Perbicangan Senja

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Keluarga, Cerpen Nasihat
Lolos moderasi pada: 9 December 2015

Senja itu, awan mendung dan mulai mengeluarkan amarahnya yang biasa disebut petir, Ratni dan sang Ibu duduk di teras rumah menikmati hembusan angin dengan ditemani secangkir teh manis buatan sang Ibu. Terjadi perbincangan antara anak dan sang Ibu, “Kenapa kamu bermuram durja seperti itu nak?”
“Aku bingung bu.”
“Bingung kenapa? Coba cerita sama Ibu.”
“Aku gak yakin dengan pilihanku bu…”

“Kamu gak yakin sama Andi? Nak, dia akan menjadi suamimu dia yang akan menemani sampai hari tua nanti. Ibu kira kamu sudah mantap dengan pilihanmu apalagi kalian sudah tunangan..”
“Aku yakin bu, tapi dalam hati kecilku seperti ada yang mengganjal. Apalagi keluarga berbeda dengan keluarga kita, dia belum punya modal apapun bu, tidak seperti teman–temanku yang lain. Mereka bersama dengan pasangannya setelah nikah langsung mempunyai mobil mempunyai rumah, sedangkan Andi punya motor pun sudah syukur..”

“Hus! Kamu gak boleh seperti itu nak, andi itu anak yang baik, dia telah selesai kuliahnya bukan? Kamu tidak boleh menilai orang dari segi materi nak, itu tidak baik. Kamu tidak melihat dari kecilnya, hal kecil dari Andi yang tidak kamu lihat. Cinta dia tulus nak, dia tidak peduli seberapa kaya keluarga kita tetapi dia tetap berani untuk datang ke rumah kita bertemu Bapak dan dengan lantang menyatakan kalau ia ingin serius denganmu. Lelaki mana yang mempunyai mental seperti itu jaman sekarang?”

“Iya sih bu, tapi aku takut jikalau nantinya kami menikah, dalam pernikahan kami akan kesusahan dari segi ekonomi, aku tidak mau seperti itu bu, aku sayang sama Andi tetapi aku merasa tidak yakin saja..”

“Ini Ibu kasih tahu sama kamu, dulu Bapak dan Ibu tidak seperti sekarang, dulu Bapak tidak punya apa–apa untuk meminang Ibu, Kakek dan Nenekmu awalnya tidak setuju dengan pilihan Ibu. Tetapi entah kenapa Ibu yakin dengan pria ini, Ibu yakin dia bisa membawa Ibu ke kehidupan yang lebih baik, Ibu yakin dia bisa menjaga Ibu dari susah dan perihnya kehidupan, memang orang–orang pada waktu itu bilang pria ini tidak punya apa–apa yang bisa dibanggakan yang bisa dipamerkan, tetapi mereka tidak tahu pria ini mempunyai niat baik dan tulus.”

“Singkat kata dia ini Bapakmu nak, lihat sekarang impian Bapak dan Ibu telah tercapai, mempunyai rumah, mempunyai penghasilan tetap, mempunyai anak secantik kamu. Itu karena Ibu dan Bapak yakin bahwa kita bisa melaluinya bersama apapun keadaannya. Rasa cinta dan sayang itu nak, bisa menyeimbangkan sifat pasangan dan sama–sama tahu karakter pasangannya daripada dirimu sendiri, rasa sayang itu timbul jika kamu telah menemukan sesuatu yang bisa membawamu menjadi pribadi yang lebih baik.”

“orang yang bisa membawamu ke sana hanya kamu yang tahu karena kamu yang merasakannya. Ibu lihat semenjak kamu sama Andi kamu makin rajin salatnya, rajin ngajinya, tidak pulang malam lagi. Bukankah itu adalah perubahan dalam hidupmu?”
“Iya bu, Ibu benar kenapa aku ragu dengan pria yang selama ini mendampingiku padahal cinta dan kasih sayang dia tulus tanpa pamrih, kalau aku tidak bertemu dengannya aku tak tahu apa jadinya hidupku sekarang.”

“Nah itu dia nak, ubahlah pemikiran tentang materi tadi, harta itu tidak dibawa mati, hari ini kamu punya mobil bagus tapi keesokan harinya mobil itu bisa hilang dicuri maling, tapi cinta dan kasih sayang tidak lekang oleh waktu. Seumpamanya Andi meninggal rasa sayangmu kepadanya tetap, tidak berubah. Jika nanti kamu sudah tidak hidup bersama Ibu dan Bapak rasa sayang kami tetap sama kepadamu. Jika kamu telah tua nanti rasa sayang kamu akan tetap kepada Andi. Dalam sebuah hubungan sebaiknya diawali dengan rasa susah dan senang bersama karena nantinya kalau kalian telah melewati itu, kebahagiaan tak terkira akan dirasa.”

“Terima kasih bu, kini aku telah mantap dengan pilihanku, aku akan melaluinya bersama Andi aku akan terus berada di sampingnya apapun keadaannya, aku akan menjadi istri yang baik.”

Cerpen Karangan: Irfan Rhapsodi
Blog: anjingtanahmerana.blogspot.com
Facebook: Irfan Rhapsodi

Cerpen Perbicangan Senja merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Diterimakah Taubatku Mbok?

Oleh:
“Hallo, ya Mas, iya ya, emmuach” kututup telepon digenggamanku yang sudah satu jam ini menemani dan menempel di telinga. Seseorang lelaki langganan memintaku untuk melayaninya malam ini. Kuberanjak bangun

Ulang Tahun Bunda

Oleh:
Pagi yang cerah… “Kring… Kring… Kring…” seperti biasa bel alarm Niki berbunyi keras tepat pada pukul 05.00. Niki langsung terbangun dari tidurnya dan berfikir sejenak. “Ini tanggal berapa yaa?”

Siapa Itu, Allah SWT

Oleh:
Hari ini rembulan bersinar begitu terang, seperti ia sedang bahagia. Tepat pada pukul 10 malam di sebuah desa terpencil ada sebuah keluarga baru yang dikepali oleh Pak Rasyid dan

Eyang Uti

Oleh:
Aku masih mengingatnya ketika beliau mulai menyisiri rambut-rambut keriting tebalku. Beliau dengan lembutnya menyuruhku duduk di depan meja rias. Aku menurut, sambil memperhatikan setiap langkah jari lentikknya. Beliau menurunkan

Gara-Gara Seekor Semut

Oleh:
Pada suatu ketika tinggalah seorang pengusaha kaya, sebut saja namanya pak Bego. Dia mempunyai seorang istri yang mempunyai usaha toko kue yang sering ramai dikunjungi pembeli, dan ia pun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *