Jarak Ungu dan Wakil Rakyat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 12 June 2015

“Apa kaitan ranting, daun dan buah jarak dengan wakil rakyat yang akan bertarung memperoleh kursi panas pada Pemilihan Umum Legislatif (Pileg)?” Pertanyaan yang memusingkan untuk dijawab dan kalau perlu tidak perlu dipikirkan. Toh masih banyak pertanyaan lainnya yang perlu dijawab berkaitan dengan kebutuhan rezeki untuk istri dan kedua anakku, Iki dan Ima.
Namun pertanyaan itu menambah rasa penasaran saat Mas Mus, seorang pekerja bangunan di rumahku yang tinggal di salah satu kecamatan Jawa Tengah yang terkenal dengan kisah Arya Panangsang dan Joko Tingkir atau Mas Karebet yang dinobatkan menjadi Sultan Hadiwidjaya di Kerajaan Pajang. Tentunya yang aku tahu, tanaman jarak itu bernama latinnya Ricinus Communis, merupakan tumbuhan liar setahun dan masuk dalam tanaman perdu. Lebih rincinya memiliki daun tunggal berjari antara 7-9 dan diameter 10 sampai 40 centimeter. Lebih terinci lagi, batangnya berbentuk bulat licin, berongga, berbuku-buku, sedangkan warna tumbuannya merah, sedangkan daunnya berbentuk bulan dan ujungnya sedikit runcing. Manfaatnya untuk obat korengan, atau menambah daya tahan tubuh anak dan orang dewasa, bahkan bisa menjadi obat untuk batuk dan sesak nafas. Di zaman Jepang dahulu juga digunakan sebagai bahan bakar untuk kendaraan perang hingga rakyat Indonesia dipaksa menanamnya untuk mendukung dalam pertempuran pada Perang Dunia II. Mengapa? Karena minyak biji jarak memiliki kekentalan yang stabil pada suhu tinggi hingga bisa dijadikan sebagai campuran pelumas.

Kembali lagi dengan pertanyaan keterkaitan antara tanaman jarak ungu dan wakil rakyat.
“Mas, saya tadi diminta tolong oleh anggota dewan yang akan mencalonkan kembali menjadi anggota dewan untuk mendapatkan jarak ungu,” ucap polos Mas Mus.
Saya pun hanya bergumam saja dan tidak peduli dengan pertanyaannya mengingat saat itu tengah terburu-buru untuk berangkat kerja. Namun anehnya informasi dari Mas Mus, menjadi tanda tanya besar apa keterkaitan antara tanaman jarak dengan wakil rakyat. Terlebih lagi saat ini sedang ramai-ramainya pemilihan legislatif dan saat membuka Koran disediakan rubrik tersendiri untuk persiapan hajat Bangsa Indonesia itu, tidak tanggung ada yang menyediakan spesial dua halaman penuh. Ruarrr biasaaa.

Sesampai di rumah pada pukul 22.00 WIB, kebetulan Mas Mus sudah selesai bekerja lembur dan bersiap-siap untuk menikmati sajian makanan dari istriku. Kesempatan rasa penasaran itu tidak disia-siakan untuk bertanya kembali soal permintaan anggota dewan untuk mendapatkan tanaman jarak itu.
“Oh iya, Mas, tadi pagi saya dimintai tolong untuk mencari tanaman jarak, katanya sih untuk mendapatkan uang,” ungkapnya.
Jawaban aneh lagi apa keterkaitan antara pohon jarak dan mendapatkan uang. “Mas, tapi jangan dibilang-bilang ke siapa lagi ya, soal permintaan aneh ini,” ujarnya.
“Ok, saya janji tidak akan membicarakan isu itu,” katanya.
Barulah dia mau berbicara panjang lebar, keterkaitan pohon jarak, uang dan wakil rakyat itu. Tadi pagi anggota dewan yang tinggal di belokan blok itu, mendatangi saya sambil menggendong anaknya menanyakan apakah di kampungnya ada tanaman jarak berwarna ungu. Saya memaklumi jika anggota dewan itu berani menanyakan soal itu kepada Mas Yon, maklum Mas Mus pernah bekerja selama enam saat membangun rumahnya yang semula hanya satu lantai menjadi dua lantai dengan bangunan klasik. Hingga paling mentereng di lingkungan kami, berbeda saat dia sebelum menjadi wakil rakyat. Bahkan dia terkenal paling royal di antara warga, hingga tidak mengherankan kalangan muda melalui Karang Taruna selalu meminta sumbangan kepadanya seperti untuk acara 17 Agustusan. Bahkan kalau perlu mengundang organ tunggal dengan biduan wanita yang goyangan ngebornya membuat muka Mbah Sobri pun harus mengeceskan air liurnya. Dan tidak lama kemudian Mak Inah, istri Mbah Sobri datang langsung menjewer, sedangkan sang anggota dewan yang sengaja menonton pertunjukan dari balkon rumahnya itu hanya senyum-senyum.
Atau Usro, penjaga komplek kami setiap acara organ tunggal selalu berdiri di deretan paling depan dan dipastikan kepalanya yang rambutnya sudah beruban itu curi-curi gerakan menempel di lantai panggung sembari kepalanya menengadah ke atas untuk melihat bawahan Maya Vib**tor bergoyang oplosan. Maya Vib**tor pun semakin hot goyangannya kalau perlu membuka ***-nya itu.
Tapi begitulah suasana komplek kami semakin meriah sejak Bapak Dewan itu menjadi anggota dewan, tentunya organ tunggal menjadi hiburan tersendiri di tengah-tengah bisingnya deru roda mesin pabrik yang berada tidak jauh dari komplek kami itu. Meski sesepuh komplek agak keki apakah tempat tinggalnya itu akan dijatuhi bencana karena warganya doyan akan organ tunggal yang ser*nok. Itu terbukti saat hujan besar beberapa hari saja, komplek kami yang biasanya aman dari banjir, digenangi air yang melimpah, dan sesepuh itu bersama sepaham dengannya menyalahkan warga dan Bapak anggota dewan yang terhormat itu. Maka tidaklah mengherankan jika ingin duduk kembali di kursi panas agar tetap terpandang, bahkan seingatku Mas Mus juga pernah menyatakan alasan dirinya ingin melakoni perbuatan yang dibenci oleh Allah SWT itu, karena dirinya memerlukan modal besar untuk pencalonan. “Katanya sih dia butuh sampai 1 miliar,” katanya sambil menambahkan apalagi si Bapak itu, sekarang beristrikan dua. “Istri mudahnya boh*y sekali Mas, pastinya selain memberikan bonus di atas ranjang, pasti minta uang yang lebih banyak dibandingkan istri tuanya yang sudah terlihat kusut memikirkan kelakuan suaminya yang semakin menjadi itu,” paparnya. “Tapi janji, Mas, ya jangan dibocorkan ke tetangga lainnya,” katanya lagi menegaskan karena masih khawatir jika informasi itu diceritakan ulang ke tetangga lainnya hingga mata pencaharian dia sebagai pekerja bangunan di komplek kami terancam.
“Ya saya janji seratus persen, tidak akan dikurangi. Sueerrrr,” jawabku sambil mengangkat tangan kanan seolah-olah tengah dilantik menjadi wakil rakyat.
Pak X itu mau nyalonin lagi menjadi anggota dewan pada periode berikutnya, terus dia cari pohon jarak untuk mendatangkan uang. Mendatangkan uang dengan memanfaatkan tuyul milik seseorang yang sudah meninggal dunia. Namun tuyul itu tetap menjalankan titah majikannya meski sudah meninggal. Duit itu hasil kerja sang tuyul, konon disimpan di suatu tempat bisa di bawah pohon atau satu ruangan ritual milik majikan yang sudah meninggal itu. Tapi yang jelas berada di tempat yang tidak bisa diterawang oleh manusia biasa. Ketika Mas Mus bercerita itu, bulu kuduk sedikit merinding apalagi dia pernah mengaku pernah melihat kakek nenek yang katanya penghuni rumah kosong, apalagi malam semakin larut disertai hujan gerimis. Tapi penasaran ingin mendapatkan cerita secara lengkap keterkaitan batang jarak ungu dengan uang dan wakil rakyat semakin besar. Rasa takut coba diindahkan dengan mengisap sebatang rok*k kretek. “Nanti uangnya akan pindah dari tempat penyimpanan rahasia tuyul ke tempat milik pemilik batang jarak itu,” katanya.
Ritual Keesokan harinya, saya kembali menanyakan kepada Mas Mus soal permintaan aneh dari Sang anggota dewan itu. “Mas penasaran ya, apa ingin mencobanya,” ujarnya ketika saya menanyakan soal itu kembali.
Sialan umpat hati saya dia mencoba meledek majikan, tentunya saya tidak mau melakukan tindakan seperti itu.
“Gak lah, Mas Mus, cuman saya penasaran saja, masih ada sekelas manusia modern apalagi anggota dewan yang bergelar kesarjanaan sederet itu, ditambah di depannya ada “H”,” kataku.
“H, apa Mas,” tanyanya polos.
Jawabku, ya Haji tapi entah haji mabrur atau haji makdut. Dia pun tertawa-tawa sembari menyusun tataan keramik yang tidak lama lagi akan terpasang simetris hingga rumahku akan berbeda dengan rumah lainnya termasuk rumah anggota dewan itu karena si pemiliknya memiliki nilai seni tinggi.
“Ah si Mas bisa aja, pagi-pagi udah becanda,” ucapnya sembari menyeruput kopi hitam hangat dan ditemani rok*k kretek yang ketika dinyalakan bergemeretak bunyinya kemudian asapnya dikeluarkan seperti permen polo yang sering oleh kedua anakku memasukkan telunjuknya ke lubang asap rok*k itu.
Bagaimana nih dengan ritual cerita itu, kok bisa seperti itu, berondongan pertanyaanku kembali ditujukan kepada Mas Mus.
Kemudian dia mengaku kalau dirinya sendiri belum tahu ritual seperti itu, tapi sudah sering mendengar dari Mbah-nya di kampung jika manfaat tanaman jarak selain untuk meningkatkan daya tahan tubuh tetapi dibaliknya memiliki nilai mistis.
“Kata Mbah saya, ritualnya harus disiapkan kain berwarna putih kemudian batang jarak ungu, bersama daun dan buahnya disimpan di atasnya,” tambahnya.
Oh iya di atasnya juga disimpan benda-benda pusaka bisa berupa keris atau batu keramat, dan tidak lama kemenyan, sembari ada mantera-manteranya sendiri.
“Terus semuanya disimpan di atas kain putih, diikatkan menjadi satu dan disimpan di satu tempat,” Setelah itu, nanti uangnya akan menumpuk di dalam bungkusan kain putih itu. “Itu kata si Mbah lho,” katanya kembali.
“Nah bagaimana kalau ketahuan dengan si empunya, pemilik uang itu,” kataku.
“Ya mana kutahu Mas,”
Tapi yang jelas seperti kita saja, kalau uang kita diambil pasti akan marah kalau ketahuan, demikian juga dengan uang itu, ujarnya sambil tersenyum.
“Lantas pas ditanya oleh anggota Dewan itu soal jarak ungu itu, apa jawaban Mas Mus,” kataku.
“Ya saya jawab dengan anggukan saja, tadi saya terpikirkan ingin menjahili dengan meminta uang sekian juta, tapi saya tidak tega Mas, takut uang haram seperti itu nanti dimakan anak istri saya, terus anak saya kelakuannya seperti itu,” katanya kembali.
“Selain itu, kalau saya mencarikan jarak ungu meski di kampung saya mudah mendapatkannya, sama saja menjerumuskan orang untuk berbuat dosa,” katanya.
Saya pun hanya tersenyum mendengarkan omongan pekerja bangunan yang hanya tamatan sekolah dasar itu tapi masih memiliki moral dengan tidak mendapatkan uang menghalalkan segala cara seperti para tikus-tikus koruptor saat ini.
“Begitulah Mas Mus, orang-orang yang mau bertarung pada pemilu pasti akan menghalalkan segala cara, meski tidak semuanya begitu,” kataku sedikit menghibur ketidakpercayaannya pada hajat demokrasi di tanah air ini yang dipuja-puji oleh empu demokrasi di dunia itu. Yang jelas pada April 2014, akan dimulai pesta demokrasi itu, bait demi bait mars pemilihan umum pun berkumandang:

Pemilihan Umum Kini Menyapa Kita,
Ayo sosong dengan gembira,
Kita Pilih Wakil Rakyat Anggota DPD, DPR dan DPRD,
Mari Mengamalkan Pancasila, Undang-Undang Dasar 45,
Memilih Presiden dan Wakil Presiden,
Tegakkan Reformasi Indonesia,
Laksanakan dengan jujur adil dan cermat,
Pilih dengan hati gembira,
Langsung Umum Bebas Rahasia, Dirahmati Tuhan Yang Maha Kuasa

Cerpen Karangan: Riza Fahriza

Cerpen Jarak Ungu dan Wakil Rakyat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Perjalanan

Oleh:
Di sebuah mobil travel rute semarang menuju surabaya pada suatu pagi yang temaram. Cuaca di luar mobil tampak menampakkan sinar cahaya matahari yang agak redup dikarenakan tertutup sedikit awan

Berkelahi Dengan Naluri

Oleh:
Saat harap tidak sesuai dengan rencana yang dinginkan, menata hidup dengan rapi tapi kenyataan selalu berkata lain, ditambah lagi dua paham yang menghantui seakan memberi jalan dengan pandang yang

Kuliah Atau Mencari Jodoh

Oleh:
Kuliah dan Mencari Jodoh sama-sama diinginkan oleh setiap laki-laki maupun perempuan, dahulu mungkin mencari jodoh adalah hal Yang biasanya dilakukan oleh kaum laki-laki, tetapi seiring berkembangnya jaman, wanita seolah

Requiem Karma

Oleh:
Perlahan cahaya lazuardi menghilang dari rangkaian senja petang ini, lampu-lampu mulai menyala di setiap sudut kota; di tepi jalan, tempat-tempat ibadah dan gedung-gedung tinggi pun tak mau kalah memberikan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *