Berkat Kue Si Mbah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 4 April 2016

Suara adzan sudah terdengar sayup-sayup menandakan sudah memasuki waktu salat subuh, meskipun jam masih menunjukkan pukul 05.00 namun mbah Sarinah sudah bangun dan membuat kue yang akan dijual oleh Adit pada pagi harinya. Adit adalah cucu mbah Sarinah yang telah dirawatnya dari kecil, karena ibu Adit sudah meninggal saat dia baru berusia tiga tahun dan ayahnya tidak tahu di mana keberadaannya sudah lama tidak memberikan kabar. Adit selalu membantu mbah Sarinah berjualan kue sebelum dia berangkat sekolah, terkadang dia juga membawanya ke sekolah untuk dijual kepada teman-teman dan gurunya. Selain itu banyak juga warga yang memesan kue kepada mbah Sarinah saat mereka ingin mengadakan acara, misalnya saja seperti bu Ijah yang tiba-tiba memanggil Adit.

“Adit, Adit ke sini dulu Nak, Ibu mau beli,”
“Iya Bu tunggu sebentar ya,” Jawab Adit.
“Gini Dit, bilang sama si Mbah Ibu pesan kue apem, risoles, dan bakwan ya,” Kata bu Ijah sambil memilih kue.
“Allhamdulilah, iya Bu nanti saya sampaikan kepada si Mbah. Berapa banyak Bu pesan kuenya?” Tanya Adit untuk memastikan jumlah kue yang dipesan.
“Tidak usah banyak-banyak Dit, masing-masing 30 biji saja,” Tutur bu Ijah.

Waktu menunjukkan pukul 07.15, itu tandanya Adit harus segera pulang menghantarkan nampan yang berisi sisa kue yang dijualnya dan harus segera pergi ke sekolah. Setibanya di sekolah Adit dipanggil oleh bu Fatma selaku wali kelasnya agar segera ke kantor, setelah berada di kantor Adit diberi tahu bahwa dia belum membayar uang spp selama empat bulan dan jika itu tidak segera dibayar Adit bisa dikeluarkan dari sekolahnya. Adit pun hanya bisa mengiyakan perkataan wali kelasnya itu. Saat sampai di rumah Adit langsung memberitahu si mbah mengenai tegurannya dari sekolah, namun si mbah hanya tersenyum sambil berkata.

“Adit tidak usah memikirkan itu ya, biar si Mbah yang berpikir gimana caranya biar kamu bisa bayar uang spp itu,”
“Iya Mbah, Adit mau ganti baju dulu. Mbah Bu Ijah tadi memesan kue mbah masing-masing 30 biji dan yang dipesan kue apem, risoles, dan bakwan hari selasa diambil,” Adit memberitahu si mbah soal pesanan bu Ijah.
“Alhamdulilah, iya Dit nanti Mbah buatkan,” Kata si mbah sambil tersenyum bahagia karena ada yang pesan kuenya.

Namun uang yang dikumpulkan si mbah belum mencukupi untuk membayar uang spp Adit. Belum lagi uang hasil dari jualan kue itu harus digunakan untuk membiayai hidup mereka berdua, jadi dengan terpaksa si mbah menjual televisi satu-satunya benda berharga yang dimiliki si mbah. Adit tidak tega melihat si mbah sehingga Adit bekerja lebih giat lagi, sepulang sekolah ia melanjutkan berjualan kue keliling kampung atau kompleks-kompleks dekat rumahnya. Tiga hari berlalu Adit belum juga membayar spp-nya sehingga lagi-lagi Adit dipanggil ke ruang guru, dan Adit ditanya mengenai uang sppnya. Adit pun bertanya kepada bu Fatma apakah boleh diangsur bayarnya, dan ternyata boleh karena pihak sekolah memahami bagaimana kondisi ekonomi nenek Adit.

Adit tidak hanya berdiam diri, ia membantu si mbah dengan mencari botol-botol plastik dan besi-besi tua untuk dijual kepada pengepul dan hasilnya bisa dipake untuk membayar uang spp-nya dan bisa dia tabung. Saat Adit dalam perjalanan ingin berjualan ke kompleks yang ada di dekat rumahnya, tiba-tiba saja ia terserempet mobil yang ingin memasuki kompleks itu juga, sehingga kue yang dibawanya pun jatuh berantakan semua. Adit tidak bisa berbuat apa-apa dia hanya bisa melihat dan menangisi kue-kuenya dan berpikir gimana nanti kalau sampai di rumah apa yang akan dia katakan kepada si mbah. Tiba-tiba dengan rasa takut sang pemilik mobil ke luar dan menghampiri Adit yang sedang memunguti kue-kuenya yang tercecer di jalan dan menanyakan keadaan Adit.

“Adik tidak apa-apa kan? Maafkan Ibu ya, Ibu tadi terburu-buru sehingga tidak sengaja menyerempet Adik?” Tanya sang pemilik mobil.
“Saya tidak apa-apa Bu hanya lecet sedikit saja, iya Bu tidak apa-apa saya juga salah jalannya kurang ke pinggir,”
“Tapi banyak Dik darahnya, jadi Adik sekarang ikut Ibu ke dokter ya, untuk memastikan Adik benar-bennar gak apa-apa,”
“Tidak usah Bu, Adit harus pulang untuk memberitahu si Mbah agar membuat kue yang baru, Adit beneran gak apa-apa kok Bu nanti kalau sudah dikasih obat antiseptik juga sembuh, saya pamit dulu ya Bu,” kata Adit sambil pergi meninggalkan si pemilik mobil itu.

“Tunggu Dik,” Kata pemilik mobil. Sambil berbalik. “Iya Bu ada apa? Adit beneran enggak apa-apa kok,”
“Biar Ibu yang antar kamu pulang dan kali ini Ibu memaksa. Biar nanti Ibu yang jelaskan sama Nenek kamu tentang kue itu ya,”
“Ya sudah Bu kalau begitu Adit nurut saja sama Ibu,”
“Ayo naik Dik,” Sesampainya di rumah si mbah kaget melihat kaki cucunya berdarah dan segera mengambil kain dan handuk, lalu si mbah bertanya apa yang terjadi? Bagaimana kok bisa terjadi? Di mana dia terjatuh?

“Loh le, kakimu kenapa kok berdarah-darah begini? Kamu pasti menyeberang tidak hati-hati? Dan siapa Ibu ini?” Tanya si mbah ingin tahu kondisi cucunya. “Saya Ratna Mbah, dan tadi bukan salah Adit saya yang salah Mbah karena terlalu buru-buru jadi tidak hati-hati,” bu Ratna menjelaskan kepada mbah Sarinah apa yang sebenarnya terjadi. “Terima kasih Bu, Ibu sudah mau mangantarkan cucu saya pulang, sekali lagi maafkan cucu saya ya Bu,”
“Adit tidak salah kok Mbah, justru saya yang minta maaf. Gara-gara saya kue dagangan Adit kotor semua,”

Bu Ratna merasa bersalah dengan si mbah dan Adit, karena dirinya dagangan Adit jadi kotor dan tidak bisa dijual sehingga mereka tidak mendapatkan uang untuk keperluan sekolah dan sehari-hari. Jadi bu Ratna memberikan uang kepada si mbah sebagai ganti rugi kue itu dan bu Ratna juga memesan kue yang cukup banyak kepada mbah Sarinah. Mbah Sarinah pun merasa senang karena mendapatkan rezeki, sehingga si mbah bisa membayar uang spp Adit, dengan senang hati si mbah pun mengiyakan pesanan bu Ratna. Keesokan harinya Adit pergi ke sekolah dengan hati yang senang karena dia membawa uang spp-nya jadi dia tidak perlu khawatir akan dikeluarkan dari sekolah. Adit juga menjadi lebih bersemangat lagi belajarnya, dan setiap pagi dan sepulang sekolah Adit selalu berjualan kue buatan si mbah dan mencari botol, besi atau barang lainnya yang bisa dijual, Adit melakukan itu semua sampai dia lulus SMA.

Ketika dia akan memasuki perguruan tinggi si mbah sakit keras jadi terpaksa dia harus bekerja dan mencari uang untuk biaya berobat si mbah, sehingga Adit tidak terpikir lagi untuk melanjutkan sekolahnya. Namun setelah sakit lebih dari lima bulan si mbah meninggal dunia, Adit sangat terpukul karena ditinggal oleh si mbah. Setelah si mbah meninggal Adit bekerja serabutan yang penting cukup untuk makan, namun Adit tidak sengaja bertemu dengan bu Ratna, dan mereka ngobrol-ngobrol karena lama tidak bertemu.

Begitu bu Ratna tahu jika si mbah sudah meninggal beliau merasa kasihan dengan Adit sehingga dia diberi tawaran untuk bekerja di butik miliknya, dia berpikir sejenak daripada kerja serabutan lebih baik dia menjadi karyawan bu Ratna kerjanya tetap jadi dia mengiyakan tawaran itu. Setelah enam bulan bekerja sisa uang yang digunakan untuk biaya si mbah masih ada ditambah lagi uang hasil kerja Adit sendiri sehingga cukup untuk mendaftar kuliah, bu Ratna pun tidak keberatan jika Adit bekerja sambil kuliah dan beliau juga mau membantu jika dia kekurangan biaya. Adit pun akhirnya bisa memenuhi impiannya untuk bisa kuliah dengan uang hasilnya sendiri dan karena kue si mbah juga yang bisa membuat Adit tetap bersekolah.

“Terima kasih. Mbah.” ujarnya dalam hati.

Cerpen Karangan: Sri Safa’atun
Facebook: Sri Safa’atun
Nama saya Sri Safa’atun saya biasa dipanggil Safa sekarang saya mahasiswi Sistem Informasi semester 4 di salah satu Sekolah Tinggi Komputer di Jambi. Ini pertama kali saya membuat cerpen dan mempublikasikan semoga saja bisa lolos moderasi.

Cerpen Berkat Kue Si Mbah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Terima Kasih 10 Tahun Lalu

Oleh:
Langit mulai berubah warna, matahari perlahan mulai tenggelam dalam peluk awan. Sekiranya ia datang jauh lebih cepat layaknya ia saat pertama kali mendapat tugas dari perusahaan tempat ia sekarang

Sahabat di Kesunyian

Oleh:
Awan begitu tipis hari ini hingga Matahari terasa sangat menyengat aku pun berteduh di bawah sebuah pohon yang rindang yang akarnya sangat kokoh. Aku teringat tentang sebuah peristiwa besar

100 Meter

Oleh:
10 Km Matahari pagi itu begitu terik, membakar kulit yang notabenenya belum di mandikan. Pagi itu suasana lumayan ramai di depan rumah Ummi, begitu kami menyebut ibu angkat kami

Tentang Ali

Oleh:
Ali hanyalah seorang pemuda desa. Ya itulah Ali, ia terlahir dari keluarga biasa aja. Di desanya, orangtua Ali bisa dibilang tidak kaya atau pun tidak miskin dan wajarlah disebut

Pernah Berteman

Oleh:
“Arisa? Arisa Clara Putri! Hadir tidak?” tanya dosen itu dengan nada meninggi. Dia mengintip dari balik kacamatanya yang menurun di cuping hidung. Menatap kami sekelas dengan pandangan tajam. “Oh!

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *