Aisha

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 1 March 2017

“Operasi akan dimulai pukul 7 malam ini pak” ujar dokter Ikhlas pada Ayahku. Bunda yang mendengar hal itu tak kuasa menahan tangisnya.
“Bun, Aisha gak siap, Bun. Aisha takut” ucapku sambil menahan tangis. “Nggak sayang, kamu harus dioperasi. Jika terlambat, akan semakin berbahaya” ucap Ayahku.
Aku yang yang tengah terbaring lemah di rumah sakit ini hanya dapat terdiam sambil terus berdoa kepada Allah. Aku sedang mengidap penyakit Tumor jinak.

“Nona Aisha, ayo kita akan menuju ruang operasi” ucap perawat pria yang masuk dengan membawa kursi roda.
“Bun..” lirihku. Kulihat Bunda ditemani oleh Bibiku hanya meneteskan air matanya, seolah tak berdaya.

Aku pun masuk ke ruangan operasi. Saat ini dokter belum tiba di rumah sakit. Aku harus menunggu selama setengah jam sambil tak hentinya berdoa pada Allah. Namun, aku merasakan hal yang aneh. Kulihat di ruangan observasi banyak sekali makhluk yang terus menggangguku. Bermacam ragam bentuk dan rupanya. Aku terus membaca Ayat Kursi dan mencoba menghilangkan rasa takutku. Tak bisa diragukan lagi, karena aku memang terlahir sebagai anak indigo.

Namun, kulihat seorang wanita mendekatiku. Dia tidak dapat berjalan. Apakah ini yang disebut suster ngesot? Aku tak pernah melihat makhluk ini sebelumnya.

Aku memutuskan untuk keluar ruangan operasi dan mencoba mencari Ayah.

“Ayah, Aisha takut, Yah. Di dalam banyak banget. Batalin aja deh, Yah” pintaku pada Ayah.
“Nggak bisa, Sha. Dokter Ikhlas sudah tiba. Masuk sana. Serahkan saja semuanya kepada Allah. Allah pasti melindungimu” Ucap Ayah menenangkanku

Tak lama kemudian, muncullah seorang pria tampan yang tak lain adalah Dr. Ikhlas.
“Ayoo, kita masuk yuk. Gak usah takut, serahkan semua sama Allah” ucapnya sambil menuntunku masuk ke ruangan bedah. Aku pun mulai duduk di meja bedah. Tapi aku merasakan hal yang sangat aneh. Aku merasa sedang menduduki suatu cairan yang sangat amis. Kulihat ke samping kananku, ternyata banyak sekali genangan darah. Padahal sebenarnya itu hanyalah kain hijau sebagai alas meja operasi itu.

“Tiduran dulu dek” ucap perawat sambil membimbingku. “Tit.. tiduran di sini kak?” ucapku. Lalu ia mengangguk.

Saat ini kuserahkan semuanya kepada Allah. Aku yakin Allah pasti menjaga dan melindungiku. Lalu aku pun mulai dibius dan tak sadarkan diri

Dua jam telah berlalu, aku pun mulai tersadar. Kulihat di samping kananku, ada seorang ibu yang telah selesai melahirkan sepertinya. aku merasa aman karena aku mempunyai teman.

“Kak, masih lama pindahnya? Aisha kedinginan” ucapku pada perawat yang menjaga.
“Sebentar lagi ya dek? Kita tunggu perintah Dokter dulu” aku mengangguk lemah.

Kucoba memejamkan mataku. Namun dari arah kanan seperti ada yang memanggilku “Aishaa Aishaaa” kulirik ke kanan, tak ada yang memanggilku. Ibu yang di sebelahku ini sedang mengobrol bersama suaminya. Lalu kudengar dari samping kiri, kebetulan ada jendela. Seperti ada yang mengetuk jendela itu. Dan aku melihatnya, namun ketika kupalingkan wajahku ke kiri, suara itu kembali memanggilku “Aishaa Aishaaa” Beruntung, datanglah perawat tadi.

“Ayo dek, kita pindah ke kamar inap” ujar
Aku mengangguk senang dan setibanya aku di ruang rawat, aku menceritakannya pada Ayahku.

Cerpen Karangan: Angelia Yulisa

Cerpen Aisha merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Makan Malam

Oleh:
Dean dan Edward hanya diam menopang dagu di perahu karet berwarna kuning kusam. Tak ditemukan satu orang pun. Dilihatnya kiri kanan, hanya ada air biru membentang luas, itu lautan.

Home Alone

Oleh:
Huft.. Kubenamkan wajahku di atas kasur empuk bermotif kartun doraemon kesukaanku. Pokoknya aku tidak akan keluar kamar sebelum mama mengizinkanku pergi bersama teman temanku ke bioskop. Tok.. Tok.. Tok

Restoran Tak Berpenghuni

Oleh:
Aku dan sekeluarga saat ini sedang liburan. Kami berkeliling di sebuah Desa. Di sana kami berfoto di sebuah sawah yang asri dan indah. Karena kepanasan, kami mencoba untuk beristirahat

Seseorang di Rumahku

Oleh:
Hujan semakin lebat, sementara ayah dan ibu belum pulang. Hari pun semakin malam, aku sendirian di rumah tak ada yang menemani. Suasana semakin mencekam tatkala guntur semakin menyerang rumahku.

Sihir Hitam

Oleh:
Belum sempat Mia menaruh tas yang dijinjingnya, terdengar suara teriakan dari rumah sebelah. Rumah yang ditinggalkan pemiliknya sebulan lalu. “Tolong, tolong, tolong…!!!” Mendengar suara itu dia lantas bergegas menuju

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *