Kok udah berangkat jam segini?” pertanyaan yang mengusik posisi santaiku.
“Kepo, mimpi liat kamu dihukum lari 100 kali sampai pingsan.” Jawabku kesal. “Ehh, Sep! Kamu tau nggak cowok yang telinganya dibalut kassa?” lanjutku penasaran.
“Oh, Egi? Dia rumahnya deket lho. Bapak sama ibunya guru lumayan terkenal. Kakak-kakaknya pinter dan dia juga pinter masa kamu nggak tau sih? Kakak kelas kita kok.” Jelasnya panjang lebar dan hanya kusambut dengan anggukan dan senyuman termanisku tanda terima kasih. “Ganteng sih, pinter juga tapi kok diantar juga ke sekolah” batinku dalam hati.

“Kriiiing…” bel tanda berakhirnya jam pelajaran berbunyi. Bel yang amat dirindukan siswa saat jam-jam kritis (jam akhir, waktunya pulang, jam pas lagi ngantuk-ngantuknya, jam penantian ketemuan sama pacar begitulah biasanya).
Aku bergegas pulang dan langsung berlari keluar kelas.

Sesampainya di gubuk ternyamanku, kurebahkan tubuhku melepaskan rasa lelah.
“Til, kenal Egi?” suara kakakku mengagetkanku saat mulai ngantuk (maklum Ety termasuk pelor, nempel molor).
“Egi? Siapa dia?” tanyaku penasaran. Dalam hati aku sudah menduga Egi si cowok manja yang tadi pagi diantar ibunya.
“Masa kamu nggak tau sih? Dia kan pintar, ganteng. Benar-benar minim ya sosialmu.” Oceh kakakku yang selalu menilaiku tak pernah lulus bersosialisasi. Aku memang anak yang paling malas berinteraksi dengan orang apalagi yang tak kukenal.
“Oh, dia. Baru tau tadi pagi. Si cowok manja yang diantar ibunya ke sekolah. Lagi sakit kan? Kayaknya sih soalnya telinganya dibalut kassa.” Jelasku dengan nada agak illfeel.
“Iya. Kok manja sih? Setahuku dia bukan anak manja tapi anak yang mandiri pas kebetulan aja diatar mungkin. Aku sering kok pulang sekolah sama dia. Salam buat dia ya? Dia tau kok namaku. Jangan lupa sampaikan biar kamu kenal nambah teman juga” ejeknya dengan nada yang semangat dan mencubit pipi kananku kemudian beralih pergi. Aku hanya senyum terpaksa sambil memegangi pipiku.

Pagi hari ini suasana kurang mendunkung bagi mereka yang semangat. Bagiku mendukung karena aku punya beban berat. Menyampaikan salam pada cowok manja itu. Cowok tak ku kenal. Menyebalkan. Galau didukung dengan suasana mendung. Cocok.
Seperti biasanya aku berangkat ke sekolah saat bel masuk berbunyi. Dan mengikuti adat pagi hari sebelum ada guru. Nggosip. Biasalah cewek dimana-mana hobinya bergosip. Meskipun sebenarnya jadi bahan gossip itu kurang mengenakkan hati. Tapi, begitulah wanita. Aku pun sebagai wanita bingung sendiri.

Oke, pelajaran di skip. Bel istirahat berbunyi dan sesuai adat siswa, tempat favorit istirahatnya adalah kantin. Kalau anak sepertiku sih favoritnya kantin ya meski aku termasuk anak pinter di kelasku tapi, aku tak hobi berkunjung ke perpustakaan. Mungkin tak seperti Egi. Mungkin. Setidaknya adatku lebih baik dari mereka yang memiliki hobi ketemuan sama pacar saat istrahat. Di kantin aku melihat Egi. Ternyata dugaanku salah, kukira dia hobi ke perpustakaan. Namun, dilihat dari gayanya bersama teman-temannya dia hobi nongkrong di kantin. Mungkin juga. Ibu kantin pun mengenalnya dan terlihat sangat akrab dilihat dari gaya dan bahasanya berbincang. Aku mencoba menyampaikan salam kakakku tapi, aku ragu dan gagal. Aku tak punya nyali. Gengsi dong dia lagi kumpul sama teman-temannya. Aku kembali ke kelas setelah selesai makan.

Saat di jalan aku didahului olehnya. Dia berjalan sendiri. Kebetulan aku bisa menyampaikan salam kakakku.
“Egi!!” teriakku agak malu. Dia moleh kearahku bingung.“Ada salam dari kakakku, katanya dia sering pulang sama kamu” lanjutku.
“Mbak Fria?” tanyanya penasaran berjalan mendekatiku.
“Iya. Kenal?” tanyaku ragu, disambut tawanya. Aku merasa salting dan malu.
“Nggak cuma kenal. Kenal buangeet. Oh, jadi kamu yang namanya Ety yang hobi nonton bola?” jelasnya sok tahu. Aku kaget mendengar kalimatnya. Ternyata kakakku menceritakan aku padanya. Benar-benar memalukan. Aku hanya tersenyum terpaksa tanda jawaban ‘iya’.
“Besok lihat sepak bola, ya!! Aku besok minggu ada pertandingan jam 08.00 mulai. Kalo mau nonton aja, jangan lupa ajak Mbak Fria sama teman-temanmu juga. Salam kembali buat Mbak Fria.” Cerocosnya dengan cepat dan menepuk bahuku lalu pergi melambaikan tangan tanpa menunggu jawabanku. Aku hanya terheran-heran dan mlongo semlongo-mlongonya. Aku benar-benar sudah berpikiran negatif terhadapnya. Setelah aku melihatnya bersama teman-temanya dan berbicara langsung dengannya penilaianku berbalik 180 derajat. Benar kata kakakku. Aku merasa malu sendiri.

Minggu pagi aku diijinkan menonton sepak bola pertandingan yang dikatakan Egi. Setelah membantu kakakku di dapur aku pergi menonton sepak bola di lapangan dekat rumahku. Dan ternyata pemainnya dia. Ya, Egi adalah pemainnya. Lebih tepatnya dia seorang kapten. Aku melihat caranya bermain. Sangat lihai menggiring bola, mengoper dan memainkannya dengan indah. Dengan semangat dia memotivasi temannya. Sesekali dia melihatku dan tersenyum. Kubalas dengan senyuman termanisku. Sesekali juga dia melihat ke arah penonton sebelahku dan melambaikan tangan. Disisi kiriku ada cewek yang membalas lambaian tangannya. Mungkin pacarnya batinku sedikit kecewa dan jengkel. Beberapa saat kemudian cewek itu pergi bersama dua temannya.

Pertandingan berakhir dengan skor 3-0 yang dimenangkan oleh tim Egi. Dua gol yang hasil tendangannya dan satu gol dari operannya. Aku kagum dengan permainannya di lapangan hijau. Jarang cowok yang pandai secara akademik pandai juga nonakademiknya. Mungkin hanya dia di sekolahku. Sepertinya aku mulai mengaguminya. Tak hanya teknik bermainnya, cara memimpin timnya saja. Namun, orangnya dan kepribadiannya.
“Makasih, ty. Udah datang di pertandinganku. Kok mbak Fria nggak datang?” suaranya menggagetkan lamunanku yang tiba-tiba di sampingku. Kulirik dia sedang meneguk air mineral. “Mau?” lanjutnya.
“Enggak, terima kasih, hehee. Oh ya, Mbakku gak bisa soalnya banyak tugas.” Jawabku memandang wajahnya yang berkucuran keringat. Dan spontan aku mengulurkan tissue.
“Makasih. Perhatian banget sih kalo aku lagi butuh tissue juga.” Godanya sambil menarik beberapa helai tissue. Aku hanya tertawa.
“Aku boleh minta ajari sepak bola?” celotehku spontan yang benar-benar aku tak pernah memikirkannya sebelumnya. Pertanyaanku ternyata membuatnya mlongo.
“Serius? Pengen bisa sepak bola? Nggak salah denger? Kamu cewek lho?” aku dibom pertanyaan yang bertubi-tubi. Seperti biasa aku hanya memberikan senyum terpaksa toh itu pertanyaan spontan dan membuatku bingung sendiri. Tapi, aku gengsi dan mempertahankan pertanyaan itu dengan pembelaan.
“Emang cuma cowok yang boleh sepak bola? Cewek juga boleh kan? Lagian ada kan tim nasional sepak bola dan futsal khusus cewek walaupun aku belum pernah nonton. Siapa tahu aku penerusnya.” Jawabku dengan manyun yang disambut tawanya seperti mengejek keinginanku. Tapi, sepertinya pembelaanku cukup kuat.
“Boleh sih. Oke, besok istirahat atau sepulang sekolah aku tunggu di lapangan. Bagaimana?” tantangnya seolah-olah meremehkanku yang ingin berlatih sambil menepuk bahuku yang membuatku menjadi salting dan jantungku berdetak kencang seperti dikejar-kejar orang gila. Ya, walaupun aku keceplosan. Siapa tahu ini kesempatan buat dekat dengannya batinku. Ups, dekat dengannya? Apa motifnya? Biar ada yang bantu ngerjain tugas kah? Mungkin seperti itu.

“Pulang bareng, yuk!!” ajaknya menarik lengan bajuku. Aku semakin salting dan bingung mau jawab apa. Lang saja aku berdiri dan mengikuti langkahnya. Terlihat teman satu timnya memperhatikanku seolah-olah terlihat sangat aneh.
“Cewek baru, Gi? Kok sekarang kamu gonta-ganti cewek terus sih?” celoteh salah satu teman Egi yang dilihat dari bajunya seorang kiper. Yang di sambut tawa Egi. Aku hanya diam dan menundukkan kepala.
“Kenalin dia Ety. Adik kelas kita itu lho yang pinter. Dia adik Mbak Fria yang biasanya pulang bareng aku. Dia suka bola lho. Kalian bisa ajak Ety main bareng dia pengen bisa main bola.” Jelasnya memperkenalkanku pada tim sepak bolanya. Seperti biasa aku mengangguk tanda berkenalan dan menebarkan senyum terbaikku. Mereka mengangguk-angguk tanda mengerti.
“Pacarmu tadi nonton kan, Gi? Kok nggak gabung?” ceoteh temannya yang bernomor punggung tiga, entah siapa namanya aku tidak hafal. Egi tersenyum sinis seperti menyimpan rasa kecewa dan seperti malas membahas hal itu. Entah kenapa aku merasa terpukul mendengar Egi sudah punya pacar. Ya, mungkin dia, cewek yang tadi melambaikan tangan pada Egi saat bermain. Mungkin, karena aku tak tau tepatnya.
“Maaf, sepertinya aku pulang dulu, deh. Permisi!” pamitku pada mereka yang dicegah oleh Egi. Dia memegang bahuku. Kebetulang tinggiku hanya sebatas dagunya sehingga dia sangat mudah memegang bahuku.
“Lupa? Kita pulang bareng sesuai kesepakatan.” Cegahnya yang mengagetkanku. Ternyata dia konsisten dengan apa yang dikatakan. Atau karena dia sedang jengkel dengan pacarnya. Ah, entahlah itu bukan urusanku. “Aku pulang duluan, sob!” pamitnya sambil menyalami teman satu timnya seperti gaya berslaman pemain bola di televise. Ya, sekadar menempeklan tangannya saja. Kemudian aku berjalan menuju parkiran. Sebenarnya rumahku sangat dekat, berjalan kaki hanya butuh waktu lima menit dan arah rumah kami dari lapangan berlawanan. Entah apa modusnya mau mengantarku pulang.

“Ty, kamu kalo istirahat di perpustakaan terus, ya?” tanyanya sambil memakai jaket.
“Perpustakaan? Sepertinya aku alergi dengan perpusakaan. Istirahat itu ya ke kantin namanya juga istirahat.” Aku menjawab seperti tak punya dosa. Enteng sekali jawabanku tak melihat siapa yang kuajak bicara. Padahal dia adalah anak terpandai di sekolah. Ah, terserah pikirku.
“Setuju! Ternyata kita sehati ya alergi perpustakaan.” Dengan semangaya dia mengiyakan jawabanku. Kaget bukan kepalang, ternyata dia tak pernah ke perpustakaan. “Kalo berangkat jam berapa? Kok aku jarang liat kamu?” lanjutnya. Bingung. Aku bingung mau bohong atau jujur. Bohong dosa. Jujur memalukan. Daripada dosa, sepertinya lebih baik menahan malu sebentar.
“Kalau masalah berangkat sekolah harap jangan ditiru, ya? Aku berangkat tepat waktu. Tepat waktu jam tujuh tepat sampai kelas dan tepat waktu saat guru masuk. Kalau aku bosan di rumah mungkin aku bisa berangkat lebih awal.” Jelasku dengan percaya diri penuh.
“Kalau itu, mungkin bisa setuju. Tapi, lebih asyik berangkat sangat pagi. Bisa bermain dulu di lapangan sekolah. Pelajaran kemudian istirahat ke kantin. Pelajaran lagi. Main bola. Dan pulang. Nggak akan bosan belajar di beri sela melakukan hobi.” Jelasnya dengan gayanya yang sok pintar. Tapi, memang dia pintar. “Udah jangan ngangguk-angguk terus. Ayo naik, kita cuss!!” lanjutnya.

Cerpen Karangan: Ety Wahyuningsih
Facebook: Ety Wahyuningsih

Cerpen Terpleset Cinta di Lapangan Hijau (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sampah

Oleh:
“Felly! Lo yakin kita bakalan menciptakan yang begituan? Bukannya temanya flora sama fauna?” tanya Bram yang masih menentang pikiran Felly tentang rancangan baju yang akan mereka garap untuk acara

Perasaan Terpendam

Oleh:
Persahabatan itu indah, hari-hari Chelly menjadi penuh warna dengan adanya para sahabat-sahabatnya. Hari itu tepatnya sedang libur sekolah dan Chelly berlibur di Kota Makasaar. Disana Chelly memiliki banyak sahabat

Misteri

Oleh:
Aku adalah seorang siswa SMA kelas satu. Tidak, lebih tepatnya bukan siswi. Hanya seorang penggila ilmu pengetahuan. Aku selalu tertarik dengan segalanya yang berkaitan tentang fenomena dunia ini. Aneh,

Sama Sama Suka

Oleh:
Nama ku erika cerita itu diawali saat aku naik ke kelas 3 smp waktu aku pertama masuk ke kelas baruku. Aku duduk bersama sahabat dekat ku sebut saja dia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *