Ame to Niji (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Jepang
Lolos moderasi pada: 8 November 2016

Negera di Asia Timur dengan julukan negeri matahari terbit, negara yang terkenal dengan bunga eksotis berwarna merah jambunya yaitu bunga sakura, negara maju dengan segala teknologi yang super canggih, budaya yang sangat mengagumkan, dengan penduduk yang luar biasa, yap Jepang. Pantas saja aku jatuh cinta pada negeri ini, bermimpi dalam kurun waktu yang panjang untuk dapat singgah di negeri yang super sugoi hehe. Yeee, dan sekarang aku telah terbangun dari mimpi panjangku, kini sepasang kaki mungilku sedang berpijak di tanah negeri yang aku impi-impikan.

“Awww sakit Ra, apa maksud kamu mencubitku?” Cubitan Zahra membuat lamunanku pecah dibuatnya. “Abis kamu baru sampe udah senyum-senyum sendiri, kan aku takut kamu kerasukan yokai Jepang hehe. Ingat kita baru datang, Ayo bawa kopermu, kita sudah ditunggu di depan bandara, jangan buat orang Jepang menunggu mereka tidak suka hal itu”. Aku pun bergegas mengikuti Zahra mendorong koperku yang super berat, maklum banyak barang kesayangan yang harus aku bawa. “Zahra tunggu berat nih, kalau aku tersesat bagaimana?” Pintaku pada Zahra. “Saa (ayolah), percepat langkahmu!” Kata Zahra.

Benar saja di luar bandara sudah ada yang menunggu kedatangan kami, “Konnichi wa, gomennasai, watashitachi en’in suru. Hajimimashite, watashi wa Zahra, kochira Anissa desu. Douzo yoroshiku onegashimasu” Ojigi suru. “Konnichi wa. Daijoubu ne, Watashi wa Tsuyoshi desu. Noru!” kata Tsuyoshi-sama dari dalam mobil.

Kami pun meneruskan perjalanan menuju gakuryu di antar oleh Tsuyoshi-sama. Selama perjalanan mataku disuguhkan pemandangan indah yang sangat mententramkan. Tidak sia-sia aku belajar mati-matian agar bisa mendapat beasiswa di Kyoto University (KyoDai). Dan senangnya lagi aku mendapat beasiswa bersama sahabat baiku Zahra, lengkap sudah kebahagiaanku.

Sampailah kami di gakuryu. Kami di sambut hangat, senang rasanya apalagi banyak teman seperjuangan dari tanah air. Kamipun di antar menuju kamar, wow kamar yang luar biasa meski tidak terlalu besar tapi kamar ini sungguh nyaman. Kamipun dipersilahkan istirahat sejenak dan merapihkan barang bawaan kami.

Setelah selesai aku ke luar kamar berniat melihat-lihat suasana di sekitar. Indah sekali kota ini, aku senang sekali saking riangnya aku berlari-lari seperti anak kecil tanpa sengaja Bbbbrrruuukkk, aku menabrak seseorang, dengan sigap aku berdiri dan membantu orang itu untuk berdiri “maaf gak sengaja, ehh… Sumimasen deshita, anata wa daijoubu desuka” maafku pada orang tersebut. “Kamu baru yah disini? Bisa gak, jangan lari-lari kaya gitu ini bukan taman kanak-kanak” omelnya padaku. Ternyata dia seorang lelaki dan sepertinya dia mahasiswa dari Indonesia, karena dia mengomeliku dengan bahasa Indonesia, jutek sekali dia. Untung aja aku masih baru disini jadi aku gak bisa marah, sabar jangan buat masalah. “Iya saya baru disini, aku Anisa. Kamu gak papa kan? Maaf atas sikapku” berusaha bersikap ramah. Namun dengan sikapnya yang sangat jutek dia tak memberikan aku jawaban dia hanya berlalu tanpa senyum. “Ihhh kesel, ada yah orang jutek kaya dia di tempat seindah ini. Dia membuat keindahan tempat ini hancur, rugi aku ketemu dia. Tau kalau bakal di cuekin kaya tadi gak usah aku tolongin” celotehku sepanjang jalan menuju kamar Zahra. Tanpa permisi aku membuka pintu kamarnya. Aku terduduk di kasurnya yang sudah sangat rapi dengan raut muka yang kusut. “Nisa kalau masuk kamar orang itu permisi dulu gak sopan banget sih, loh kenapa mukanya ditekuk gitu jelek ih, perasaan sebelumnya raut wajahnya gak gini deh. Kenapa sih Nisa?” Tanya Zahra. Dengan penuh kesal aku menceritakan semuanya hingga tak sadar aku membuat kasur Zahra yang rapih menjadi berantakan. “Anisaa stop jangan di berantakin dong, ihh dasar kamu ini. Sudah jangan cari gara-gara kita baru disini, ingat keluarga jauh mangkanya kita harus cari teman bukan musuh. Paham Nisaku sayang” jelas Zahra. Memang benar kita harus mampu menjaga dan menitipkan diri pada kawan seperjuangan disini.

Minggu-minggu awal kami berjalan berat sekali, kami belum terbiasa dengan sistem belajar disini, namun kami sudah banyak teman, mereka baik sekali menyemangati dan membantu kami sebagai mahasiswa baru. Sempat berkeinginan untuk segera pulang ke tanah air, namun perjuanganku menuju Kyoto sungguh berat, menyerah di saat-saat awal seperti ini sungguh memalukan.

Saat waktu kosong aku selalu menikmati lukisan yang Tuhan buat. Pemandangan indah itu membuat rasa lelahku hilang. Aaaaaahhh teriakan itu memecah keheningan di danau yang sunyi. Aku menoleh ke arah seorang pria di pinggir danau, sepertinya dia sedang memiliki masalah. Aku mendekati pria itu, betapa terkejutnya aku ternyata dia adalah pria tempo hari yang super jutek. Saat langkah mulai mendekat, pria itu menoleh padaku dan segera berlari menuju kamarnya. “Aneh sekali dia, emang aku yokai? di samperin malah lari, perasaan aku gak jelek-jelek banget. Ya sudahlah biarkan saja”. Setelah bosan aku kembali ke kamar mengerjakan tugas dan belajar. Padatnya jadwal membuat aku dan Zahra jarang bertemu, kami sibuk dengan kegiatan masing-masing, tapi kami masih saling menjaga satu sama lain.

Aku, Zahra dan kawan lainnya makan bersama di kantin. Lama tak menghabiskan waktu bersama kami berbincang-bincang banyak hal, sampai kami membahas tentang laki-laki super jutek itu ternyata dia adalah senior kami, namanya Fatur dia adalah mahasiswa yang cerdas. Memang benar senpai yang satu ini terkenal jutek, dia selalu menyendiri entah apa alasannya. “Mungkin karena dia terlalu pintar maka dari itu dia sombong dan tak mau bersosialisasi” kataku polos. “Siapa bilang dia sombong? Dia bakal bantuin kita kalau ada program study yang sulit. Aahhh aku jatuh cinta dibuatnya” kata Zahra, dan teman-teman yang lain sependapat dengannya. Waktupun memisahkan kebersamaan kami semua, kembali pada kesibukan masing-masing.

Tak terasa sudah cukup lama aku di sini semua kegiatan yang dulu aku keluhkan kini menjadi rutinitas yang biasa. Hari ini kelas kosong jadi aku hanya diam saja di kamar mengerjakan tugas dan belajar bosan rasanya akhirnya aku memutuskan pergi ke tempat biasa. Aku terduduk membisu dan memutar sebuah lagu di hpku dengan menggunakan aerphone. Lagunya terlalu sedih hingga membuat aku menangis, “Aku rindu seseorang yang tak pernah merindukan aku, sakit rasanya namun itulah kisah cintaku. Mencintai orang yang hanya sekedar menganggapku teman. Namun kebaikan yang dia berikan padaku terlalu berlebihan membuat rasa ini menjadi berlebih pula dari sekedar temen. Sudahlah lupakan dia sudah bahagia bersama pilihan hatinya sekarang. Jangan terus terjebak dalam bayangan gelap masa lalu!” pintaku pada diriku sendiri. Aku menutup mata berusaha menghentikan tetesan air mata, namun aku terus larut dalam kesedihan. Saatku membuka mata ada seseorang memberi selembar tisu padaku, dia adalah senpai Fatur. “Saat cuaca indah seperti ini, mengapa kamu menurunkan hujan? Jangan kamu rusak cuaca indah ini”. kata senpai sambil terduduk di sampingku. “Maafkan aku senpai, aku tak bermaksud merusaknya” jelasku sampil mengusap air mata dengan selembar tisu putih yang senpai berikan. “Apa yang membuatmu menangis? Jangan katakan kau menangisi cinta. Cinta itu tidak ada, cinta itu omong kosong, cinta itu tidak pernah mendatangkan kebahagiaan.” jelas senpai dengan sangat tegas. Aku tak paham mengapa senpai begitu membenci cinta, mungkin ada cerita cinta di masa lalunya yang pahit. “Maafkan aku senpai Fatur tapi semua orang punya kisah cintanya masing-masing, mungkin kebahagiaan cinta belum datang padamu sehingga kau berkata seperti itu” jelasku. “Sudah lupakan! Kau mengenalku?” Tanya senpai “Jelas semua orang di kampus mengenalimu sebagai mahasiswa pintar yang super jutek, maka tak sulit untuk mencari identitasmu” jawabku. “Mereka selalu saja membicarakanku, aku tak mengerti apa yang mereka inginkan. Sudahlah aku pamit masih banyak tugas yang aku harus bereskan. Jangan kau turunkan hujan lagi yah, Kyoto tak indah saat hujan turun. Kau paham itu ame?” pamit senpai. “Ame? Namaku Anissa, senpai” jelasku. “Ame, nama panggilan yang cocok untukmu” jawab senpai dengan terus berjalan menuju kamarnya dan hilang di balik tembok yang seakan menyembunyikan keberadaanya. Dengan raut muka yang sedikit heran atas nama panggilan yang senpai berikan padaku “Ame” yang artinya hujan. Ya sudahlah, tapi sikap senpai tadi jauh berbeda dengan sikap sebelum-sebelumnya yang super jutek. Menurutku dia orang yang aneh.

Saat aku, Zahra dan kawan-kawan lain berkumpul dalam satu meja makan di kantin kampus yang sangat terawat, bersih dan luas. Kami menyantap makanan masing-masing dan dan sedikit menggosip biasalah kebiasaan perempuan memang sulit dihilangkan. Dari satu gosip ke gosip yang lain sampai akhirnya membicarakan senpai Fatur. “Kenapa yah senpai Fatur dingin banget, susah rasanya mau deket sama dia. Sampai frustasi aku dibuatnya” tanya Zahra pada kami semua. “Ada yang bilang sih, senpai gak suka keramaian, dia lebih suka tempat sunyi dan dia lebih suka membaca buku dari pada mengobrol seperti kita” jawab salah satu teman kami. Aneh sekali semua membicarakan kejutekan senpai, memang sih awal pertemuan, senpai sangat jutek tapi tempo hari saat dia memberiku selembar tisu dia baik sekali. Aneh sepertinya dia memiliki dua kepribadian dalam dua suasana yang berbeda.

Rasa bosan menghampiriku, waktunya datang ke tempat ajaib yang dapat membuat rasa bosanku hilang. Terduduk di kursi yang biasa aku tempati ditemani alunan musik yang lembut dengan pemandangan indah. Tiba-tiba ada seseorang mencabut earphoneku, terkejut aku dibuatnya dan ternyata itu senpai. “Ame apa yang kau lakukan disini?” tanya senpai. “Menghilangkan rasa penat senpai, apa yang senpai lakukan disini?” tanyaku. “Tujuanku sama sepertimu ame” senpaipun terduduk di sampingku. “Senpai aku boleh bertanya sesuatu?” bertanya dengan gugup. “bertanya apa ame?” dengan raut muka penasaran. “Mengapa akhir-akhir ini kau baik padaku, sikap jutekmu seakan sirna saat mendapatiku sedang menangis di tempat ini. Tapi semua orang di kampus mengenalmu sebagai senpai yang jutek”. tanyaku berharap mendapat jawaban yang memuaskan, namun suasana hening, senpai belum menjawab pertanyaanku. “Aku tak suka keramaian ame, keramaian membuat aku sering tersudut. Aku pun memang sengaja tak berteman dengan siapapun dengan alasan aku pernah dikecewakan, banyak teman yang memperalatku karena kepandaian yang aku miliki. Saat aku jatuh semua yang aku anggap teman menjauh. Maka dari itu sekarang aku memutuskan sendiri, untuk pertanyaan mengapa aku baik padamu, pertanyaan itu tak bisa kujawab sekarang, kau akan sulit memahaminya” jawab senpai dengan sangat rinci. “Aku akan menunggu jawaban atas pertanyaan itu, senpai punya hutang padaku” jelasku. “Okey ame, mengapa kau tak menurunkan hujan hari ini?” tanyanya menyindir. “Karena hari ini aku tak mendung maka dari itu aku tak menurunkan hujan” jelasku sinis. Banyak hal yang kita bincangkan hari ini dan aku semakin mengenal senpai, menurutku dia orang baik. Kejutekannya itu memiliki alasan yang jelas.

Beberapa minggu kemudian
Di kampus saat sedang memecahkan masalah atas pertanyaan-pertanyaan yang sulit di cerna, bersama Zahra dan kawan-kawan. Tiba-tiba “Ame, ikut aku sebentar!” pinta senpai sambil menarik lenganku menjauh dari kawan-kawanku. Aku melihat jelas semua raut wajah kawanku kebingungan mereka pasti terkejut. “Aww sakit, kau kasar senpai, ada apa?” tanyaku heran senpai tak pernah menanggilku di kampus. “Maafkan aku, sakit?” sambil mengelus lembuat pergelangan tanganku. “Tidak begitu sakit kok, ada apa senpai mengajaku menjauh dari kawan-kawan, ada hal penting? mengulang pertanyaan kembali. “Tidak ada yang penting kok aku cuman mau memberikan ini padamu, habis aku tunggu kamu di tempat biasa kau tak pernah datang” jelas senpai sambil memperlihatkan kalung yang cantik padaku. “Wow ini cantik, untukku? Maaf aku sibuk banyak tugas yang sulit aku pecahkan” jelasku. “Kenapa kau tidak meminta bantuanku, kau meragukan kemampuanku? Iya kalung ini untukmu, biar aku pakaikan” sigap senpai memakaikan kalung itu padaku. “Bukan aku meragukan kemampuanmu senpai tapi aku takut menganggumu, terimakasih telah menawarkan bantuan dan atas kalung yang cantik ini aku suka” jawabku. “Jangan sungkan aku senang jika dapat membantu. Syukurlah jika kamu suka, saat aku pergi ke sebuah toko aku melihat kalung cantik itu kalung itu cocok dengan nama panggilan yang aku berikan untukmu “Ame” kalung itu menggambarkan tetes air hujan yang dibekukan mirip sekali dengan es. Ya sudah selamat belajar aku pamit”. Pergi meninggalkanku dengan senyum menawan. “Senpai… Arigatou” sedikit berteriak. Senpai berbalik badan dan hanya memberi isyarat OK dan kembali melanjutkan langkahnya.

Saat aku kembali ke tempat kawan-kawanku berkumpul mereka sedang membicarakan ku dan senpai. Aku kembali duduk, seribu pertanyaan pun menyambar. Bingung rasanya apa yang meski aku jawab. “Kau dekat dengan senpai? Mengapa kau tak menceritakannya padaku?” tanya Zahra. “Ayolah Zahra itu bukan hal yang penting, aku hanya berteman dengannya tak lebih” jawabku tenang. “teman? tak mungkin sedekat itu dan kalung itu. Sudahlah aku kecewa padamu” kata Zahra membereskan buku, mengambil tas lalu pergi. “Zahra tunggu, aku bisa menjelaskan semuanya” berusaha mengejar namun salah satu temanku melarang dengan alasan Zahra perlu waktu sendiri.

Pulang menuju kamar dengan raut wajah yang kusut, saat akan membuka pintu. “Ame, naze?” tanya senpai. “Daijoubu desu” menjawab dengan nada menurut. “Itsuwari na” (jangan bohong) tegas senpai. “Iie” jawabku singkat. “Jika kau memang lebih suka memendam masalahmu sendiri tak mengapa” jawab senpai dengan nada kecewa. “Senpai, saat kau memberiku hadiah, sahabatku marah padaku sepertinya dia menyukaimu, namun tak pernah ada kesempatan untuk dia mendekatimu” jelasku sambil berurai air mata. “Mengapa dia harus marah padamu? Sudahlah lupakan jangan membebanimu dengan hal itu” pinta senpai padaku. Aku hanya mengangguk kecil lalu masuk ke dalam kamar tanpa pamit. Aku terduduk di depan meja rias, melihat betapa jeleknya diriku saat mengangis, tapi seketika mataku teralih pada liontin kalungku yang tiba-tiba berubah warna menjadi gelap. Aku berusaha membersihkannya agar liontinku kembali berwarna bening. Sulit sekali, aku pun putus asa membiarkan liontin ini berwarna gelap dan memutuskan untuk tidur.

Alarm berdering nyaring tanda sudah pagi, aku bangun dengan senyum melupakan apa yang terjadi kemarin. Aku bangkit dari kasurku sedikit merapihkannya dan bergegas mandi. Setelah selesai dan telah berpakaian rapih, aku pun duduk di kursi rias menyisir rambut dan sedikit memoles wajah. Saat aku melihat cermin mataku terarah pada kalungku, warna liontinnya kembali bening, aneh sekali kalung ini tapi aku menyukainya dan saat aku memakai kalung pemberian senpai rasanya nyaman, itu alasanku tak melepas kalungnya.

Saat aku sampai kampus semua orang menatapku tak biasa, ada apa ini tanyaku dalam hati. Saat aku berjalan masuk menuju kelas, aku mendengar percakapan mereka. Ternyata ada gosip bahwa aku dan senpai Fatur memiliki hubungan spesial. Seisi kampus membicarakan pertemuanku dan senpai kemarin. Saat aku sampai di kelas, semua gaduh membicarakan hal yang sama. Mengapa mereka semua berfikir demikian, kenyataannya tak seperti yang mereka fikir. Aku bertanya pada Zahra dan kawan-kawan, sebenarnya ada apa. Namun mereka pergi meninggalkanku. Aku bingung sebenarnya apa yang terjadi.

Cerpen Karangan: Sri Yulianti
Facebook: Sri Yulianti

Cerpen Ame to Niji (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Anime in Love (Part 1)

Oleh:
Anime Satu kata itu tidak terdengar asing di Telingaku. Ya, mungkin karena aku penggemar anime. Suka nonton film-filmnya, suka jadi cosplay salah satu karakter (nggak sering juga, sih), dan

Cinta Taka

Oleh:
“Hikari-chan, aku sudah muak dengan Taka. Dia menyebalkan sekali! Setiap bertemu, pasti memanggilku otemba” Uuh … konsentrasiku buyar ketika mendengar suara Eiko. Entah sudah berapa kali, ia telah menyebut

Rival vs Lover

Oleh:
Harutoki Saga tahu bahwa hidupnya sudah diatur sejak ia berada di dalam kandungan ibunya. Ya, ibu yang membecinya karena cacat yang dimilikinya. Mata kanan yang tidak bisa melihat lagi.

Mr. Outside (Part 3)

Oleh:
“Kau benar-benar bisa melihatnya?” Tanya wanita itu dengan suara lemahnya. “Ya, dia sangat mengkhawatirkanmu saat ini” “Ahh….” Buliran air bening jatuh dari kelopak-kelopak matanya. “Jangan menangis, itu lebih menyakitinya…”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Ame to Niji (Part 1)”

  1. Blandina P.W. says:

    cerpennya bagus. Karwna aku suka jepang

  2. arisa says:

    hanya meralat, bukan senpai fatur tapi fatur senpai ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *