Dialog Singkat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 27 September 2017

Tiba-tiba saja tubuh Alan lemas tidak berdaya, kemudian ia putuskan untuk berbaring sejenak tanpa menghiraukan waktu yang semakin petang. Kembali lagi ia ambil ponsel dari saku celananya, dan ia tekan tombol power pada samping kanan ponsel. Terlihat beberapa pesan yang muncul pada layar. Kembali ia buka satu persatu dialog yang semakin membuatnya lemas tidak berdaya. “Maaf Alan, aku nggak bisa datang”. Begitulah isi dari semua dialog yang ia buka.

Ia mulai berjalan pada koridor dengan sedikit kebingungan, tidak ada yang menemaninya berjalan, semua orang hanya lalu-lalang tanpa ada yang menghiraukannya. Ia sempat berpikir untuk kembali saja dari mall itu, akan tetapi nasib dari perlombaannya dipertaruhkan di sana.
Sebelumnya ia mengikuti kontes foto dari salah satu koran ternama di kota itu yang bekerja sama dengan beberapa pihak termasuk mall itu sendiri. Dan ia lolos sebagai finalis dari ribuan peserta.

Beberapa eskalator dan lantai ia lalui, hingga akhirnya ia sampai pada lantai kedua, lebih tepatnya pada tempat pameran sekaligus tempat penjurian. “Sendirian mas?” tanya seorang panitia yang juga Alan kenal. “Sama temen mas, temennya nyusul nanti” jawabnya.

Lalu Alan berkeliling untuk melihat-lihat foto dari finalis lain, dan yang membuatnya terkejut ialah salah satu foto dengan like terbanyak. Padahal hari sebelumnya ia unggul dari finalis lainnya, akan tetapi takdir berkata lain. “Tak apa, masih ada pilihan juri” gumamnya.

Waktu semakin siang, dan kedua sosok yang ia harapkan tidak kunjung datang. Ia putuskan kembali berjalan di sekitar lokasi pameran, matanya memandangi sekerumunan orang yang lewat. Berharap teman dan kekasihnya datang hanya sekedar menemaninya berdialog, namun tidak ia dapati dua sosok yang ia harapkan itu.

Ia merogoh saku celananya dan mengambil ponsel dari sana. Kemudian ia menekan tombol power, dan ia dapati beberapa pesan yang muncul pada layar. Terdapat dua dialog, pertama dari temannya, dan yang kedua dari kekasihnya.
Ia putuskan untuk membuka dialog yang pertama. “Maaf Alan, aku ngga bisa datang, baru bangun tidur eg” deg. Seketika jantungnya berdetak kencang, ia tidak habis fikir bagaimana bisa temannya itu tertidur atas janji yang dibuat temannya sendiri? Bagaimana bisa temannya tertidur di saat terpenting Alan? Sejenak ia menghela nafas panjang. “Mungkin dia tidak ingin datang” gumamnya kembali.

Ia belum kehilangan harapannya, masih ada kekasihnya yang belum datang. Ia membuka dialog kedua. “Sayang, maaf aku ngga bisa datang. Aku harus jaga rumah” tanpa membalasnya ia kembali meletakkan ponselnya di saku celana. Dan ia kembali pada tempat pameran.

Sesampainya di sana, Alan melihat kerumunan anak sebayanya tengah brdialog. Mereka adalah teman-teman dari salah satu finalis, ada dari meraka yang Alan kenal, akan tetapi ia memutuskan untuk tidak menyapa. Takut mengganggu dialog yang telah tercipta. Terlintas di fikiran Alan perihal dialog-dialog kecil yang mungkin saja akan tercipta jika teman-teman dan kekasihnya datang, namun semua itu hanya membuat dadanya semakin sesak.

“Alan…” sapa dari salah satu anak.
“Iya mas” responnya kaget.
“Ngapain kamu di sini?” tanyanya.
“Aku salah satu finalis kontes foto ini mas” jelas Alan.
“Mana fotomu?” ia bertanya kembali.
“Ini mas” tunjuk Alan pada salah satu foto.

Ada dialog singkat antara mereka berdua, iya singkat. Hingga akhirnya bapak Walikota tiba untuk memberikan sambutan pertama. Kemudian anak tadi, ia sontak pergi sembari berkata “semoga menang ya”. Belum sempat Alan berterima kasih, anak itu telah menghilang di balik kerumunan anak-anak lain. Tinggllah Alan seorang diri lagi, bersama harapan-harapan yang sangat kecil akan terwujud.

“Tibalah saatnya pengumuman juara” pembawa acara itu membuat Alan menedekat pada sumber suara. Hingga pengumuman juara ketiga pun tidak ada nama Alan. Tanpa fikir panjang, Alan mencari-cari sosok panitia yang tadi berdialog dengannya. Hanya sekedar berpamitan. “Mas, aku mau pamit pulang” pamit Alan. “Sebentar, sudah dapat sertifkat?” tanyanya. “Belum mas” jawab Alan. Panitia itu mencari-cari sertifikat bertulis nama Alan, tidak berselang lama ia menyodorkan selembar sertifikat kepada Alan. “Terima kasih” ucap Alan sambil menjabat tangan panitia itu.

Kembali Alan berpijak pada eskalator mall, namun kali ini ia turun. Kembali pula Alan berjalan pada koridor mall hingga sampai ke parkiran. Alan memakai helmnya, memasukkan kunci dan mulai menghidupkan motornya. Perlahan namun pasti, Alan memutar gas. Tidak ada yang berbeda dari keadaan awal, Alan tetap sendiri di tengah dialog singkat orang-orang. Yang berbeda hanyalah rasa sesak dalam dadanya, sangat sesak.

Alan menutup matanya sejenak, sekedar menghilangkan sesak di dadanya. Tanpa ia sadari, ada sesuatu yang keluar dari celah-celah matanya. Tidak banyak, namun mampu membuat matanya sembab. “Allah, hanya engkau yang dapat mengerti hamba, kesendirian hamba, penderitaan hamba, sesak dalam hati hamba, Engkaulah yang mengerti. Maka, kuatkanlah hamba” terciptalah dialog singkat dengan Tuhan.

Cerpen Karangan: Hendrik Sutikno
Facebook: Hendrik Sutikno
Blog: hendriksutikno.blogspot.com

Cerpen Dialog Singkat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mystery Of Love (Part 1)

Oleh:
Apakah cinta itu harus seperti alam ghaib yang kita tahu itu ada namun sangat misterius, kenapa sangat misterius karena cinta datang tiba-tiba kemudian pergi tanpa sebab, dia hadir tanpa

Wanita Berkerudung Nasionalis (Part 2)

Oleh:
Angin malam membelah keheningan di bawah siraman cahaya rembulan, semilir menikmati keanggunan yang tersuguhkan, benda-benda yang diam membisu seakan tersihir oleh keagungan Tuhan yang menciptakan purnama mengambang, seakan berisyarat

Panggil Aku Pahlawan Penghianat

Oleh:
Ribuan, bahkan jutaan manusia memenuhi Taman Pemakaman Umum (TPU) di Desa Sukamenang. Sebuah Desa yang berada di ujung Negeri Indonesia. Puluhan orang yang menggotong keranda kematian, saling silang untuk

1966

Oleh:
IBU: Ibu masih bayi saat itu, paling cuma bisa menangis. Kata kakekmu, saat itu, ibu dibawa oleh kakek dan nenekmu mengungsi ke kebun kami yang ada di timur desa.

Perjalanann Hidup Anak Rantau

Oleh:
“pengalaman membuat kita mengerti tentang banyak hal. Mengerti akan arti hidup yang sesungguhnya dan berada jauh dari orangtua, merubah kita menjadi dewasa. Dewasa dalam berpikir, dewasa dalam bertingkah dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *