Dunia Yang Melahirkan Sampah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 5 September 2017

Sampah memang bukanlah sebuah barang yang terlalu berharga di mata orang lain. Bukanlah barang yang menjadi pujaan banyak orang. Bukan juga menjadi harta yang paling berharga di muka bumi. Walau ada yang menggantungkan hidup dengan si “SAMPAH”, namun sampah tetaplah sampah yang dicaci banyak orang.

Aku terlahir dengan tubuh dan bentuk fisik yang sempurna, dan dengan akal yang terus berkembang seiring proses. Hidup di dunia yang sempit dan penuh dinamika serta topeng-topeng yang bertebaran di sana-sini sudah membuatku cukup bosan sampai saat ini. Dunia yang kujalani memang bukan dunia yang mudah, semua penuh tipu muslihat. Saat kecil, aku hidup dengan dunia yang penuh kewajaran dan seakan normal. Dan entah kenapa semakin dewasa, sepertinya dunia ini penuh dengan “SAMPAH”.
Hanya menghormati golongan yang kaya, berkedudukan dan terlihat memilki kelebihan. Dunia seakan memujanya bagaikan “DEWA”, yang mempunyai kelebihan tak terhingga. Andai pun aku percaya terhadap “DEWA”, aku berharap perilakunya tidak seperti itu.

Harta adalah harga mati untuk seseorang menghormati yang lainnya, dan hanya golongan tertentulah yang berhak diajak berbicara oleh mereka. Jangan harap para kasta rendah mendapatkan perhatian, bahkan sekedar untuk disapa pun sudah menjadi hal yang cukup aneh.

Dari sebuah kabar berita yang kubaca pagi ini, tertulis judul yang cukup menghebohkan kalangan penduduk “LANGIT”. Dengan judul “RUNTUHNYA KEHIDUPAN DUNIA”. Sangat wajar sepertinya hal itu terjadi. Mengingat berbagai keanehan yang kulihat di depan mataku sendiri. Jangan berbicara soal uang jika ingin hidup di dunia sampah ini.

Uang adalah sesuatu yang bisa memecah belah beberapa pihak dan membuat para penghuninya terlihat tidak akan pernah jujur, sebuah fakta yang selalu aku temukan di manapun aku bernaung. Seorang wanita Berpapasan denganku pada saat aku berjalan-jalan di pagi hari. dari reaksi dirinya setelah berpapasan denganku, aku melihat “SAMPAH” yang sama adanya di dunia ini dengan si wanita yang tadi berpapasan denganku.

Jika berbicara soal pendidikanku di dunia ini, entahlah aku juga bingung. Seperti roda, alur perputaran hidupku seakan-akan selalu di atas angin. Aku kembali teringat cerita saat aku masih kecil, ketika diriku melihat kenyataan yang ada sekarang.

Dunia semakin gila dan terlalu naif untuk dihadapi dengan tangan kosong. Ketika para “SAMPAH” melahirkan sampah-sampah yang lain, sepertinya arus lingkaran setan bakal sulit dihentikan lajunya.
Jika pun ada seorang pendusta yang mengharap belas kasihan tak terhingga, lagi-lagi hal itu benar adanya di dunia sampah ini. Soal gengsi dan akal rasional para penduduknya, sangatlah sulit untuk dimengerti. Sedikit contohnya adalah keengganan untuk memajukan derah dimana orang itu lahir dan berkembang, justru ia membanggakan daerah yang ia pun belum tahu seluk beluknya. Kondisi yang rancu juga sering terjadi di lingkungan “LANGIT”, terpaan selalu datang silih berganti tanpa ada solusi yang jelas. Harus sampai kapan orang sepertiku selalu menatap “LANGIT” dan berharap akan adanya perubahan yang signifikan di dunia sampah ini.

Kali pertama aku mengenal para penguasa “LANGIT”, saat itu usiaku masih belasan. Aku tidak terlalu peduli tentang para penguasa langit serta dunia sampah pada saat itu. Semakin aku mengenal dan mulai membuka akal pikiranku tentang “DUNIA SAMPAH” ini, entah kenapa aku mulai semakin gila dan mulai berusaha mencari jati diriku yang sebenarnya. Jari sudah mulai kuhitung, tinggal 2 hari lagi ketika dunia kembali melahirkan sampah yang baru. Para sampah yang terlahir di dunia sampah memiliki peran fungsionalnya masing-masing.

Bukan tugas yang mudah dan ringan, namun terlihat menyenangkan bagi para sampah-sampah tersebut. Peran sebagai pelaku kriminal kelas rendah sampai kelas atas ditugaskan untuk mereka yang terlahir di bawah naungan “bintang setan sejati”. Sebuah bintang yang diciptakan akibat dari sistem yang sudah diterapkan terlalu lama oleh para “PENGUASA LANGIT”. Sehingga jika orang sepertiku menatapnya dan berharap tidak mau dinaungi oleh bintang tersebut, justru bintang tersebut berjalan semakin dekat kearahku.

Aku pernah mendengar ucapan sang “bintang setan” saat aku melihat layar televisi, mereka melakukan aksi tersebut karena adanya sistem tradisi yang mengakar yang jika ingin dicabut harus menerima tantangan yang terlalu sulit untuk diungkapkan. Bahkan jika ada yang benar-benar berani melakukannya, mereka harus terima konsekuensinya. Dunia dimana aku tinggal saat ini tidak akan pernah berhenti dirusak oleh penduduknya. ”SAMPAH” sejati biasanya bergerak di balik layar sebuah pesta yang meriah. Bukan sebagai pelakon utama namun cukup jadi penyokong yang setia untuk mengahancurkan sebuah tetesan peluh kemerdekaan.

Dunia sampah tidak hanya melahirkan sampah di ruang lingkup yang kecil, justru dalam ruang lingkup yang besar lah target mereka tercapai. Apakah aku terlalu sial untuk sekedar berkontribusi di Dunia sampah ini?. Apakah dunia yang sebelumnya lebih baik dari dunia sampah ini?.

Sebenarnya kehidupan sejati yang kuimpikan, selalu kuharap berujung bahagia. Jangan berusaha mengelak jika kehidupan yang kuimpikan pasti juga diimpikan oleh orang lain.

Cerpen Karangan: Muhammad Farid Hermawan
Blog: fartwens.blogspot.com
Muhammad Farid Hermawan seorang blogger di fartwens.blogspot.com

Cerpen Dunia Yang Melahirkan Sampah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Surat (Part 1)

Oleh:
Pernahkah kau merasa jika apa yang telah kau perjuangkan berakhir sia-sia? Semua tenaga, keringat, bahkan hembusan napas yang keluar dari tubuhmu terbuang begitu saja hanya untuk meraih mimpi yang

Kabut Sudah Tersiram Hujan

Oleh:
Dengan sorotan mata telah merekam semua kejadian di bawah langit yang secerah cermin. Rekaman yang tak bisa dicetak berbentuk nyata hanya bisa diputar ulang dengan gulungan kaset yang tak

Pikaichi

Oleh:
“Jadi benar, nama vas bunga ini fikaichi nona sela?” “Bukan pak! Namanya PIKAICHI! Bukan FIKAICHI!” “Diam! Saya tidak peduli vas ini di sebut apa..! Yang penting sekarang akui kejahatan

Gengsi Hilang Syukur Datang

Oleh:
Kepulan asap rokok memenuhi seisi kamarku. Asap yang terbang beriringan dengan apa yang telah aku pikirkan. Ah, angan-angan kosong berterbangan. Sesaat aku melirik slempang wisuda yang menggantung disamping foto

Hari Kartini

Oleh:
Pagi ini wanita tua itu kembali menarik gerobak sampah. Jalannya agak terpincang-pincang, entah karena kakinya sakit atau karena keberatan menarik gerobaknya. Sandal jepit yang mengalasi kakinya, seperti baju kaos

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Dunia Yang Melahirkan Sampah”

  1. rizky says:

    Sangat bagus sekali saya sangat suka sekali…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *