Badai Pasti Berlalu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Pengalaman Pribadi
Lolos moderasi pada: 21 July 2021

“Akhirnya resmi..”
“Sarjana?”
“Pengangguran.”
Dafa memandang Rania datar.
“Setelah ini kamu akan mendapatkan pekerjaan. Berbahagia dulu lah dengan pencapaian yang baru saja kamu raih.”
“Bahkan di hari yang seharusnya membahagiakan, aku dapat melihat mendung. Badai akan segera datang.”
“Badai pasti berlalu, akan ada pelangi setelah itu.”
“Dan badai lain tinggal menunggu waktu.”
“Jangan cuma pikirkan badainya, dong!” Dafa kesal.
“Oke. Kalau begitu, tidak setiap badai usai pasti muncul pelangi.”
“Halah ya sudah terserah kamu.”

Realistis saja. Kenapa kita memikirkan badainya? Karena itulah ketakutan yang harus kita lawan. Kalau memikirkan badainya saja tak sanggup, bagaimana kita bisa sampai di titik “badai telah usai” ketika kita tidak pernah memiliki keberanian berperang melewatinya?

Kemudian juga tidak ada jaminan bahwa setelah badai akan selalu hadir pelangi yang indah nan berwarna-warni. Yang mana itu berarti tidak semua yang berjuang berakhir menang. Sialnya, ada (banyak) yang menemui kehancuran setelah badai. Dan itu hal yang normal, kan? Kemudian harus dengan susah payah memulai semuanya dari titik 0 lagi.

Menikmati sesuatu itu hal yang sangat mudah. Yang sulit adalah perjuangan mendapatkannya. Siapa bilang Rania tidak menikmati momen kululusannya? Hanya saja ia telah terpikirkan sesuatu yang lebih genting daripada perayaan wisuda. Dan itu menyangkut masa depannya. Lebih kedepan lagi daripada sekedar telah berhasil menyelesaikan sebuah studi.

Usianya 21 ketika dia lulus S1. Kemudian, mungkin ia akan menikah di usia 25. 4 tahun diantaranya, apa yang bisa ia dapatkan dengan waktu sesingkat itu? Cita-citanya terlalu banyak yang masih terbengkalai belum sempat tersentuh. Bayangan masa kecilnya terlintas lagi dalam kepala, “kalau sudah besar aku mau jadi direktur seperti papa!”. Ia tidak sadar waktu itu papanya berusia 40. Benar saja sekarang di usia yang baru 21, ia belum menjadi apa-apa. Tapi ia menyesal, seharusnya ia sudah.

Rania melihat Dafa, laki-laki yang telah dua tahun lebih dulu menapaki kehidupan nyata dibandingkan dirinya. Ia bertanya-tanya, jika diminta sekarang, apakah Dafa sudah sanggup untuk menikahinya? Apakah 2 tahun kerjanya cukup untuk menghidupi sebuah keluarga? Ah, tapi Dafa seorang laki-laki. Tanggung jawab material dipundaknya lebih besar dibandingkan seorang wanita. 2 tahun pasti belum apa-apa. Rania yang wanita saja merasa waktu 4 tahun tidak cukup untuk menyelesaikan seluruh rencana masa mudanya. Apakah semua orang mengorbankan masa mudanya untuk memulai sebuah keluarga?

Faktor usia juga menjadi pertimbangan penting dalam berumah tangga. Secara biologis, usia 25 memang sudah matang. Tapi kalau belum siap mental dan finansial, bisa berujung masalah besar. Tapi kalau menunggu punya rumah dan rekening di bank 100 juta, bisa sampai usia empat puluh dua. Tapi kalau menunggu benar-benar mapan, jarak anak dan orangtua bisa terlampau jauh. Nanti ketika anak beranjak dewasa dan membutuhkan banyak biaya, orangtua sudah renta. Sudah tidak prima untuk bekerja seperti waktu muda. Kasihan juga anak jadi korban. Banyak teman Rania yang ia tahu mengorbankan cita-cita mereka. Apalagi jika sudah menikah, peran wanita seratus persen berubah. Tapi bagaimana dengan rencana masa muda yang indah sekaligus menarik untuk dijalani? Apakah harus direlakan begitu saja ketika sudah terlihat jelas didepan mata? Tinggal melangkah saja, menjalaninya, sampai satu-persatu daftarnya mendapatkan tanda ceklis. Tapi jodoh kan tidak ada yang tahu. Bagaimana kalau datangnya di usia tiga puluh lima? Yang berarti, kita memiliki lebih banyak jatah untuk menikmati masa muda.
Ah, tapi.. tapi.. tapi.. kebanyakan tapi. Rania pusing memikirkannya.

Kalau aku menikah di usia 25, semua akan baik-baik saja bukan? Mungkin ada beberapa hal yang pasti gagal kulakukan dalam rencana kehidupan. Semua rencana, tidak harus terealisasi kan? Memulai sebuah keluarga adalah hal yang mulia. Jika pondasinya didasari rasa cinta, bagaimana kita bisa tidak senang menjalaninya? Aku masih punya waktu, aku harus memaksimalkan itu. Banyak orang berwasiat, “jangan buru-buru nikah, tidak enak”. Tapi banyak juga yang berkata, “jangan sampai tua dan kesepian sendirian”. Semuanya tampak membingungkan (jika kita menuruti kata orang). Kita sendiri yang tahu pasti bagaimana keadaan diri, jadi kita yang harus memutuskan. Orang lain bisa memberi wejangan, tapi kita yang akan menjalaninya.

“Rania, tidak apa. Semua orang melewati masanya. Seiring bergulirnya waktu, kamu pasti bisa menemukan jalan hidupmu”. Ia berusaha meyakinkan diri sendiri.

Rania bangun. Menuju meja belajarnya, kemudian menyalakan laptop. Ia mulai menyusun CVnya untuk dikirimkan ke beberapa perusahaan rekomendasi ayahnya, dimana disana terdapat orang dalam relasi ayahnya yang merupakan seorang direktur ternama. Realistis saja, jika mau cepat sukses maka ini jalurnya. Dia punya privilege yang berguna. Lagipula sekarang waktunya tidak banyak yang tersisa. Meskipun ayahnya kaya, ia ingin memiliki harta sendiri atas kerja kerasnya. Barulah nanti di kemudian hari anak-anaknya akan merasa bangga.

Mungkin yang orang pikirkan, enak saja menjadi dia. Jika tidak bekerja sekalipun tetap kaya. Jika mau bekerja tinggal bilang ayahnya. Tapi bagi Rania, itulah badainya. Setiap orang menghadapi badai yang berbeda. Dia tetap saja dilema lantaran banyaknya cita-cita tapi harus memperhitungkan usia untuk mulai berkeluarga. Rania bisa saja berusaha sendiri sekuat tenaga untuk membangun bisnis atau mencari pekerjaan sendiri tanpa membawa nama besar ayahnya, seperti keinginannya. Tapi, itu akan sangat lama. Menjadi dewasa ternyata lebih baik mengetahui bahwa kita memiliki kehidupan yang baik-baik. Lebih tenang jika kita menghindari hal yang terlalu menantang. Lebih oke jika kita menghindari sesuatu yang terlalu beresiko.

Imajinasi waktu kecil, ya hanya sebatas mimpi belaka. Itu hancur dengan segera ketika kau bangun tidur. Kau hanya akan mengingatnya di lima menit pertama, setelah itu buyar ketika sebuah suara menyuruhmu untuk bergegas mandi dan pergi ke sekolah. Ketika sudah kembali ke dunia nyata, “mimpi indahku, tadi apa ya?”

Cerpen Karangan: Wuri Wijaya Ningrum
Wuri W Ningrum – Benarkah mimpi sulit menjadi nyata? Semakin bertambahnya usia, lebih condong ke hal yang realistis saja. Cari aman istilahnya.

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 21 Juli 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Badai Pasti Berlalu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Di Penghujung Jalan Sana

Oleh:
Di penghujung jalan sana, tepat diujung simpang empat arah barat, setiap pagi dapat kulihat, seorang nenek menyokong nampan berisi kue-kue basah yang ia bawa ke Desa kami untuk dijajakan,

Mengantarmu

Oleh:
Siang itu, di koridor yang sama setiap minggunya. Aku terhanyut lagi dalam masa lalu. Memandang ubin yang selalu bersih ditemani aroma alkohol yang berseliwir. Tempat ini, cukup menyeretku ke

Ayah, Aku Rindu Sosok’mu

Oleh:
Pagi itu sang mentari mulai menampakkan mukanya ,dan di dalam balutan selimut yang hangat aku mendengar suara seorang laki-laki yang dengan lantang membangunkan ku,ya,,,dia ayahku,dia adalah sosok seorang laki-laki

Begitulah Rindu

Oleh:
Cinta sejak awal memberi tanda dan —sama-sama sadar. Sama-sama sadar ketika sejak awal cinta timbul dan kobarannya makin besar. Besarnya kobaran itu mulai membakar ketakutan—sama-sama sadar. Sama-sama sadar dan

Peluang dan Kehidupan

Oleh:
Aku mengayuh sepeda tua warisan dari ayahku melewati sejajaran gedung-gedung tua berbahan batu bata merah yang semakin lapuk termakan usia di pinggir jalan yang sama tuanya. Udara pagi membelai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Badai Pasti Berlalu”

  1. moderator says:

    Di cerpen yang ini masih overthinking juga… ^_^ Semangat wur!
    ~ Mod N

    • Wuri Wijaya Ningrum says:

      Kak Mod, sepertinya saking seringnya dilakukan, nyari masalah untuk dipikirkan sudah jadi hobi saya wkwkw

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *