Doa Terakhir Sang Penari

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 29 March 2016

Lagi-lagi, oksigenku dirampas bebas alkohol, tontonanku tetap berkutat pada lampu yang berkedip-kedip manja, tapi beringas, benar-benar meluluh lantahkan logika manusia-manusia tak beretika ini. Pendengaranku masih dibungkam gaduh dan riuh yang ku benci. Ah, tempat yang ku benci tapi ku cintai. Mengatakan bahwa aku tak menyukai tempat ini, ya aku tak menyukainya. Aku tak pernah menyukai laki-laki hidung belang yang selalu datang ke tempat ini dengan mata jal*ng, nyalang melihat dada-dada mulus kami. Kami para gadis yang dihias sedemikian rupa, ditakdirkan melenggak-lenggokkan tubuh kotor kami dan rela dipegang di sana-sini.

Di belakang segala riuh ini kami saling duduk di belakang meja rias kami. Diam. Hanya melirik sesekali jika kecanggungan ini mulai terasa menyiksa. Kami bekerja, kami bertemu, tapi tak saling berkomunikasi. Apa yang harus kami bicarakan? Tak ada yang bisa dipertanyakan. Kebanyakan dari kami berasal dari panti asuhan dari berbagai kota, tak pernah saling bertatap muka, sebelum akhirnya kami memiliki nasib yang sama. Tergadaikan di tempat mengerikan ini. Tempat mengerikan tepat di haluan kotor ibukota yang memberi kami penghidupan.

“Hiks… hiks…” suara sesenggukan itu meremas ibaku. Ku lirik seorang gadis remaja yang duduk di sudut ruangan mungil ini dengan wajah sembab, sedang air mata terus membanjiri pipinya. Jantungku berdegup keras kala ku tatap mata sayu itu. Mirip dengan mataku kala pertama kali dibawa ke tempat laknat ini. Kepalaku pusing membayangkan kembali masa laluku, buru-buru ku tarik paksa sudut mataku yang sedari tadi menjamah gadis itu. Gadis tak berdosa, sebentar lagi mungkin kau tak akan lagi merasa ketakutan di sini. Di rumah barumu ini. Aku tersenyum kecut.

Seseorang berjalan cepat ke dalam ruangan, membuat kami serentak menaruh perhatian penuh padanya. Alex. Orang biadab yang telah membawa kami ke mari, dengan pongahnya menatap dada dan paha kami yang dibalut kain dan selendang tipis, hampir-hampir tel*njang. “Khekhe… pertunjukan akan dimulai.” Ia mengarahkan ibu jarinya ke arah yang berlawanan, cukup untuk membuat aku dan ‘teman-teman’ senasibku berdiri, berjalan melewatinya menuju ke panggung maksiat. Geramku sempat memuncak, tapi ku tahan mati-matian ketika tak sengaja menyorot gerakan tangannya yang mer*mas pantat wanita di depanku.

Kami penari, tapi tak menari untuk seni. Entah bagaimana, kami menari untuk memuaskan bir*hi laki-laki tak tahu diri yang selalu saja mengantre. Gamelan dan segala gending itu tak ubahnya penabuh nafsi, membuat laki-laki di setiap sudut tempat ini tak terkendali. Tak pernah terpikirkan barang sejenak bahwa aku bisa bekerja di tempat ini, mungkin akan lebih tepat jika aku menyebutnya ‘terdampar’. Terdampar seperti paus mati yang tak bisa lagi kembali.

“Aku mencintai pekerjaan ini semata-mata hanya karena di sini aku bisa menari.” Aku bersikukuh, tak ingin membuatnya mengerti bahwa tak ada alasan lain aku di sini. Aku hanya berpikir, bila memang aku tak menyukai pekerjaan ini, maka aku harus dan akan menyukai tarian yang selalu ku gandrungi sedari kecil ini. Titik.
“Kau tahu pekerjaan ini kotor, tapi kenapa?” Khali menanyakan pertanyaan yang kesekian kali. Pertanyaan yang sama dengan inti yang sama serta maksud yang sama, membawaku pergi dari sini. Khali sama saja bagiku seperti kebanyakan lelaki di sini yang hidup untuk hiburan keji. Yang berbeda, ia adalah orang yang telah memilih para penari di sini, dia tangan kanan Alex.

Aku selalu berpikir, aku telah terjatuh terlalu dalam pada kemaksiatan ini. Tak akan ada lagi tempat yang ku tuju jikapun aku bisa ke luar dari tempat ini dengan bantuan Khali. Entah apa yang dia bicarakan mengenai cinta dan tektek-bengeknya, aku tak pernah mengerti. Aku belum pernah merasakannya dan aku tahu itu hanya sebuah dongeng semata. Aku melengos ketika kami beradu pandang. Sedikit muak dengannya. Dia bukan lelaki rupawan yang menjadi idaman, hanya kekayaan yang bisa membuatnya digandrungi baberapa penari di sini yang menganggapnya ‘lumayan baik’. Setidaknya sekali pun sama bejatnya, ia tak memperlakukan wanita seperti laki-laki yang datang ke mari, menyentuh penari tanpa permisi, atau sengaja menyicil rupiah untuk menyelipkan uang di antara dada kami. Tapi sama saja jika pada akhirnya ia pernah tidur dengan hampir semua penari di tempat ini.

Aku membalikkan badan, enggan menjawab pertanyaannya. Pertanyaan simpatik yang patut ku curigai. Sesaat, ku lihat sekelebat bayangan yang ku kenal melintas di depanku. Masih dengan suara sesenggukan yang sama, tapi pipinya memerah, darah mengalir hampir di setiap bagian wajahnya. Aku tahu itu akan terjadi cepat atau lambat padanya, sebagai hukuman karena tak mau menari untuk laki-laki tak tahu malu itu. Aku mengerutkan kening.

“Tapi, mungkin akan ku pikirkan lagi jika kau bisa membantuku sesuatu.” Aku berbicara dengan angkuh tanpa menoleh. “Hanya jika kau mau.”
“Tentu saja aku mau, katakan padaku apa yang bisa ku lakukan untukmu?” Khali menjawab cepat. Ya, aku sudah tahu bahwa kau akan berkata seperti itu.
“Bantu aku untuk mengeluarkan gadis itu dari sini.” Aku menggerakkan sedikit daguku ke arah gadis yang telah sedikit berada jauh dari kami. Aku tak tahu bagaimana ekspresinya, tapi aku tahu bagaimana reaksinya setelah ini.
“Kau gila?”

Aku mondar-mandir memikirkan rencana yang telah ku susun dengan Khali tadi pagi. Ya, malam ini aku harus bisa mengeluarkan gadis itu dari sini. Bagaimanapun juga, aku tak mau melihatnya bernasib sama sepertiku, jikapun aku tak punya lagi jalan untuk kembali, aku hanya harus membuat gadis itu kembali sebelum ia sempat ternodai dan merasakan keganasan tempat ini. Ah, apakah aku sedang berusaha menjadi seorang pahlawan sekarang? Pahlawan yang sama bejat dengan musuhnya? Aku terkekeh pelan. Orang yang kotor dari awal tak akan merasa bersih meski dicuci berkali-kali. Dosa yang tak tertera di depan mata itu justru yang paling sering membayangi, membuat dadaku selalu sesak saat memikirkannya. Dosa yang ku yakin tak akan pernah bisa ku lupakan seumur hidupku, setidaknya aku masih bisa berkutat dengan kenyataan bahwa keberadaanku di sini bukanlah kesalahanku sendiri.

Aku selalu menyesali nasibku, mengapa aku di sini? Aku ingin pergi, tapi ku telan mentah-mentah semua harapan semu itu. Aku tak pernah tahu siapa ibuku, siapa sanak saudaraku, atau bahkan apakah mereka semua masih hidup? Jikalau iya, apakah mereka akan menerimaku yang seperti ini? Yang telah tak punya lagi harga diri? Aku tersenyum kecut. Aku muak setiap kali melihat pantulan dari diriku sendiri pada gadis itu. Gadis baru yang selalu menyita perhatianku, biasanya aku tak pernah merasa segelisah ini terhadap apa pun yang terjadi di sekelilingku. Nasibku sendiri telah mengurai segala nuraniku, tapi mengapa gadis itu bisa menyulamnya lagi walau hanya menjadi helai? Aku kelu melihat tangisnya, sakit melihat darahnya. Setidaknya sekali saja aku ingin seseorang pergi dari sini, ke luar dari tempat biadab ini, dengan bantuanku, dengan bantuan yang dulu selalu ku harap tapi tak pernah ku dapat.

Aku tersentak, seketika lamunanku buyar. Pemandangan yang ada di depanku bukan lagi tentang gadis itu, tapi untuk kesekian kali adalah laki-laki kurang ajar ini. Mereka semua. Aku melenggak-lenggokkan tubuhku dengan lincah, ku anggap ini sebagai terakhir kali untukku dan untuk mereka. Aku mencibir. Ku tatap sekilas meja penuh b*r yang berada tak jauh di depanku, pura-pura tak tahu ketika beberapa lelaki mencoba berebut menyisipkan lembaran lima puluh ribuan di dada. Alex mabuk, ditemani oleh Khali di sampingnya, memandangku gelisah. Rupanya ia berhasil membuat Alex sampai semabuk itu, dan aku sedikit memujinya meski ia melakukannya dengan ekspresi seperti itu. Cih, aku jijik melihat wajah itu. Wajah-wajah ini.

“Neng, tariannya bagus.” Celetuk seorang lelaki berjas lengkap yang menari bersamaku. Aku tersenyum, dalam hati ku artikan perkataan itu sebagai ‘Neng, dadamu mulus’.
“Jaipong memang asyik, Kang. Sering ke sini?” Aku membalasnya dengan acuh meski senyum tetap ku topengkan di wajahku. “Saya selalu ke sini malah dan yang selalu saya pilih selalu Eneng…” ia menyisipkan lembarannya lagi dengan mata berkedip. Uh, ku harap aku bisa menahan untuk tak memuntahkan isi perutku sekarang ke wajahnya. “Kenapa, Kang?” suaraku meninggi, seiring dengan alunan gamelan yang semakin menggila. Sengaja ku buat nada suaraku mendayu-dayu, membuat wajahnya semakin terlihat genit.
“Urusan rakyat selalu bikin repot, di partai rumit berebut kuasa, stres, Neng!”

Aku hanya membuat mulutku berbentuk seperti huruf O sambil manggut-manggut seolah mengerti. Mereka semua ingin segera ku lenyapkan. Bukan hal baru jika wakil rakyat datang ke mari dengan alasan hiburan padahal mereka berselendang kuasa. Mereka dipilih untuk memperjuangkan nasib rakyat. Nasibku. Nasib kami. Tapi apa yang mereka lakukan? Gaji mereka ditelan mentah-mentah tanpa usaha, kursi jabatan ditinggalkan dan setiap hari datang kemari untuk menari dan menyentuh tubuh kami. Biadab. Ku lirik beberapa orang yang baru masuk ke tempat ini. Orang-orang berseragam aparat keamanan. Ah, lagi-lagi. Aku selalu yakin merekalah dalang di balik berdirinya tempat ini, bagian dari tempat terkutuk ini. Mereka melindungi tempat ini dari mata aparat yang lain demi beberapa lembar uang, bahkan tak jarang kami disuruh melayani mereka sebagai upah. B*ngsat! Mengapa aku merasa begitu malu tinggal di negara ini?

“Lanjut, Kang!” aku mencoba merebut beberapa lembar uang mereka. Hari sudah beranjak larut, tapi tak ada satu saja dari mereka yang mengangkat kaki dari sini. Sengaja aku menggila hanya untuk hari ini, melayani tatapan genit dan tangan-tangan nakal mereka. Hanya untuk hari ini.

Pyaaar!

Alunan gamelan mendadak berhenti setelah bunyi itu. Alex, lebih tepatnya Khali yang membuat Alex seolah menjadi orang yang memecahkan b*r-b*r itu. Sudah dimulai. Alex menggelepar di atas lantai dengan posisi tengkurap, seolah ia benar-benar mabuk padahal beberapa dari b*r itu telah kami sisipi dengan obat tidur. Suasana hening sejenak, tapi sesaat kemudian semua kembali seperti semula. Aku lirik Khali yang menyulut beberapa batang korek api dan melemparkannya ke lantai yang dipenuhi b*r.

“Kebakaran! Kebakaran!!” Khali berteriak kesetanan, mengalahkan suara gending yang perlahan senyap.
“Kebakaran!”

Beberapa lelaki lain dengan wajah kalut berlari menuju pintu, membuat gaduh riuh suasana di tempat ini. Ah, aku lebih suka gaduh riuh yang seperti ini. Aku tertawa pelan. Entah setan mana yang berhasil menyusup di pikiranku hingga aku merasa segembira ini, tak pernah terasa menyenangkan melihat wajah dan teriakan ketakutan mereka. Beberapa penari juga panik, berebut ke luar dari tempat ini. Dasar bodoh, tak ada dari orang-orang ini yang berusaha untuk memadamkan api. Mereka bergelut dengan ketakutan mereka dan keselamatan nyawa mereka sendiri. Khali menyeret tubuh Alex sedikit menjauh dari api, membuka paksa beberapa botol b*r yang telah diganti dengan bensin, lalu menyiramkannya secara membabi buta ke seluruh ruangan. Tak ada yang melihatnya. Tentu saja karena mereka semua buta, telah buta pada upaya untuk mencari jalan keluar.

Aku mengangguk pada Khali yang bergidik memandang kobaran api yang semakin membesar, sudah tak bisa lagi dipadamkan. Aku mengangguk padanya, ia berlari ke ruangan dalam untuk merespon, tapi aku mengikutinya. Gadis itu juga panik, tapi hanya mampu berdiri di sudut ruangan dengan mata yang rapuh, tubuh yang demikian ringkih. “Kau, keluarlah!” Ketika aku mengatakan hanya ‘kau’ aku memang benar-benar serius. Khali Membopong gadis itu paksa meski ia meronta di sisa tenaganya, suara-suara teriakan orang yang terkunci di ruangan luar terus menggigiti pendengaranku.

Kami bergegas, sebelum orang-orang itu sadar ada pintu di ruangan ini yang tidak terkunci. Beberapa penari rupanya menyadari dan segera beranjak mengikuti kami. Kini kami semua berada di luar, menghirup udara yang sebagian terantai alkohol dan bau-bauan lainnya. Khali menurunkan gadis yang gemetaran itu, segera beberapa penari memeluknya untuk menenangkannya. Ku ambil kayu yang telah ku siapkan sedari awal di samping pintu, menarik napas dalam-dalam, dan menghembuskannya dengan berat. “Terima kasih.” Ku ayunkan pukulan bersamaan dengan kata-kata terakhir itu ke arah Khali yang masih membelakangiku. Para penari memekik keras, aku mengacuhkannya. Khali tergeletak tak berdaya di depanku dengan kepala bersimbah darah, “…dan maaf.” Aku tersenyum kecut, beberapa penari memandangku ngeri, aku hanya mengedikkan bahu seolah tak terjadi apa pun.

“Kalian pergilah! Aku memang sama sekali tak mengenal kalian, tapi aku tahu kalian orang-orang baik. Terima kasih untuk kerja keras kalian selama ini…” aku menatap mereka satu per satu. Merangkai beberapa memori yang sempat terekam di benakku. “…maaf telah membuat keributan ini.”
“Ha?” seorang penari yang terlihat lebih tua dariku mengerutkan kening. “Kau…” ia tak meneruskan kalimatnya.
“Ya, aku yang membuat semua keributan ini, maafkan aku. Kita sama-sama ada di sini karena kita mencintai jaipong, tarian impian kita. Sedikit banyak, aku tahu bahwa kalian bertahan hanya untuk tarian ini, hanya karena di tempat lain hampir jarang ditemukan jaipongan lagi…” ucapku panjang lebar. “…setidaknya tolong teruskan tarian ini, tidak di tempat seperti ini, aku serahkan nasib tarian ini pada kalian…” aku melirik gadis kecil yang memandangku iba itu, “dan padamu.”

Aku tersenyum sekilas, tak pernah aku bicara dengan mereka seperti ini. Kali ini entah mengapa aku merasa bahwa kami -aku dan mereka- sama-sama hidup, bukan seperti boneka mati yang diam saja diperlakukan tak senonoh oleh para lelaki bejat di dalam sana. Segera ku seret tubuh Khali ke dalam dengan susah payah. Aku juga tak bisa meninggalkannya hidup, ia dan semua laki-laki yang kini terkurung itu sama. Dan akan ku lenyapkan bersama.

“Kau mau ke mana?” penari yang duduk paling dekat denganku di meja rias memandangku penuh tanya ketika pintu akan ku tutup dari dalam.
“Kau tak ikut dengan kami?” aku menggeleng sebagai jawaban.
“Tempatku sudah bukan dunia.” Aku mengunci pintu.

Aku harus minta maaf pada Tuhan soal ini nanti. Aku terkekeh. Suara orang-orang yang masih menjerit itu tak ku hiraukan, terdengar pula beberapa bunyi dobrakan pada pintu, tapi sudah jelas tak akan berhasil. Khali menaruh beberapa benda besar di pintu sebelum ia memecahkan b*r-b*r itu, atas perintahku. Barang-barang besar yang tak akan mungkin berpindah dengan hanya sebuah dobrakan. Tapi aku menyukai suara kepanikan dan kobaran api yang semakin ganas ini. Aku menyukai tempat ini, yang seperti ini, yang dipenuhi kobaran api yang menghancurkan segalanya, termasuk kami dan mereka semua.

Jikapun nanti aku tak bertemu dengan Tuhan, aku ingin minta maaf pada orang-orang ini di neraka. Aku tertawa, apa yang ku pikirkan? Aku sungguh membenci orang-orang ini, sudah lama aku berniat melakukan ini dan gadis itu memberiku alasan terkuat untuk melakukannya. Ku biarkan rasa sakit menjalari seluruh tubuhku yang dijamah api, panas, nyeri, sakit. Aku mendesah. Bisakah aku mengutuk-Mu untuk semua rasa sakit ini, Tuhan? Aku percaya padamu bahkan jikapun aku tak sembahyang dan terlalu berkubang dalam dosa, tapi aku menuntut-Mu untuk jaipong yang ku cintai. Biarkan ia lestari, meski aku harus menjadi bahan bakar nerakamu karena ini, pintaku satu yang pasti, biarkan jaipongku tetap menari.

Cerpen Karangan: Ratna Juwita
Blog: akihabaranime.blogspot.com
Bisa dihubungi di akun facebook: https://www.facebook.com/tantei.noq
dan email: den.raana[-at-]gmail.com

Cerpen Doa Terakhir Sang Penari merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ibu

Oleh:
Lagu “Afika – you’re my everything” mengalun mesra, Senja kembali hadirkan suasana hening, cahayanya menembus jendela kaca menerpa mataku. Aku terbangun dengan cepat ketika guyuran air comberan menggigilkan tubuh

Hidupku Berwarna Karnamu Kak

Oleh:
Setiap hari mentari menyambutku dengan sinarnya. Malam, malam kuhabiskan dengan senyuman bulan dan kilauan bintang yang sangat mengagumkan. Sejak hari itu semua keindahan dunia musnah begitu saja. Oh ya!

Rumah Yang Mati

Oleh:
Kesunyian yang mematikan mengantung di udara, tiada tawa, canda ataupun kebahagiaan. Hanya keheningan yang menyiksa. Mereka semua hidup, hidup dan bernyawa, tapi hanya mata yang memandang tanpa cahaya, kelam.

Kenangan Itu

Oleh:
Upik dan ajo, julukan itu selalu menjadi kenangan dalam pikiranku, tepatnya 10 tahun yang lalu saat aku duduk di kelas II SMP, julukan itu diberikan Guru Bahasa Inggris kepadaku

Kesedihan yang Terlalu

Oleh:
Kesedihan masih terpampang jelas di wajah bunda. Kehilangan ayah membuat kami terpukul, bunda menangis sejadi-jadinya. Tidak berhenti, kini hanya ada aku, bunda dan dik Rena. Sebelum lanjut, namaku Zacheya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Doa Terakhir Sang Penari”

  1. Wida says:

    Keren,.. Suka banget sama gaya bahasa yang digunakan, Good Job 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *