Aku dan Angkot

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 28 February 2015

“tiiitt tiitt… ‘pasar bu?’ ” begitu Tanya pak sopir ketika menjumpai deretan ibu-ibu di pinggiran jalan. Tidak ada jawaban dari mereka. Tampaknya mereka sedang membincangkan sesuatu yang enggan diganggu, hanya gelengan kepala yang menjadi jawaban ‘tidak’. Pak sopir memutar setir ke kiri. menepi dan menunggu sebentar, berharap ada satu dua orang yang akan mengisi kursi-kursi kosong angkotnya. Hmm.. memang baru dua orang saja yang duduk di dalam. Satu laki-laki tepat di sampingku dan seorang cewek di depanku, tepat di sebelah pintu angkot. Siang yang panas… angin pun seakan tak mampu mengibarkan kerudungku.

Sekilas kuamati, Seorang laki-laki yang sudah berumur. Membawa sebungkus plastik hitam yang tidak besar dan entahlah apa isinya. Wajahnya terlihat lelah. Matanya menatap jalan di depannya yang penuh kendaraan lalu lalang. Tak dipungkiri, sesekali mata itu lambat laun menutup dan karena bunyi-bunyi yang didengarnya kemudian, membuat mata itu terkaget dan terbuka. “ngantuk mbak” sapanya padaku dengan senyuman yang dipaksa. Terkejut dan kikuk. Tak kusangka. Aku tertangkap basah. Aduuhh… malu. Kubalas dengan senyuman seadanya. Beginilah kebiasaan yang tidak pernah aku rancang.

Aku senang mengamati hal-hal di sekitarku. Mencoba menebak dan menjadikan mereka kumpulan cerpen di kepalaku. Termasuk suasana angkutan ini. Angkutan bagiku seperti sahabat. Dia selalu ada dalam senang dan susahku. Betapa tidak, saat aku akan menuntut ilmu dia datang menawarkan jasa, saat hujan mengguyur tak perduli apapun dia berhenti di depan kampus dan setia menungguku yang tidak segera menyeberang karena jalan masih padat, saat kereta api meninggalkanku yang tergopoh-gopoh dengan tas besar, angkutan dengan rela menjadi pelarian ku. Hmm… dia sahabat yang baik.

“Ke terminal gadang pak?” Tanya seorang ibu yang menggandeng putranya. “iya bu!” jawab pak sopir. Ibu dan anaknya masuk lalu memilih duduk berlawanan denganku. Lalu diikuti tiga laki-laki yang duduk di samping bapak sebelahku. pak sopir girang.

Angkutan hampir penuh. Roda mulai berputar perlahan dan segera meramaikan jalan raya. Kualihkan pandanganku pada seorang di depanku. Cewek itu. Seorang cewek muda. Manis. Mengenakan kaos abu-abu ketat yang… (waww…) hampir tidak berlengan dengan celana hitam yang… (apa-apaan?) persis diatas lutut. Rambutnya dibiarkan tergerai. Dia duduk dengan santai. Sebuah dompet kecil menyelip di tangan kanannya. Kalau diperhatikan, sepertinya dia seorang mahasiswi yang mungkin sedang tidak ada mata kuliah sehingga berniat jalan-jalan atau akan menemui seseorang. Sesekali tercuri pandang olehku, dia tersenyum kecil membaca tulisan di layar handphonya. Hmm… Hanya saja… menurutku, lebih baik dia menggunakan kaos setengah lengan ‘minimal’ sehingga daerah ketiaknya tidak harus terlihat orang lain. dan celana itu, asal bisa ditarik, pingin sekali kutarik. Selain soal aurat wanita, apakah si cewek tidak sayang tubuhnya ‘gosong’ karena mentari yang sedang membakar bumi saat ini? Atau dia sudah merasa aman karena memakai sun blok? Dan lagi.. banyak mata genit yang akan melotot melihat penampilannya. Duh… entahlah.. yang jelas ia terlihat nyaman-nyaman saja. Begitulah mungkin jika sudah menjadi kebiasaan. Padahal, islam sudah menjaga perempuan dengan sangat baik termasuk dalam hal berpakaian. Bagaimana menutup aurat dengan busana yang santun. Bukan berarti harus baru, mahal atau ber merk. Tetapi busana yang tidak memperlihatkan bagian tubuhnya selain wajah dan telapak tangan. Karena perempuan dianggap spesial. Dia lebih berharga dari pada emas, lebih bernilai dari mutiara, lebih indah dari sutra. Hingga islam menjaga perempuan dengan sempurna. Menyiapkan diri perempuan seutuhnya hanya untuk pendamping hidupnya kelak. Bukan untuk diobral pada siapa saja yag mau.
Aku hanya mendesah… astaghfirullah…

Angkot terus berjalan. Berjejal mencari celah yang bisa dilewati. Pak sopir merasa bertanggung jawab pada penumpangnya. Dia tidak ingin penumpangnya kecewa sehingga dengan sebisannya dia siap menjadi pembalap. Harapannya hanya penumpangnya tidak begitu telat sampai pada tujuan masing-masing. “depan kiri pak!!” suara cewek itu memecah deru mesin angkot. “sini mba?” pak sopir memastikan “iya pak” jawab si cewek singkat. Akhirnya turun juga. Pikirku. Aku kasihan, miris dan malu melihat dia berpakaian seperti itu di depanku. Padahal aku juga tidak mengenalnya, entahlah, naluri sesama wanita mungkin.

Angkot menepi. Si cewek siap untuk turun. Kuperhatikan dia yang akan berdiri. “Bismillah…” (Deg!) lirih tapi tertangkap jelas di telingaku. Astaghfirullah… cewek itu, yang sudah kupikirkan sisi kurang baiknya… ternyata dia mengingat Allah… Dia membaca basmalah? seketika akan turun dari angkot? Astaghfirullah… cewek itu seakan menyindirku. Tapi benar… “apakah aku sendiri sudah mengucap basmalah ketika naik angkot tadi?”

Angkot kembali melaju. Sekali lagi, angkutan adalah sahabat. Satu pelajaran yang hari ini aku dapat darinya. aku menyusuri kepingan waktu yang baru kulalui beberapa menit lalu…

Cerpen Karangan: Farida Khoirunnisa
Facebook: Farida Khoirnisa

Cerpen Aku dan Angkot merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Minum Teh Bersama Tuhan

Oleh:
Pukul 21.09 wib aku meninggalkan kantorku untuk bergegas pulang, langit mendung sekali, hari ini adalah hari rabu 16 desember 2015, mengendarai trail kesayanganku melaju dengan kecepatan standard 60 km/jam

Siapa Bilang Norak? Anggun Kok

Oleh:
Jakarta. Kota tempatku tinggal. Dimana sebagian masyarakatnya sangat up to date dengan tren, fashion atau semacamnya. Oh, iya. Namaku Tasya. Aku beragama Islam, kok. Hanya saja aku berpenampilan gaul,

Di Rumah Tuhan

Oleh:
Rembulan tempias sebarkan sinarnya, mencoba menembus celah-celah pekat langit malam. Berharap kan terang benderang bak mentari mendera bumi dengan sinar cerahnya. Perlahan awan pun mulai berarak, wujudnya tak terlalu

Goresan Pena Ayah

Oleh:
Dunia ini terasa berhenti, ketika Zahra harus siap menerima kenyataan pahit, memiliki seorang Ayah dengan keadaan cacat. Keinginannya mempunyai seorang Ayah yang lebih sempurna, seseorang yang tak cacat seperti

Zawia

Oleh:
Mungkin lima hari sudah tank-tank merkava itu berjejer rapi di ujung jalan Ash-shabah, tetap berdiri angkuh di antara terik matahari yang begitu panas dan sentuhan dingin saat malam menjelang.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *