Cahaya Pasti Akan Datang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 16 May 2020

Hitam pekatnya kopi mengalir diiringi hisapan rok*k di ujung bibir, angin semilir menerpa badanku yang sedang duduk santai menikmati gelapnya malam dengan gemerlapnya bintang. Waktu menunjukkan pukul 01.09, aku masih tak bisa pejamkan kelopak mataku yang senang melihat hitam terhiasi pernak-pernik bintang di langit. Aku berpikir, dengan apa Tuhan menciptakan langit dan bumi? Tapi rasanya percuma aku memikirkan itu.

Malam sudah mulai menuju pagi, kantuk pun menyapa perlahan. Namun aku takkan membiarkan kantuk mengalahkanku dan mengganggu bahwa aku sedang memandangi salah satu bintang terang besar lebih elok daripada bulan. Aku bertengger di sebuah tembok berlumut depan rumahku yang kumuh tak terawat. Ya, aku anak orang tak mampu. Namun bintang itu membuatku selalu berdiri dan melompat menggapainya, meskipun itu hanya mimpi.

“Mengapa selarut ini kau belum tidur, sahabatku?” Suara kecil berbisik entah datangnya darimana.
“Aku menunggu pagi dan mentari untuk menerangi kegelapan hati yang aku rasakan, wahai sahabat.” Aku menjawab.
“Tahukah kau bahwa pagi akan datang tanpa kau tunggu sekalipun?” Suara itu kembali bertanya.
“Itu hanya kebiasaan orang-orang yang mau merasakan cahaya tanpa mengetahui bagaimana rasa pedih berada dalam kegelapan dalam kesendirian.” jawabku lagi. Suara itu mulai menghilang dan tak kembali. Aku pun tertidur pukul enam pagi setelah gema adzan subuh memanggilku menemui Tuhan sang Penguasa siang dan malam.

Pagi ini aku merasa segar meskipun tidurku tak sampai empat jam. Itu menjadi kebiasaan yang mungkin membawaku menjadi seorang kelelawar berwujud manusia. Setelah aku membasuh diri, aku memutuskan untuk pergi ke sebuah perpustakaan di kampusku. Tiada hari tanpa membaca, karena itu merupakan salah satu cara menggapai mimpi yang dicita-citakan kedua orangtuaku.

Selagi asyik membaca, seorang perempuan yang sebenarnya aku suka menyapaku, April namanya.

“Wahyu, apakah kau tak pernah bosan dengan buku-buku yang kau makan itu?”
“Tidak, aku tidak akan bosan mengejar mimpi kedua orangtuaku yang dititipkan padaku. Ini merupakan langkah awal bagiku untuk membahagiakan mereka.” Jawabku.
“Aku kasihan padamu.” Lesuh ia menanggapi ucapanku.
“Mengapa? April, ya aku memang seorang anak yang tidak berdaya secara ekonomi, namun kekuatan doa orangtuaku dan dorongan untuk membahagiakanmu kelak telah menjadi semangat yang tertanam dalam hatiku.”
“Apa yang kau katakan, Wahyu? Tidak bisakah kau sedikit menjelaskan maksud dari semua itu?” Tanya ia penasaran.
“Maafkan aku, april. Aku tidak bermaksud apa pun. Itu omong kosong yang tak jelas keluar dari mulutku.” Jawabku lalu pergi.

Di kampus aku memang selalu berteman dengan udara, angin bahkan terik matahari. Jarang seseorang menyapaku untuk sekedar bercanda denganku. Padahal aku pun ingin tertawa bersama mereka. Mungkin mereka hanya menganggap aku sampah yang tersesat di tumpukan emas. Tapi aku tak mengapa. Aku memilih diam dengan kesendirian karena menakutkan bagiku ketika kucing berada di tengah kerumunan singa.

Malam kembali tiba. Aku pun kembali ke kebiasaan lama untuk berbincang-bincang dengan malam dan bayangan kegelapan dalam diriku.

“Hai sahabatku, banyak teman-temanmu menganggapmu berbeda. Mereka mengasihanimu dengan penuh rasa jijik akan kemiskinan dan penderitaan yang kamu rasakan.” Aku kembali berbicara dengan pikiranku sendiri.
“Lalu aku harus bagaimana?” Aku menjawab.
“Kau bukan siapa-siapa bagi mereka, Wahyu. Kau ini hanyalah asap bagi mereka. Dimana keadaanmu tidak diharapkan, tidak dibutuhkan dan tidak dihiraukan.” Jawab lagi suara dalam otakku itu.
“Ya kau benar, sahabat. Hanya kau yang tahu siapa aku dan harus berjalan dimana diriku.” jawabku.
“Ya, aku benar. Bahkan temanmu yang bernama April pun tak pernah peduli saat kau sendiri seperti saat ini. Maka, menyerahlah, wahyu. Kau tidak akan mampu hidup dalam kesendirian ini untuk menggapai mimpimu.” Pikiranku lagi.
“Mungkin memang seharusnya aku tidak di sana untuk menghabiskan uang orangtuaku dan menghibahkannya untuk harapan kosong yang takkan mampu aku menggapainya.” Akhir dari pergulatan pikiranku sendiri yang membuat aku putus asa dan memutuskan untuk berhenti kuliah.

Dua minggu aku tidak pernah datang ke kampus. tiba-tiba di hari sabtu April datang ke rumahku.

“tok.. tok.. tok.. Assalamualaikum.” Terdengar suara yang aku kenal itu adalah Aprilya Dwi Andini.
“Treeekk..” Bunyi pintu rumahku.
“Wahyu, mengapa selama dua minggu ini kau enggan pergi kuliah?” Tanya ia tiba-tiba.
“Kau tak perlu tau, April. Kau takkan mengerti keadaanku yang tanpa orangtua.” Jawabku sedih.
“Aku mengerti, Wahyu. Aku mengenalmu lebih dari yang kau ketahui tentang dirimu.” Tanggapnya dengan nada lembut.
“Tidak. Kau tak pernah mengenalku, bahkan tak seorangpun di sana mau berbincang denganku. Mungkinkah nasib seorang yang tidak berdaya selalu akan kehilangan mimpinya? Aku bukan orang yang kuat, April. Bahkan untuk makan pun aku harus menjual rasa malu dengan bernyanyi di trotoar penuh debu. Kau tidak mengerti.” Aku menjelaskan.
“Tidak, percayalah bahwa aku mengenalmu. Kau adalah seorang laki-laki hebat yang akan menjadi pemimpin kelak di masa depan… Aku percaya itu.”
“Hanya kau yang percaya, bagaimana dengan diriku sendiri? Apakah aku harus mengkhianati kepercayaanku bahwa diri ini bukanlah siapa-siapa? Aku hanya anak yatim piatu yang menjadi pengamen tanpa rasa malu. Pergilah, Aku tak butuh rasa kasihanmu.” Usirku.
“Wahyu, aku mengerti apa yang kau katakan pada saat itu. Aku mengerti apa yang kau rasakan. Aku bukan orang tolol yang bisa dibodohi kediamanmu dan keapatisanmu. Ketahuilah, aku pun merasakan apa yang kau rasakan. Ketika kau dalam kesendirian, aku merasakan hal yang sama…” Panjang lebar April menceritakan kesehariannya dalam memperhatikanku.

Pagi itu di perempatan jalan ia melihatku duduk lesu tak bertenaga. Ia menghentikan motor yang ia tunggangi. Tetesan air mata tak terasa mengalir di pipinya. Ia ingin menghampiriku, namun malu karena ia seorang perempuan menghentikan niatnya. Ia kembali melanjutkan perjalanannya ke kampus yang penuh penderitaan bagiku. Setelah ia banyak menghilangkan rasa pedihnya yang ia paksa untuk sama denganku melalui candaan bersama ksahabat-sahabatnya, ia pulang dan kembali ia mengingatku.

“Wahyu, mengapa kau tak pernah mengerti bahwa aku peduli tentangmu, tentang hidupmu, dan menginginkanmu menjadi seorang Imam yang baik kelak untuk anak-anakku. Aku mengerti apa yang kau katakan saat itu. Namun sesal sudah terlanjur karena kebodohanku yang berpura-pura aku tak mengerti.

Wahyu, Aku mengerti penderitaan yang kau rasakan tanpa kedua orangtuamu, aku pun menangis saat melihat kau menyendiri dengan wajah tertekuk tertutup buku bacaanmu. Aku memang tidak merasakan ditinggal orangtua dan hidup serba kekurangan sepertimu, namun kau harus tahu bahwa apa yang aku rasakan karena aku jatuh cinta padamu saat aku mulai mengenalmu setelah kita mulai sering berbicara.
…..”

Begitulah kegiatannya setelah ia juga menyendiri di kamarnya ketika ia pulang. Diary itu menjadi satu-satunya teman saat ia juga memikirkanku.

Setelah ia selesai menceritakan apa yang ia rasakan, aku hanya diam dengan muka datar seakan tak peduli dengan dirinya yang mulai hanyut dalam tangisan.

“Pulanglah, Temui aku di rumahmu.” Aku memintanya pulang untuk nanti aku datang dan memperkenalkanku lebih jauh lagi kepada keluarganya.

April pun pulang dengan wajah yang masih penuh kesedihan.

“Kelak aku ingin kau menjadi ibu yang merawat anakku setulus hati.” Lanjutku saat ia hendak menutup pintu.
“Benarkah?” Tiba-tiba senyumannya mulai mengembang. Aku mengangguk dan mengucapkan terima kasih kepadanya. Lalu ia pulang dengan wajah yang sangat cantik bagiku walau pun ia baru saja menangis.

Bersambung

Cerpen Karangan: Dimas Wahyu Abdillah
Blog / Facebook: Dimas
Manusia biasa.

Cerpen Cahaya Pasti Akan Datang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Why Do We Break Up?

Oleh:
Hari begitu gelap. Sang surya telah kembali ke peraduannya. Tak ada satu pun sinar bintang terpancar dari langit malam. Hanya terdengar suara petir yang menyambar, disusul suara guntur yang

Jodoh Pasti Bertemu

Oleh:
Perkenalkan namaku Dinda Septiani. Panggil saja aku Dinda. Usia ku 25 tahun. Hem… tua juga sudah ya. Ya bisa dibilang usia 25 tahun itu sudah dibilang matang. ya lumayan

Her Name is Naomi

Oleh:
Game, tidak ada yang menyenangkan selain bermain game. Apapun bakal gue lakuin buat memicu semangat gue dalam bermain game. Karena gue seorang gamers sejati. Kini gue duduk di antara

Semua Akan Indah Pada Waktunya

Oleh:
Hari ini merupakan hari yang sangat membahagiakan bagiku. Setelah aku selesai wisuda di kampusku sebagai lulusan terbaik, semua keluargaku berkumpul untuk merayakannya. Sudah lama sekali aku tidak merasakan indahnya

Dihantui Oleh Sahabatku

Oleh:
Aku membuka BBM (Blackberry Messenger) dan langsung membuka kontak Sally, teman perempuanku yang kusukai diam-diam. Aku ingin menyatakan cintaku kepadanya dan aku meminta dia menjadi pacarku. Soalnya, sudah lama

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Cahaya Pasti Akan Datang”

  1. dinbel says:

    di tunggu kelanjutan nya ya, kakakkk

Leave a Reply to dinbel Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *