Bayangan Yang Hilang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Misteri, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 26 July 2017

Cahaya gelap kebiruan menembus kaca jendela kamarku. Kelopak mata yang masih melekat erat, aku paksa untuk membuka. Perlahan aku mencoba membuka kedua kelopak mataku, tatapan mataku tertuju ke arah benda bulat yang tepat di hadapanku. Terlihat benda mirip jarum bergerak di sekitar angka-angka. Ada dua jarum yang terhenti menunjuk angka enam dan dua belas.

“Ternyata sudah pagi. Huaaahh … masih ngantuk lagi” aku pun kemudian menarik selimut.
“Eh …” dengan cemas aku kembali menatap jam dinding kamarku. “Apa sudah jam enam, yang benar saja. Huh …”
Mengawali langkah tergesa-gesa, aku segera mengambil handuk dan menuju kamar mandi. Terlihat ibu yang sedang memasak nasi goreng untuk sarapan pagi.
“Untung saja pas lagi gak boleh shalat. Jadi gak kesiangan shalatnya …” sambil memutar kran air untuk mengisi bak mandi.
“Kenapa aku bisa bangun kesiangan ya? Padahal kan, tadi malam.” Sambil memikirkan penyebab aku telat bagun tidur pagi ini.

Aku mengambil air dari bak mandi dengan gayung yang ada di tanganku. Melupakan sesuatu yang ingin aku ingat kembali dan meneruskan ritual mandi pagiku. Rata-rata sebelum berangkat ke sekolah atau ke tempat kerja biasanya orang-orang selalu mengawali dengan mandi pagi, kalau gak kesiangan sih. Jadi, tidak salah kan kalau aku bilang hal itu ritual.
Sentuhan dingin merasuki pori-pori kulit hingga menembus tulang. Aku merasakan sedang berada di gurun pasir yang tandus. Eh, kok gurun pasir?. Maaf ralat, seperti berada di Kutub Utara yang dipenuhi bongkahan es.

“Berr … dingin banget…” aku berlari kecil menuju kamar tidurku yang masih berantakan, karena belum dibersihkan dan dikemas.
“Tapi aku merasa ada yang aneh hari ini, kenapa kalau habis mandi kok terasa dingin ya? Tapi yang lebih aneh pertanyaan apa itu?” Pertanyaan bodoh muncul di benakku. Serasa tidak sah jika tidak mengawali hari dengan hal ini.

Sepuluh menit berlalu. Aku yang sedang menatap cermin di lemari, sambil merapikan jilbab putih yang aku pakai dengan menyematkan jarum pentul. Menambahkan mainan jilbab atau yang sering dibilang bros jilbab. Tak butuh waktu lama, akhirnya aku siap untuk ke sekolah. Aku lalu mengambil tas ransel yang berada di sebelah meja belajar. Aku berjalan ke dapur dan melihat hidangan nasi goreng di meja makan. Lalu aku mengambil secentong nasi goreng dari tempat nasi.
“Em … ibu sedang mandi. Kalau aku menunggu ibu selesai mandi, bisa terlambat aku nanti. Biasanya juga seperti ini” sembari menyuapi mulutku.
Aku melanjutkan makanku dan menyudahinya dengan meminum segelas air. Melihat ibu yang tak kunjung keluar dari kamar mandi, aku langsung pamit. Aku tulis sebuah kalimat di selembar kertas kecil.
“Ibu, Myesha berangkat ke sekolah dulu ya? Assalamu’alaikum ^_^”

Segera aku memakai kaos kaki dan sepatu. Mengawali kaki kanan terlebih dahulu dan membaca basmallah di dalam hati. Tidak butuh waktu lama, aku segera beranjak untuk berangkat ke sekolah.
“Jalan kaki aja kali ya? Ibu juga lama banget lagi mandinya. Ya udah deh jalan kaki aja, itung-itung olahraga” ucapku sembari melangkahkan kaki.
Mengawali langkah perlahan namun pasti. Aku memulai langkah dengan penuh harap hari ini lebih baik dari hari kemarin. Panas mentari yang menyentuh lembut mataku. Hembusan angin membuat jilbab putihku menari-nari. Semua hal yang mungkin saja tak akan aku rasakan lagi.

Daun-daun berterbangan dan jatuh menyentuh tanah. Mentari semakin bersinar seakan memberi isyarat pagi mulai beranjak pergi. Lima belas menit berlalu, akhirnya aku sampai di sekolah. Menyusuri lorong-lorong menuju ruang kelasku. Terlihat sudah banyak teman-teman yang duduk dan berdiri di depan kelas. Ada yang membaca buku, ada yang mengobrol, dan apa pula yang termenung di pagi hari. Tatapan manis teman-teman, bahkan tatapan sinis pun aku dapatkan. Terlihat di ujung sana teman sekelasku sedang menunggu bel masuk berbunyi.
Aku semakin dekat. Mempersiapkan senyum lebar untuk menyapa temanku pagi ini. Tiba-tiba aku mendengar desas-desus temanku yang duduk di depan kelas.
“Eh eh … dia datang, sutt” salah satu temanku memberi isyarat dan menatapku dengan mata khawatir.
“Apa yang sedang mereka bicarakan, sampai-sampai aku tidak boleh dengar. Dan ucapannya tadi?” ucapku dalam hati penuh pertanyaan. Lalu aku meletakkan tasku di bangku.
“Sudahlah tidak usah pedulikan mereka semua, kita kan selalu ada untuk mendukungmu” ucap temanku Simbara. Seakan Simbara tau aku sedang memikirkan apa.
“Iya, biarlah mereka berkomentar sesukanya.” Tambah Acha menanggapi ucapan Simbara.

Bel masuk berbunyi, semua murid masuk ke kelasnya masing-masing. Seketika kelasku penuh. Kami mulai melakukan kegiatan seperti biasa yaitu tadarus Al-Qur’an. Lima belas menit berlalu, guru segera memasuki kelas dan mulai mengajar pembahasan baru.
Kami mengikuti pelajaran dengan cermat dan fokus. Pertanyaan dari teman-teman menghiasi suasana kelas menjadi lebih hidup. Terkadang senda gurau juga terjadi.
“Karena waktu sudah habis kita lanjutkan besok pagi” ucap guruku mengakhiri pembelajaran hari ini.
“Iya bu …” jawab kami serempak, dan dilanjutkan ketua kelas menyiapkan teman-teman.
Guruku segera keluar kelas. Suasana kelas yang hening bak kuburan, sekarang berubah seperti sarang lebah. Sementara aku masih sibuk dengan catatanku yang belum selesai. Begitu juga dengan teman sebangkuku Sibel.

“Oh iya, denger-denger guru bakalan rapat lo … kemungkinan kita hanya diberi tugas” ucap Acha memecahkan keheningan kami berempat.
“Wah, bagus dong. Jadi bisa refresing otak” jawab Simbara befikir sedikit mendapat manfaat.
“Tapi Simbara, kalau guru Matematika gak masuk. Itu bencana besar tau” balas Sibel yang tidak sependapat dengan Simbara.
“Tapi kan …” sebelum selesai aku melanjutkan untuk mengungkapkan pendapat, tiba-tiba seorang guru memasuki kelas kami.
“Assalamu’alaikum?” dengan langkah tergesa-gesa, ibu Sarah selaku guru Matematika memasuki kelas. Kami hanya menjawab salamnya dalam hati.
“Anak-anak, guru akan rapat. Jadi, tolong kerjakan soal latihan mandiri halaman dua”
“Nomor berapa saja yang dikerjakan bu?” tanya salah satu temanku.
“Dari nomor satu sampai dengan dua puluh” ucapnya santai.
“What?! Bu, sepuluh saja ya? Please?” Bagas memohon keringanan dengan memasang wajah melas.
“Kerjakan di kertas selembar” tambah bu Sarah tak menghiraukan permohonan Bagas. Lalu ia pergi ke luar kelas.
Mulai terdengar kembali suara lebah di kelasku. Aku dan Sibel segera mengerjakan tugas dari bu Sarah. Dengan seribu kesulitan kami mencoba memecahkan jawaban dari soal Matematika yang membuat otak kami berputar.

Dua jam berlalu, tibalah untuk melanjutkan pelajaran yang lainnya. Lagi-lagi tetap sama, hanya tugas yang ditinggalkan oleh guru-guru.
“Sebenarnya guru-guru bahas soal apa sih? Kok lama amat” gumamku sambil mengerjakan soal-soal.

Akhirnya sekolah hari ini selesai, saatnya aku dan teman-teman pulang. Rasa lelah membungkusku dengan keringat yang cukup mengganggu hidung. Aku memulai langkah ke luar gerbang sekolah.
“Karena pergi jalan kaki ya pulang jalan kaki juga” gumamku dalam hati.
“Duluan ya?” suara Simbara yang membawa sepeda motor membonceng Acha, menghentikan langkahku. Aku hanya membalas dengan senyuman tipis.

Sinar mentari semakin menyengat, hembusan angin pembawa debu menyentuh dedaunan. Bayangan benda-benda yang hampir sejajar. Seolah menandakan sudah pukul dua belas tepat. Aku melangkah dengan perasaan tidak enak, seperti ada hal yang terjadi di rumah. Sedikit menyingsing rok dan memperbesar langkahku, dengan maksud agar cepat sampai di rumah.

Sepuluh menit berlalu, aku sudah berdiri di depan pintu rumahku. Aku melihat suasana rumah yang hening. Tidak menunggu waktu lama, lalu aku mengetuk pintu sembari mengucapkan salam. Namun aku tidak mendapat jawaban apapun dari dalam rumah. Aku mengulangi untuk kedua kalinya, tetap saja sama.
“Bu Aisyah ke mana ya bu? Saya ketuk rumahnya kok gak ada yang nyaut?” tanya bu Romlah kepada salah satu tetanggaku.
“Jadi ibu gak ada di rumah? Tapi ke mana?” gumamku dalam hati menyimpulkan pertanyaan bu Romlah yang tidak sengaja aku dengar. Aku hanya memandangi bu Romlah dan bu Susi dari kejauhan.
“Katanya tadi ke rumah sakit” jawab bu Susi singkat.
“Apa?! Ibu ke rumah sakit?” aku panik dan tanpa pikir panjang aku berlari menuju rumah sakit.

Air mata di pipi terus saja mengalir tanpa henti. Cuaca yang tadinya cerah tiba-tiba berubah. Awan mulai menghitam dan hujan mulai turun. Aku terus bertanya di dalam hati. Siapa yang sakit? Apakah ibu? Atau ayah? Tapi mengapa aku tidak diberi tau? Inikah jawaban perasaanku tadi?

Langkahku terhenti tepat di depan rumah sakit. Aku tidak tau kenapa aku tidak merasakan lelah sedikitpun. Padahal, jarak rumahku dan rumah sakit ini cukup jauh. Tanpa berfikir, aku memasuki lorong demi lorong. Aku melihat ibu duduk di kursi tunggu tepat di depan ruang UGD dengan air mata memenuhi wajahnya. Aku hapus air mata di pipi dan melangkah mendekati ibu.
“Ibu siapa yang sakit? Apakah ayah baik-baik saja? Kakak dan adik baik-baik sajakan bu?” aku mulai bertanya kepada ibu dengan suara serak.
Ibu tidak langsung menjawab pertanyaanku. Ibu membisu dan terus menangis, sesekali melirik ke arah pitu ruang UGD. Aku melihat ke arah pintu kaca itu, tetapi aku tidak melihat apapun. Gorden warna biru menghalangi pandanganku, aku hanya melihat seseorang sedang terbaring di sana.
“Ibu, berhentilah menangis, katakan siapa yang terbaring di sana?” aku memaksa ibu mulai berbicara dan duduk di sebelahnya. Tapi semua sia-sia. Ibu tetap diam seribu bahasa.
Aku yang putus asa berlari keluar. Mendongakkan kepala ke atas, dan menatap langit biru yang sudah tertutup awan hitam.

“Ya Allah, berikan kesabaran untuk ibu? Buatlah ibu mengerti, aku juga sedih saat ini. Kenapa ibu diam saja?” ucapku penuh kesedihan dan kehawatiran karena sikap ibu yang tidak seperti biasanya.
Tiba-tiba aku melihat seorang wanita berlari bersama seorang pria. Aku melihat mereka dengan kening mengkerut.
“Siapa mereka, sepertinya aku mengenal mereka” gumamku sembari mengikuti mereka dari belakang.
“Ibu, sudahlah … Kami ada untuk ibu. Ana dan Abdiel akan selalu bersama ibu” suara wanita yang menyebut namanya dengan nama kakakku.
“Ana? Abdiel? Apakah kakak dan adikku? Lalu siapa yang di dalam sana? Apakah ayah?” ucapku penuh bertanya dan aku berlari memanggil ibu.
“Ibuuuuuu …” Tangisku yang terisak-isak membuat suaraku makin serak. Tapi ibu tetap tidak menghiraukanku.
Aku merasa mereka tidak peduli, bahkan mereka melupakanku karna hal ini. Sebenarnya siapa yang berada di dalam sana? Kenapa kalian seperti ini?
“Ibu … kenapa ibu tidak peduli denganku. Apakah aku seburuk itu? Apa kesalahan yang aku lakukan ibu?” rintihku seakan tak percaya dengan perlakuan ibuku sendiri.

“Kamu itu bodoh ya? Kamu bilang mereka tidak peduli? Malang sekali” suara lembut seorang wanita di balik tubuhku. Spontan aku langsung menoleh.
“Ternyata ada orang yang senasib denganku ya? Perempuan pula” tambah wanita berwajah pucat berbaju putih seragam rumah sakit.
“Siapa kamu? Aku senasib denganmu? Aku bukan orang yang berpenyakit seperti kamu!” jawabku ketus seolah melampiaskan marahku padanya.
“Hai, jangan sombong dong Myesha. Arwah seperti dirimu itu tidak pantas untuk menyombongkan diri” ucapnya seolah meremehkanku.
“Siapa yang arwah. Kamu atau aku hah?! Dan dari mana kamu tau namaku” aku masih menjawabnya dengan ketus.
“Untuk apa kamu tau, ada yang lebih penting dari namamu. Bukankah kamu bertanya siapa yang ada di dalam sana? Itu adalah kamu sendiri. Kamu lihat, di ruangan itu. Itu adalah jasadku, aku sudah koma selama dua tahun lamanya. Tapi sayang, keluargaku tidak ada yang mengerti kalau aku tersiksa. Mungkin mereka berfikir aku bisa hidup kembali, tapi aku sudah lama mati. Dan kamu juga seperti itu.” Tambah wanita misterius itu.
“Kamu pikir aku akan percaya begitu saja. Jika kamu memang sudah mati dan arwahmu gentayangan, jangan mencari orang untuk kamu jadikan sepertimu juga. Itu adalah ceritamu, bukan hal yang aku alami. Dasar wajah pucat” jawabku sombong dan mempertahankan harga diri.
“Oh.. aku mengerti, saat ini ucapan tidak penting bukan? Yang kamu butuhkan bukti. Benar begitu? Baiklah. Aku akan membuktikan” seraya melangkah dan menarik pergelangan tanganku.
“Mau kamu bawa ke mana aku? Ke kuburan, atau ke alammu? Menyebalkan!” sembari aku terpaksa mengikutinya dari belakang.

Beberapa detik kemudian aku sampai di sebuah daerah yang tidak asing bagiku. Aku berada di sekolahku. Tapi ada yang aneh, kenapa aku bisa melihat kejadian tadi pagi saat kami sedang belajar?
“Kamu dan aku sedang melewati dimensi waktu, dan saat ini kamu berada di waktu yang lalu saat kamu berpikir kamu pergi ke sekolah. Sebenarnya itu hanyalah khayalanmu. Tapi mungkin saja itu nyata, dan yang pergi ke sekolah adalah arwahmu.” Jelasnya seakan dia tau apa yang aku pikirkan.
“Mana buktinya? Cuma ini doang, aku mah juga bisa kalo kayak gini” jawabku seakan masih tidak percaya.
“Kamu lihat tempat dudukmu itu. Kosong, dan akan tetap kosong sampai nanti siang.” Jelasnya singkat dan jarinya menunjuk ke arah tempat dudukku. Yang aku lihat hanya Sibel sendiri di sana.
“Kamu masih tidak percaya ya? Baiklah, aku akan memperlihatkan beberapa video yang mungkin membuat kamu percaya. Saat kamu pertama kali datang. Kamu ingat? Ada dua orang temanmu yang sedang membicarakanmu. Dan mereka tiba-tiba diam setelah kamu datang, tapi mereka diam bukan karena kedatanganmu melainkan Sibel” dia menjelaskan video yang ada di tangannya.
“Halah, itu cuma editan doang” sanggahku padanya masih tak percaya.
“Kamu itu keras kepala ya? Baiklah aku akan menjelaskan lagi. Kamu ingat saat kamu pulang sekolah, apakah kamu merasakan hangat dan apakah kamu melihat bayanganmu?” Keluhnya dan ia mulai menjelaskan.
Aku seakan terbawa kembali saat aku berada di sekolah dan saat aku pulang. Aku sempat berfikir, apakah itu benar? Tapi mengapa, aku masih hidup. Aku belum mati, aku berbicara dengan mereka.
“Bayanganmu telah hilang Myesha” jelasnya singkat.
“Kamu berpikir kamu berbicara dengan mereka? Tapi kamu tidak berpikir tentang pertanyaanmu yang tidak ibumu jawab? Sebenarnya kamu tidak berbicara dengan mereka Myesha.” lanjutnya dan menunjukkan video percakapan antara Simbara, Acha, dan Sibel tanpa aku.
“Bagaimana kamu bisa mendapatkan video ini?” tanyaku penasaran dan penuh curiga.
“Itu tidak penting” jawabnya seakan merahasiakan sesuatu.
Aku mulai menyadari, jika aku memang benar-benar tidak ada di sana. Tapi aku masih tidak percaya.
“Myesha. Aku hanya ingin membantumu. Tetapi jika kamu mempercayai aku” suara lembutnya yang seolah merayuku dengan tawarannya.
“Aku masih tidak percaya. Apa kamu mengerti!” jawabku tegas tanpa keraguan.
“Sudahlah, aku tidak ingin berdebat denganmu” ucapnya pasrah dan melangkah pergi meninggalkanku.

Aku kembali ke rumah sakit dan menuju ruang UGD untuk melihat sendiri siapa yang terbaring di sana. Tapi aku tidak bisa melihatnya, karena aku mendengar suster melarang ibu untuk masuk. Aku hanya terdiam dan terus berpikir. Aku tidak mencoba untuk kembali bertanya kepada ibu. Kakak dan adikku terus mondar-mandir dan sesekali melirik ke arah pintu UGD dengan tangan diusapkan ke muka.

Saat aku sedang termenung dan memikirkan apa yang terjadi sebenarnya, aku melihat wanita berwajah pucat itu sedang berdiri di samping tiang dan menatapku dengan rasa iba. Aku memalingkan wajah dengan tampang cuek dan jutek. Tiba-tiba terdengar langkah kaki dari pintu masuk. Aku menolehkan kepala dan melihat siapa yang datang.

“Ayah?” aku merasa gembira dan berlari mendekti ayah. Tetapi langkahku terhenti seketika.
“Jika ayah di sini, berarti yang di dalam sana?” aku mulai ragu dan melihat di sekelilingku mencari wanita berwajah pucat itu.
“Bagaimana? Apakah kamu sudah percaya? Bahwa kamu yang berada di sana dan bukan salah satu dari keluargamu.” Ucapnya mengejutkanku.
“Tapi kenapa aku? Aku yakin, aku belum mati” tanyaku butuh kejelasan yang pasti darinya.
“Aku juga tidak tau, tapi kita bisa mencari tau.” Ucapnya sambil melihat ke kiri dan ke kanan. “Nah.. itu dokter yang memeriksamu. Ayo kita ke sana” ajaknya melangkah mendekati dokter dan keluargaku.

“Pak, bu. Anak bapak dan ibu mengalami penggumpalan darah di otaknya. Ini membuat anak bapak dan ibu tidak sadarkan diri.” Jelas sang dokter singkat.
“Kenapa itu bisa terjadi dok?” pertanyaan ibu yang diselimuti rasa khawatir.
“Bisa jadi karena benturan keras di kepalanya saya juga akan memeriksa lebih lanjut dan mencari jalan keluarnya.”
“Dok, tolong lakukan apa saja untuk kesehatan anak saya.” Ucap ayah penuh was-was.
“Baiklah pak, saya akan berusaha semampu saya” sahut dokter menyanggupi.
“Tolong selamatkan kakakku dok” sambung adikku.

Dokter meninggalkan kami semua. Dan aku mulai memikirkan apa yang aku alami sebelumnya. Seketika aku ingat kejadian malam itu. Saat aku sedang menyelesaikan tugasku, dan aku mengakhirinya untuk tidur. Tiba-tiba kepalaku terbentur tembok kamar. Tapi seingatku aku merasakan sakit dan tetap melanjutkan tidur. Kenyataannya aku bukan tidur, tetapi aku koma dan tidak sadarkan diri.

“Aku percaya padamu. Aku memang sedang berada di alam yang sama denganmu.” Ucapku pelan dan merasa sedih dengan keadaanku sekarang.
“Aku tau kamu akan menyadarinya Myesha. Tapi aku berharap kamu akan sembuh dan kembali bersama keluargamu lagi nanti. Tapi Myesha, satu hal yang harus kamu ingat jangan pernah sia-siakan kehidupanmu untuk melakukan hal yang buruk dan tidak bermanfaat.” Pesan wanita itu singkat.
“Terimakasih… Maafkan atas ucapanku tadi, aku mengatakan itu karena aku tidak percaya padamu. Aku menyesal sudah berkata kasar padamu, padahal kamu ingin membantuku” jawabku mengakui kesalahan dan penyesalan.
Wanita itu pun pergi meninggalkanku dan aku tetap berdiri menatap pintu ruang UGD, aku mencoba menerobos masuk. Karena jika aku masuk, suster juga tidak akan menyadari keberadaanku. Aku melihat tubuhku yang terbujur tak berdaya. Selang impus dan oksigen menghiasi tangan dan hidungku.
Aku berdo’a kepada Allah, untuk memberi kesempatan padaku sekali lagi. Aku adalah hamba yang penuh dosa, dan aku belum banyak berbuat kebaikan. Aku juga anak yang belum sepenuhnya berbakti kepada orangtua, aku bukan adik dan kakak yang baik untuk saudaraku.
“Masih banyak yang harus hamba perbaiki Ya Allah, beri hamba kesempatan lagi untuk beribadah kepada-Mu dan berbuat baik pada semua orang. Hamba mohon Ya Allah …” pintaku lirih kepada sang pemilik nyawaku.

Aku termenung dan berharap bahwa ini bukan akhir dari ceritaku. Aku yakin, aku bisa sembuh, dan aku yakin Allah mendengar do’aku. Jika memang ini akhir dari ceritaku, aku hanya mampu menuruti keinginan Allah. Aku juga yakin, bahwa semua yang terjadi adalah yang terbaik untukku dari Allah. Tapi aku juga berharap, seluruh keluargaku ikhlas menerima semua ini dan merelakanku untuk kembali pada-Nya. Aku ikhlas Ya Allah jika memang ini keputusan-Mu.

Cerpen Karangan: Rani Vidiarti
Facebook: Rani Vidiarti
Namaku Rani Vidiarti. Sekolah di SMAN 1 Sungai Apit.
PIN BB: 5774E858
fb: Rani Vidiarti
ig: @ranividiarti

Cerpen Bayangan Yang Hilang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kertas Dalam Buku

Oleh:
Seperti biasa, dia di sana. Berdiri di depan sebuah rak buku yang tinggi berisikan buku-buku yang begitu membosankan bagi sebagian besar orang. Matematika, Fisika, Kimia. Meskipun rak itu tinggi,

Entah

Oleh:
Sinar matahari menembus jendela kacaku membuatku terbangun dari mimpi-mimpi indahku semalam, serta disambung suara teriakan mama yang menambah suasana hatiku “Farah bangun sayang sudah pagi”. Segera ku beranjak dari

Valentine Pertama

Oleh:
Pagi itu di sebuah sekolah menengah pertama, tepatnya SMP HARAPAN 2, langit terlihat cerah burung-burung pun berkicau riang seperti biasanya. Suasana cerah itu berbeda dengan suasana hati seorang gadis

Me and Rava

Oleh:
Cuaca di pagi hari ini sangat tidak mendukung. Awan mendung menandakan hujan akan turun, angin semilir mengenai tubuhku, matahari yang biasanya muncul dari arah timur kini tertutup awan yang

Antara Kita dan Taekwondo

Oleh:
Awal mulanya aku masuk organisasi taekwondo, aku disitu kenal banyak temen, salah satunya Mitsalina yang sekarang sudah ngelanjutin perguruan tinggi negeri di Malang. Kita awal latihan taekwondo itu semangat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *