Lenora

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu), Cerpen Misteri, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 17 December 2015

Namaku Juni. Aku sekarang sudah kelas 9. Aku ingin berbagi sebuah kisah yang hingga saat ini masih menjadi misteri bagiku. Waktu itu aku masih kelas 7. Aku punya seorang teman. Namanya Lenora. Ia satu kelas denganku. Lenora bertubuh kurus dan tingginya sama denganku. Kulitnya putih dan rambutnya bergelombang besar berwarna cokelat. Sungguh, warna rambutnya cokelat asli, bukan hitam seperti kebanyakan orang Indonesia.

Lenora itu ramah dan murah senyum. Dia tidak terlalu pendiam tapi juga bukan anak yang suka ramai di kelas. Gayanya malah sedikit pemalu. Kalau bicara, suaranya pelan. Menurutku, sebenarnya dia itu anak yang penuh semangat tetapi kurang berani untuk mengekspresikannya di depan teman-teman. Soalnya kalau kamu tatap matanya yang besar dan berwarna cokelat itu, kau bisa melihat binar-binar yang penuh semangat dan ceria terpancar di situ.

Awalnya aku tidak begitu tertarik untuk berteman dengan Lenora. Soalnya, karakter kita berbeda seperti langit dan bumi. Lenora tenang, sementara aku seperti bola bekel yang memantul ke sana ke mari. Dia itu seperti anak perempuan, sementara aku lebih mirip anak laki-laki. Aku hobi bercerita, Lenora lebih suka menjadi pendengar. Ia ramah dan suka tersenyum pada siapa pun, sementara aku moody sekali. Kadang ramah tapi kalau sedang hilang mood, ampun-ampunan juteknya.

Hanya ada dua kesamaan di antara Lenora dan aku. Kami sama-sama anak perempuan tunggal di keluarga, dan kami sama-sama hobi berenang. Kesukaan kami berenang itulah yang akhirnya membuat kami menjadi agak dekat. Setiap Sabtu sore atau Minggu pagi, aku mengikuti kursus renang di Senayan. Rupanya tak lama kemudian Lenora juga ikut kursus renang di tempat yang sama. Jadilah kami selalu bertemu dan sering mengobrol. Ternyata Lenora itu asyik juga diajak bicara.

Sebetulnya aku sih yang lebih banyak berceloteh ketimbang dia. Lenora itu paling hanya sesekali mengomentari, tertawa atau tersenyum lebar mendengar cerita-cerita konyolku. Aku lihat sepertinya dia menikmati waktu-waktunya bersamaku, sama seperti aku. Maklum, kami sama-sama tidak punya saudara perempuan. Begitulah, akhirnya kami menjadi cukup dekat. Setidaknya saat di kolam renang, atau waktu jajan lontong sayur dan mie ayam yang dijajakkan di halaman kolam renang Senayan.

Sampai akhirnya kami naik ke kelas 8. Aku masuk di kelas 8-E, sementara Lenora pindah ke kelas 8-D. Karena berbeda kelas, ditambah Lenora tidak melanjutkan kursus renangnya lagi, membuat kami jadi jarang bertemu. Akibatnya hubungan pertemanan kami agak renggang. Kami masih suka berpapasan di sekolah dan paling hanya bertegur sapa sekilas. Di sekolahku murid yang duduk di kelas 8, jam belajarnya bergiliran pagi dan siang, bergantian setiap bulan. Jadi, misalnya bulan ini, kelas 8-A hingga 8-C masuk pagi, maka kelas 8-D hingga 8-F masuk siang. Bulan depan giliran kelas yang masuk pagi diputar. Hal ini dilakukan pihak sekolah karena keterbatasan jumlah kelas. Buat kelas yang masuk siang, kegiatan belajar mengajar dimulai pukul 12.15.

Siang itu, aku berjalan dengan riang menuju ruang kelasku yang ada di sebelah laboratorium. Bel sekolah sudah berbunyi dan itu berarti semua murid harus segera masuk ke kelas dan duduk manis di bangku masing-masing, jika tidak ingin kena omel Bu Endang, guru BP yang terkenal disiplin dan galak. Di depan ruang kelas, aku melihat Lenora berdiri di pinggir pintu. Ia sedang melihat ke dalam ruang kelasku dan seperti sedang mencari seseorang.

“Hei, Lenora,” sapaku dengan nada riang. “Kok belum masuk kelas? Sudah bel loh. Sebentar lagi Bu Endang pasti ronda keliling kelas, siap mengomeli siapa pun yang masih berkeliaran di luar kelas.” Lenora menoleh dan menatap wajahku. Aku tertegun. Aku lihat wajahnya pucat, seperti baru sembuh dari sakit. Ia juga terlihat cemas dan ketakutan.
“Kamu lagi sakit ya?” tanyaku. Lenora cuma tersenyum kecil.
“Aku lagi mencari seseorang,” jawabnya pelan.
“Oh begitu. Tapi sebaiknya kamu masuk kelasmu saja dulu. Nanti kan masih bisa ketemu.”

Lenora menatapku sesaat, masih dengan wajah yang cemas dan ketakutan, lalu dia menghela napas dan berkata, “Ya sudah deh kalau begitu.”
“Memangnya kamu mau ketemu siapa sih?” Lenora tidak menjawab. Ia hanya menatapku sambil tersenyum samar. Setelah itu ia membalikkan badan dan berjalan ke kelasnya yang terletak berseberangan dengan kelasku. Tak lama aku mendengar Amiya memanggilku dari belakang kelas. Ia teman sebangkuku saat ini. Aku pun kembali ke bangku. Tak lama kemudian Pak Asep, Guru Fisika, masuk kelas dan kegiatan belajar pun dimulai.

Karena hari itu adalah hari Sabtu, maka kami yang mendapat giliran masuk siang harus mengikuti apel sore di lapangan sekolah. Seperti biasa, kami berbaris rapi di lapangan. Kemudian Bu Rukmini, Kepala Sekolah, akan menyampaikan wejangan atau beberapa informasi penting. Tak lama datang teman-teman kami yang bertugas menurunkan bendera. Kemudian kami menyanyikan lagu nasional yang dipimpin oleh teman kami yang lain, yang bertugas menjadi dirijen. Lalu apel sore akan ditutup dengan pembacaan doa. Biasanya Pak Agus, Guru Agama, yang memimpinnya.

Setelah itu apel selesai dan kami pun bubar. Tapi sekali ini, Bu Rukmini menyampaikan sebuah berita yang aku tidak akan pernah melupakannya seumur hidupku. “Anak-anakku sekalian, ada berita duka cita. Innalillahi wa innaillaihi rojiun. Keluarga besar SMP kita ini telah kehilangan salah satu anggota keluarganya. Teman kalian, Lenora, dari kelas 8-D, pagi ini telah meninggalkan kita karena sakit demam berdarah. Ia sebenarnya sudah 3 hari dirawat di rumah sakit sehubungan dengan penyakitnya itu.”

Bu Rukmini terdiam sejenak, lalu dengan wajah prihatin ia melanjutkan, “Siang tadi sekitar jam satu, Lenora dikebumikan di pemakaman umum dekat rumahnya. Para guru sudah melayat ke rumahnya siang tadi.”

Aku tidak percaya mendengar berita itu. Lenora sudah meninggal pagi ini? Dan sudah dimakamkan tadi siang? Tapi tadi siang kan aku ketemu, bahkan sempat mengobrol sebentar, dengan Lenora di depan pintu kelasku. Masih terbayang di mataku, wajahnya yang siang tadi terlihat pucat, cemas, dan ketakutan. Bu Rukmini masih terdengar berbicara di podium, tetapi aku sudah tidak mendengarkannya lagi. Sungguh, aku shock berat. Aku menoleh ke Amiya, yang berbaris di sebelahku. “Ami, aku tadi ketemu kok sama Lenora,” ujarku setengah berbisik. Amiya menatapku dengan kening berkerut.

“Ini betulan, Ami. Aku sempet mengobrol sama Lenora di depan pintu kelas tadi siang, pas bel sekolah berbunyi. Kamu lihat kan?”
Kening Amiya semakin berkerut. “Enggak usah bicara yang aneh-aneh. Aku enggak lihat ada Lenora di depan kelas tadi siang,” jawab Amiya.
Terasa ada sedikit ketakutan dalam nada suaranya. “Aku lihat kamu memang lagi berdiri di depan pintu kelas dan mengobrol dengan seseorang, tapi aku tidak melihat Lenora. Aku kira, kamu sedang mengobrol dengan Adi, yang duduknya di dekat pintu.”

“Enggak, Ami, aku tadi ketemu sama Lenora. Serius!”
Amiya menatapku dengan tatapan heran dan ngeri bercampur jadi satu.
“Jadi, kamu tadi siang itu bicara sama hantunya Lenora?”
Aku tertegun. Hantunya Lenora? Betulkah itu?

Hingga saat ini, aku masih tidak mengerti. Aku betul-betul melihat dan berbicara dengan Lenora, di hari kematiannya. Ketika hal itu terjadi, tidak ada temanku di kelas yang melihat aku bicara dengan Lenora. Bahkan Adi, yang duduknya di bangku dekat pintu kelas pun, mengatakan tidak melihat Lenora. Ia hanya melihatku sedang bicara dengan seseorang, yang berdiri di balik pintu, di luar kelas. Aku masih ingat betul, saat itu Lenora terlihat cemas dan ketakutan. Dia bilang, dia sedang mencari seseorang. Siapakah orang itu? Kenapa Lenora mencari dia? Kenapa pula Lenora terlihat cemas dan ketakutan? Sungguh, aku tidak mengerti.

Cerpen Karangan: Amelia

Cerpen Lenora merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Apa Aku Yang Salah

Oleh:
Siang itu aku habiskan dengan bermain, padahal beberapa bulan lagi bakal ujian UN, ya udah hidup dibawa santai aja keles. Bersama teman seperjuangan, Yuli dan Caca aku sering bermain.

Kado Terindah Dari Sahabat

Oleh:
“rina slamat ulang tahun ya!” Semua anak pasti bicara seperti itu. kata-kata yang sangat membosankan bagiku. mereka merasa bahagia dikala aku bahagia. tapi dikala aku sedih tak satu pun

Miss Him

Oleh:
Ravi melajukan motor besarnya menuju jalan raya. Toni terus mengikutinya dari belakang. Wajah Toni tiba-tiba berseri ketika ia berhasil menemukan apa yang dipikirkannya. Motor maticnya semakin kuat di gas

Ngabuburit Bersama Teman

Oleh:
Ting… Ting… Ting… Bunyi alarm di kamarku. “Hoam,” aku terbangun dan mematikan alarm. Kulirik jam seraya mengucek mata. “Jam 3,” gumamku. Aku bergegas ke kamar mandi untuk cuci muka.

Tiga Dua Satu

Oleh:
Bersama senyap dia berhitung mundur. Jam terdengar berdetak konstan, namun jantungnya berdetak melebihi kecepatan detak jam. Dia masih harus menghitung hingga nol di tengah sepinya kelas. Ada yang harus

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *