Tangga Terakhir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Motivasi
Lolos moderasi pada: 21 April 2016

“Teeet.. Teng, teng, teng,” suara bel serta bunyi kelonteng bergema dengan kerasnya, mengundang helaan napas setelah melewati 4 jam yang diisi dengan berbagai mata pelajaran.

Namun, rasa lelah, bosan, bahkan perasaan sebal sama sekali tak ada artinya dibanding dengan semangat untuk mendapatkan ilmu, serta ngalap barokah yang selalu ku yakini akan aku petik dari kesabaran dan usaha yang sungguh-sungguh, karena setiap air bening hujan berasal dari awan yang gelap. Begitulah yang selalu ditanamkan muasis serta para asatidz PIM. Aku segera membereskan kitab, lalu ku masukkan ke dalam tas cokelat milikku bersama dengan alat tulis di dalamnya. Setelah semuanya beres, tak lupa aku merapikan kerudungku serta seragam kebanggaanku, bukan maksud apa-apa, aku hanya ingin tampil rapi karena aku yakin keindahan muncul dari kerapian.

“Ra! Kertasnya belum dicabut tuh!” Seru Isma setelah langkah pertamaku.
“Oh iya Ma, lupa,” Jawabku dengan cengiran, lalu ku berganti haluan menuju bangkuku kembali. Aku tersenyum menatap gantungan kertas yang sengaja aku buat satu minggu lalu bersama Isma, teman baikku. Kertas itu bertuliskan H- dari hari pengumpulan KTA. Ya, hitung-hitung buat penyemangatlah. Di setiap lembarnya yang tertulis, “Ingat ya, tangga terakhir!” Yang artinya, justru cobaan datang kian menggila saat kita sudah di ujung perjuangan, jangan sampai kita terpeleset dan akhirnya dibuat menyesal karenanya.

“Bismillah, kreeekk,” Aku mencabut gantungan kertas kami yang sekarang berganti dengan tulisan H-29. Aku meringis melihatnya, menyadari bahwa aku baru menyelesaikan muqoddimah, huh!
“Ma, kita bisa kan?” tanyaku lirih.
“Bisa dong!” jawab Isma engan semangat. Membuatku tersenyum karenanya.

“Hem…. Em.. Em.. Hemm…m,” Aku bersenandung sambil menjemur pakaian, mencoba tak menghiraukan rasa lelah setelah mencuci segudang pakaian kotor milikku, apalagi melihat pemandangan apik dari lantai tiga seperti ini.
“Ra, Ibumu datang!” Teriak mbak Tutik dari lantai dasar.

Sontak membuatku kaget karena, sebelumnya Ibu tak memberitahuku. Berbagai macam tebakan mulai menyibukkanku dari yang positif sampai yang negatif, namun dengan semangat aku pun mempercepat pekerjaanku, rasanya tak sabar ingin bertemu Ibu. Aku berlari menyusuri halaman pondok untuk menuju ruang tamu, ada senyuman di bibir tipisku, menandakan bahwa aku tak sabar ingin cepat-cepat bertemu Ibu, ingin cepat-cepat melihat senyuman Ibu menyambutku serta pelukan hangat yang selalu aku rindukan. Setelah sampai di samping pintu, aku berhenti sejenak, mencoba mengatur napas, lalu dengan wajah berseri-seri ku langkahkan kembali kakiku. “Ibuku sayaaaang,” Aku menyapanya dengan suara riang, serta senyuman. Namun yang ku lihat, sekejap membuatku bungkam tak bersuara.

Bunyi sendok yang bergesekan dengan piring meramaikan suasana kamar sore ini. Semuanya sibuk dengan makanan masing-masing, bahkan sebagian terlihat sedikit tergesa-gesa karena tak ingin tertinggal jama’ah maghrib. Aku menatap teman-temanku dengan wajah datar, makanan di hadapanku sama sekali belum aku sentuh, padahal aku hari ini puasa sunnah, mirisnya aku tak berniat untuk memakannya barang satu suapan.

“Ra, kenapa tidak makan?” Tanya Seli yang berada di sampingku. Aku menatapnya, “Makanlah!” Jawabku menyodorkan piringku sambil lalu, mengundang rasa heran dan ingin tahu dari teman-temanku. Namun, aku tidak peduli, aku tetap berjalan menuju kamar mandi, melewati satu demi satu tangga dengan pandangan kosong, mencoba mengingat kembali kata-kata menyakitkan itu, mengingat segalanya dengan detail tanpa ada satu pun yang terlewatkan. Tapi tetap saja, aku hanya mampu mengingatnya bukan memahaminya.

Kelas masih dalam keadaan sepi, padahal aku sudah sampai kira-kira lima menit yang lalu. “Ismaa,” Lirihku memanggil nama sahabatku, berharap bisa mendapatkan kekuatan di sana, karena selama ini Isma yang selalu ada untukku, selalu mengerti angan dan citaku, mendukung mimpi-mimpiku dan di saat seperti ini aku begitu membutuhkannya.
Butiran bening mulai berjatuhan dari sudut mataku. Kian berlomba-lomba saat isakan semakin mengguncang dadaku. Aku memilih menunduk, menyembunyikan wajahku ke dalam dekapan tangan yang bergetar.

“Ra…. Kamu kenapa?” Pekik Isma tertahan saat ia melihatku, sekejap berlari memelukku, mengalirkan kehangatan seorang sahabat yang sampai kapan pun tak akan ku lupa. Tangisku semakin pecah, membuat Isma semakin panik, karena Isma memang tak pernah melihatku menangis, yang selalu ia lihat hanyalah Ra yang periang, Ra yang tersenyum selalu. “Mereka cerai Ma… cerai,” Suaraku bergetar, begitu menyayat, Isma hanya diam mendekapku.

Aku berjalan santai di koridor sekolah menikmati waktu istirahat. Memanjakan mata bengkakku setelah menangis dengan melihat lalu lalang para siswi PIM. Di sampingku ada Isma, sekali ia menyapa teman-teman kami, mengajak bercanda tanpa melupakan kehadiranku di sampingnya.
“Kamu sudah baikan kan Ra?” Tanya Isma dengan senyum manisnya. Aku mengangguk, menandakan bahwa aku baik-baik saja.
“Ra, ingatkan kita berada di tangga terakhir, tangga yang penuh dengan kejutan tanpa bisa kita duga, tapi kita harus selalu siap dengan semua itu Ra, karena hidup harus selalu siap dengan kemungkinan terburuk, kamu tidak sendiri Ra, kamu punya Allah dan yang pasti,” Isma diam sesaat, mengerlingkan satu matanya, membuatku gemas.
“… Kamu punya sahabat seperti aku, hahaha,” Kami pun tertawa bersama. Terima kasih Ma, kamu memang ajaib.

H-19
Satu minggu belakangan aku terlalu sibuk dengan KTA-ku, mencari referensi ke sana ke mari, begadang tiap malam, sampai aku lupa untuk makan. Aku terlalu semangat untuk mengerjakannya. Bukan karena ingin cepat selesai, sungguh bukan! Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku sanggup untuk berdiri meski hanya dengan satu kaki, bahwa aku mampu untuk tersenyum meski sedalam apa pun luka di hati, bahwa aku bisa untuk membahagiakan kedua orangtuaku dengan tanganku sendiri dan tentu atas izin-Nya. Aku yakin bisa melewati tangga terakhir ini.

“Ra, ke kantin yuk, lapar nih!” Ajak Isma dari belakangku.
“Ra!” Panggil Isma kembali karena tak ada jawaban.
“Plaaaak,”
“Aww,” Pekikku menahan sakit, aku menoleh, dan saat itu juga Isma terkejut.
“Wajah kamu pucet banget, kamu kenapa?” Dengan nada khawatir Isma bertanya, aku menggeleng. Tapi Isma tidak percaya, lalu ia menyentuh keningku dengan punggung tangannya. “Panas!” Aku meringis mendengarnya. Mencoba menutupi rasa sakit di kepala yang makin menggila, mencoba tetap kuat meski tubuh ini menolak. Namun, sekuat apa pun aku berusaha, tetap saja aku tak mampu bertahan lama, dan mataku mulai terpejam, rapat. Semuanya menjadi gelap.

“Pyaarr,” Gelas pecah saat tangan ini ingin memegangnya, tapi tanganku yang terlalu lemah membuatku tak sepenuhnya mampu. Aku menggigit bibir, miris ku rasa, menyadari kondisiku yang tak kunjung membaik. Lima hari hanya terbaring di tempat tidur menghadirkan rasa bosan juga jenuh. Aku ingin sekolah, ingin bertemu Isma, dan ingin belajar bersamanya. “Kring, kring, kring,” Tiba-tiba ponselku berbunyi menandakan ada orang yang menelepon. Siapakah? Aku meraih hp-ku yang beruntungnya ada di samping bantalku. Ku lihat layarnya dan tertariklah kedua sudut bibirku. Isma.

“Halo…. Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam, Raaaaa Gimana kabarnya?”
“Alhamdulillah baik Ma, kamu?”
“Baik juga Ra, aduuuh aku kangen kamu tahu!”
“Hhh aku juga,”
“Hahahaha,” Dan kami pun mengobrol bersama, sampai aku lupa rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhku.

H-11
“Mukena, seragam, baju, kitab. Emm sudah semua Bu sepertinya,” Teriakku pada Ibu yang ada di kamarnya. Saat ini aku sedang mengabsen barang-barang yang akan aku bawa ke pondok nanti siang. Aku begitu senang hari ini, karena aku akan bertemu Isma, dan selain itu aku ingin cepat-cepat mengerjakan KTA-ku yang pastinya tertinggal banyak, huh! Ibu ke luar dari kamarnya, terlihat cantik dan anggun memakai long dress berwarna putih yang dihiasi pernak-pernik lucu di dada juga ujung lengannya. Subhanallah!

“Sudah siap dek?” Tanya Ibu membuyarkan lamunanku.
“Eeh… Iya Bu, ayo,”

Cuaca hari ini begitu cerah, jadi mempermudah perjalananku ke pondok bersama Ibu yang mengantarkanku. Semenjak perceraian Ibu, aku memang harus diantar Ibu bukan Ayah, karena aku lebih memilih tinggal bersama Ibu. Kami sudah setengah perjalanan, sedikit lelah itu pasti tapi, aku masih bisa tersenyum sambil tanganku erat memeluk Ibu. Aku begitu damai saat melakukannya, seolah tak ada yang sanggup lagi mengusik duniaku. Tapi tiba-tiba, dari arah berlawanan ada bus yang melaju sangat kencang, bus itu semakin tak terkendali dan.. “Braaakkkkk,” Kedua kalinya aku menemukan kegelapan.

H-7
Aku menatapnya tak berkedip, membelai nisannya dengan lembut tak ingin beranjak, tak ada lagi kristal bening di sana, mungkin sudah kering karena terlalu boros aku membuangnya. Saat ini aku tidak sendiri, bahkan tiga hari ini aku selalu ditemaninya, Isma teman terbaikku, yang sekalipun tak pernah meninggalkanku pasca kecelakaan tragis tiga hari lalu, dan merenggut nyawa Ibu terkasih.

H-6
Aku tak tahu sampai kapan aku harus diam, aku tak tahu sampai kapan aku harus larut dalam kesedihan dan takdir naasku, sungguh aku tak tahu. Aku menatap hamparan air laut di hadapanku, merasakan angin membelai manja kulitku, menikmati desiran ombak yang mengalun merdu. “Ra, aku benci kamu,” Ungkap Isma di sampingku, aku tetap diam namun hatiku terkejut.

“Aku benci kamu yang lupa dengan tangga terakhir kita, aku benci kamu yang mudah menyerah hanya karena kejutan seperti ini, padahal kamu tahu betul, bahwa hidup harus selalu siap dengan kemungkinan terburuk,” Lanjut Isma tanpa memandangku, hatiku semakin teriris mendengarnya.
“Ra, terkadang Allah menunjukkan rasa cinta-Nya kepada hamba-Nya dengan rasa sakit, kecewa bahkan kehilangan. Dan inilah salah satunya. Allah sangat menyayangimu hingga Dia memberi cobaan,”
“Tapi…. Ini terlalu berat Ma… terlalu sakit,” Jawabku akhirnya.

“Iya, memang berat Ra, memang sakit, tapi kamu juga harus tahu bahwa Allah tak akan memberi coban di luar batas kemampuan hambaNya, Allah memberimu cobaan ini karena Allah tahu, kalau kamu sanggup, kalau kamu kuat, kalau kamu bisa, dan buktikan itu!” Kembali aku teriris mendengarnya, namun kali ini hatiku menghangat, secercah cahaya pun mulai menerangi kekosongan jiwaku. “Terima kasih Ma,” kami pun berpelukan.

H-5
Aku kembali lagi dengan semangat baru, yang akan menerobos apa pun yang menghadang langkahku, apa pun itu! Masih dengan Isma, ia membantuku menyelesaikan KTA-ku yang masih kurang lima bab, dan lima hari lagi adalah hari terakhir pengumpulannya. Aku begitu kalap, takut, khawatir, dan sebagainya. Namun kembali Isma memberiku dukungan. Lima hari aku fokuskan seluruh pikiran dan tenagaku untuk KTA. Sebisa mungkin untuk tidak ada kata telat dan sebisa mungkin hasil yang baiklah yang aku peroleh. Amiiiin… Allah bantu aku!

“Ayo Ma… Lari saja!” Kataku kepada Isma yang langsung dipatuhinya. Kami pun akhirnya berlari, meski napas sudah tak beraturan. Kedua tanganku memeluk buku tebal yang baru saja aku ambil dari tempat foto copyan.
“Ra, tunggu aku!” Pinta Isma yang tertinggal di belakang. Aku pun berhenti untuk menunggunya, setelah Isma sudah di sampingku… “Sini!” Aku meraih tangannya, agar Isma tak lagi tertinggal dan kami bisa sampai di sekolah bersama untuk mengumpulkan KTA-ku, saksi bisu tangga terakhirku.

“Siapa pun kamu, bagaimanapun kamu. Jangan pernah menyerah pada impian. Karena apa pun yang berhubungan dengan impian. Terlalu berharga untuk dilepaskan.” ~Isma dan Ra~

Cerpen Karangan: Luluk Faiqoh

Cerpen Tangga Terakhir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Denyut Kehidupan Vallen

Oleh:
“Aduh, pelan-pelan Bu!” “Sakit ya Nak?” Gemetar, bibir ibu yang mulai membuka percakapan kepada buah hatinya ini, air mata yang mengalir lembab di pipi anaknya seakan memberi perintah agar

Bakat (Part 2)

Oleh:
Aku bersyukur memiliki sahabat seperti Dinda. Dia yang selalu ada di saat aku sedang berada dalam masa-masa sulit. Seperti sekarang ini, aku tahu dia akan selalu ada untukku. Setiap

Bangkit

Oleh:
Aku berjalan menyusuri lorong malam sepi nan gelap. Pandanganku pada langit tua. Cahaya bintang berkelap kelip mulai hilang oleh kesunyian malam. Cahaya bulan malam ini begitu indahnya. Hari ini

Agoraphobia

Oleh:
Ada seorang anak semata wayang dari keluarga kaya bernama Gwendy. Sejak lahir Gwendy mengidap penyakit cacat, sehingga kaki kanannya lebih panjang dibanding kaki kirinya. Awalnya ia tidak mempedulikan hal

Jangan Salahkan Hijabku

Oleh:
Saat fajar mulai menampakkan diri, para ayam pejantan mulai berhanti berkokok. Kudapati semburat cahaya merah di ujung awan. Saat tetesan embun mulai membasahi tanah. Pohon-pohon yang rimbun membuatku takjub

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *