Ame to Niji (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Jepang
Lolos moderasi pada: 8 November 2016

Terduduk sambil menundukan pandangan, saat aku melihat liontinku warnanya kembali gelap. Tiba-tiba ada seseorang menjulurkan tangannya padaku, sontak aku mengangkat wajah dan melihat siapa dia, ternyata senpai. Kulihat suasana sekeliling kelas semua orang melihat ke arah kami, akupun menatik senpai ke luar pergi meninggalkan kampus.
“Kenapa lagi denganmu ame?” tanya senpai bingung. “Aku baik-baik saja” kataku “berhentilah berbohong, katakan sejujurnya itu hal yang mudah” pintanya “Gosip itu” jawabku singkat, ternyata senpai mengetahuinya. “Biar saja, apa yang salah dengan gosip itu kita memang dekat, gosip itu akan hilang dengan sendirinya” kata senpai menghadapi masalah dengan sangat dingin, sedingin benda putih yang turun dari langit saat fuyu datang. “Tapi Zahra menjauhiku” itu yang membuat aku sedih. “Dia butuh waktu sendiri, kau jelaskan padanya saat semua mulai membaik, kau paham?” tanya senpai. “Baiklah” jawabku singkat. Aku teringat akan liontinku yang berwarna gelap dan ingin menanyakannya pada senpai, namun saat aku melihat ke arah liontinku dia telah berwarna bening kembali.

Gosip itu pun telah hilang dengan sendirinya, dan semuanya normal kembali. Namun Zahra dan kawan-kawanku belum kembali. Keseharianku sekarang hanya ditemani senpai Fatur, dia menemaniku, dan membantuku mengerjakan tugas-tugas yang rumit. Senpai memang sangat pandai, dia berhasil membuat metode yang sangat mudah di pahami akan hal yang sulit sekalipun. “Kau hebat senpai, semuanya jadi lebih mudah” kataku senang. “Semuanya memang mudah, dirimu sendirilah yang membuatnya sulit” jelas senpai. Aku mengecek hpku tak ada pesan atau panggilan masuk, tapi aku merasa melupakan sesuatu, aku melihat tanggal di hpku 14 Juni. Betapa terkejutnya aku, aku melupakan hari ulang tahun sahabatku.

“Senpai, bisa antar aku keluar, aku ingin membelikan kado untuk Zahra dia ulang tahun hari ini, aku lupa” jelasku terburu-buru. “Baiklah, ayo kita pergi” pinta senpai. Karena kami adalah mahasiswa gakuryu kemanapun kita pergi harus di antar oleh supir kampus Tsuyori-sama. “Shujin, hikidemono no mise e annai suru kotoga dekimasuka. Nanika kaitai desu” Pinta senpai pada Tsuyori-sama. “Hahaa, tondeiku” kata tuan sama. Kami pun pergi menuju toko.

Sesampainya di toko aku bingung, kado apa yang akan aku berikan pada Zahra. Berputar-putar mengelilingi toko tanpa tujuan, saat melihat ke luar toko, aku melihat bunga sakura yang sangat indah, Zahra menyukainya. “Apa yang akan kau beli ame?” tanya senpai membuat aku terkejut. “Sebuah benda dengan tema sakura” jawabku. “Emm tadi aku melihat sebuah gelang sakura yang cantik di sana, ikuti aku” pinta senpai. “Tunggu” kami pun menuju tempat gelang sakura itu, benar saja gelang itu cantik sekali, aku pun membelinya dan membungkusnya dengan cantik tak lupa sebuah mini cake coklat dengan tulisan Otanjoubi Zahra beserta lilinnya, aku belikan untuk sahabat baikku.

Sesampainya di gakuryu, kami langsung menuju kamar Zahra mengetuk pintu dan saat pintu terbuka “kyougaku” teriak aku dan senpai, namun aku terkejut Zahra menangis dan langsung memeluku erat, “Zahra, doushite naiteiru?” tanyaku, namun Zahra hanya menjawab “gomennasai”, beberapa saat kami hanyut dalam pelukan erat sudah lama aku tak memeluk sahabat baikku, jangankan memeluk bertegur sapapun tidak, aku merindukannya. “Zahra tiup dulu lilinmu ucapkan permohonan” pinta senpai. Zahra pun melepas pelukannya tersenyum manis dan memejamkan mata, membuat sebuah permintaan dan meniup lilin ulang tahunnya. “Ayo masuk” kata Zahra. Kami pun masuk dan duduk bersama dengan kaku. “Nisa maafkan aku atas semua kejadian belakangan ini, menjauhimu membuatku tersiksa, aku tak memiliki keluarga disini aku sendirian, kau telah aku anggap sodara. Aku kira kau melupakan hari ulang tahunku” kata Zahra dengan air mata yang mengalir. “Maafkan aku Zahra aku sempat lupa akan hari ulang tahunmu, aku tak sengaja maafkan aku yah. Jika kau mencintain senpai, aku akan menjauhinya Zahra tapi jangan menghindar lagi dariku” jawabku dengan airmata yang tak terbendung. “Apa maksudmu Nisa, pasti kau salah paham. Kau menganggap aku menjauhi mu karena kau dekat dengan senpai? Tidak Nisa aku kecewa karena kau menyembunyikan semua ini dariku, aku hanya mengagumi kepandaian senpai Fatur tak lebih, kan kau tau sendiri ada Hilman yang menunggu aku pulang di tanah air, aku tak mungkin menghianati kesetiaanya” jelas Zahra. “Maafkan aku Ra, aku takut kau cemburu dan sakit hati, aku kira kau mencintai senpai. Maafkan aku Zahra telah membuatmu kecewa, kita masih tetap bersahabat?” tanyaku polos “Maafkan aku juga tak menjelaskan semuanya hingga salah paham ini terjadi berlarut-larut, tentu kau tetap sahabat baikku” jelas Zahra, lega rasanya semua telah membaik. “Ini hadiah untukmu, senpai yang memilihkannya” memberikan kadonya. “Terimakasih banyak Nisa, terimakasih banyak senpai maaf merepotkanmu” kata Zahra. “Tidak mengapa, ayo buka kadonya” pinta senpai. Zahra pun antusias membuka kadonya, nampaknya dia senang dengan kado itu dia langsung mengenakannya di lengan mulusnya yang mungil “kawaii, aku suka makasih” kata Zahra. Saat Zahra sedang memuja-muja hadiah yang dia dapat, senpai membuat aku dan Zahra terfokus padanya “Boleh aku berpesan sesuatu? Usahakan kejadian salah paham itu yang terakhir kalinya jangan sampai kalian bermusuhan lagi, saling menjagalah karena di sini kalian sama-sama sendiri. Hal itu akan lebih baik”. Benar kata senpai kami harus saling menjaga kembali, tak mudah mendapat sahabat yang baik seperti Zahra walau dia sering marah tanpa alasan yang jelas, tapi dia sahabatku. Kamipun berjanji saling menjaga persahabatan ini.

Kini semua sudah membaik dan aku tak pernah melihat liontinku berubah warna lagi menjadi gelap. Aku terduduk di tempat biasa dengan perasaan yang berbeda semua lebih baik sekarang. “Ame” senpai membuatku terkejut dia selalu datang tiba-tiba. “Ada apa senpai kau selalu membuatku terkejut” kataku sedikit marah. “tidak ame, baguslah sekarang liontinmu selalu berwarna bening” kata senpai “senpai mengetahuinya?” tanyaku heran “Jelas aku mengetahuinya, liontin itu akan berwarna gelap jika perasaanmu sedang kacau, maka dari itu aku tau saat kau berkata bohong padaku berkata jika kau baik-baik saja padahal liontin itu berwarna gelap” jelas senpai “mengapa senpai memberikan liontin ini padaku?” Tanyaku lagi “aku hanya ingin kau tak bersedih kau lihat kan jika liontin itu berwarna gelap terlihat buruk begitu juga dengan dirimu saat menangis kau terlihat jelek ame, hehe. Maka kau harus menjaganya agar tetap berwarna bening dengan cara kau harus tersenyum hal itu membuatmu terlihat cantik” goda senpai padaku. “Ih kau jahat senpai meledekku seperti itu” jawabku dengan muka ketus. “Sudahlah, benarkan kau memang terlihat jelek jika cemberut begitu, ame aku akan membayar hutang padamu” kata senpai sedikit malu-malu. “Hutang, sepertinya aku melupakan sesuatu” jawabku bingung. “Ya sudahlah jika kau memang melupakannya, aku tak perlu repot menjelaskan” jawab senpai. Otakku berusaha bekerja keras memutar memori masa lalu, mengingat sesuatu tentang hutang bersama senpai. “Ayo ayo aku harus mengingatnya, dann ouh aku ingat hutang yang senpai maksud. Coba jelaskan!” Pintaku “Kau menang wanita yang aneh ame, baiklah aku akan menjawab pertanyaanmu, mengapa aku berlaku baik padamu tapi tidak pada orang lain. Alasannya karena kau pernah datang dalam mimpiku jauh sebelum kau menjadi mahasiswi di sini. Saat pertama bertemu aku merasa pernah bertemu dirimu dan saat aku mengingatnya ternyata kau gadis yang muncul di mimpiku, yang akan merubah hidupku, benar saja hariku cerah saat kau datang”. Jelas senpai “Bagaimana hal itu dapat terjadi? Aku tak mengerti” tanyaku bingung. “Susah untuk di jelaskan, dulu sebelum kau datang, aku selalu di tempat ini bersama marahku, tangisku, kesalku, sedihku dan semua masalah hidupku, tak ada teman aku merasa kesepian, rasa kecewaku atas penghiatanan pertemanan membuat aku takut untuk bergaul kembali, aku yang salah memutuskan keputusan bodoh untuk menyendiri dan ternyata hidup seperti itu menyiksa. Di suatu malam, masih di tempat ini aku melihat ada bintang jatuh segera aku memejamkan mata dan berharap ada seseorang yang dapat aku temui di tempat ini dan dia bisa menemaniku. Jarang sekali mahasiswa lain menghabiskan waktu di tempat ini mereka lebih suka keramaian. Dan di malam setelah permintaan itu aku memimpikan seorang gadis yang terduduk di kursi ini dengan tangis, alam seakan merasakan rasa sedih yang gadis itu rasakan maka hujan pun turun. Aku menghampiri gadis itu dengan rasa khawatir namun saat dia melihatku dia tersenyum menghapus air matanya. Seketika hujan berhenti dan pelangi indah menghiasi kebersaamaan kami berdua. Gadis itu mirip dengan kau ame” jelas senpai dengan rinci membuat aku terkagum. “Lalu?” Tanyaku singkat. “Ingat saat aku berteriak di tempat ini dan kau muncul?” tanya senpai, aku hanya menganggukan kepala saking ingin tahu lebih banyak lagi. “Aku terkejut karena memang benar kau orang yang pertama kali aku temui di tempat ini, kau juga gadis yang menangis di tempat ini. Aku berhasil menyelesaikan teka-teki itu, kau lah orang yang akan membuat aku melukiskan pelangi indah setelah hujan yang kau turunkan” kata senpai sedikit gombal memang namun aku terkesan. “Wow luar biasa pertemuan kita ini, walau sedikit aneh dan berlebihan” kataku tak menyangka seseorang yang jutek dan membenci cinta menunggu aku untuk merubah hidupya. “Ame, aku salah ternyata cinta itu ada, dan kau berhasil mendatangkan kebahagiaan cinta untuk ku. Suki da yo, ame”. Senpai mengungkapkan isi hatinya padaku sambil mengenggam kedua tanganku. Aku berfikir jauh dalam alam bawah sadarku, mungkin senpai Fatur yang akan mengobati rasa sakitku atas cinta terdahulu, kebersamaanku dengan senpai memang membuat panah asmara berhasil tertancap di hatiku, untung saja aku tak mati di buatnya. “Sudahlah jangan banyak berfikir sudah waktunya kau bahagia terima saja senpai sebagai koibitomu, ame hehe. Mungkin dia adalah pelangimu yang sesungguhnya” kata Zahra yang sedari tadi memantau kami. “Zahra, kau merusak lamunanku. Sejak kapan kau disana?” tanyaku. Terlihat muka senpai memerah mungkin dia malu ternyata ada seseorang yang memperhatikan. “Ya lumayan lama hehe, sudah senpai tak usah malu mukanya merah gitu hehe, aku ada di pihak senpai ko tenang saja” gurau Zahra mencairkan suasana. Dengan sedikit senyum senpai mengulang permintaannya “Jadi bagaimana ame, apa kau mau menjadi Koibito ku?” dengan rasa malu-malu akupun menjawab “iya, aku mau niji”. Senpai Faturpun tersenyum dan langsung memeluku. Senyumnya melengkung lebar tak pernah melihatnya sebahagia ini, berusaha dapat menjaga perasaan ini tetap baik agar bisa saling memberikan kebahagiaan cinta. “Tak ada yang ingin memeluku?” tanya Zahra membuat kami malu dibuatnya.

Jepang beruntung memiliki kota indah, nyaman dan tentram seperti Kyoto. Dan aku ame (hujan) yang mendung, dingin dan basah beruntung pula ada kau niji (pelangi) yang berwarna, hangat dan indah.

OWATTA

Cerpen Karangan: Sri Yulianti
Facebook: Sri Yulianti

Cerpen Ame to Niji (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sakura Love (Part 1)

Oleh:
Teriknya mentari saat musim kemarau di Indonesia memang bisa membuat sebagian besar orang enggan untuk melakukan aktifitas seperti biasanya. Apalagi di kota-kota besar seperti di Jakarta. Cuaca yang tidak

Hutan Setan

Oleh:
Ayu, Irma, Nisa, Aldo, Rama dan Yuda sedang liburan di perancis, mereka tinggal di rumah kakak Ayu yang bekerja disana. Mereka pun berjalan-jalan di kota yang penuh cahaya dan

Penyebab Hirako Mati Bunuh Diri

Oleh:
“Apa motifnya bunuh diri?” Sambil berjalan, pertanyaan itu terlontar dari mulut gadis yang sedang mengekorinya. Habara Ichika mencoba untuk memperjelas situasi yang sedang terjadi di sekolah mereka saat ini.

Valentines Day Memory

Oleh:
Hari ini adalah hari valentine bagi semua pasangan. Yuri seorang gadis yang sangat manis ini hanya menjalani hari valentine dengan biasa-biasa aja. “ehm… Ada yang menghayal nie…!!!” ledek miki

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *