Berguna

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 23 October 2013

“Aku tak mengerti mengapa aku tak dapat menjadi orang yang berguna”. Keluh Dian
Anin hanya tersenyum seraya menatap Dian, dari tadi ia hanya menanggapi semua keluhan dian dengan senyuman. Tak lebih. Hanya menjadi pendengar setia Dian untuk semua yang ia katakan. Bukankah sahabat yang baik terkadang harus mau mendengarkan? Namun bagi Anin ia bukan hanya mau mendengarkan Dian. Ia senang dengan apa yang ia lakukan. Bila nanti ada ruang untuknya bicara barulah ia bicara. Meski kadang apa yang dikatakannya jarang dihiraukan oleh Dian. Didengar pun jarang. Tapi apa pentingnya itu semua. Bagi Anin, berada di samping Dian pun cukuplah sudah.

Mengapa aku tak bisa menjadi orang yang berguna? Kata-kata Dian terngiang di telinga Anin. Anin pikir selama ini Dian lebih dari hanya sekedar berguna untuknya. Dian adalah pelengkap, Dian adalah tiang sandaran ketika ia bersedih. Tak habis pikir, kenapa kata-kata itu terlontar dari mulut Dian begitu saja. Dian tak menceritakan awal dari perkatannya itu. Namun tak semua perkataan ada awalnya, pikir Anin. Bisa juga disimpulkan dari beberapa masalah. Anin masih diam, masih menatap Dian yang berkata sepuasnya menumpahkan isi hatinya.
“Aku juga ingin jadi orang yang dihormati dan dihargai…” Tutur Dian mengakhiri semua keluhannya.
Hening sesaat. Anin tau Dian memberinya kesempatan untuk bicara. Tapi entah kenapa kali ini ia tak tahu harus bicara apa. Apa ia mengeluarkan isi hatinya? Atau menyampaikan gagasannya? Anin bingung, seakan ia tahu bahwa itu akan menambah beban Dian saja. Anin tidak bisa diam saja, maka ia berdiri. Butuh waktu beberapa saat sebelum ia berkata
“Andai setiap orang bisa mengerti perasaan orang lain yan” Ucap Anin. Matanya lurus menghadap sungai di depannya.
Dian kini memandang Anin yang memunggunginya. Tak begitu paham dengan kata-kata Anin. Maka ia dian, menunggu penjelasan.
“Jika setiap orang bisa memahami perasaan orang lain, tapi nyatanya itu tidak terjadi yan. Aku belum tahu alasannya. Yang kutahu harus ada yang memahami, maksudnya terkadang kita harus memahami orang lain dulu meski orang lain itu belum juga bisa memahami kita yan”
“Butuh berapa lama? Jika aku melakukannya mungkin aku tidak akan bertahan lama” Bantah Dian
“Memang lama sekali yan. Seolah waktu tiada berarti. Tapi kurasa, apakah orang lain dapat memahami kita tanpa kita memahami orang lain itu? Tidak yan.”
“Anin, selama ini aku mencoba memahami orang-orang itu. Mereka saja yang tak pernah melihatku.”
“Benakah yan?. Jika memang begitu halnya maka dirimu sudah berguna. Maka jangan bertanya lagi Mengapa aku tak bisa menjadi orang yang berguna.”
Anin mengatakannya dengan berat hati. Sesungguhnya ia ingin membantah bahwa selama ini Dian begitu egois dan tak pernah memahami orang lain. Tapi kenapa ia selalu bilang bahwa ia telah memahami semua orang dan tak ada yang memahaminya. Lalu apa arti dirinya bagi Dian? Dian juga tak pernah memahaminya, ia pikir.
Dian terdiam, mencerna perkataan sahabatnya. Ia sudah berguna. Selama ini ia sudah menjadi orang yang berguna. Dian menanamkan kata-kata itu pada hatinya. Mengenangnya.
“Seseorang tidak akan bisa bekerja sama jika mereka tak saling memahami bukan? Itu bertentangan denganmu. Nyatanya kau menjadi ketua OSIS yang baik.” Tambah Anin
Dian masih bisu. Bodohnya aku, pikirnya. Ternyata selama ini dirinyalah yang tak pernah membuka mata, tak pernah menerima apa yang diberkan untuknya. Padahal Tuhan memberi banyak hal. Seakan tiada artinya. Bodoh! Aku benar-benar bodoh, kutuknya.
Anin berbalik dan tersenyum meski Dian tak memandangnya dan malah menundukkan kepala seolah tengah mengutuki dirinya. Apa yang kukatakan tadi? Pikir Anin. Tiba-tiba ia jadi khawatir akan melukai perasaan Dian. Anin memang jarang berfikir panjang akan perkataannya dan ia tahu itu. Kini, memandang Dian terpuruk menjadi hantaman di dadanya. Dengan tatapan khawatir bahkan sangat khawatir dia menunduk menanyakan apakah sahabatnya itu baik-baik saja. Dian orang yang sensitif, sedikit saja perkataan yang tak berkenan di hatinya mampu membebani fikirannya.
Yang ditanya mengangkat kepala, tersenyum. Sebersit perasaan lega berhembus di dada Anin walau tak mampu hapuskan kekhawatirannya. Dian berdiri. Tampak bahwa ia lebih tinggi dari Anin. Itu wajar, karena ia laki-laki sedang Anin perempuan. Sekali lagi Dian tersenyum. Senyum yang sulit ditafsirkan. Senyum penahan sakit, senyum kepuasan, atau senyum dengan arti lain Anin tak tahu.
“Sudah sore, pulang yuk…” ajak Dian
Anin tersenyum. Ia tak tahu apakan Dian hanya bersandiwara atau tidak. Masalah yang dikeluhkannya tiba-tiba seperti debu ditiup angin, terbang begitu saja. Anin tak merisaukannya. Ia mengikuti Dian tepat di belakangnya. Berjalan mengambil sepeda masing-masing dan bersepeda bersama menuju rumah mereka. Sedang Dian seperti biasa tak terlalu memperdulikan Anin. Tapi kata-katanya tadi memberinya semangat. Menghilangkan risau di hatinya. Sungguh beruntung dia memiliki sahabat seperti Anin. Sepertinya, mulai saat ini Dian harus mencoba memperhatikan apa yang Tuhan berikan padanya. Dalam hati ia ingin selalu tersenyum seperti Anin.

Itulah kenangan terakhir Dian akan Anin. Sebelum dia pergi dan belum berjumpa dengannya lagi hingga detik ini. Anin kini tak lagi menginjak daratan yang sama dengan Dian. Mereka berdua terpisah oleh luasnya laut Jawa. Seberapa luaskah? Tiap kali Dian memandang peta matanya tertuju pada Pulau Jawa dan Pulau Kalimantan. Begitu kecil seolah bisa disambungkan. Tapi mengapa ketika ia pergi berkunjung ke pantai bersama keluarganya dan memandangi lautan seolah itu tak bertepi. Seolah Anin Hilang ditelan bumi. Hatinya kembali merasa kehilangan. Tak berhenti berharap. Dian tak pernah berhenti berharap untuk bisa bertemu dengan Anin lagi. Meski kemungkinan itu kecil.
“Tunggu saja Anin! Kelak ketika aku sudah dewasa akan kutemukan dirimu. Dunia ini sempit Anin. Kita pasti bertemu lagi!” Janjinya
Dan janji itu sudah puluhan kali Dian ucapkan. Dian tak tahu apa Anin bisa mendengarnya atau tidak. Anin memiliki hati dan perasaan yang lebih tajam darinya dan ia harap di sana. Di suatu tepat di ujung laut yang kini tengah dilihatnya itu, Anin mendengar semua janjinya.

Cerpen Karangan: Kartika Purwaningtyas
Facebook: Tica’s Mind

Cerpen Berguna merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menikam Hati (Part 4)

Oleh:
Setelah Sholat duhur kami pulang. Di rumah ada Ibu. “Na baru pulang nak.” Katanya. “Iya bu”. Aku langsung masuk kamar dan menjatuhkan tubuhku di ranjang. Tepat kulihat pukul 14:35

Maafkan Aku Rakyatku

Oleh:
“Pah, bangun! Sudah pagi pah” ujar Dewi yang membangunkan Aryo untuk bekerja di kantor DPR. Setelah ia merasa terganggu akan tidurnya, Aryo menjawab dengan marah “Mah, lagi enak-enak begini

Posesif (Part 1)

Oleh:
Saat perasaan yang disebut cinta itu datang dan mengisi hari-harimu, perlahan ia akan mengubah dirimu menjadi seseorang yang tak kau kenali lagi, bahkan oleh dirimu sendiri. Memilih antara orang

Ilusi

Oleh:
Hujan kembali turun Terdengar rintikan-rintikan hujan membasahi bumi sore ini. Bau anyir tanah tercium seiring angin berhembus sepoi-sepoi menerpa tempat tersebut. Aku terduduk diam tak bergeming di kursi dengan

Takdir Sukri

Oleh:
Hilir mudik, mondar-mandir, semua bergerak berusaha mengejar roda putaran waktu yang bergulir dengan sangat cepat, pepatah bahwa waktu adalah uang, waktu adalah seperti pisau yang memiliki 2 mata yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *