Rose adalah Mawar (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 21 July 2021

Di pagi yang remang, Els, seorang bocah lelaki berambut gimbal menciptakan suara berderit dengan setiap langkahnya di atas lantai bambu. Ia berjalan gontai menuju pria yang sedang nyeyak tertidur di samping seorang gadis.

“Paman Josh, Paman Josh.” Els menggoyang-goyangkan kaki pria berkostum koboi itu. Yang dipanggil seketika membuka matanya.
“Oke, okeee, Els yang manis,” seru Josh dengan suaranya yang mirip terompet. Ia langsung mengangkat punggungnya ke posisi duduk. Lalu menoleh sekilas ke wanita yang masih tidur di sampingnya.

Els buru-buru menutup telinga ketika melihat pemuda gagah tersebut mengambil pistol dari saku jubah koboinya.

“DOR!”
Gadis di samping Josh sontak terbangun dan mengambil posisi duduk dengan wajah kaget bercampur takut.

“Masa kau selalu bangun lebih lambat dari bocah ini!?” damprat Josh sambil mengayunkan kepalanya ke arah Els. Ia kembali mengantongi pistolnya yang ternyata tak berpeluru.

Els yang berdiri di depan Josh hanya menunduk—berusaha menyembunyikan mimik wajahnya. Sudah terlalu sering ia melihat kelaliman lelaki di hadapannya. Usianya baru setengah lusin, namun entah berapa kali ia menyaksikan adegan dewasa Josh dengan wanita itu.

Bukan, pemudi itu bukanlah istri Josh. Begitu pun Els bukanlah keponakannya.
Anak bertubuh kerempeng tersebut hanya menyorotkan tatapan benci ke lantai bambu di depan kakinya. Ia tak berani menampakkan tatapan itu kepada Josh, pria yang membuatnya kehilangan rimba ibunya.

Josh berdiri lalu mengacak rambut gimbal Els. “Kau kenapa bengong, Nak?”
Els tersadar dari lamunannya, tanpa menjawab pertanyaan barusan.

“Mawar, cepat hidangkan semua persediaan makanan untuk sarapan kita pagi ini!” perintah Josh sambil mengambil topi koboi yang tergantung di dinding—yang juga berbahan bambu.
“Semua? Bagaimana untuk makan siang dan malam kita, Tuan?” Mawar, wanita muda berambut hitam panjang mencoba menyampaikan kejanggalannya dengan sopan.
“Nanti, saat aku dan Els bertualang mencari catatan Tesla di hutan aneh ini, kaupikir kau hanya bersantai di sini? Tentunya kaucari makanan keluar!” bentak Josh disambut berdirinya Mawar.
“Baik, Tuan. Saya segera siapkan.” Mawar bercakap dengan nada takzim, sedikit membungkukkan badannya. Raut sedih tersimpan di wajahnya. Tatapannya menyimpan pasrah dalam ketersiksaan.

Sejauh mata memandang—ke mana pun arahnya—jenggala ini berkomposisi rumah-rumah panggung berbahan bambu dengan bentuk seragam, masing-masing berjarak sepuluh meter diselingi pepohonan tak bertuan. Tak ada tanah yang diaspal atau dibotaki untuk dibuat jalan.

Sepuluh menit sudah Els lewati dengan duduk menonton Josh yang sibuk memberi makan kuda cokelatnya—yang entah dari mana dia dapat. Yang Els tahu, Josh adalah seorang koboi super lincah dan terampil. Menjinakkan seekor kuda liar selama sehari kemarin bukanlah prestasi baginya.

Ini adalah hari kedua Josh mempraktikkan semua kemampuannya di dunia yang cocok dengan jiwanya, hutan.

Pagi kemarin, ketika mereka masih berada di sebuah rumah kecil di kota kecil, Els dipaksa untuk meminta Keppo—jin pendamping Els—agar mengantar mereka ke hutan ini.

“Katakan pada Keppo, aku ingin mencari catatan penting Nikola Tesla yang hilang!” kecam Josh sambil menatap tajam Els yang punggungnya merapat ke dinding. Jarak antara kedua wajah mereka hanya sejengkal.

Els diam sejenak—ia sedang berbicara dengan Keppo (yang hanya bisa dilihat olehnya) dengan suara hati. Jin berbadan jumbo itu berada di sampingnya, jadi ia tak perlu mengulang pernyataan Josh.
Keppo bertubuh tiga kali lebih besar dari orang dewasa. Seluruh kulitnya hitam legam. Yakinlah, Josh tak akan berani memaksa Els demikian jika ia bisa melihat Keppo.

“Emm … Keppo bilang, Nikola Tesla itu siapa? Dan bagaimana catatannya bisa nyasar ke alam jin?” Els dengan wajah polosnya mengulang perkataan Keppo.
“Tesla itu ilmuwan besar kelahiran abad sembilan belas. Semalam, aku memimpikan ayahku. Ia bilang di hutan bambu dunia jin, catatan Tesla yang bisa mengubah dunia dibawa oleh seorang jin kutu buku ke sana. Catatan itu disimpan di kotak abadi, jadi tak akan hancur walau usianya kini hampir dua ratus tahun. Ayah menyuruhku untuk mengambil catatan itu dan melelangnya di sini, pasti mahal. Kau tahu? Walau ayahku seorang pejudi, bahkan kudengar ia mati karena judi—meski aku tak tahu bagaimana proses kematiannya—perkataan Ayah yang kudengar di mimpi selalu benar. Itu sudah terbukti sepanjang hidupku.” Josh berucap panjang lebar seakan ia sedang mengobrol dengan Keppo, meski tak bisa dilihatnya.

Pria itu terus menjelaskan. Ia menceritakan kedatangan Mawar. Setahun lalu, Mawar—yang entah dari mana asalnya—tiba-tiba datang ke rumahnya dan minta dinikahi. Josh bilang ia tak ingin beristri sampai mati, namun Mawar memaksa. Akhirnya ia menerima tawaran Josh—menjadi budaknya. Mawar setuju asal ia menjadi pendamping hidup Josh, apa pun statusnya. Sebulan sebelum kedatangan Mawar, Josh sudah bermimpi berkali-kali ayahnya meramalkan kejadian tersebut, begitu pun pertemuan ia dengan Els dua tahun lalu.

Els tahu, Keppo enggan membantu pemuda keji itu. Namun ia akhirnya menurut karena melihat Els yang dikecam sedemikian kejam. Sedangkan Keppo tak bisa membela Els menentang Josh—itu peraturan bangsa jin, mereka tak boleh menyakiti apalagi membunuh manusia.

“Tapi Paman, Keppo bilang—”
“Ah, sudahlah tak usah banyak omong. Keppo sudah mengiakan, ‘kan? Aku tak mau mendengar bualanmu, Els! Cepat suruh Keppo antarkan kita semua, termasuk Mawar,” suruh Josh sambil kembali menegakkan badan.

Els melihat Keppo menjentikkan jarinya. Dalam sekejap, mereka berempat lenyap dari rumah itu.

Tahu-tahu mereka berada di dalam rompok yang setiap bagiannya berbahan bambu. Josh langsung berlari keluar. Mawar terperanjat melihat sosok hitam besar yang tidak lain adalah Keppo. Kini ia bisa melihatnya.

“Els, kita tidak membawa persiapan apa pun ke sini?” tanya Mawar.
“Entah, Tante. Mungkin Keppo terlalu terdesak dengan paksaan Paman Josh,” bisik Els.
“Masalahnya, kalau begini pasti aku yang akan repot mencari pangan.” Mawar mengeluh.
“Els, ayo ikut aku!” Dari luar, suara Josh terdengar penuh semangat.

Begitu menuruni tangga rumah panggung itu, Els menyampaikan pesan Keppo, “Paman, kata Keppo kita hanya boleh berkeliaran di sini hingga petang. Di malam hari, seluruh jin memulai aktivitasnya. Dan Keppo tak akan keluar dari rumah di siang maupun malam. Ia tak ingin ketahuan jin-jin lain bahwa ia mengantar manusia ke sini. Aku pun tak mau ikut, Paman, di sini saja.”
Josh mengiakan, lalu Els kembali masuk.

Josh mulai berkelana entah ke mana.
Hingga sore hari, ia pulang membawa seekor kuda cokelat yang sudah dijinakkan.

Kuda Josh sudah selesai sarapan. Begitu pun tuannya, Els, dan Mawar. Mereka menyantap rebung rebus dan kelapa muda. Keppo? Ia belum terlihat pagi ini, mungkin pergi ke alam manusia untuk sekadar makan.
Kuda bertubuh kekar itu meringkik begitu mendapat satu pecut pemanasan dari Josh. Ia tidak membawa cambuk, jadi kayu rotan sebagai gantinya.

“Ayo, Els. Kali ini kau harus ikut,” ajak Josh sambil naik ke punggung kuda.
Els menuruni tangga, berjalan menuju kuda.
“CPLAK!” Satu pecutan lagi, pemanasan lagi.

Els urung naik ke kuda itu. Kuda Josh sudah melaju sebagai jawaban pecutan kedua. Tidak, kuda itu tidak berlari di bawah kendali penunggangnya. Ia berlari menyeruduk rumah bambu yang ada Mawar di sana.
Jeritan Mawar nyaring terdengar.

Rupanya bukan kuda biasa, rumah yang diseruduknya roboh. Beberapa bambu terpental sekian meter. Josh terpelanting, tengkuknya yang pertama menyentuh tanah. Topinya terlepas, kini menggantung di leher—berkat tali topi tersebut.
Els terpaku di tempat. Mulutnya menganga.

Josh sigap langsung kembali berdiri. Mencoba merogoh saku, berharap ada sisa peluru. Dapat. Ia memasukkan dua peluru ke dalam pantat pistol. Mengarahkan mulut pistol ke perut kuda.

Satu peluru melesat.
Peluru tersebut gagal menembus kulit kuda yang kini memerah seluruhnya. Berangsur-angsur namun cepat, tubuhnya berubah menjadi sesosok manusia. Ukurannya seperti Keppo—tiga kali orang dewasa. Seluruh kulitnya merah menyala.

“Tante Mawar!!!” Els berlari ke rumah runtuh.
Dari reruntuhan bambu itu, Mawar keluar tanpa luka sedikit pun di tubuhnya. Ia berlari balas menghampiri Els.
“Lari Els,” ujar Mawar sedikit berteriak.

Els berhenti berlari ke arah Mawar. Ia melihat segumpal asap hitam keluar dari reruntuhan itu. Asap itu terbang searah dengan Mawar. Els tahu asap itu adalah Keppo. Ia yang menyelamatkan Mawar.
“LARI!!” pekik Els sambil kabur searah di depan Mawar.

Cerpen Karangan: Triper Tuju
Blog / Facebook: Ziyad Husaini
Triper Tuju. Terlahir di Jakarta, 15 Februari 2005. Menulis untuk mengabadikan pikiran dan menyebar manfaat bahkan kepada orang nan jauh dan tak dikenal. Kini ia sedang menjalani pendidikan di pondok pesantren Darus-sunnah, Ciputat, Tangerang Selatan.

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 21 Juli 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Rose adalah Mawar (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bukan Salahku

Oleh:
Aku menatap iba seorang ibu dan anak yang ada di hadapanku. Wajah mereka sangat menyedihkan, lebih lagi si anak itu. Dia mencoba untuk membangunkan ibunya yang telah pingsan. Ah,

Tenggelamnya Sekoci Yin Galama

Oleh:
Langit merah mulai memenuhi ufuk Barat, kicau burung-pun mulai tak terdengar lagi. Gemuruh ombak kian teratur. Angin bertiup sepoi-sepoi. Seisi alam mulai mengakhiri aktivitasnya. Dari kejauhan terlihat bayangan samara-samar

Mars (Part 1)

Oleh:
Pagi itu Dyalan terbangun dalam keadaan yang sangat letih, sebab semalam dia harus pulang larut setelah menyelesaikan tugas skripsi bahasa indonesianya. Yang mengalahkan ketebalan KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA. “Ngoammm.”

Sang Penyelamat

Oleh:
“Andra!” Sandara merengut kesal saat seseorang memanggil namanya seperti itu. Ia berbalik dan mendapati seorang lelaki melambaikan tangan padanya. Raut wajahnya tambah kesal saat melihat pria itu. “Aku mau

Gitar Sayap

Oleh:
Kasur letih menopang tubuh dalam empuknya. Wajah nan berbinar, sorotan mata tak bertujuan, terhanyut pikiran mengkhayal banyak kisah terkandung dalam kepala. Namun, diri ini juga sadar akan keadaan. “Tidak!

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *