Varamedic

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Perjuangan
Lolos moderasi pada: 16 October 2016

Pagi dirumah sakit varamedic. Rumah sakit swasta yang terletak di pusat kota. Linkungannya yang bersih dengan tata bangunan yang rapi. Apalagi lihat perawat wanita dengan senyum manisnya, aduhai tergoda juga imanku.

Aku diberi nama Erald 20 tahun yang lalu oleh kedua orangtuaku. Tapi menurutku, nama yang kusandang terasa nanggung. Mengapa tidak Gerald saja biar sama dengan legenda hidup asal klub liverpool, yaitu Steven Gerald. Tim bertabur bintang, dengan motto klub ‘Your Never Walk Alone’.

Ngomong-ngomong soal bola rumah sakit ini erat sekali dengan serdadu lapangan hijau, meski hanya skala bintang nasional. Mungkin hampir tiap bulan rumah sakit varamedic menerima pemain profesional liga negeri ini. Entah itu akibat cedera di lapangan hijau atau sesuatu sebab yang lainnya. Sebab jarak rumah sakit dengan stadion dan dua markas tim di kota ini sangat dekat. Hanya menempuh jarak hitungan menit.

Dan aku yang kesekian kalinya, menjadi pemain yang menghuni rumah sakit ini. Ya, aku penyerang di kesebelasan Garuda raja fc. klub yang bercokol di peringkat atas klasemen sementara liga sepakbola nasional. Aku singgah di varamedic karena sebuah tragedi di laga sore tadi.

Saat itu tendangan pojok. Andai saja aku mampu menanduk bola dan menembus jaring gawang lawan, papan skor akan berubah menjadi 2-1. Namun cerita berbeda yang kuterima. Bola hasil tendangan sudut rekanku, melambung melewati beberapa pemain yang berusaha menyundul, namun tak satu pun tercapai oleh kepala mereka. Kiper pun terbang untuk menggapai bola, sebisa mungkin aku berusaha mendahului sang kiper. Namun naas bagiku, aku melopat dan kepalaku beradu dengan siku penjaga gawang hingga tak sadarkan diri.

Aku tersadar saat infus terpasang di lengan kiriku. Ditemani suster devi, begitu nama yang tertera di dadanya.

“Syukurlah kamu udah siuman” ucap perawat itu, aku mengangguk saja “kamu sudah seharian, gak sadarkan diri lho”
“Benarkah itu? Lalu Garuda raja fc versus Armada merah putih fc siapa yang menang?”
“Mmmh.. Soal itu saya gak tau”

Aku kembali lemas, jika Garuda raja kalah, tentu saja menurunkan posisi timku di nomor dua klasemen sementara. Itu berarti kesempatan menjadi juara liga akan berat menanti. Sebab poin garuda raja kalah besar dengan yang duduk di posisi satu klasemen saat ini.

“Maaf devi, kira-kira kapan saya bisa pulang?”
“Kalau kamu udah mendingan, kamu bisa pulang hari ini” ucapnya sambil membawa nampan dengan hidangan kepadaku “silahkan dimakan, saya permisi dulu”.

Selesai makan, pintu kamar pasien yang kutempati terbuka. Berjalanlah seseorang berkepala plontos dengan jas hitam yang ia kenakan.
Ternyata itu coach, dengan senyum formalnya ia menyapaku.

“Kamu udah bisa pulang hari ini. Administrasi udah saya tanggung”
“Baik! coach, partandingan kemarin apa kita menang?”
“Hmm.. kita kalah 1-3 oleh armada merah putih” ucap coach lesu “ok segera berkemas, dua hari lagi kita bakal lawan klub tetangga, ksatria Xl fc, musuh berat kita”

Hari berganti hari, aku mulai berlatih dengan rekan-rekan. Coach meminta kali ini kami serius berlatih. Passing-passing pendek harus kami tingkatkan, umpan jauh hanya boleh dilakukan jika ada kesempatan. Yang terpenting adalah rapatnya lini per lini antar pemain agar tim lawan susah masuk ke pertahanan kita.

Selesai latihan, aku dan rekan-rekan kembali ke mess dan bersiap untuk esok sore berhadapan dengan Ksatria Xl fc.

Malam ini kebetulan kapten tim tidur sekamar denganku. Rekan setim sangat antusias dan menghormatinya. Dikarenakan ia adalah pemain senior di garuda raja. Sempat pula menjadi pemain timnas meski dengan caps yang bisa dihitung jari.

Ia memintaku untuk lebih banyak bergerak meski tanpa mengarak si bola bundar. Aku harus siap karena kapan saja bola akan mengarah kepadaku setibanya di dekat gawang. Begitulah penyerang, harus punya insting yang baik untuk membobol gawang lawan.

“Kuberitau kau ya, garuda raja ada di posisi dua. Kemarin laskar trisula fc sedang hoki saja, mereka bisa naik ke puncak klasemen. Mereka dapat dua pinalti di menit terakhir” ucap kapten sambil menunjukan dua jarinya.
“apa wasitnya berat sebelah?” Tanyaku.
“Mungkin. kau taulah sepakbola di negeri ini. Dan yang pasti dua match tersisa kita harus menang, sebab partai terakhir kita bakal lawan tim yang lagi hoki itu”
“Oiya kapten, di posisi tiga ada siapa?”
“Huft.. ksatria Xl fc, lawan kita besok” ucapnya meakhiri.

Nampaknya 2 match tersisa adalah laga pertarungan harga diri 3 tim teratas. Semoga dewi fortuna ada di pihak tim yang aku huni.

Esoknya, big match akan dimulai. Ksatria Xl fc berhadapan dengan Garuda raja fc.
22 pemain masuk dari dua klub berbeda. Didampingi tiga wasit yang akan mengawal laga kali ini.

Ini derby sekota meski kami saling berbagi stadion. Tapi kali ini tuan rumah ada di pihak kami. Garuda raja memakai jersey home garis-garis merah hitam vertikal. yang merupakan jersey kebanggaan bagiku. Dengan lambang paruh runcing serta sorot tajam mata sang garuda dan satu cakarnya minginjak bola. Menggambarkan keberanian sejati, dibordir indah di dada.
Tim tamu yang merupakan tim tetangga menggenakan jersey putih dengan celana hijau. Lambang perisai segilima abu-abu bertuliskan Xl besar, dihiasi tulisan ksatria membentang di atas angka sebelas romawi tsb.

Oke, semua pemain saling berjabat tangan, termasuk kepada pengadil lapangan. Setelah lempar koin, kami mengambil foto tim yang akan dibidik lensa pers yang akan mengikuti match kali ini.

Atmosfer ketegangan sudah terasa, dan Kick off babak pertama dimulai “prittt” Suporter makin riuh, yel yel pun mulai bergema layaknya marching band karnaval.

Bola ada di kakiku, langsung kuumpan kepada rekanku di sayap kanan. Ia membagi bola ke belakang dan memainkannya dengan passing-passing pendek. Pemain ksatria sebelas terpancing keluar dari posisi mereka berdiri, walhasil lini tengah dan lini depan renggang garuda raja merangsek masuk ke pertahanan ksatria Xl. Bola berhasil kapten dapatkan. Ia membawa bola ke tengah, aku berlari mendahuluinya. Bola dibagi ke arahku, tapi dikejar bek lawan. Duel sprint kuperagakan, aku berhasil melewati, lalu kubagi bola dengan teknik umpan lambung berkelok menuju kotak pinalti. Si kulit bundar disambut sundulan rekanku yang jangkung, bola melesat.

Namun sayang kiper menepis dengan tinjuan. Kembali bola melayang di udara. kapten mengejar, bola jatuh tepat di kakinya yang bersiap menendang.

Dan tendangan frist time itu melesat ke arah gawang. Tapi lagi-lagi gawang ksatria Xl selamat, bola berhasil disundul ke luar kotak pinalti. Bola yang melambung coba kukejar, aku melompat dan berduel di udara. Aku dapatkan bola tepat di dada, kukontrol sesaat. Bola jatuh di kaki kanan, kaki kuayun bola kutendang. Melesat menuju sudut mistar gawang dan jebol. Gooool… 1-0 untuk garuda raja di pertengahan babak pertama.

Aku langsung berlari menuju sorot kamera, kucium mesra logo klub di dada. Sorak penonton membahana melantunkan nama Garuda raja. Tiupan terompet bersahutan, berpesta atas gol yang kuciptakan.

Ksatria berganti menyerang tapi serangan mereka lemah, bola dengan mudah disapu ke luar beberapa kali dari daerah pertahanan garuda raja. Counter attack hanya kami peragakan, tim garuda raja terus ditekan hingga habis babak pertama. Gol tunggal masih menghias di papan skor.

Menuju ruang ganti, kaki ini melangkah bersama dengan kaki-kaki pemain dan staf garuda raja lainnya.
Duduk di lantai, kaki kupanjangkan dan seteguk air mineral membasahi tenggorokan yang mengering. Sambil melepas penat, kunikmati instruksi pelatih yang memainkan spidol di atas papan berbentuk lapangan sepakbola.

Menurut coach, tim kami ternyata kendor di sisi sayap dan tengah, dimana transisi menyerang dan bertahan berada. Aku dan tim diistruksikan untuk tampil all out dengan pressing ketat bila lawan ganti menyerang. Lalu ditutup dengan doa bersama menuju babak kedua.

Suasana stadion mulai bergemuruh, apa lagi suporter di tribun selatan yang selalu menabuh drum dengan iringin yel yel semangat militansi. Ya, itu ultras Garuda, suporter fanatik kami.

“Prittt”

Babak kedua dimulai, ksatria Xl mulai menyerang, memperagakan umpan satu dua yang baik. Pergerakan bola selalu dimulai dari sayap kanan. Datang menyerang bertubi-tubi, memberi shock teraphy di lini belakang garuda raja. Namun bek timku ini masih mampu menghalau serangan demi serangan.

Akan tetapi Garuda raja masih terus diserang, begitupun dengan counter attack masih tumpul dan terkadang bola berhasil direbut lawan sebelum lewat kotak pinalti.
Setengah jam bermain, jebakan off side kami gagal. Seorang penyerang ksatria Xl mengejar bola sendirian meninggalkan seluruh bek garuda raja. Alhasil kiper maju melakukan duel mengejar bola dengan lawan. Bola berhasil dikuasai pemain tersebut. kiper terkecoh, bola meluncur deras di antara dua kaki kiper. bola masuk dan terdiam disudut kiri jaring gawang. Gol 1-1, ksatria Xl berhasil samakan kedudukan.

Akh.. kesalahan yang fatal. Kulihat rekan setimku saling menyalahkan. Raut muka seluruh staff nampak kecewa dengan ekspresi berbeda. coach serasa kebakaran jenggot, ia langsung berdiri hingga pinggir lapangan. membentak seluruh anak asuhnya termasuk aku.

Setelah terjadinya gol tadi. Garuda raja mulai bangkit, permainan dari kaki ke kaki coba diperagakan. Lini tengah mulai berani memainkan bola. Si bundar diover kepadaku, aku dribling. kapten membututi dan berlari mendahuluiku, tangannya seraya meminta bola. Umpan datar kuberi padanya. Bola lolos dari halangan kaki lawan. Kapten berlari dan berhenti sesaat. Aku masuk ke kotak pinalti. Bola diangkat kapten, terbang melawan gravitasi lalu jatuh, aku coba heading dan…

Tik.. tik.. tik.., suara itu memaksaku untuk membuka mata. Itu dari arah jam dinding yang berdetik. Kepalaku terasa berat, seperti ada luka. Begitu juga bahuku, seakan-akan tak terasa dan sulit kugerakan.

“Erald, syukurlah kamu telah sadar. Kamu pingsan lagi, karena beradu kepala sama lawanmu” ucap si perawat yang sama di kasur yang sama tentunya di varamedic. Lagi-lagi aku mengalami benturan, untung saja aku masih mengenali diriku sendiri.
“Jangan banyak bergerak, luka di pelipis matamu belum kering”
“Siapa yang menang? Garuda raja lawan Ksatria Xl?”
“Hmm.. Pertandingan masih berlangsung, kamu baru saja tiba di ruangan ini” ucap Devi
“Cepat nyalakan tv” nadaku meninggi.
“baiklah” ucapnya dengan terpaksa.
Tv dinyalakan, devi langsung mencari siaran match kali ini.
“Nah yang ini” ucapku
“Ya permisa hasil seri ternyata akan terjadi jika saja Garuda raja tak mampu menggandakan kedudukan di kesempatan terakhir ini. Tentu ini sebuah kerugian besar, karena Garuda raja hanya meraih satu poin. Itu artinya, Ksatria Xl bisa saja menyalip sang tetangga garuda raja.” Komentator berujar dalam tv.
“Pritt.. pritt.. pritt” peluit itu nyaring di pendengaranku.
“Baiklah permisa, hasil imbang hanya mampu diraih dua kesebelasan. Kami kembali setelah comercial break berikut ini”

Akh.. kesal rasanya andai saja aku bisa menanduk si kulit bundar, buka kepala orang, pasti timku menang. Karena aku yakin itu akan berbuah gol

Esoknya aku diperkenankan pulang. Kembali ke mess pemain dengan rasa sakit dan kekecewaan. Rekan-rekanku menghampiri dan menyemangati diri ini. Oke hari ini aku hanya akan recovery dan match melawan laskar trisula fc entah akan diturunkan atau tidak.

Tiga hari berlalu, dan waktu match terakhir datang menghampiri segenap pemain dan staff kepelatihan. match terakhir yang menentukan gelar juara. Sebab, posisi kami di nomor dua dengan 45 poin. Di puncak ada laskar trisula dengan 46 poin. Namun Ksatria Xl dapat saja mencuri gelar jika mereka menang melawan armada merah putih di match terakhir, sebab point mereka sama dengan Garuda jaya. Mungkin sudah jodoh, kami sekota, satu stadion dan rumah sakit varamedic serta point dalam tabel klasemen sementara.

Aku menatap luar jendela kamar mess pemain. Dimana rekan-rekanku sudah menunggu bus, yang akan menghantarkan tim menuju stadion. Rasanya tenagaku takkan terpakai, saat laga nanti. Aku hanya akan mengurung diri di mess pemain untuk beristirahat.

“Hay erald kau tak berkemas” ucap sang kapten, kurasa ia menatapku sedang berputus asa.
“Aku cidera, pasti coach menyuruhku beristirahat”
“Oh ayolah bung, jika starting line up tak kau dapati. Supersubs bakal diberi. Pemain sejati asanya tak pernah mati! Paham kau” ucapnya memberi semangat.

Benar juga apa yang dikatakan kapten, aku belum tentu tidak diturunkan di match terakhir. Bahkan coach tidak membenarkan pernyataanku barusan. Itu artinya aku teteap berada di skuad Garuda raja. Kapten tersenyum melihatku mulai tersenyum.

Rombongan menaiki bus, menuju stadion kebanggan kami. Partai home terakhir ini sungguh mendebarkan. Para pemain garuda raja masing-masing terduduk pada bangku bus dengan headset di kepala dengan berbagai musik yang menghentak. Ini terapi agar pemain tidak memikirkan apa-apa atau tidak nerveous.

Sesampainya di stadion, seluruh pemain memakai jersey masing-masing namun aku harus menabah rompi hijau di tubuh ini untuk menandakan pemain cadangan.

match segera berlangsung. Bendera fair play masuk digiring 4 anak gawang. Lalu dibentangkan di tengah lapangan menghadap tribun VIP. Starting eleven kedua tim masuk dipimpin wasit yang melangkah membuntuti kelakuan si pembawa fair play tadi. Setelah bersalaman, rekan-rekanku di Garuda raja melakukan photo tim. Ini kali pertama, aku melewatkan jepretan lensa pers.

Kulihat dari bench cadangan, Dengan jersey garis merah hitam vertikal, kostum kebesaran tim yang kuhuni. Si kapten garuda raja melompat-lompat melakukan gerakan pemanasan di titik kick off. Sedangakan di pihak lawan terlihat tampang-tampang bengis berjersey serba putih dengan garis merah di bagian pinggang bakal menjadi lawan serius kali ini.

“Prittt”

Permainan dimulai, bola dikuasai penuh di lini tengah. Dua penyerang mulai berlari membuka pertahanan. Akan tetapi tim lawan bergerak cepat, mereka mulai mempress satu persatu penyerang garuda raja.

Laskar trisula memberikan perlawan nyata, dimana duel satu lawan satu selalu dimenangkan mereka. Serangan mereka bagai banteng mengamuk, menyeruduk lini tengah yang diisi empat pemain hingga jebol di setiap serangan menghampiri daerah pertahanan garuda raja. Tapi untunglah, empat matador bek timku ini selalu menyapu bersih setiap bola yang datang.

Namun laskar trisula tidak kehilangan akal. Mereka mencoba passing-passing pendek dan umpan satu dua di daerah sayap kiri. Ternyata hasilnya selalu tembus, mereka menyebar ancaman berkali-kali melalui umpan lambung ke kotak pinalti yang pastinya akan disusul dengan tandukan serdadu laskar trisula. Tetapi, tak satu pun bola menyenggol tiang gawang.
Keasikan menyerang, garuda raja mampu menggetirkan lutut-lutut pemain laskar trisula, melalui counter attack cepat kapten dan penyerang pengganti diriku menjadi duet maut yang membahayakan lini belakang lawan. Berulang kali mereka lolos dan menempatkan bola pada target namun berulang kali bola ditepis, ditip, atau ditinju penjaga gawang bahkan mengenai tiang. Dan berulangkali, aku beserta staff gigit jari, apalagi coach berulang kali kesal tak menentu memberi arahan di pinggir lapangan.

Prit.. prit.. prit.. skor kaca mata hadir dibabak pertama.

Muka-muka letih pamain kedua kesebelasan nampak jelas saat mereka berbarengan masuk ke lorong ganti
Emosional Coach tak terbendung, semua pemain dimaki habis-habisan di ruang ganti. Namun staff lain dapat menetralisir keadaan, mereka terus memotivasi kami.

“Prittt”
Babak kedua dimulai, garuda raja selalu menyerang, mengunci pertahanan laskar trisula. Namun press ketat kesebelasan lawan terlalu tangguh. Bola umpan lambung jadi andalan garuda raja tapi tak satu pun mencapai target. Kebanyakan melenceng dan mampu ditanggkap kiper lawan.

Dua puluh menit berlalu, kedua tim belum juga pecah telur, coach garuda raja masih ketar ketir melihat anak asuhnya masih buntu di depan.

“Erald kamu pemanasan cepat” ucap coach tanpa melirik. Sumringah aku mendengarnya
“Siap coach” ucapku.

Aku mengikuti perintah, aku berlari-lari kecil memutar lapangan. Menggerakan anggota badan dan melopat-lompat kecil. Meski bahu masih terasa sakit jika digerakan.
Kertas pergantian pemain diberi kepadaku, kuberikan kemeja panpel. di pinggir lapangan dengan kostum nomor 7 aku Erald bersiap diri. Papan pergantian pemain diangkat asisten wasit ketiga. Angka 7 berwan hijau masuk mengganti angka 20 berwarna merah.

Yap.. aku masuk ke garis putih lapangan hijau. Kini aku berada di medan laga, kembali dengan atmosfer yang kudambakan.

Bola meluncur kepadaku, kudribling menuju lini tengah lawan. dua pemain laskar trisula datang menghadang. Kapten berada di depanku, bola kuumpan datarkan. Dua pemain lawan beralih mengejar kapten. Aku bebas, langsung bergerak cepat menuju kotak penalti. Bola kembali disodorkan kepadaku, tanpa kontrol kaki kanan kuayunkan. Bola terbang rendah menuju gawang, namun dengan sigap ditangkap pemain terakhir laskar trisula ini.
Akh.. sial ungkapku dalam hati.

Si kulit bundar di permainkan di lini tengah. Para Gelandang saling berperang demi menjauhkan bola dari medan pertahanan. Kembali bola aku kuasai, di depan lawan menghalangi dengan sengaja kukolongi.

Bola liar memasuki kotak pinalti, aku coba mengejar tapi pergerakan lawan coba menghalangi. Aku bingung, gelandang sayap berlari di tepi garis berada di belakangku. Dengan cepat kusapu bola dengan tumit, aku bergerak masuk mendekati gawang.

Bola disodorkan kembali padaku melewati pemain lawan. Utak atik sedikit, lalu berhadapan dengan kiper, kiper bergerak mencegahku. bola kuumpan lambungkan menuju tiang jauh. kapten datang menanduk bola. Bola melesat menuju gawang yang benar-benar kosong dan gooool tercipta. Yeah.. aku kepalkan jari tinggi-tinggi.

Kapten lalu menuju sudut stadion, melakukan selebrasi meninju bendera corner kick. Diakhiri pelukan pemain garuda raja. Kedudukan 1-0, sepuluh menit lagi juara menanti ucapku dalam hati.

Laskar trisula datang menyerang, membabibuta pertahanan kami. Kemelut terjadi di depan gawang garuda raja. Bola berusaha dibuang center bek namun membentur rekan sendiri, bola liar berusaha dikejar lawan.

Bola dapat di ujung kaki yang terangkat oleh pemain laskar trisula, si bundar kembali melayang dan menukik tajam. kiper tak bisa menjangkau. Bola melesat menghujam tiang dalam. Membalik badan, kiper berusaha menepis. Oh tidak bola jatuh melewati garis gawang. Tangkapan tidak sempurna membuat bola mental ke gawang sendiri. Skor menjadi seri 1-1. Garuda raja tertunduk lesu.

Tenaga ekstra kami keluarkan di menit terakhir, selepas kick off bola menyisir sisi sayap kanan. Aku berlari menuju tengah kotak pinalti. Kapten pun berusaha mengejar bola yang sudah dilepaskan. kiper datang terbang menghadang, duel udara sengit terjadi. Bola ditepis kiper namun bola bergerak membelakangi keduanya menuju aku yang bebas tanpa kawalan, tanpa ampun frist time kulakukan. Bola melesat masuk jaring gawang. gooool skor berubah 2-1 untuk garuda raja.

Namun wasit menganulir gol kami, aku lemas dan kesal, ingin rasanya kuhabisi si pengadil yang tak bosan menggengam peluit. Beberapa rekanku mengejar sang wasit untuk memprotes. Tapi apalah daya, keputusannya sungguh mutlak.

Bola kembali bergulir menuju barisan depan kami. Namun dengan mudah dipatahkan lini tengah. Perebutan bola di udara menghasilkan sepakan lambung kapten dari lini tengah, bola melambung menuju kotak pinalti. Liar, si bundar tak ada yang mengejar, dengan sigap aku bergerak menyilang masuk ke lini tengah lawan. Lawan mulai berlari mengejarku. kiper pun datang menghadang. Bola sama-sama ditendang. Si bundar meuntal lagi di udara. Aku menyundul pasti, lawan loncat datang menghadang, tapi terlambat. Sikutnya datang menghantam kepalaku. Namun bola melesat tak tergapai kiper.

Akh.. aku tak bisa melihat, perih terasa. darah segar mengalir dari bekas luka, mengikuti pola wajah. Raga ini ambruk, tersujud. Akh.. ini semakin menyakitkan. Mungkinkah aku melewatkan lagi akhir laga? Sebab ini ketiga kalinya, tragedi yang sama terjadi. Mungkin aku akan terbangun dan menjumpai lagi devi? Aku tak tau, kini aku lunglai.

“Gooool..” sorak sorai penonton membahana. Ya, aku masih bisa mendengar mereka mengakbarkan kata gooool.
Rekan-rekanku datang memendekat, melihatku merukuk bersimbah darah. Kapten sampai tak tega melihatku berdarah hebat. Tim medis segera menemuiku. Dengan tandu seorang wanita muda mengajaku menuju pinggir luar garis lapangan. Dalam posisi tidur aku diberi perawatan.

“Prit.. prit.. prit..”

Kudengar supporter berteriak dengan kegirangan. Kembang api meletus duarr duarr. Bomb flare merah meletus di udara, begitu pula warna hitam, memperindah kemenangan di tribun selatan dimana ultras garuda memberi dukungan.

“Selamat atas kemenangannya, kutunggu kamu kembali di varamedic” ucap wanita itu lalu tersenyum saat mengakhiri perawatan. Tunggu dulu, varamedic? Siapa yang merawatku tadi? Perawat itu kah?

Para pemain garuda raja datang menghampiriku. Memeluk-meluk diriku, mengusap halus kepalaku dan kurasa mereka cukup hati-hati dengan pelipis berperban.

Mereka menggotonggku sambil mengarak mengitari stadion. Saksi bisu juara liga nasional kali ini. Yaitu Garuda raja, raja di kandang sendiri.

Beberapa hari kemudian
“Hari itu benar-benar berpesta, Kami berlari menunjukan piala pada ultras garuda di seluruh tribun. Sehabis dikalungi medali emas oleh menpora dan jajaran petinggi Asosiasi tentunya”
“Ultras garuda, maksudnya?”
“Itu nama supporter Garuda raja, vi”
“Oh.. hahaha, kukira apa”
“Oiya ngomong-ngomong raja nih, kamu mau gak jadi Ratu di hatiku” mukanya memerah. Ia memukul manja pundakku yang baru saja ia perban.
“Auuu… sakit, vi”
“Maaf” ia menutup mulut dengan sepuluh jari. Raut wajahnya menyesal.
“Sakitin lagi dong.. vi biar bisa terus kamu rawat” ucapku kembali mengoda.
“Ihh.. gombal deh” ujarnya seraya mencubit hidungku. Mungkin saat ini wajahku memerah.
“nanti aja jadi penyerangnya ya. Aku gak mau hatiku kamu bobol kalau kamu gak istirahat” cieee.. aku dapat gombalannya, tanpa menyesal ia melangkah pergi ke luar meninggalkanku dengan senyumnya tadi, yang melekat di ingatanku.

Kukira, ia sedang melakukan hal yang sama denganku. Ya, semoga saja begitu. Gelar juara didapati, cinta perawat pasti kuraih. Dalam pejaman Mata, senyum kuutarakan untukmu, Devi. perawat varamedic.

Cerpen Karangan: Yonanda Darmawilya
Facebook: Nand Darmawilya

Cerpen Varamedic merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mata Terindah

Oleh:
Dia datang dan menghampiriku. Lalu ia memberikan setangkai bunga mawar merah yang sangat cantik, seraya berkata, “Terimalah bunga ini. Bunga yang cantik seperti parasmu. Aku akan selalu hadir di

Langit Senja Kita

Oleh:
Aku selalu ngak mengerti kenapa aldora selalu melihat ke arah langit sore setiap kami pulang rapat OSIS di sore hari. Tapi aku ngak pernah melewatkan memperhatikannya dengan kegiatannya itu

Dariku Untukmu

Oleh:
Bagaimana perasaanmu ketika sahabatmu telah menemukan seseorang yang dicintainya? Akankah kau takut ditinggalkan olehnya? Tetapi, sebagai sahabat yang baik kau akan tetap ada untuknya seperti apa pun dia bukan?

Claudy And Shine

Oleh:
Dia adalah Violina Estian, banyak orang yang menginginkan hidupnya seperti kehidupan Violina, karena orangtua Violina adalah seorang wiraswasta yang sukses bahkan mereka mempunyai banyak cabang perusahaan di luar negeri.

Secret Admirer

Oleh:
Relis melihat cahaya terang menelusuri lorong sekolah tempat ia duduk dengan teman-teman akrabnya. Cahaya itu semakin dekat dan semakin membuat Relis tak kuat menahan detakan jantungnya. Aroma cahaya itu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *