Gerombolan Pocong

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 1 August 2014

Hari minggu santai yang mendinginkan pikiran setelah hari-hari sibuk yang membuat pikiran panas. Pagi itu teguh sedang santainya duduk duduk sambil mendengarkan musik. Dari arah pagar depan datang dua teman sepabriknya qulub dan panji.

“Guh lagi apa loe?”
“Lagi ny*bun”
“Apa?”
“Udah tau lagi duduk pake ditanya”.
“Ah loe tetep aja kayak di hari-hari lain, pemarah”. panji menasehati.
“Iya nih daripada bengong kek gini mending kita main yuk?” tambah qulub.
“Kemana?” tanya teguh.
“Gimana kalau kita ke bromo sekarang?”
“Aaapaaa?” teriak teguh histeris.

Singkat cerita…
Dua jam sudah berjalan mereka bertiga sudah sampai di gunung bromo siang hari. Panji membonceng qulup sedangkan teguh naik motor sendiri. Sambil berputar-putar di area bromo dan tak luput juga aksi dari qulub dan panji yang berfoto ria Sedangkan teguh tidak begitu minat.

Tak terasa matahari hampir tenggelam setengah mata. mereka masih asyik bermain di area bromo. Mereka bertiga baru pulang setelah ditegur oleh petugas penjaga bromo.

Nnngggeenggg…
Suara knalpot motor terdengar riuh di antara suara jejangkrikan dan kesunyian jalanan yang menjelang malam. Keanehan mulai terasa ketika teguh baru menyadari kalau ia melihat jalanan yang dilewati bukan yang tadi.

“Panji, qulub kalian sadar gak kalau kayaknya kita salah jalan?”
“Hah iya ya? kenapa lampu di jalanan hijau ya? hih serem ayo kita kembali yuk!”
Namun tiba-tiba mesin motor keduanya mogok. Karena terpaksa akhirnya mereka berjalan kembali sambil menuntun motor. Tiba-tiba lampu jalanan berkedip kedip, angin semilir beraroma kamboja tercium ditambah suara burung hantu yang menambah kehororan malam itu.

“Teguh, panji kok dihutan ini serem banget, gue jadi takut”.
“Sama lub gue juga takut”.

Di tengah kehororan tempat terdengar suara orang orang yang nampaknya jumlahnya banyak.

“Lho kok ada suara orang yaa di hutan ini? kita samperin yuk?”.
Setelah mereka mendatangi asal suara mereka begitu terkejut karena yang dilihatnya bukanlah orang tapi puluhan pocong yang menaiki sebuah mobil pick-up termasuk supirnya juga pocong. Wajah dan kakinya berlumuran darah.
“Po… po…” belum selesai berbicara qulup langsung pingsan.
Sedangkan panji dan teguh lari sekencang kencangnya.

“Tunggu guh gue capek berhenti dulu yok?”
Lalu teguh menoleh ke belakang.
“Iiya.. kita sekarang… sekarang lanjut aja yok?”
“Mang kenapa?”
“Itu itu?” teguh menunjuk ke belakang

Ternyata pick up yang membawa pocong itu menuruni jalanan dan menuju ke arah mereka berdua.

Mereka lari sangat cepat sekali namun pocong itu tetap mengejar hingga akhirnya panji terjatuh ke semak-semak dan pingsan. Teguh yang tak tersadar kalau temanya pingsang tetap berlari dan berteriak minta tolong. Warga di sekitar yang mendengar teriakan teguh Langsung mendatanginya?

“Ada apa mas?” warga menghadang larinya teguh.
“Tadi saya dikejar pocong yang naik pick up dan dua teman saya pingsan disana”. teguh menjelaskan dengan nafas yang tersengal sengal.
Warga hanya menjawab dengan anggukan.
Teguh heran dengan warga yang santai-santai saja memandangi. Salah satu warga mendatangi teguh dan menceritakan kejadian sesungguhnya. Bahwa Dulu ada rombongan warga dari daerah jauh sana yang akan ke bromo tapi karena supirnya tidak pengalaman akhirnya pick up tersebut jatuh ke jurang lalu arwahnya gentayangan sampai saat ini, dan kami sering melihat penampakan gerombolan pocong itu dan kami tidak takut.

Teguh yang tak percaya menantangnya “apa buktinya kalau kalian tidak takut?”
Warga itu menyuruh teguh membalikan badan dan warga itu berkata “Lihat kita mas.”
SeKetika itu juga teguh langsung pingsan karena para warga tadi berubah wujud menjadi gerombolan pocong yang menaiki pick up.

THE END

Cerpen Karangan: Ruslan Fatoni
Facebook: Rusland Edward Bond

Cerpen Gerombolan Pocong merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pucuk Daun Putih Abu

Oleh:
Senin pagi yang cerah kala itu, bangkitkan gairah semangatku, semangat tuk beraktivitas, aktivitas panjang yang menanti di sepanjang hari. Bukan suara getaran jam wekker, bukan longlongan suara anjing, bukan

Perbedaan Tidak Memisahkan

Oleh:
Arin senang membaca buku. Sementara, Rina senang bermain. Rina adalah adik Arin. Suatu hari, Clara, teman akrabnya berkunjung ke rumah Arin. “Ar, mengapa kamu senang membaca? Bagiku membaca itu

Anggi And Dinda Are My Best Friends

Oleh:
Sejenak aku menghela napas, untuk kemudian mulai beranjak pergi meninggalkan tempat ini. Tempat yang begitu banyak menyimpan kenangan manis bersama mereka. Sebagai insan yang hidup di kolong-kolong langit sang

Sayonara Tomodachi (Selamat Jalan Teman!)

Oleh:
Sudah 5 menit bel masuk berbunyi di hari pertama tahun ajaran baru di sebuah SMA. Murid-murid memasuki kelas barunya dengan tertib. Seorang murid perempuan yang baru datang langsung memasuki

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

7 responses to “Gerombolan Pocong”

  1. Najla says:

    Lucu dan unik, mengejutkan di bagian akhirnya 🙂
    untuk penulis ceritanya, keep writing yeah!

  2. astanda says:

    kalau kecelakaannya dihutan dari mana dapat kain kafan buat para pocong itu?

  3. Hilma says:

    Menegangkan sekali ceritanya…!!! Tapi seru kok 🙂

  4. Helga says:

    Serem bingitz ceritanya

  5. Balkis says:

    ceritanya komedi banget?? Pas bagian pocong” nya naik mobil pick up?? hahaha:D #LOL

  6. Aihara says:

    Awal cerita memang seram tetapi di akhrinya lucu ^_^
    tapi bagus gan, keep write ya ^_^

  7. hanin says:

    serem pas terakhirnya….menegangkan ^-^ tapi bagus kok..

Leave a Reply to Hilma Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *