Andai Kita Tau Hari Esok (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 9 June 2021

Siang itu semua telah berkumpul di kediaman Bu Lasmi dan Pak Darto, banyak, sangat banyak yang hadir disitu. Mulai dari Seorang Ibu yang hadir lebih dulu Bu Zami namanya, darinyalah rombongan warga datang berduyun-duyun untuk membantu Pak Darto dan Bu Lasmi yang sedang ditimpa musibah. Tiga Anak dan Cucu mereka pun datang.

Mereka para warga serta tiga anak dan cucu menuju ke Rumah Sakit di siang hari yang hampir sore, tepat jam 2.45 mereka semua rombongan melangkahkan kaki bersama. Rasa khawatir membalut mereka, terutama Bu Lasmi, ia yang paling gelisah, air mata yang beberapa kali jatuh pun disekanya, tak lama mengalir lagi, begitu terus berulang. Hingga Suasana hari itu terasa sunyi dan sepi, semua berporos ke satu fokus “Bu Lasmi yang sedang sedih”.

“Bu… Sabar ya,” kata Rehab sambil merangkul bahu dan mengusap tangan Bu Lasmi.
Bu Lasmi tetap terdiam dengan lemas, namun di lisannya tak henti trus mengucap Do’a dan Istighfar. Karena Bu Lasmi tau do’a dalam perjalanan itu tidak akan pernah kenal kata “tumpul”. Hingga Akhirnya mereka sampai di Rumah Sakit.

“Permisi Bu, Ruangan Pak Darto, pengendara sepeda yang tertabrak truck besar?” sahut Rehab.
“Oh ya! Yang bawa dagangan ke pasar itu bukan?”
“Iya Bu, betul, kemana? Sekarang Bapak dimana?” Tanya Rehab dengan gelisah.
“Itu Mas ruangan KJ013, maju kedepan, setelah tiga ruangan belok kiri, ada pertigaan belok ke kanan, ruangan ke dua, nanti di sebelah kanan.”
“Pusiiing Bu…” Sahut Rehab.
“Oh… Itu… Pak Satpam, tolong anter rombongan ini ke ruangan KJ013. Nanti masuk ruangannya bergantian ya Mas.” Sahut Ibu Resepsionis.
“Baik Bu…”

Satpam mengantar mereka sampai ke ruangan KJ013, dalam perjalanan mengantar rombongan, Rehab bertanya kepada Pak satpam, “Pak kalau Mushola RS ini dimana ya? Terlihat sepi betul RS ini, agak seram juga ya Pak.” Tanya Rehab.
“Oh… Mushola ada, tidak jauh dari sini, nanti Bapak lihat saja Lampu hijau yang berkedip-kedip disebelah sana, nah sudah itu Mushola.”
“Oke Pak makasih.”

Ruang demi ruangan dilewati, aroma obat yang sangat tajam menerkam hidung-hidung mereka, ruangan pun banyak yang kosong menambah lengkap rasa seram suasana bagi rombongan itu. Ditambah keadaan Bu Lasmi yang sedang kalut tenggelam dalam ruam luka yang dalam bergelayutan memenuhi pikirannya. Menambah suram perasaan rombongan itu.

Sampailah rombongan itu di depan ruangan KJ013, tempat Pak Darto dirawat. “Sebentar, biar aku dan Ibu dulu ya yang masuk, nanti segera bergiliran bergantian dengan adik-adikku. 1 adikku + 1 warga, seperti intruksi Bu Resepsionis tadi.” Jelas Rehab dengan sedikit pengarahannya kepada rombongan warga.

Rombongan itu nampak menyetujui arahan yang diberikan oleh Rehab. Sebelum Rehab memutar tuas pintu itu, ia berhenti karena salah seorang Ibu dari Rombongan itu tiba-tiba nyeletuk, “tuh bu ibu, sekalian, ‘Jangan anggap orang yang biasanya dipandang sebelah mata itu tak ada’. Malah kita tuh harus memandang, menatap tiap orang dengan dua mata seutuhnya,” kata Ibu itu dengan kata-kata yang serat dengan makna.

Belum sampai distu, Rehab pun langsung mengerenyitkan keningnya, senang bercampur geli dibuatnya dengan kata-kata itu. Seorang Bapak pun tak mau kalah menimpali Ibu itu. “Bu… Bu begitu juga hati, ‘Jangan biarkan hati kita, diberikan hanya sepotong ke orang yang menurut kita rendah, remeh, selalu bikin resah’. Karena bisa jadi dibalik penghinaan kita terhadapnya suatu hari nanti semua tindakan jumawa kita akan lumpuh dengan sikapnya yang tidak pernah duga-duga sebelumnya.” Sahut Bapak itu.

Memang Rehab kecil terkenal si pembuat onar tukang kelahi yang tidak pernah kalah dari lawannya, sehingga membuat geram banyak warga, hingga para Ibu dan Bapak di desa itu tidak sedikit yang masih menyimpan dendam terhadapnya.

Bu Lasmi sangat terpukul melihat keadaan suaminya yang terbaring lemah di RS, ia hanya berdo’a dan berharap agar Bapak bisa segera pulang ke rumah. “Pak… Aku tuh udah khawatir pas kemarin pagi, sebelum Bapak berangkat… Hu hu hu…” Bu Lasmi menangis sambil memeluk Pak Darto. Pak Darto hanya terdiam sambil mengusap lembut kepala Istrinya. “Sabar ya sayang, ini semua ujian, bila kita redho, maka Allah pun pasti Redho, tapi bila kita murka, Ia pun pasti murka. Tak mengapa ini hanya perantara penghapus dosa yang sudah terlalu banyak, maafkan saya yah, banyak luka yang telah ditorehkan padamu Lasmi dan juga anak-anak, Okhok… Okhook…” Kata Pak Darto sambil terbatuk-batuk.

“Bu… Maaf, mungkin biar Bapak saya totok sebentar, sepertinya ada gumpalan di titik saluran pernafasannya, supaya agak enakan.” Sahut Rehab putra tertuanya Pak Darto.
“Iya nak… Sambil Do’ain Bapak ya, biar lekas sembuh.”
“Baik bu.” Sahut Rehab, sambil menotok Pak darto yang memiringkan badannya ke arah kanan.

Setelah ditotok oleh Rehab, Pak Darto merasa dirinya agak baikan dari sebelumnya, napasnya pun mulai lega.

“… Hab, kamu belajar pijit dimana, badan berasa entengan, napas juga jadi plong.” Bisik Pak Darto dengan lirih, dengan keadaan tubuhnya yang masih sangat lemah
“Alhamdulillah Pak, sedikit-sedikit saya belajar totok punggung Dari Praktisi langsungnya, Ust. Abdurrohman.” Lirih Rehab dengan suara selembut mungkin.
“Iya, Bapak belum pernah ini, ngerasa enteng begini, padahal sederhana aja ya gerakannya.” Kata pak darto dengan suara yang amat pelan dan terasa amat berat dalam berkata.
“Alhamdulillah Pak, semua atas izin Allah Subhanahu Wa Ta’ala.” Jelas Rehab.

Akhirnya semua telah mendapatkan jatah kunjungan untuk membesuk Pak Darto, Dokter pun membolehkan untuk pulang setelah tiga hari nanti, Ibu dan Anak-anaknya serta cucu tidak ikut pulang bersama warga, mereka anak ibu saling berjaga bergantian.

Tepat di hari ketiga Pak Darto diperbolehkan untuk pulang, dengan kondisi yang masih memperihantinkan, kaki kanan dan tangan kanannya digips, dalam keadaan lemah ia tetap berusaha tampil dengan tatapan tegar di depan Anak-anak, serta cucunya.

“Keeekkk.” Sahut seorang anak kecil yang berlari ke arah Pak Darto.
“Kakek cehat ya, hayus cepat cembuh.” Pak Darto menganggukan kepalanya sambil mengelus kepala anak kecil itu, anak itu ternyata putra pertamanya Rehab, healme namanya, bocah baru berusia 4 tahun.
“Iya nak, In Syaa Alloh kakek akan pulih dengan cepat, kakek juga sudah ditotok tadi sama Ayahmu, dia juga bilang hendak membekam kakek, karena ada pembengkakan di kaki dan tangan bekas kecelakaan kemarin.” Jelas Pak Darto.
“Kek, kakek, cini healme bantuin jalannya.” Jelas healme dengan perhatian penuh ke kakeknya.

Pak Darto amat terhibur dengan kehadiran “healme” dia merasa lega sekaligus bangga punya cucu lucu yang penuh perhatian dengannya, persis seperti Ayahnya Rehab dulu.
“Engga usah nak… Kakek masih bisa, terimakasih ya, kamu tolong bantu bawa barang-barang kakek ya, sama nenek tuh.”

Sampailah Pak Darto dan keluarga di rumah, semua anak dan cucu berkumpul semua. Salah satu dari anak tertuanya “Rehab” menyarankan untuk melanjutkan pemulihan alami dengan metode “totok punggung dan bekam”.

“Jadi gini Pak, maaf ya Pak sebelumnya, serta adik-adik semua, pada dasarnya semua akan kembali kepada asalnya, maksudnya, saya ambil contoh aslinya kita semua berjiwa suci, karena ulah setan dan teman-temannya yang tidak akan pernah menyerah, akhirnya kita pun lupa, lalai, ‘terbengkalai’ oleh tipu dayanya. Contohnya dengan umur kita yang sangat pendek, singkat, lebih cepat wafat ketimbang manusia-manusia terdahulu. Nah proses kembalinya adalah ke tuntunan Nabinya, dengan mencontoh bagaimana beliau berobat ketika sakit? Maaf dengan segala hormat kepada Bapak, Ibu, serta adik-adik sekalian. Mari kita hidupkan kembali metode pengobatan Nabinya dengan bekam, herbal, serta totok punggung.”

“Kakak lagi promosi nih yaa…” Sahut adiknya yang kedua.
“Hehe, karena kebetulan momennya pas banget dek, semoga aja dengan ini kita semua mendapat redho, berkah, naungannya selalu.” Sahut Rehab.

“Hab… Kamu ajarin Bapak ya, biar Bapak buka pengobatan di kampung ini, lagi juga Bapak sepertinya sudah sulit menggoes sepeda, ingin jualan di rumah aja kedepannya.” Sahut Pak Darto.
“Bisa Pak, In Syaa Alloh, nanti besok kita belajar bareng aja, mumpung kita lagi pada kumpul semua.” Jelas Rehab.

Dengan cepat singkat mereka sekeluarga menyerap pembelajaran sederhana dari Rehab tentang totok punggung dan bekam serta obat-obatan tradisional lainnya.

“Andai kita tau hari esok? Akankah tetap bersemangat menjalaninya? Atau bisakah menghindari keburukan yang telah kita tau pasti menimpa? Padahal tidak semua yang kita anggap buruk, benar-benar buruk, semua telah digariskan oleh Pencipta. Dengan begini kita yang sudah lamaaa sekali tidak berkumpul jadi bisa berkumpul dan saling berbagi kebermanfaatan bersama.” Dengan panjang lebar Rehab menjelaskan di depan Bapak, Ibu, dan adik-adiknya.

Pak Darto pun mulai membuka “pengobatan alami ala Nabi” di desanya, warga-warga juga sangat berantusias sekali dengan pengobatan alami “totok punggung dan bekamnya Pak Darto”.

“Hari esok tetap menjadi misteri, walau sudah dirakit dengan rakitan paling teliti dan tercanggih, tapi bagi Pencipta sangat mudah sekali mendatangkan segala sesuatu yang belum pernah terbesit sama sekali di hati dan pikiran manusia, ‘andai kita tau hari esok?’ Akankah kita tetap berbuat baik, atau sebaliknya?”
Gumam Pak darto di pagi diiringi sinar mentari yang mulai menyentuh tubuh, wajah, keluarganya yang berkumpul di hari itu.

Cerpen Karangan: Halub
Blog: Anginsubuh93.blogspot.com
halub dari cileungsi, tinggal di masjid darurrozaq sebagai pembantu masjid.
Asal saya dari tangsel-pamulang.
Pada 25 agustus 1993 seorang bernama hizbullah telah lahir, di kuala lumpur.
“Bukan dunia bila tanpa duka”

Cerpen Andai Kita Tau Hari Esok (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku dan Keegoisanku

Oleh:
“Aku hanya ingin berdiri saja disini, jangan ganggu aku!.” Kalimat itu aku berikan untuk Kak Gee yang setengah jam yang lalu mengajakku beranjak pergi dari tempat ini, tempat yang

Cah Ndeso

Oleh:
“Dasar kau anak miskin, pergilah menjauh dari pandangan ku” kata bibinya. Semua orang memandang dirinya rendah, tidak berpendidikan dan yang jelas tidak mempunyai masa depan yang terang. Menganggapnya hanya

Jeritan Yang Tersampaikan

Oleh:
Tes… Bulir airmata jatuh begitu saja mengenai pipi gadis cantik itu. Perkataan orang yang dihadapannya sungguh membuatnya terperanjat kaget. Dia melangkah mundur seraya membekap mulutnya tak percya. Hingga kemudian,

Setetes Air Surga (Part 1)

Oleh:
Pagi hari sebelum berangkat, bayi berumur empat bulan itu memberinya kado muntahan susu di jas kerjanya. Pembantunya memberi kado sarapan roti yang gosong. Sopir taksi yang lamban mengadoinya absen

Ketika Ibu Menangis

Oleh:
Aku adalah anak terakhir dari 5 bersaudara, keempat kakak ku semuanya sudah menikah dan bekerja di luar kota. Kini rumah terasa begitu sepi semenjak kepergiaan Ayah 2 tahun silam.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *