Usaha Yang Tak Berujung Indah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 1 February 2017

Cinta, cinta, cinta dan cinta. Itulah yang aku rasakan saat ini. Pasti semua orang pernah merasakan rasanya cinta kepada seseorang yang spesial bagi kita, tidak memandang wajah, fisik, harta dan sebagainya. Aku sering merasakan cinta, kepada adik kelas, kakak kelas, dan pernah aku jatuh cinta kepada teman sekelasku.

Aku sering kali berganti orang yang aku suka, sayang, dan cinta. Aku sempat berpikir, apakah aku memainkan perasaanku? Kenapa aku tidak begitu serius kepada perempuan yang aku sayangi? Setiap hari aku memikirkan hal itu, hal yang belum terpecahkan semenjak aku mengenal apa itu Cinta? Yaitu semenjak aku kelas 6 SD. Jujur saat itu aku belum mengenal sekali arti dari Cinta, mungkin hanya sekedar saling suka kepada lawan jenis yang fisiknya cantik dibanding dengan yang lain.

2011, Tahun ini adalah aku pertama bertemu dengan orang yang aku idamkan, namanya Syifa, berwajah cantik, imut, anggun, dan baik hati. Di saat itulah pertama kali aku menemukan perempuan yang aku suka, saat masih satu kelas dengan dia, aku tidak pernah menyatakan kalau aku suka kepada dia, aku hanya memendam rasaku kepadanya dan menunggu waktu yang pas untuk menyatakan cinta kepadanya. Selang waktu saat aku memasuki SMP aku mencoba untuk menyatakan kalau aku sayang kepadanya dan mencoba untuk menjadikan dia sebagai pacarku yang pertama lewat SMS.

“Hai, sebenarnya aku suka sama kamu. Kamu mau enggak jadi pacarku?” Tulisku dengan gembira.

Setelah aku mengirim pesan kepada dia, hatiku pun lega karena sudah tidak ada beban hati yang perlu disembunyikan lagi, dan betapa senangnya aku mengharapkan jawaban dari dia saat dia menerimaku menjadi pacar pertamanya. Aku menunggu beberapa waktu menunggu SMS dari dia. Tiba-tiba nada SMS HP ku pun berbunyi, dengan sigap aku pun membuka SMS dari dia. Jawabannya hanya “Tidak.” Betapa sakitnya hatiku ketika melihat dia menolak permintaanku untuk menjadi pacarnya.

2015, tahun ini adalah tahun aku memasuki SMA, dimana pengetahuanku tentang Cinta lebih banyak dibandingkan saat aku kelas 6 SD. Di kelasku banyak sekali perempuan cantik, baik dan sebagainya. Dari sekian banyak cewek cantik hanya ada beberapa orang yang bisa meluluhkan hati aku. Tapi hanya ada 1 di antara mereka yang menurutku belum punya pacar, yaitu Rosa, aku belum terlalu mengenal dia lebih jauh tapi menurutku dia orang yang baik, manis dan sangat cantik, apalagi kalau dia sering ibadah.

Makin lama, aku makin kenal dengan dia, semakin kenal aku semakin tau dia itu pribadi yang seperti apa. Kukira aku bisa menyanggupi hanya dengan sebatas teman, ternyata tidak. Lama-kelamaan muncul benih-benih cinta antara aku dan Rosa. Ketika liburan aku sering sekali video call dengan dia hingga tengah malam, kadang sampai shalat shubuh baru selesai. Semakin lama aku semakin dekat dengan dia, aku pikir ini adalah waktu yang tepat untuk menyatakan cinta kepada dia. Lalu aku mengajak dia untuk dinner di sebuah restoran di Jakarta. Aku menyewakan tempat spesial untuk 2 orang dengan iringan musik romantis.

Aku menunggu dia untuk datang ke restoran yang sudah kupesan, setelah sekian lama menunggu akhirnya dia pun datang dan merasa kebingungan.
“Eh ini ada apa? Kamu pengen nembak cewek ya?” ucap Rosa melihat suasana restoran sambil kebingungan
“Iya, aku pengen nembak cewek. Haha tau aja kamu Ros.” jawab aku sambil menyindir
“Eh tunggu sebentar ya, pacar aku telepon.” menyela omonganku sambil mengangkat telepon dari pacarnya
Aku pun langsung kaget ketika mendengar bahwa si Rosa sudah punya pacar, aku kira saat aku pertama bertemu dengannya dia belum punya pacar, aku tidak pernah melihatnya berpacaran! TIDAK!” ucapku sedih serta menyesal dari dalam hati.
“ehh, calon pacar kamu mana masih lama? Ngomong-ngomong maaf ya aku ada janji sama pacarku untuk pergi nonton, maaf gak bisa liat kamu mendapatkan pacar baru.” kata Rosa sambil meminta maaf kepadaku.

Rosa pun pergi meninggalkanku sendirian di Restoran yang berisikan aku seorang diri dan pelayan restoran, aku sangat menyesal membuang uangku hanya untuk kegagalan. Akhirnya aku sadar, bahwa aku harus berubah untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari yang sekarang. Jangan terpancing dengan wanita yang membuatmu betah dengan dia. Sejak saat itu aku mulai menjauh dengan Rosa, yang dulunya sering video call sampai tengah malam, sekarang hanya sebatas menanyakan PR saja.

Singkat cerita, aku naik ke kelas 11, dimana di sini aku mendapatkan ujian lagi. Berawal dari kelas 10 ketika aku seringkali melihat dia di depan kelasnya saat pagi-pagi yang diantar oleh pacarnya. Memang orangnya cantik tapi aku biasa saja karena memang belum saatnya untuk suka padanya. Aku belum terlalu kenal dengannya, bahkan chat saja belum pernah. Kebetulan temenku satu ekskul dengannya, jadi aku menanyakan akun Instagramnya dia, ternyata namanya Lia. Sosok perempuan cantik, baik, sensitif dan kakak kelas aku yang pertama kutaksir. Berawal dari sering melihat fotonya, aku pikir dia tidak terlalu cantik, tapi aku selalu memandangi wajahnya di Instagramnya.

Saat aku main Instagram, aku melihat post yang sangat membingunkan, katanya “jika kamu selalu memandangi wajah orang itu, maka kamu akan suka padanya.” Masa iya jika hanya melihat fotonya bisa membuat aku suka padanya. Aku terus membuktikan dengan cara melihat mukanya dari langsung. Lama-kelamaan memang benar, aku mulai suka padanya. Kebetulan aku tahu ID line si Lia dari teman baikku, aku chat sama dia, dia orangnya memang jutek, dan pemalu.

Awal-awal aku sering chat dengan dia, mungkin karena belum kenal. Lama-kelamaan aku makin dekat sama seperti kejadian ku tahun lalu, dan sering chat dengan dia. Gak sengaja ketika aku bermain IG aku ketemu post yang tertuliskan “Jika sering berinteraksi di Dunia Maya maka akan menurunkan percaya diri saat bertatap muka.” Melihat post itu aku langsung nge tag orangnya agar dia baca. Beberapa menit kemudian dia merespon bahwa dia akan memanggilku saat bertemu. Aku seringkali melewati kelas dia dan dia tidak pernah panggil dengan alasan “aku gak melihat kamu”.

Karena aku follow Instagram akun psikolog, aku lihat kalau orang yang kayak gitu biasanya menunjukkan suka dan sebagainya. Melihat post itu aku pun langsung senang.

Tak sengaja waktu itu ada lomba futsal antar kelas, yang tadinya pulang jam 3 sore diundur menjadi jam 5.30 Sore. Karena aku ingat waktu akhirnya aku shalat di musholla, pas masuk ke musholla aku melihat dia sedang ingin shalat bersama temannya dan menunggu imam karena tidak ada yang berani menjadi imam. Akhirnya aku dipaksa untuk menjadi imam. Setelah selesai aku balik ke kelas dan dia pun balik ke kelas, tapi dia tetap tidak menyapaku. Positive Thinking aja dia suka denganku.

Beberapa hari yang lalu aku melihat di post Instagramnya Lia ada salah satu temanku itu seperti sudah dekat atau seperti mengincar dia. Dengan pikiran normal biasa saja mungkin sudah kenal dulu kan. Kebetulan sekarang dia ada di depan mata, aku tanyakan kepada dia.
“eh bon, gimana si kak dolpin (incaran dulu) perkembangannya?” tanyaku kepadanya ingin tahu
“bukan lagi bro, kalo punnya aku tuh yang lagi duduk.” jawabnya sambil menunjuk kepada seseorang
“yang mana bon?” tanyaku pura pura tidak tahu
“kepo” jawabnya singkat.

Setelah itu aku pun pergi dengan hati kecewa karena yang duduk disana banyak perempuan tetapi yang aku tahu hanya ada Lia(incaranku) dan tidak ada kak dolpin di situ. Disaat itu aku pun menjadi bimbang antara melanjutkan atau tidak, saat bimbang aku tanya kepada sahabatku kalau si Ibon suka sama si Lia atau tidak, dan sahabat aku menjawab kalau si Ibon sering menanyakan sesuatu tentang si Lia.

Mungkin karena si Ibon adalah sahabat aku, aku akan membiarkannya untuk berjuang mendapatkan apa yang dia sayang, mungkin memang belum takdirnya aku mendapatkan hatinya. Aku belajar untuk mengikhlaskannya walau itu berat dan sangat sakit.

“When you are in love and you get hurt, it’s like a cut.. it will heal, but there will always be a scar.”

Cerpen Karangan: Romy Adiputra
Blog: romyadiputra.com

Cerpen Usaha Yang Tak Berujung Indah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Secangkir Kopi: Cinta

Oleh:
Ini rasa yang aku sembunyikan selama tiga tahun. Waktu sebelum panitia wisuda memanggil namaku sebagai mahasiswi dengan IPK terbaik. Waktu sebelum kamu menarik tanganku, dan mengajakku bercumbu dengan hujan.

Hanya Ingin Didengar

Oleh:
Senja menyambut dengan hangat, bias cahaya keemasan mulai menyelimuti bumi dan perlahan menghilang membuatku tersadar dalam kesendirian, aku wanita yang sudah satu tahun ini menemaninya pria dengan tinggi 176

Maaf Pak, Salah Sasaran

Oleh:
Hehehe. Aku selalu senyum-senyum sendiri jika mengingat kejadian dulu saat aku SMP, saat itu kami sedang mengikuti mata pelajaran pertanian. Tak perlu waktu yang lama, Pak guru pun berkata,

Gadis Penghuni Bangku Sebelah

Oleh:
Aku masih tidak mengerti mengapa aku bisa tertarik pada gadis itu. Gadis yang duduk di bangku sebelahku. Ia tidak istimewa, ia tidak memiliki wajah seperti malaikat, ia tidak berpakaian

Add Me, Please

Oleh:
“Ini hari yang cukup cerah untuk aku berjalan-jalan,” pikirku sambil melihat ke langit-langit. “tunggu dulu, aku seharusnya ke luar untuk melihat cuacanya,” kataku yang baru sadar dari khayalan ternyata

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *