Mengubur Mimpi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Jawa, Cerpen Islami (Religi), Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 14 November 2015

“Alhamdulillah Ujian Nasional selesai,” aku tersenyum puas.
Mata ini mulai berani menatap matahari kembali dengan sunggingan senyum kepuasan. Aku merasa belajarku tidak sia-sia karena soal-soal ujian nasional dapat diselesaikan tanpa harus menggadaikan keimanan seperti mayoritas teman-teman. Sekarang tugasku hanya menunggu pengumuman kelulusan.

Rakhmawati Namaku. Wati adalah nama panggilanku. Nama yang cukup singkat namun memiliki makna yang begitu mendalam. Aku adalah anak yatim piatu. Sejak berumur 8 bulan aku dibesarkan oleh eyang yang begitu menyayangiku. Setelah kepergian orangtuaku karena kecelakaan. Aku tak pernah melihat orangtua kandungku hanya foto yang aku dapatkan. Sedih bukan? Kadang Perasaan iri muncul ketika penerimaan raport. Bagaimana tidak, melihat teman-teman begitu senangnya menebar senyum saat orangtua mereka datang ke sekolah.

Namun itu tak akan pernah menyurutkan mimpiku untuk menuju sukses. Apalagi pesimis. Yah aku merupakan siswi kelas XII di SMA ternama di daerah tempat tinggalku, SMA N 1 DARMA. Ada semangat optimis akan lulus UN juga beasiswa Harvard University yang sudah aku ikuti tesnya bersama beberapa teman lain. Yah aku begitu menyukai dunia kesehatan sehingga aku sangat berambisi untuk menjadi dokter.

Aku dikenal sebagai siswi teladan dengan segudang prestasi. Kecantikanku yang natural tanpa polesan kerap mendatangkan pujian tak diundang. Aku dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang agamis. Yah Kakekku yang aku panggil eyang kakung dulunya adalah seseorang yang masa mudanya dihabiskan untuk menjadi seorang santri di Gontor Jawa Timur. Namun entah kenapa Allah belum memberikanku hidayah untuk mengikuti jejak eyang kakung. Hanya satu yang selalu terbayang di mimpi adalah menjadi seorang dokter lulusan Universitas Tingkat dunia. Bagaimana lagi kalau bukan Harvard University. Aku pun tak memiliki alasan pasti kenapa kampus luar negeri menjadi pilihan pertamaku. Yang jelas tekadku sangat kuat menjadi seorang dokter yang nantinya dapat mengabdi pada masyarakat sekitar.

Sang malam telah pergi dan pagi pun menjemputku dengan sangat indah. Titik-titik embun membasahi daun-daun di luar jendela. Aku masih berada di kamar tepatnya di depan cermin. Ku tatap wajahku berkali-kali di cermin, bayangan itu tersenyum manis. Anggun sekali. Gaun cokelat muda yang biasa orang menyebutnya kebaya melipat rapi di tubuhku, tak ketinggalan dengan beberapa hiasan sederhana memperindah kepalaku yang terlindungi oleh jilbab putih dengan sedikit corak batik. Hari ini aku akan wisuda SMA bertepatan dengan pengumuman beasiswa. Mudah-mudahan Engkau mewujudkan mimpiku Ya Allah.. Aamiin.

Kursi wisudawan dan para wali murid telah penuh. Aku duduk paling depan bersama Sukma teman seperjuanganku meraih mimpi di negeri paman sam. Sambutan Kepala Sekolah pun berlangsung. Ucapan puji syukur kami panjatkan serempak setelah mengetahui bahwa SMA favorit ini lulus UN 100 persen. Aku pun mengucapkan hamdallah dan tersenyum pada Nenek yang terlihat dari jauh. Namun senyum yang tadinya mengembang tiba-tiba mengkerut dikalahkan oleh energi detak jantung yang semakin kencang tatkala telinga ini mendengar Kepala Sekolah mengumumkan beberapa siswa yang mendapatkan beasiswa keluar negeri.

Ya, aku hampir tak percaya namaku disebutkan pertama kali “RACHMAWati kelas XII IPA 1 dengan Nomor induk 10444 mendapatkan beasiswa untuk menempuh pendidikan sarjana Fakultas Kedokteran Harvard University,” aku masih terdiam. Jantungku semakin kencang berdetak. Buku-buku jari tangan seolah tak dapat aku kendalikan. Pipi ini panas layaknya di depan api unggun dengan ketinggian 60 meter. Aku mulai mengatur napas. Senang sekaligus tidak percaya. Sukma memelukku. Air mataku menetes di pipi menghapus make up tipis yang sempat ku oles tadi pagi.

Mata yang dipenuhi tangis bahagia ini mencari-cari sosok Nenek namun tak aku temukan. Kakek pun juga tak ada. Teman-teman di sekitarku mengucapkan selamat atas kesuksesanku. Aku dipersilahkan menuju panggung. Ternyata Presiden Obama ada di sana. Beliau memberikan penghargaan spesial. Ya sebuah perunggu perak berlapis emas. Subhanallah aku begitu bahagia sekali. Melihat banyak mata semua tertuju padaku. Aku begitu salting dan nervous dengan beberapa kamera dan stasiun televisi swasta yang sangat antusias mengambil gerak-gerikku di sini.

Aku bangga, lengkap sekali kedua tangan ini memegang penghargaan. Kini tiba saatnya aku memberikan sambutan atas kesuksesanku untuk Kakek dan Neneku tercinta meski mata ini tak ku dapati melihat mereka yang entah kemana. Berkali-kali ku tarik napas dalam-dalam untuk menyeimbangkan rasa grogi dan senang. Bukan main. Ku mulai merangkai kata seindah mungkin tepuk tangan sangat riuh renyah begitu cetar membahana atas apa yang aku sampaikan. Namun seketika itu tepuk tangan hening begitu saja digantikan oleh bunyi sangat keras menggema di telingaku. Mengagetkan sekali.

Kriiinngg…

Suara alarm hp-ku berbunyi sangat keras, sehingga membuat aku terbangun dari tidurku dengan sejuta mimpi indah yang menghiasi.
“Ya ampun, ternyata cuma mimpi,” sesalku sambil menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya tidak terasa gatal.
“hmm coba kalau beneran,” khayalku dengan mataku yang masih mengantuk.
“ah daripada aku memikirkan yang tidak pasti lebih baik aku mandi,” ujarku pada diri sendiri.

Tett… Suara bel sekolah membuat para siswa-siswi bersorak ria mendengar bunyi singkat pertanda bahwa aktivitas kegiatan belajar mengajar telah usai. Nampak adik-adik kelas mengemasi peralatan tulis seperti pensil penghapus beserta buku-buku yang mungkin tadi sempat mereka pelajari. Aku hanya melihat dari perpustakaan karena hari ini aku berniat untuk meminjam buku TOEFL untuk memperdalam bahasa inggrisku.
“Wati, Wati..” dengan napas tergopoh-gopoh seseorang yang sangat aku kenal mendekatiku.
“Sukma ada apa kok kaya orang kesurupan begitu?”
“selamat Wati.. selamat… kamu salah satu siswi yang mendapatkan beasiswa keluar negeri,”
“haah.. serius? Becanda kamu. Bukannya pengumumannya nanti malam, itu pun secara online,”
“Tadi Bu Arum menjelaskan kalau pengumumannya dipercepat waktunya, kalau nggak percaya ikut aku sekarang,”

Sukma langsung meraih tangan kecilku dan berlari menuju pengumuman di mading sekolah. Jantungku berdebar tak percaya dengan perkataan sahabatku itu. Aku melotot dan mengerutkan dahi atas apa yang aku lihat, ya benar-benar itu adalah namaku. Tanpa terasa air mataku berlinang dan berpelukan dengan Sukma karena ia juga termasuk siswi yang beruntung sepertiku. Ku cubit tanganku untuk memastikan kalau ini hanyalah mimpi.
“aw.. sakit,” yah ini benar nyata. Ini bukan mimpi. Ternyata mimpi kemarin malam menjadi kenyatan. Ini benar-benar nyata. Aku bersujud syukur ternyata aku akan menjadi mahasiswa internasional. Selangkah lagi cita-citaku tercapai menjadi mahasiswa kedokteran. Allahu Akbar terima kasih atas segala nikmat-Mu Ya Allah.

Segera aku pulang ke rumah. Ku cari-cari sosok Nenek. Ku dapati beliau sedang memainkan kinangnya di kursi goyang tempat favoritnya bersantai. Aku akan menyampaikannya dengan pelan tanpa membuat Nenek kaget. Pasti Nenek akan merasa senang sekali.
“nduk.. sampun wangsul,” tanya Nenek.
“inggih yang… “aku terus menebar senyum yang tak seperti biasanya sambil mencium tangan Nenek.
Tak seperti biasanya masih dengan seragam osis sekolah aku tak langsung menuju tempat makan karena ada kejutan bahagia untuk orang yang selama ini merawat dan membesarkanku.

“yang..” sambil memijit-mijit pundaknya.
“hmmmm..” jawabnya singkat sambil sibuk menginang.
“alhamdulillah Wati dapet beasiswa kuliah di luar negeri. Insya Allah minggu depan berangkat ke Amerika karena pasport visa dan lainnya sudah sekolah yang urus. Wati hanya mohon ridho dan doa restu eyang putri kalih eyang eyang kakung,” Ku sampaikan kabar gembira ini dengan rasa teramat bahagia dengan harapan Nenek pun merasakan hal yang sama.
Tapi… Entah mengapa Nenek tak menanggapi. Hanya diam dan terus diam. Muka keriputnya yang dimakan usia kini berubah merah padam seolah tak ada kata restu di hatinya.

Nenek masih terdiam. Aku menghentikan kedua tanganku memijit pundak Nenek lantaran kedua tangan kasar Nenek memegang tanganku. Ada butiran bening terlihat di sudut matanya. Aku pun tak kuasa menahan air mata ini saat melihat air mata Nenek begitu deras mengalir. Aku bingung, apakah tadi yang ku sampaikan salah atau kurang sopan kah? Hati ini masih bertanya-tanya. Mata yang menua itu kini memerah, mengalirkan air mata yang begitu derasnya. Aku semakin bingung. ada apa ini? Bukankah ini adalah kabar baik? Aku semakin bingung. Apakah Nenek tidak suka kalau cucunya menjadi dokter? Entahlah. Saat hati ini masih dirundung rasa bingung aku mencoba menenangkan hati Nenek dengan mengusap air matanya pada kedua pipi yang keriput.

“yang putri.. kepripun?”
Masih dalam diam.
“yang.” ku ulangi pertanyaanku untuk yang kedua kalinya. Nenek pun mulai menggerakkan mulutnya.
“nduk…” pelan. Seolah mengurungkan niatnya untuk menyampaikan sesuatu.
“inggih yang.. pripun?” kataku semakin penasaran.
“eyang kakung.” dengan tatapan kosong.
“pripun eyang kakung?” aku memusatkan perhatianku pada mata dan gerakan bibirnya tak sabar apa yang akan diucapkan Nenek kemudian.

“semalem eyang kakung bilang, eyang tidak ingin Wati kuliah yang jauh. Eyang ingin agar kuliah yang kental dengan agama islam eyang kakung tidak menginginkan Wati mengejar cita-citanya menjadi dokter mengingat Wati adalah perempuan tidak baik kuliah jauh-jauh sampai ke luar negeri. Apakah Wati tidak kasihan sama eyang yang sudah sepuh ini ditinggal cucu satu-satunya. Eyang begitu menyayangi kamu nduk… eyang tak mau berpisah apalagi selama 4 tahun,”

Deg.. jantung ini seakan berhenti seolah cita-cita yang sudah di depan mata kini terkubur oleh lumpur-lumpur lapindo yang begitu panas hingga rasa panas naik ke permukaan wajah, menjalar ke telinga dan leher. Panas. Air mata ini tumpah seketika. Aku lari menuju kamar. Nenek mencoba menghentikanku namun gagal karena pintu langsung terkunci. Terdengar suara Nenek terus mengetuk pintu kamar. Aku sama sekali tak menghiraukan. Aku menangis dan terus menangis, tidak bisa terima kenyataan ini. Tak mungkin aku kubur mimpi yang sudah lama aku impikan. Masih dengan isak tangisku, menerka kira-kira apa yang menjadi alasan Kakek dan Nenek tak mengizinkanku untuk meraih impianku sejak kecil.

Bukankah cita-citaku ini sangat mulia? Aku ingin mengabdi pada masyarakat, ingin membantu orang-orang yang tak mampu untuk berobat karena kendala dana. Yang nantinya ingin menyejahterakan hidup masyarakat terutama di desa ini. Aku tak ingin kejadian-kejadian yang seperti di koran atau media lainnya banyak orang sakit dibiarkan begitu saja hanya dengan satu alasan. Kenapa? kenapa? tapi kenapa? Aku menjerit di balik bantal hijau ini agar suara tangisku terdengar samar.

Jarum jam menunjukkan pukul 23.00 tak terdengar suara ketukan pintu Nenek lagi, aku masih menangis kecil hingga tak bisa mengeluarkan air mata ini kembali. Mataku merah sembab. Aku lelah berjam-jam meratapi kenyataan tak sesuai dengan impian yang mau tidak mau harus dikubur dengan sebuah alasan. Mata ini seolah tak dapat diajak kompromi. Dan akhirnya… aku pun tertidur.

Matahari mulai memancarkan sinarnya. Kicauan burung-burung seolah berlomba-lomba menyambut hari yang penuh berkah. Kokokkan ayam di belakang rumah tak ingin kalah, bersahut-sahutan terdengar di beberapa tempat.
“Selamat pagi, ayo dong semangat,”

Kalimat yang tak pernah alpa untuk diucapkanku di setiap pagi. Seolah sudah menjadi kebutuhan di pagi hari untuk mengawali aktivitas baru meskipun hati ini masih begitu sedih dengan kejadian kemarin sore. Aku mencoba lebih tegar dan menerima kenyataan meski begitu terasa sulit. Aku lebih nyaman sendiri berada di kamar. Ke luar hanya ketika makan dan salat. Sedikit kesal memang pada Nenek dan Kakekku. Bagaimana tidak, keberangkatanku hanya dalam hitungan hari untuk menuju ke Amerika. Aku kembali menangis. Sinar mentari yang tersenyum cerah menjadi saksi seolah nasibnya begitu kontra. Betapa senangnya Sukma yang masih memiliki orangtua yang lengkap dan menyetujui anaknya untuk menempuh pendidikan di Amerika. Aku terus meratapi nasib.

Tok, tok, tok. Terdengar bunyi pintu kamar diketuk.
“nduk… sarapan rihin,” suruh Nenek dari luar pintu kamar.
“mboten pengin maem yang,” jawabku.
“mangke sakit,” sambil terus mengetuk pintu. Berharap agar cucunya mau membukakan pintu.
“mboten nopo!” jawabku singkat sambil membunyikan radio keras-keras.
“nduk cah ayu buka pintunya,” kalimatnya begitu tulus dan sabar namun aku tak mempedulikan perkataan Nenek. Karena mereka pun tak pernah mau mempedulikan perasaanku sekarang.

Musik radio yang tadinya meninggi kini semakin lirih dipadukan dengan ocehan penyiar radio bahwa kali ini radio FM Remaja Sentosa Ilmu akan memberikan tausiyah dari ustadzah Anisa.. aku masih setia mendengarkan radio ini untuk membuang perasaan yang sedang bercampur aduk tidak karuan.
Kali ini topiknya tentang berbakti pada orangtua:
“assalamualaikum pendengar setia radio remaja FM sentosa Ilmu. siapakah orangtua kita?” pertanyaan pertama ustadzah untuk memulai pembukaanya.

“Apakah hanya Ibu yang melahirkan kita saja ataukah Ayah yang setia mencari nafkah untuk kita? Yah, tentu saja bukan. Orangtua kita bukan hanya Ibu kandung bahkan Ayah saja namun Kakek Nenek kita pun termasuk orangtua yang wajib dan harus kita patuhi terlebih Kakek dan Nenek yang sudah menjadi pengganti orangtua kandung kita,”
Aku mengeryitkan dahi, memusatkan pendengaran dan konsentrasi. Sejujurnya hati ini sedikit tersindir.

“Sebagai seorang anak, sudah seharusnya kita berbakti kepada orangtua. Jika kita lihat jasa-jasa yang telah diberikan orangtua kepada kita, tentunya kita tidak akan dapat membalas kebaikan yang telah mereka berikan. Mereka dengan ikhlas merawat kita hingga kita tumbuh dewasa, mereka tidak mengharapkan imbalan apapun kecuali agar anaknya dapat sehat dan menjadi anak yang saleh dan saleha. Sampai kapan pun seorang anak tidak akan dapat membalas budi orangtua.”

“Kewajiban berbakti kepada orangtua tidak semata-mata karena jasa yang telah mereka berikan, melainkan juga karena perintah Allah taala. Seperti yang tercantum dalam QS An-nisa ayat 36, ‘sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada orangtuamu,’ … jadi kesimpulan dari tausiyah hari ini, intinya apapun yang orangtua kita inginkan maka patuhilah permintaan beliau selagi permintaan itu tidak melanggar syariat islam.”

“Karena keinginan orangtua kepada kita pastinya memiliki sebuah alasan yang jelas. Kita tak akan pernah tahu kapan kematian orangtua kita datang. Jadi berikanlah kebahagiaan pada orangtua kita. Doakan agar Allah senantiasa melindungi mereka. Mengampuni dosa-dosanya. Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi kita di waktu kecil. Robbighfirli waliwalidaya warhamghuma kama robbaya nishoghiroh.”
Ustadzaha anisa fitri mengakhiri tausiah singkatnya denga doa untuk orangtua.

Tanpa terasa cairan hangat berwarna bening di pelupuk mataku tumpah. Sungguh tersentuh hati ini. Ya Allah ampuni hambamu ini yang berlumur dosa. Hamba begitu egois hamba begitu tak pernah memperhatikan perasaan beliau yang tua renta, hamba tahu sekarang. Mereka pasti ingin agar aku cucu satu-satunya bisa selalu menemani hari-hari di sisa umurnya. Allahurobbi ampunilah hamba.

Aku mencoba mengikhlaskan semua. Aku lupakan semua mimpi-mimpi indahku demi untuk berbakti pada orangtua. Ku kubur dalam-dalam. Kemarin adalah keberangkatan Sukma ke Amerika. Aku tetap mengucapkan kepadanya selamat sukses dan agar tetap berhati-hati. Bu Arum pun sudah menerima surat pengunduran beasiswa dariku.
“mungkin saja Sukma sudah sampai di Amerika, selamat Sukma,”

Baiklah aku tak akan meratapi diri. Aku akan tetap kuliah di indonesia sesuai dengan keinginan eyang. Aku mencoba menghibur diri dengan menonton televisi. Ku ganti beberapa channel stasiun Tv karena menurutku tak ada yang menarik. Terakhir ku ganti kemudian dengan chanel Top Edu Tv. Dan… Aku mempertajam penglihatan, ku pelototi dan menambah volume beberapa level agar pendengaranku semakin jelas. Tiba-tiba pandanganku gelap. Aku pun pingsan.

Fajar mulai menyingsingkan diri. Sebagai cucu semata wayang, Wati tidak pernah merasakan kekurangan kasih sayang Kakek dan Nenek. Aku bersyukur atas nasihat-nasihat eyang. Mungkin saja kalau aku menerima beasiswa itu aku tak diketahui keberadaannya sekarang bahkan mungkin berada di liang kubur.
“dados pripun niku kabar kancamu dek?” Eyang kakung berbicara.
Sampai sekarang belum juga ditemukan. Pesawat yang terbang ke arah barat menuju Amerikan jatuh ke laut termasuk Sukma teman Wati tapi semua sudah ada pihak berwajib sedang mendeteksi semua masalah ini. Mudah-mudahan jasadnya bisa segera ditemukan,” Jelasku sambil lemas dan masih terbaring di kamar. Air mata ini terus mengalir.

“nduk minta maaf eyang putri yang kakung nggih… atas sikap nduk beberapa hari ini dengan mengurung di kamar yang tak seharusnya dilakukan oleh gadis berjilbab sepertiku. Karena kemarin Wati belum bisa menerima kenyataan. Namun karena hidayah Allah kini Wati sadar, apa yang Wati lakukan selama ini tidak benar jadi Wati berniat untuk menjadi seoarang anak yang saleha seperti impian eyang. Mungkin saja kalau Wati tak mendengarkan nasihat eyang sekarang sudah mengalami nasib sama seperti Sukma.”
“sstt, ngomong opo toh nduk? Itu semua memang sudah takdir eyang pun sudah memaafkanmu kok nduk. Iya to,” Jawab Nenek sambil melihat ke arah eyang kakung.
“iyooo… putu sing paling ayu dewek hehe,” ledek eyang kakung.
Kami semua pun tersenyum dengan sedikit tawa.

“Yang… Insya allah Wati akan kuliah di UIN SUKA Yogyakarta jurusan pendidikan agama Islam, mungkin itu tak terlalu jauh dari tempat tinggal kita yang meskipun nanti harus kos,”
Terlihat senyum Kakek dan Nenek begitu bahagia, sangat jauh berbeda ketika kabar baik beasiswa luar negeri itu yang pernah aku sampaikan sebelumnya.
“Kalau eyang setuju-setuju saja, tapi ada sedikit rasa khawatir. Kamu perempuan. Keluarga di sini semua,”
“Insya Allah perlindungan Allah akan tetap bersama nduk. Jadi, nduk harap jangan khawatir nggih,”
Eyang pun menyetujui dengan menganggukkan kepala yang kemudian meninggalkanku untuk menunaikan salat.

Pengumuman penerimaan mahasiswa baru berlangsung hari ini yang dapat dilihat secara online. Alhamdulillah nama RACHMAWATI diterima di pendidikan Agama Islam UIN SUNAN KALIJAGA Yogyakarta betapa senangnya diterima di kampus dambaan Kakek dan Nenek karena kebahagiaan mereka adalah kebahagiaanku juga.

Glosarium:
Cah ayu: anak yangg cantik
Dados: jadi
Eyang kakung: kakek
Eyang putri: nenek
Inggih: iya
Kalih: dan
Kanca: teman
Kepripun: kenapa
Kinang: makanan dari daun sirih untuk nenek-nenek
Mangke: nanti
Mboten nopo: tidak apa-apa
Nduk: panggilan sayang kepada anak/cucu
Nik : itu
Ngomong opo toh: bilang apa sih
Rihin: duluan
Sampun: sudah
Sepuh: tua sekali
Wangsul: pulang

Cerpen Karangan: Rum Efi Fitriani
Facebook: R Efi Fitriani
E-mail: evi.semangat[-at-]gmail.com
Aku penulis pemula. Baru belajar menuangkan kata-kata. Butuh motivasi baru. Butuh inspirasi baru. (Mahasiswi Pendidikan Matematika UHAMKA Jakarta)

Cerpen Mengubur Mimpi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ponakan Luar Biasa

Oleh:
“Selamat pagi dunia”, hari ini hari minggu itu berarti Hari ini aku bebas, hari ini aku bakal belajar masak, shopping, jalan-jalan, nyalon dan lain-lain, intinya hari ini aku bakal

(Tutup) Senja

Oleh:
Kala itu dini hari, ketika fajar belum hadir menyambut pagi terdengar suara lantunan doa dari seorang gadis. Dimintalah kepada Yang Maha Kuasa berkah kehidupan dan kesembuhan dari bundanya. Reza

Anggap Aku Adikmu Kak

Oleh:
Namaku adalah Fatimah, aku tinggal bersama kedua kakakku di sebuah kota. Kakak pertamaku bernama Adam dan kakak keduaku bernama Ibrahim. Kami bertiga bisa dibilang hidup berkecukupan karena jika memerlukan

Edelweis

Oleh:
Lagi-lagi aku harus meninggalkan pelajaran. Selalu, di setiap pagiku di sekolah, aku dilanda rasa khawatir dan cemas, sehingga membuat sahabatku Masya ikut cemas karenaku. Pagi ini jam 09:25, aku

Adilkah Untukku? (Part 2)

Oleh:
Sesampainya ia di masjid, ia melihat pak Hambali sudah berada di tempat wudhu yang berada di sebelah kanan masjid. Putra berjalan menuju ke arah pak Hambali dan kemudian kembali

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Mengubur Mimpi”

  1. Ahmus says:

    Cerpen yg sarat dgn makna. . .
    Terus brkarya ya…

  2. bagus says:

    sllu berkarya bagi yg punya web site……….go go go power rangger

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *