Doa dan Usaha

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 24 April 2017

Setetes rintik air yang jatuh di atas kelopak mawar merona, mengawali seribu tetes air hujan yang akan hadir menemaniku di keheningan ini. Merasakan kesenduan hati, dengan dinginnya cucuran manik mata yang mulai membasahi pipi. Rupanya sanubari ini mulai luntur dengan kesengsaraan hidup yang kualami ini. Dengan keasingan yang mewabahi tubuh renta ini, hidup dalam kesendirian. Ya Allah… kasihanilah aku, yang hidup seorang diri, tanpa Ayah, Ibu, saudara, teman. Ingin rasanya kubagi penderitaanku ini, namun apa daya aku, untuk mendapatkan teman saja aku harus menderita. Aku ingin hidup seperti layaknya manusia lainnya, hidup dalam kebahagiaan, apakah hanya mereka saja yang bisa hidup layaknya manusia normal, mengapa aku tidak ya Allah.

Ririn mengalami kebutaan setelah kecelakaan yang ia alami saat perjalanannya menuju sekolah, bersama ayah dan ibunya, tetapi saat itu kecelakaan telah memakan nyawa orangtuanya, hingga saat ini Ririn menjadi anak yatim piatu.
“Ririn!” panggil seseorang dari balik pintu rumahnya. Ririn berjalan dengan tongkatnya yang mengantar Ririn hingga ke depan pintu, mungkin jika matanya normal, ia tidak akan pernah menggunakan tongkat itu. Belum sampai ia membuka pintu, Bu Ratna sudah memasuki rumahnya. “Ya ampun, Cuma buka pintu aja lama banget” kata Bu Ratna si penagih uang kontrakan. Dalam benaknya Ririn berpikir bahwa ia pasti akan ditagih uang lagi oleh Bu Ratna, sudah 3 bulan Ririn tidak membayar kontrakan, ia tidak punya uang yang lebih untuk kebutuhan makan sehari-harinya. Pendapatannya sebagai seorang pengamen jalanan tidak cukup untuk keperluan selain makan 2 kali sehari, terkadang Ririn juga harus meminta makanan di warteg warteg kecil. “Uang kontrakan mana? Udah 3 bulan kamu belum bayar kontrakan, mau saya usir, kamu?” Ucap Bu Ratna kasar. “Iya bu, maaf tapi saya belum punya uang buat bayar kontrakan, penghasilan saya hanya sedikit. Tolong beri saya satu minggu lagi bu, saya janji akan membayarnya.” jawab Ririn dengan bibir bergetarnya. “Kasih waktu kamu bilang, kamu itu udah telat 3 bulan, nggak, nggak ada waktu buat kamu, pergi sana!” kata Bu Ratna kembali kasar. “Bu, saya mohon sekali ini saja, saya yakin saya bisa membayarnya” kata Ririn, memohon. “Ok, saya beri waktu 3 hari, tapi kalau kamu belum bayar juga, kamu pergi dari sini” Seru Bu Ratna sambil pergi dari rumah Ririn.

Ririn pun duduk sambil kembali meratapi kisahnya yang sengsara. Dalam benaknya, Ririn sudah tidak ada jalan lagi untuk hidup. Pikirannya hampir putus untuk hidup, dan ingin segera meninggalkan dunia. “Tidak, aku tidak boleh seperti ini terus aku harus bangkit, iya aku adalah orang yang lebih bersyukur” ucap Ririn menyemangati dirinya. Adzan berkumandang Ririn pun segera menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim, walaupun ia belum mendapatkan apa yang ia inginkan ia tetap berusaha dan berdoa.

Keesokan harinya. Ririn bangun di awal waktu, ia mulai berubah untuk berusaha mencari pekerjaan yang layak. Ririn pun bersiap siap. Tepat pukul 07.00 Ririn mulai melangkahkan kakinya menuju toko-toko, untuk bisa mendaftarkan diri sebagai pekerja, namun dari semua toko yang ia kunjungi, tak satu pun yang menerimanya, ia pun beralih ke lapangan pekerjaan lain. Tetapi sama saja semua tidak menerima Ririn. Gadis berumur 21 tahun itu mulai merasa putus asa ia pun kembali ke rumahnya.

Ririn merebahkan tubuhnya di atas kasur kecil miliknya. Ia berpikir, mengapa semua pekerjaan tidak bisa ia dapatkan. “Tok… tok” ketukan pintu rumahnya berbunyi, Ririn pun segera membukakan pintu. Sudah berdiri seseorang berjilbab panjang dan berbaju merah hadir di hadapan Ririn. “Ririn” ucap gadis itu dengan pelukan hangatnya kepada Ririn. Ririn yang bingung, pun mematung. “Rin, ini aku Dewi sahabatmu, maafkan aku Rin aku baru bisa menemuimu sekarang, dulu aku dekat denganmu namun sejak matamu buta aku meeasa malu memiliki teman sepertimu, tetapi sekarang semuanya telah berubah, aku tak lagi mempedulikan keadaan fisiknya saat ini, karena kamu ada sahabatku, sahabat yang selalu ada bagiku, bagaimanpun keadaanku.” ucap Dewi sambil menitihkan air matanya. “Dewi, ini kamu, aku rindu sekali padamu, kukira kamu tidak akan lagi mau menemuiku” jawab Ririn dengan air matanya yang mulai mengucur deras.

Ririn dan Dewi pun berbincang-bincang, “Iya Wi sekarang aku tidak punya uang untuk biaya hidup, aku sudah mencoba untuk melamar pekerjaan, namun tak ada yang mau menerimaku, mungkin karena aku ini hanya lulusan SMP.” kata Ririn mencurahkan hatinya. “Sabar saja Rin, pasti Allah akan membantumu, oh iya apa kamu masih bisa membuat boneka dari kain perca.” tanya Dewi. “masih sering buat si Wi, emang kenapa?” jawab Ririn, dari SD memang Ririn gemar membuat boneka dari kain perca, dan hasilnya bisa melebihi boneka-boneka yang dijual di toko. “Gimana kalo kamu usaha jual boneka aja, siapa tahu hasilnya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupmu.” kata Dewi memberikan idenya. “Iya juga ya Wi, kenapa aku tidak terpikirkan dari dulu”

Dua hari kemudian Ririn sudah bisa menjual 30 buah boneka yang ia buat sendiri dengan tangannya yang terampil. Dan uangnya bisa mencukupi kebutuhan hidupnya.

Beberapa tahun kemudian Ririn menjadi seorang pengusaha sukses dengan sebuah boneka yang ia buat sendiri. Ternyata Allah mempunyai jalan lain untuk Ririn mendapatkan uang dengan menjual boneka-boneka hasilnya. Dengan berusaha dan berdoa sukses akan tercapai.

Cerpen Karangan: Thalia Anzalita
Facebook: Thalia Ramadhani

Cerpen Doa dan Usaha merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Fiksi Hukum

Oleh:
Siang itu di fakultas hukum, Hukum sedang mendengarkan penjelasan dosen senior yang membawakan meteri Hukum Pidana. Sesekali Hukum mengerutkan keningnya pertanda ada hal-hal yang mengganggu pemahamannya. Suasana ruang hening

Sebuah Jawaban diujung Jurang

Oleh:
“Setiap orang berhak bahagia”. Itu kata-kata yang sering aku dengar dari mulut orang-orang. Dan aku fikir itu adalah perkataan yang benar. Karena aku pernah merasakan kebahagiaan itu. Dulu, aku

Ibuku Malaikatku

Oleh:
Ibuku bagaikan malaikat yang diturunkan dari surga, untuk menjaga anaknya. Ibu kesayanganku, dia adalah sosok ibu yang paling baik sedunia. Setiap hari ibuku bangun jam 2 pagi untuk menyiapkan

Begitulah Rindu

Oleh:
Cinta sejak awal memberi tanda dan —sama-sama sadar. Sama-sama sadar ketika sejak awal cinta timbul dan kobarannya makin besar. Besarnya kobaran itu mulai membakar ketakutan—sama-sama sadar. Sama-sama sadar dan

Peluang dan Kehidupan

Oleh:
Aku mengayuh sepeda tua warisan dari ayahku melewati sejajaran gedung-gedung tua berbahan batu bata merah yang semakin lapuk termakan usia di pinggir jalan yang sama tuanya. Udara pagi membelai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *