Meet A Bus Stop Ghost, You’ll Die

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Horor (Hantu)
Lolos moderasi pada: 20 April 2021

Angin malam terasa menusuk ke badan, jalanan kota tampak sangat ramai, aku hanya berdiam diri, duduk di halte menunggu bus ataupun angkutan umum yang lewat, tapi sampai sekarang belum ada satupun yang berhenti.

Aku menghela nafas berat, di sampingku ada ibu-ibu dan beberapa orang lainnya yang ikut menunggu, Hujan turun begitu deras entahlah mungkin karena bulan ini adalah musim penghujan.

“Hai, maaf boleh aku duduk di sampingmu?” Seorang pria menyapaku, aku agak sedikit kaget, tak menjawab hanya mengangguk. Aku melirik kearah orang-orang yang berada di halte itu mereka tampak sibuk dengan kegiatannya masing-masing.

“Kamu sendirian aja?” Pria itu menoleh ke arahku, dia sepertinya seumuran denganku hanya saja mungkin lebih tua beberapa tahun, wajahnya terlihat baik dan ramah, aku belum menjawab kulihat dia menarik nafasnya.
“Iya, aku sedang menunggu seseorang” jawabku pelan, dia terlihat tersenyum simpul. Renggang tak ada percakapan, entahlah pria itu tidak meneruskan pertanyaannya, dan aku pun tak mengeluarkan sepatah kata pun semenit kemudian dia kembali memulai obrolan
“Kamu mahasiswa atau bekerja?” Tanyanya lagi, aku menoleh ke arah pria itu, menjawab singkat, dia hanya menganggukkan kepalanya.

“Oh ya, aku hampir lupa aku belum tanya nama kamu, namamu siapa?” Pria itu mengulurkan tangannya, mengucapkan namanya, aku mengucapkan namaku, memilih tidak menjabat tangannya
Pria itu menarik tangannya, kemudian mengambil handphone di sakunya dan membukanya entah apa yang sedang dilakukannya.

“Mas kok ngomong sendirian?” Seorang bapak-bapak bertanya pada pria itu, menatap pria itu dan aku dengan tatapan aneh, pria itu mengangkat kepalanya tersenyum tipis kepada bapak itu.
“Enggak Pak, ini Lagi ngomong sama mbak yang di samping saya, Jihan namanya” pria itu menoleh ke arahku, aku hanya diam saja.
“Mas gak halusinasi kan? di samping mas itu kosong gak ada orang, saya dari tadi denger mas lagi ngobrol tapi saya lihat gak ada orang” katanya kembali menatap pria itu dengan tatapan aneh dan penasaran.
Aku melangkah pergi dari sana, tidak perduli dengan percakapan mereka, pria itu terlihat kebingungan dan pucat, masa bodo. Aku berjalan di tengah hujan deras, toh tubuhku juga tidak akan basah.

Aku berjalan menuju halte bus di seberang sana, melangkah dengan santai menyeberang menembus jalanan tak peduli dengan kendaraan yang melintas, toh aku juga sudah tak lagi bernyawa.

Desember 2015, 08
Malam itu hujan turun begitu lebatnya, aku yang baru pulang dari kuliah langsung berlari meneduh ke halte bus, cukup banyak orang yang meneduh di sana, dengan cepat aku mengeluarkan handphone dari saku bajuku, menelepon seseorang.

Angkutan umum belum ada yang berhenti, beberapa hanya lewat dengan penumpang yang penuh di dalamnya, aku melirik pergelangan tanganku, jam menunjukkan pukul 7.25 sudah 15 menit aku terjebak di halte ini, sebuah motor berhenti di depan halte salah satu orang yang ikut menunggu langsung berlari menuju ke arah motor pergi melaju kencang menghilang dari pandangan kami, aku menarik nafas dan menghembuskannya begitu kulakukan berkali-kali, aku kembali mengetik kan pesan kepada seseorang, belum ada jawaban juga. Selang beberapa menit notifikasi handphoneku berbunyi, menampilkan pesan.

“Maaf aku agak sedikit lama, hujannya deras, jalanan juga agak macet, tetap di situ sebentar lagi aku datang” isi pesan itu cukup menenangkan hatiku, aku hanya perlu menunggu dan bersabar.

Sekarang hanya tinggal 5 orang di halte ini, aku, seorang ibu dan anaknya, serta dua orang remaja perempuan yang dari tadi sibuk dengan handphonenya.

Aku menatap keadaan sekitar, jalanan tampak masih ramai, beberapa orang sibuk berjalan melintas dengan payung ditangannya, Langit terlihat sangat gelap, bunyi klakson terdengar memekik, tak berlangsung lama tapi cukup mengganggu pendengaran, suara langkah kaki mendekati tempat aku duduk, aku menoleh dan mendapati bahwa seorang anak balita perempuan mendekat ke arahku, aku tersenyum menatapnya, sang ibu mendekat dan menggendong anaknya sembari duduk di sebelahku, tersenyum canggung.

“Anaknya umur berapa tahun bu?” Tanyaku berbasa-basi, sang anak menatap kearah ku tertawa, lucu sekali melihat anak kecil ini.
“Baru umur 3 tahun mbak” jawab si ibu ramah, aku tersenyum dan menganggukkan kepala.
“Ibu pulang ke mana, gak dijemput suaminya buk?” Tanyaku heran
“Iya, saya masih nunggu jemputan mbak” Aku hanya ber oh ria, kembali membuka handphoneku dan mendapati pesan baru.
“lima menit lagi aku sampai, tetap di situ” aku segera menjawab pesan itu, sembari melihat-lihat sosial media.

“Maaf kak, tadi ngomong sama siapa? Kok kedengarannya kayak lagi ngobrol gitu?”
Salah satu anak remaja di halte itu menegurku, aku tersentak sedikit kaget, menoleh ke sampingku, tidak ada lagi ibu dan anaknya, wajahku pucat pasi

“Loh tadi saya lagi ngobrol sama ibu-ibu sama anaknya yang masih kecil, kalian gak liat, dia nunggu di halte ini juga kok” jawabku berusaha tenang, aku kembali menoleh dan memang tidak ada siapapun di sampingku.
“Enggak ada kak, Cuma kita bertiga disini tanya aja temanku kalo gak percaya “jawabnya dan diiringi anggukan dari temannya.
“Oh gitu ya, mungkin saya Cuma halusinasi” jawabku sekenanya, mereka hanya saling menatap satu sama lain, kembali duduk. Aku bukan indigo atau semacamnya, ibu dan anak tadi mungkin sudah pergi” batinku

Dering telepon dari handphoneku membuyarkan lamunanku tentang ibu dan anak tadi, seseorang itu menelepon memberitahukan dia sudah sampai.

Akhirnya sebuah angkot berhenti di depan halte, kedua remaja itu langsung masuk ke sana, menoleh ke arahku, aku menjelaskan bahwa aku telah dijemput.

Seseorang itu ternyata berada di seberang jalan, aku bisa lihat dari sini dia tersenyum melambaikan tangannya dengan jas hujan membungkus badannya, aku tersenyum lebar dan bersiap-siap untuk menyeberang, melihat kiri dan kanan jalanan tampak tak terlalu ramai, melangkahkan kakiku menapak jalan raya, membentangkan tanganku, aba-aba menyeberang, lima langkah lagi aku sampai tapi sebuah truk besar melaju kencang menghantam tubuhku, selesai, Malam itu kehidupanku berakhir.

Aku bisa melihat seseorang itu berlari dan menangis histeris melihatku beberapa kendaraan berhenti, berbondong-bondong orang melihat, jasadku langsung dibawa ke rumah sakit, sejak saat itu aku selalu duduk di halte menunggu seseorang itu, tapi sayangnya dia tidak pernah datang lagi.

Air mataku menetes, luka lama itu kembali terbuka menganga, walaupun aku tak lagi bernyawa tapi kesedihan itu masih dapat kurasakan, pada akhirnya aku tahu memang ada mitos yang beredar di halte itu bahwa siapapun yang melihat atau berbicara dengan hantu di halte itu maka kematian akan menjemputnya, dan itu bukan sama sekali mitos.

Aku kembali melirik ke arah halte tadi, pria itu masih di sana, sedetik kemudian dia bangkit dan hendak menyeberang, sama seperti yang kulakukan dulu dia menoleh kiri dan kanan memastikan semuanya aman, saat di pertengahan jalan dia menoleh ke halte dimana aku duduk sekarang, aku tersenyum kerahnya, sebuah mobil Jeep melaju kencang menabrak pria itu badannya terpental sejauh dua meter, hidupnya di dunia telah selesai malam ini.

Aku berjalan menghampirinya, pria itu tampak bingung mungkin dia belum sadar kalau dia sudah mati.

“Selamat datang Andrian, sekarang kita bisa menjadi teman” aku mengulurkan tanganku, dia terperangah kaget dan baru menyadari semuanya.

Di tengah derasnya hujannya, aku dan Andrian kembali duduk di halte tempat pertama kali bertemu, mengobrol layaknya teman bercerita sana sini, sekarang semua orang tidak akan memandang aneh ke arah kami lagi.

Seorang anak remaja perempuan menatap kearahku dan Andrian, memandang kursi kosong di sebelah kami, aku tersenyum mengangguk, anak itu kemudian duduk, aku dan Andrian saling menatap, kami tak perlu bicara, kami tau betul arti tatapan itu.

Tamat

Cerpen Karangan: Shani.ds
One shoot!
mohon tinggalkan Kritik dan saran yang membangun, agar cerpen saya lebih baik kedepannya, Terimakasih banyak

Cerpen Meet A Bus Stop Ghost, You’ll Die merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hantu di Jembatan Suramadu

Oleh:
Dikisahkan, ada seorang petapa yang mengalami kecelakaan di Jembatan Suramadu. Petapa itu sedang berjalan kaki melewati jembatan itu untuk menuju hutan pinus. Namun sayang, di tengah jembatan, Sang petapa

Teror Arwah Penasaran

Oleh:
Malam itu raka sedang asik dengan laptopnya, ia sedang membaca artikel untuk tugas sekolahnya. ayah dan ibu juga adiknya sudah tidur duluan karena waktu sudah menunjukan jam 10:00 malam,

My Scary Holiday

Oleh:
Hari ini hari pertama libur sekolah. Di rumahnya anggun, Anggun, Novi, Feby, Fuji, Fepi, Reni, Stevi dan Via sedang berbincang mengenai libur sekolah. “guys, enaknya kita ngapain ya kalo

Rahasia Kamar Lantai Tiga (Part 1)

Oleh:
Pada awalnya, Mary menganggap bahwa pekerjaan yang ia geluti itu biasa-biasa saja. Namun setelah satu bulan ia bekerja sebagai pengasuh anak di rumah keluarga Cavendish, ia mulai merasakan aura

Cheerleaders Disastrous

Oleh:
Gerimis halus mewarnai pagi ini. Aku pun menyusuri koridor sekolah, tiba-tiba di hadapanku ada Putri yaitu kakak kelasku sekaligus kapten cheersleaders. “Mari ikut denganku.” dia pun terus menarik tanganku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *