Dendam Siluman Tikus (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Thriller (Aksi)
Lolos moderasi pada: 13 February 2017

Aku bersembunyi di bawah meja. Aku masih hidup. Aku menatap sebuah kaca, tergambar wajahku menyiratkan ketakutan. Aku tahu aku tidak bisa mengharapkan ampunan apa pun dari Malak. Dia sudah diselimuti api dendam yang membara. Kalau saja aku menelepon polisi. Kalau saja aku berani bergerak. Kalau saja… tetapi, yang bisa kulakukan sekarang hanyalah meratapi nasib. Aku sudah tidak berdaya. Langakahnya terdengar pelan dan menuju kemari. Beberapa detik lagi, Malak akan membunuhku, menghancurkan kepalaku dengan palu besar yang digenggamnya sepanjang waktu.

“Ya, ya, teruslah bersembunyi gadis kecil sialan!” sorak Malak. “Aku suka permainan kejar-kejaran ini.”

Aku berlari menuju rak bahan-bahan kue dan melihat baking soda. Itulah saat aku menemukan sebuah ide. Ide yang muncul di kepalaku benar-benar sebuah ide gila. Bahkan, terlalu berisiko. Aku ingat pelajaran kimia ketika SMA, kalau zat sodium bicarbonate bisa membuat tubuh tikus hancur dan tidak dapat dikenali lagi sebagai binatang. Aku tidak punya pilihan lain, aku harus menguji teori yang disampaikan Ibu Komariyah itu. Masalahnya, bagaimana caranya aku menyumpalkan soda ke mulut Malak? Menatapnya pun aku tak berani.

Aku meraih sebungkus baking soda itu. Dengan sangat perlahan, aku menurunkan tubuhku sedikit demi sedikit agar Malak tidak curiga. Sialnya, ia sudah menemukanku dan kembali mencengkramku dengan ekornya yang menjijikkan. Aku ingin mengatakan sesuatu seperti maaf. Tapi, saat aku mencobanya, tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutku. Itu bukan masalah terbesarnya, karena sesaat kemudian ia melemparku ke atas, aku melambung hingga pada akhirnya sadar tubuhku membentur langit-langit di toko roti itu. Rasa sakit menyengat tubuhku. Otot-ototku terasa mengerut. Kakiku lumpuh. Mati rasa. Tidak bisa merasakan apa-apa. Aku mencoba menggerakkan jari-jari kakiku, mencoba untuk berdiri. Aku sangat takut. Malak ingin membunuhku, dan mungkin saja ia akan memakan dagingku setelah itu. Aku harus memikirkan sesuatu. Kepalaku kembali berputar.

“Sekarang saatnya gadis kecil, kau bisa mengucapkan selamat tinggal,” ia mengayunkan palu besar ke arahku. Aku menangis, memejamkan mata hingga pada akhirnya keluarlah satu kata dari mulutku yang menahan serangannya itu.

“Tunggu,” kataku.

Malak menghentikan gerakkan tangannya. Aku berucap tanpa berpikir terlebih dahulu. Sekarang apa yang harus aku lakukan? Ayo berpikir Katherine, gumamku dalam hati. Ia menatapku, pandangannya menandakan kebingungan, di waktu yang bersamaan aku bisa melihat air liurnya menetes. Sungguh menjijikkan.

“Aku sudah puas bermain-main gadis kecil, sekarang aku akan mengakhiri penderitaanmu,” teriak Malak sambil menodongkan palu besar yang dipegangnya ke wajahku.

“Bisakah aku dapat pengampunan darimu? Maksudku, izinkan aku melakukan sesuatu untukmu sebelum kau membunuhku,” kataku lirih.

“Apa yang ingin kau lakukan?” tanya Malak.
“Aku punya resep rashasia yang diajarkan ibu, aku ingin membuat roti keju terlezat untukmu.”

Ia tertawa. “Hahaha, jangan pikir aku akan berbelas kasih padamu gadis kecil. Aku tidak akan mengurungkan niat untuk membunuhmu. Satu kebaikan tidak akan mengubah semua yang kau lakukan terhadapku.”

“Aku hanya ingin merasa bebas sebelum pergi dari dunia ini. Lagipula, kau terlihat butuh kekuatan tambahan untuk menghancurkan kepalaku. Jadi, bisakah aku memasak roti untukmu?” itu kalimat paling dramatis sekaligus terbodoh yang pernah kuucapkan kepada seseorang yang ingin membunuhku.

“Apakah kau meragukan kekuatanku gadis kecil?” Malak terlihat geram. “Tapi baiklah, aku akan memberimu lima menit terakhirmu di dunia, apa salahnya menyantap sepotong roti keju favoritku sebelum mengeksekusimu.”

Ini lebih buruk dari yang kubayangkan. Tapi jika rencana ini berhasil, aku akan sangat berterima kasih kepada Ibu Komariyah walaupun aku sangat membenci pelajaran kimia. Aku mengambil bahan-bahan dan perlengkapan yang diperlukan, kemudian menuju dapur untuk memanggang roti keju yang akan kuubah menjadi bom soda pembunuh tikus raksasa sialan itu.

Malak bukan siluman yang suka mengobrol. Menurutku, ia sangat membosankan dan membuatku hampir menguap. Sekarang, aku meletakkan dua roti tawar dan selembar keju mozzarella yang sudah dicampur seperempat bubuk baking soda di atas panggangan. Untuk sejenak, aku bisa merasa santai menghadapi musuh yang siap membunuhku kapan saja.

Aku mengayunkan spatula tua yang kutemukan di dapur, membolak-balik roti tawar hingga warnanya terlihat kuning, aku pikir itulah beberapa hal yang diberitahu ibu. Aku meletakkan keju beracun di tengah roti lalu menumpuk bagian atasnya dengan roti lain hingga terlihat berlapis. Selama beberapa menit keadaan toko roti terdengar sunyi, selain bunyi kompor yang menderam. Itu adalah momen paling canggung yang pernah kualami selama hidup.

Masakanku akhirnya selesai, jika saja aku seorang chef terkenal aku akan memberi nama hidangan ini “Roti Meledak”. Sentuhan terakhir, aku menuangkan sekaleng coca-cola dingin ke dalam gelas yang biasa dipakai meminum anggur. Gagasan ini terlihat bodoh ketika aku sadar bahwa Malak adalah hewan pengendus. Tentu saja ia akan mengetahui jenis hidangan yang kusajikan untuknya. Sekali lagi aku bertanya pada diriku sendiri, apakah tikus raksasa itu punya otak yang cukup besar untuk mengetahui perbedaan antara baking soda dengan tepung tapioka? Aku tidak pernah sedikit pun percaya setiap scene pada film Ratatouille, persetan dengan itu. Hal yang perlu aku lakukan hanyalah membuat Malak memakan roti.

Aku menuju salah satu meja yang ada di ruang utama toko roti, nampak Malak sudah tidak sabar menungguku. Meja itu berbentuk bilik yang biasa ada di kedai bergaya Eropa – dua bangku panjang bersandaran tinggi dari kayu gelap berlapis kulit merah, diatur dalam posisi berhadapan dan dipisahkan dengan meja dari kayu ceri yang dipernis, serta tempat lilin abad pertengahan dari besi di atas kepala. Beberapa saat kemudian, dengan tangan menggetar aku meletakkan piring saji aluminium di tengah meja. Malak mengerak-gerakkan jarinya di atas meja sambil berteriak, “ke-ju! ke-ju!” selagi aku meyiapkan makanan. Seandainya dibutuhkan seorang pelayan restoran yang bersedia menyiapkan hidangan untuk para monster, aku akan berdiri paling depan untuk mendapatkan pekerjaan itu.

“Bon appétit!” seruku parau, aku tidak percaya mengucapkannya di hadapan tikus raksasa jelek. “Ini hidangan roti keju spesial. Aku telah berlatih membuatnya selagi menonton acara Resep Oke Rudy.”
“Kelihatannya enak, gadis kecil!” seru Malak. Ia mulai mengendus, ujung hidungnya menyentuh sebagian roti. Aku bersumpah tidak akan memakannya apabiala ia menwariku, lagipula itu roti meledak khusus untuk dirinya. “Aku hanya berpikir kau tidak menipuku dengan masakan lezatmu ini. Aku akan tetap membuat kepalamu peyang.”

“Oh ya tentu saja, itu kan bagian dari acaranya.”

Malak mengiris roti yang ada di hadapannya itu menjadi dua bagian dengan kuku jari telunjuknya, lalu melihat dengan saksama, seolah memastikan kalau tidak ada racun tikus di dalamnya. Kemudian, ia mengambil sepotong dan melahapnya. “Enak!” serunya sambil memukul-mukulkan tangan ke dada seperti orang gila. Setelah itu, Malak tidak repot-repot mengambil rotinya, ia hanya menundukkan kepala ke piring dan memakannya tanpa tangan sampai tidak ada yang tersisa. Ia tersedak, lalu mengangkat gelas berisi coca-cola yang kuletakkan dekat piring. Ia meminumnya sampai habis. Aku bertanya-bertanya kapan pertunjukkan mengerikan ini akan selesai dan reaksi bom soda bekerja dengan efektif.

Aku tidak perlu menunggu lama. Malak diam membeku setelah gigitan terakhir. Lalu ia menggeleng-gelengkan kepala dan meloncat-meloncat ke belakang seperti binatang sirkus, kemudian membenturkan kepala ke lantai sampai keramiknya retak, setelah itu ia jatuh dan tidak sadarkan diri. Ini adalah kesempatanku untuk membunuhnya. Aku meraih palu besar yang terletak di samping meja makan dan mengangkatnya dengan kesusahan. Namun ketika aku menggerakkan tanganku, ekor Malak menghantamku lebih dulu sehingga aku terlempar jauh mengenai deretan meja yang ada di belakangku.

“Apa yang kau lakukan padaku gadis sialan? Kali ini aku benar-benar akan membunuhmu,” Malak terlihat sangat marah.

Malak berlari dengan cepat ke arahku, kemudian meyeretku dan membawaku berputar-putar dengan kegilaannya. Perasaanku tidak enak, sepertinya ini adalah akhir dari hidupku. Aku akan mati dengan kepala terhambur di lantai. Aku mulai pusing, ia kembali melemparku ke arah dinding, tubuhku terhempas, kali ini ia benar-benar menggunakan seluruh kekuatannya untuk menghancurkanku. Aku sadar Malak adalah jelmaan siluman, sains tidak akan berguna untuk dirinya. Seharusnya aku memakai mantra, tongkat sihir, jimat atau apapun yang bisa melawan kekuatan iblis seperti Malak.

Malak memungut palu besar yang tergelatak di lantai, saatnya telah tiba. Aku akan mati di tangan tikus raksasa jelmaan siluman yang memakai kemeja hitam milik sahabatku. Langkahnya kian dekat, kali ini aku tidak punya ide gila atau apa pun yang bisa menahan serangannya. Aku menangis, berpasrah diri dengan apa yang akan terjadi. Selamat tinggal ibu, selamat tinggal buku-buku misteriku, selamat tinggal Anto.

Hanya tersisa tiga langkah untuk bisa memukulku dengan palu besar yang digenggamnya, Malak malah menghentikan gerakannya. Ia menjatuhkan palu besar itu, lalu mencengkaram lehernya sendiri dengan kedua tangan, mencekik sampai kedua matanya terlihat seperti keluar dari wajahnya. Ia meringis kesakitan. Lidahnya terjulur keluar, mengeluarkan suara yang mengaung dan membuat kaca-kaca di ruangan hampir pecah karena getarannya. Kemudian Malak berlutut tepat di hadapanku, aku ketakutan setengah mati melihat tikus titisan iblis itu menjerit.

Bukan itu saja, dari mulut Malak keluar sebuah cahaya yang mirip bohlam kecil, semburat merah tua mirip darah. Aku bagaikan berada di sebuah ruangan redup tempat mencuci film seluloid. Keperkasaannya tidak terlihat lagi, dalam keterbalikannya, Malak telah berubah menjadi manusia tikus yang lemah dan tak berdaya. Aku tahu ini adalah kesempatanku untuk mengakhiri semuanya, tapi bagaimana dengan Anto? Jika aku menghantam kepalanya sekarang, maka Anto akan ikut terbunuh, jadi aku menunggu hal yang akan terjadi selanjutnya, beharap ada keajaiban yang bisa menyelamatkan nyawa Anto.

Di dalam cahaya yang kini memancar dari seluruh tubuhnya, Malak membelalak padaku seolah ingin melahap semua kepalaku, tapi ia tidak mampu lagi untuk melakukannya, dan sekarang wajah Malak sedikit demi sedikit berubah. Moncongnya yang panjang menyusut diiringi dengan jeritan kesakitan. Bulu-bulu pada wajah dan tangannya rontok berjatuhan ke lantai. Ibu Komariyah bilang kalau tikus tidak bersendawa, gas dalam tubuhnya tidak bisa keluar. Bom soda yang kucampur dalam roti keju membuat isi perut Malak melunak. Tuhan memberkati sains, sorakku dalam hati.

Ketika Malak sedang berkecamuk dengan penderitaanya, tiba-tiba sinar yang dikeluarkannya semakin menyilaukan mataku. Aku menyipitkan kelopak mataku karena tidak kuat menahan perih oleh sinar tajam itu. Taktala sinar itu hilang, aku melihat ke arah Malak. Di tempatnya berada tadi terlihat seorang laki-laki sedang tidak sadarkan diri, itu Anto. Ke mana perginya tikus sialan itu? Ke mana bulu-bulu yang berjatuhan tadi? Apakah roti meledak menghancurkan tubuhnya?

Aku berlutut di samping Anto, menjambak kemejanya berusaha membangunkannya. Aku tidak ingin ia mati, apakah ia ikut terkena efek roti meledak? Aku berteriak “bangun!” sambil meneteskan air mata, tapi ia tetap tidak sadarkan diri. Aku menyesal telah melakukan semua kekacauan ini. Aku berjanji tidak akan mengeluh soal pekerjaannya jika ia bangun, aku akan bilang kalau toko roti lebih bagus daripada restoran hamburger. Aku mengecup pipinya, kemudian mata Anto perlahan merekah. “Apa yang terjadi?”

“Ceritanya panjang,” kataku sambil tersenyum melihatnya kembali sadar.

Anto melihat sekelilingnya, merasa bingung dengan keadaan toko roti yang berantakan seolah ada tsunami yang baru saja lewat dan meniggalkan meja serta kursi berhamburan. “Oh tidak, aku akan dipecat,” ucap Anto seraya menutup wajahnya.

Tak lama kemudian, pemilik toko roti datang bersama beberapa polisi. Aku tidak tahu bagaimana cara mengatakan kegaduhan yang terjadi di toko roti miliknya itu dilakukan oleh Raja Siluman Tikus. Beruntung, ada aparat polisi yang percaya kalau kegaduhan itu dilakukan oleh aksi liar geng motor yang sering terjadi akhir-akhir ini, aku dan Anto diyakini sebagai korban keganasan geng motor itu.

Sampai sekarang, aku tidak bisa menjelaskan ke mana perginya Malak. Tapi setelah kejadian itu, aku tidak pernah lagi membunuh tikus yang masuk ke kamarku. Aku berselancar di internet untuk mencari tips mengusir tikus secara alami, salah satunya adalah menaruh daun peppermint di sudut ruangan. Aku terkejut cara bodoh itu berhasil, tikus tidak pernah lagi berkunjung ke kamarku.

Namun, ada hal aneh yang terjadi dengan Anto. Ke mana pun ia pergi, ia selalu membawa sebungkus keju cheedar di dalam saku celananya.

Cerpen Karangan: Maulani Al Amin
Blog: Bengkuringweekly@blogspot.co.id
Namanya Maulani Al Amin. Tinggal di Samarinda, kota yang berjuluk Kota Tepian.

Cerpen Dendam Siluman Tikus (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sesosok Makhluk

Oleh:
Matanya yang merah, bulat, melotot, menatap tajam ke arahku. Perawakannya yang besar tinggi dengan rambut yang terurai panjang, lebat andaikan perempuan pada layaknya. — Musim liburan telah datang. Hal

Ann

Oleh:
Pistol di genggaman Theo jatuh seketika. Sosok wanita impiannya mati karena peluru yang ia lepaskan 2 detik yang lalu. Sedangkan, Andrea terdiam. Mata perempuan di hadapannya sudah tak bercahaya

Misteri Jalan Angker

Oleh:
“Fita fita lo udah denger berita tadi gak?” “berita apa mai?” “itu loh firman” “firman kenapa?” “dia tadi kesurupan waktu lewat jalan angker itu” “ooh” “fir gimana kalo kita

Alter Ego

Oleh:
“Please save me.” hanya itu kata yang mampu aku ucapkan setiap kali aku dibuang dan disisihkan ‘lagi’ oleh manusia. Aku adalah seekor kucing berwarna jingga dengan bulu tebal dan

Berawal Dari Piano

Oleh:
Aku gadis indigo. Aku bisa melihat mereka yang ada di sekitar kalian. “Kau melihat apa?” sekian banyak teman yang mempertanyaiku seperti itu. “Tak melihat apa apa” jawabku lalu pergi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *