Adilkah Untukku? (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 30 March 2014

Sesampainya ia di masjid, ia melihat pak Hambali sudah berada di tempat wudhu yang berada di sebelah kanan masjid. Putra berjalan menuju ke arah pak Hambali dan kemudian kembali melontarkan pertanyaannya.
“Apa yang akan dilakukan sekarang? Aku tak pernah melakukan hal-hal seperti ini sebelumnya.” Tanya Putra.
“Segeralah berwudhu.” Jawab pak Hambali singkat.
“Berwudhu? Bagaimana caranya? Orangtuaku tak pernah mengajariku berwudhu.”
“Berapa umurmu sekarang?”
“20 tahun.”
“Selama itu apakah orangtua mu belum pernah mengajarimu berwudhu?”
“Belum pernah dan tidak pernah. Mereka hanya sibuk dengan kegiatan meraka tanpa mereka perhatikan aku.”
“Berwudhu bertujuan untuk membersihkan kita dari hadas-hadas kecil sebelum kita mendirikan shalat.”
“Shalat? Apa lagi itu shalat?”
“Kamu juga belum mengenal shalat? Apakah kamu tau siapa yang menciptakan mu di dunia ini?”
“Sudah aku katakan tadi, orangtua ku tidak pernah mengajariku apapun. Yang menciptakan aku? Yang aku tau, aku terlahir dari sebuah rahim ibu. Ya hanya itu.”

Pak Hambali hanya tersenyum dan menghela nafas mendengar kata-kata Putra seraya melihat wajah Putra yang terlihat memang tak mengerti apapun tentang agama. “Ya Robb, beri kan ia waktu untuk merubah dirinya. Beri petunjuk-Mu agar ia mengerti arti kebesaran-Mu. Jadikanlah ia sebagian dari orang-orang yang beriman ya Allah. Bimbinglah ia agar ia segera menemukan jati dirinya dan segera memahami untuk apa ia ada di dunia ini. Semoga Engkau mempermudah setiap jalannya, ya Robb” ucap pak Hambali dalam hati kecilnya.

Dengan perlahan dan sabar, beliau ajarkan bagaimana cara berwudhu mulai dari berkumur hingga membasuh kedua kaki. Putra terlihat memahami setiap perkataan yang keluar dari pak Hambali. Perlahan Putra pun mencoba berwudhu sendiri meski berulang kali ia salah, namun ia tak pernah berhenti mencoba. Hingga akhirnya setelah diulang beberapa kali, Putra pun sudah mulai lancar berwudhu. Dan kini pak Hambali membawanya ke dalam masjid.

Di dalam masjid, Putra hanya terdiam melihat beberapa santri sedang membaca al-Quran, dan beberapa juga sedang membaca kitab-kitab pendalaman agama yang tersedia di dalam masjid. Bagi Putra, itu adalah pamandangan asing yang tak pernah ia jumpai selama ini. Bahkan Putra juga sebenarnya tak begitu tau dengan apa yang sedang mereka lakukan saat ini. Ia hanya bisa melihat dan mendengarkan apa yang mereka suarakan tanpa ia tau apa makna semuanya.

Tiba-tiba pak Hambali memanggil Rahmat yang terlihat sedang mengajari beberapa anak kecil mengaji di dekat jendela utama masjid. Rahmat adalah salah satu santri kepercayaan pak Hambali sehingga tak jarang jika Rahmat menjadi tangan kanan pak Hambali di pondok tersebut. Rahmat adalah anak dari kepala desa PringSewu yang sudah menyelesaikan kuliah S1 di bidang kedokteran di salah satu universitas di kota besar. Namun, untuk saat ini Rahmat sengaja belum melanjutkan kuliahnya lagi karena ia ingin kembali menimba ilmu agama di pondok pesantren pak Hambali, yang selama ini mengajarinya banyak hal hingga ia menjadi salah satu pemuda cerdas yang tak pernah lalai dalam beribadah kepada Allah SWT.

Setelah pak Hambali membisikkan sesuatu kepada Rahmat, beliau lalu meninggalkan Putra kini bersama Rahmat. Putra hanya bisa membalas senyum Rahmat sesaat setelah pak Hambali pergi meninggalkan mereka berdua. Rahmat diberi amanat untuk mengajari shalat dan amalan-amalan lain yang dianjurkan oleh Allah, kepada Putra. Dan pak Hambali berpesan agar Putra tidak menemui beliau dahulu sebelum ia mengerti apa tujuan semua itu.

“Kemana pak Hambali?” tanya Putra polos.
“Menyelesaikan urusannya. Dan akan kembali jika sudah selesai. Sudah bisa shalat?” ucap Rahmat dengan senyum tulusnya.
Putra hanya menggelengkan kepalanya seraya menunduk karena ia merasa merasa malu, bukan karena Rahmat yang ada di depannya lebih bisa tentang agama, namun ia malu pada dirinya sendiri karena setiap pertanyaan yang dilontarkan pasti belum dimengerti oleh Putra.

Rahmat yang saat itu sudah mengerti apa yang harus ia lakukan, segera mengambil sebuah buku di lemari tempat beberapa kumpulan buku yang ada di mushola tersebut dan memberikannya pada Putra. Dibacanya dengan perlahan judul buku tersebut “TUNTUNAN SHALAT WAJIB DAN SUNAH”. Putra yang mengerti maksud Rahmat segera membuka buku tersebut dan membacanya, dan beberapa kali menanyakan semua yang ia tak mengerti kepada Rahmat. Dan perlahan Rahmat mengajari beberapa gerakan shalat yang benar, dan Putra memperhatikannya dengan penuh keseriusan.

Setelah selang beberapa lama Rahmat mengajari Putra, mereka pun saling tukar menukar cerita, dan betapa terkejutnya Putra karena ternyata di desa sekecil ini yang jauh dari kemodernisasian, Rahmat bisa menyelesaikan S1nya di kota besar. Belum lagi semua pengetahuan Rahmat membuat Putra berdecak kagum dalam hatinya. Putra benar-benar merasa bahwa dirinya tak lebih dari seseorang yang hina, yang hanya beruntung terdampar di sebuah desa yang masih mau menerimanya,

“Rahmat, boleh aku bertanya? Siapa yang memberimu pengetahuan sebanyak itu? Pak Hambali? Dosenmu? Atau orang-orang jenius lain?” tanya Putra penasaran.
“Allah.” Jawab Rahmat singkat.
“Allah? Siapa dia? Dari mana asalnya? Bisakah aku menemuinya?”
“Allah ada dimana-mana, dan kamu bisa menemuinya di hati kecilmu.”
“Benarkah? Siapa sebenarnya Allah? Laki-laki atau perempuan?”
“Allah adalah dzat yang tidak bisa dilihat namun bisa dirasakan oleh hati manusia yang tulus. Allah bukan laki-laki atau perempuan. Dia adalah dzat yang memberi segalanya. Memberi kehidupan, memberi rejeki, memberi pengetahuan, memberi jodoh, dan memberi lain-lainnya. Allah juga maha penguasa, Dia menguasai segala yang ada di bumi dan jagat raya ini. Dia yang berhak menentukan segalanya yang akan terjadi.”
“Kalau begitu, aku diciptakan oleh Allah? Semua kekayaan ayah ku itu dari Allah?”
“Iya. Kamu diciptakan oleh Allah, lalu perantaranya adalah ibu mu. Kekayaan ayahmu yang berlimpah juga dari Allah, dan perantaranya adalah perusahaan ayahmu saat ini. Dan masih banyak yang lainnya yang sebenarnya itu milik Allah, hanya perantaranya adlah makhluk ciptaan-Nya.”
“Bisakah kau temukan aku dengan beliau? Lalau bagaimana aku harus berterimakasih? Apa orang seperti aku pantas untuk diciptakan olehnya?”
“Bisa. Tanyalah pada hati nuranimu. Berterimakasih kepada Allah bukan melalui ucapan atau benda lainnya. Cukup hanya dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Allah bukanlah Dzat yang membeda-bedakan makhluk-Nya. Semua yang ada di dunia ini sama derajatnya, hanya amal ibadah yang membedakan. Tak ada kata pantas atau tidak untuk semua ciptaan Allah. Hanya bagaimana kita harus menjalankan apa yang sudah menjadi tugas utama kita sebenarnya sebagai ciptaan-Nya. Percayalah, Allah maha pengampun. Tidak ada kata terlambat untuk menyesali semua yang sudah terjadi selama nafas masih berhembus, bahkan seseorang yang mengatakan taubat pada saat sakaratul maut pun, masih diterima taubatnya oleh Allah. Apalagi kita saat ini yang masih diberi kesempatan.”
“Amalan apa saja yang bisa aku lakukan? Maukah kamu mengajariku? Aku berjanji akan membayar untuk semua yang kamu ajarkan.”
“Banyak. Mendirikan shalat, berdzikir, berpuasa, dan masih banyak lagi. insyaAllah aku akan membantu mu selama itu menyiarkan kebaikan. Tak perlu membayar untuk segala amalan yang ditujukan untuk Allah. Aku ikhlas untuk melakukannya. Berjanji lah kepada Allah bahwa kelak jika kamu sudah mengerti semua yang diperintahkan-Nya, kamu akan menjalankannya, dan menjauhi apa yang sudah menjadi larangan-Nya.”
“Terimakasih. Apa habis ini aku boleh menemui pak Hambali?”
“Tentu. Tapi setelah kamu bisa memahami semua yang harus kamu pelajari dalam hal beragama. Bagaimana? Sanggup?”
“Apa itu lama? Kenapa harus seperti itu? Apa pak Hambali tidak mau melihat orang seperti aku? Orang yang tidak mengerti tujuan hidup, bahkan mengerti diri sendiri saja tidak.”
“Bukan seperti itu. Beliau hanya ingin kamu menemukan jati dirimu dengan usahamu sendiri. Untuk masalah lama atau tidaknya tergantung pada niat hati kamu menjalaninya.”
Putra sedikit bernafas lega mendengar semua itu.

Semenjak saat itu Putra lebih sering menghabiskan waktunya dengan membaca buku-buku tentang amalan yang diwajibkan maupun yang di sunah kan oleh Allah. Mulai mengerjakan shalat, dan ia juga mulai menjalankan segala hal yang sebelumnya belum pernah ia lakukan sebenarnya. Meski yang ia kerjakan awalnya banyak godaan, seperti kata-kata yang tak ia mengerti, amalan yang terlalu berat, dan pernah ia jatuh sakit karena mencoba menjalankan puasa sunah seperti yang Rahmat jalankan, ia tetap bersemangat untuk terus mencoba hingga ia bisa. Rahmat yang mengajari Putra beberapa akhir ini juga merasa bahwa Putra mengalami kemajuan setelah kejadian beberapa waktu lalu. Terlihat Putra tak pernah menyerah meski terkadang beberapa orang sering mengolok-oloknya. Putra terlihat juga sudah mulai bisa berinteraksi dengan warga sekitar pondok pesantren Al-Wajid seperti membersihkan lingkungan, membuat berjual beli, beternak, dan lain sebagainya. Putra sudah benar-benar seperti menyatu dengan lingkungannya kini, dan mungkin ia sedikit masa lalunya yang kelam.

Malam itu, tepatnya malam 1 Muharram 1435 H, Putra merasa ingin sekali menemui pak Hambali. Entah apa yang membuatnya kini sudah benar-benar yakin tentang apa yang sudah ia pelajari selama ini. Akhirnya, malam itu seusai shalat isya, sengaja Putra tidak kembali ke kamarnya, ia ingin bertemu dengan pak Hambali. Ditunggunya beliau sampai Putra terkantuk-kantuk karena pak Hambali selalu berdzikir hingga larut malam, dan saat itu Putra masih setia menunggu beliau.

Saat Putra sedikit memejamkan matanya, tiba-tiba seseorang memegang bahunya dan membuat Putra membuka matanya kembali, betapa terkejutnya ia karena ternyata itu adalah pak Hambali. Segera ia mengusap wajahnya dan duduk dengan sopan menghadap pak Hambali.
“Maaf pak kyai, saya tidak sopan, menunggu pak kyai sampai hampir tertidur.” Ucap Putra seraya menundukkan wajahnya.
“Kenapa harus meminta maaf, nak Putra? Ada apa menunggu? Apa ada perlu?” jawab pak Hambali.
“Pak kyai, saya ingin berterimakasih atas semua yang sudah diberikan selama ini.”
“Terimakasih untuk apa? Memang apa yang sudah diberikan selama ini? Jelaskan.”
“Banyak pak kyai, mulai dari saya belum mengenal siapa diri saya hingga saat ini saya mulai memahami siapa diri saya dan apa tujuan hidup saya. Siapa pencipta saya dan bagaimana kebesaran-Nya di jagat raya, seberapa sabarnya Sang Pencipta menyadarkan saya yang penuh dengan kesalahan ini. Dan berkat pak kyai kini saya lebih bisa memanfaatkan waktu saya dengan hal-hal yang lebih bermanfaat. Saya tau, bahwa manusia diciptakan di dunia adalah sebagai khalifah sebagai tugas utamanya. Disini saya juga bisa membedakan mana hal yang hak maupun yang batil.”
“Berterima kasihlah kepada Allah SWT, saya hanya sebagai perantara-Nya. Saya turut berbahagia dengan kemajuanmu selama ini. Teruslah berada di jalan-Nya dan menjadi hamba yang taat. Tidak pernah ada kata terlambat sebelum mencoba. Esok adalah tahun baru Islam, mulailah kehidupanmu yang baru dengan semua hal yang baru. Sampaikan kebaikan kepada orang-orang sekitarnya meski apa pun rintangannya. Sesungguhnya Allah selalu bersama orang-orang yang beriman.” Tutur pak Hambali menutup malam 1 Muharram 1435 saat itu.

Kini Putra sudah benar-benar hidup dengan jalan yang benar. Ia tak pernah lalai dalam beribadah, dan ia juga tak pernah sungkan tetap bertanya jika ada sesuatu yang ia tak mengerti. Ia berjanji suatu saat nanti saat ia sudah benar-benar menjadi seseorang yang lebih berguna, ia akan menyampaikan semua ajaran indah Islam kepada orangtuanya. Bukan ia tak mau memberitau sekarang, tetapi orangtua Putra belum memperhatikan Putra sampai detik ini. Putra tak pernah menaruh dendam kepada kedua orangtuanya karena ia berfikir bahwa saat ini Allah sedang menguji sampai mana mereka lalai kepada kewajiban mereka yang kelak akan membuat mereka menyesali semuanya.

Malam itu pukul 02.30, seusai Putra bertahajud, ia memanjatkan do’a hingga air matanya tak sanggup lagi ia bendung lagi, di sela-sela doanya ia teringat kepada orangtua nya yang saat ini entah sedang apa dan apakah memikirkan dirinya yang sudah tidak pernah memberi kabar berbulan-bulan lamanya.

“Ya Allah, dzat yang maha menguasai alam semesta, terimakasih atas semua karunia yang sudah diberikan selama ini. Teriam kasih sudah memberiku kesempatan untuk kembali kejalan-Mu sebelum Engkau memanggilku. Ya Allah, dzat yang maha pengampun, ampunilah dosa-dosaku selama ini baik yang disengaja maupun tidak. Ampuni pula dosa-dosa orang-orang yang hamba sayangi dan tunjukkanlah jalan yang benar untuk mereka. Ya Allah, dzat yang maha pengasih, jagalah kami agar kami selalu ada di jalan-Mu dan jagalah hati kami agar kami tidak terjerumus kepada hal yang batil. Ya Allah, dzat yang maha agung, berikanlah kami kehidupan di hari esok yang lebih baik dari hari lalu, dan jadikanlah hari esok pelajaran untuk hari selanjutnya. Amin Amin Amin ya Robbal Alamin.” Doa Putra tertutup dengan bulir-bulir airmata menetes di pipinya. Hari itu merupakan awal ia akan menjadi seorang khalifah yang akan menuntuntun orang-orang yang ia sayangi agar segera menyadari kebesaran Sang Pencipta dan tak lalai lagi dengan kewajiban mereka.

Cerpen Karangan: Diandra Aini
Facebook: airdaandini12[-at-]yahoo.com

Cerpen Adilkah Untukku? (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ternyata Aku Sama Saja Seperti Mereka

Oleh:
“Kadang mereka hanya melihat manusia lain dengan sebelah matanya. Menilai sesuai penglihatan mereka dan tidak berniat melihat lebih jauh. Itulah salah satu kesalahan manusia.” Aku terus mendengarkan nasihat yang

Di Akhir Cerita

Oleh:
Hari itu adalah hari pertama mereka bertemu, mereka bernama Zidan dan Faruq. Zidan merupakan seorang mahasiswa dari Universitas ternama dan bergengsi di kota tempat tinggalnya, sedangkan Faruq merupakan seseorang

Zul Bocah Pemulung Luar Biasa

Oleh:
19 mei 2015 lalu sekolah kami mengadakan tour ke bali berangkat bersama 1053 teman seangkatanku, menggunakan 18 bus pariwisata. Ya memang terbilang konyol, tapi tiap tahun sekolahku menerima hampir

Kepergian

Oleh:
Pagi hari yang cerah, pagi dimana akhir bulan Sya’ban telah berakhir dan berganti bulan Ramadhan di esok harinya. Pagi ini banyak manusia beduyun-duyun mengunjungi makam, entah itu makam keluarganya

Ibadah Terakhir

Oleh:
“Bangun nak… udah subuh ayo shalat” ajak mama padaku. “Iya ma… udah bangun nih” kataku pada mama. Dengan agak ngantuk, kuturunkan kakiku ke lantai dan berjalan untuk mengambil air

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *